My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 55



Rintik hujan terus mengguyur indahnya alam. Air menetes dari dedaunan, dan tanah basah karenanya.


Genta baru saja sampai di jurang tersebut. Ini kali pertamanya datang ke tempat ini setelah diselamatkan oleh sang petani. Ia berharap kali ini yang diinginkannya terwujud.


Ia memerintah anak buahnya untuk melakukan pencarian, sementara dirinya menunggu di dalam mobil.


Lereng jurang itu sangat berbahaya yang mana di bawahnya penuh dengan bebatuan tajam. Ia tidak mungkin turun ke bawah sana dengan kondisinya seperti ini.


Beberapa jam menunggu di dalam akhirnya Daniel datang menghampirinya. Napas pria itu ngos-ngosan.


Genta mengerutkan dahinya melihat tingkah Daniel terlihat tengah panik. Genta membuka pintu mobil dan menatap penuh tanya.


Sebelum bertanya ia melihat ke bawah yang mana para bodyguardnya juga sibuk naik ke atas. Genta dengan teratih menghampiri bibir jurang.


Suasana di bawah sana sangat curam dan berbahaya, Genta membayangkan dirinya di lempar ke bawah sana dalam kondisi lemah, hebatnya lagi dia selamat, seperti sesuatu keajaiban.


"Tuan sepertinya ada orang yang datang ke sini terlebih dahulu," lapor Daniel dengan dada turun naik serta menelan ludah kasar.


Genta menatap pria itu dan berpikir sejenak. Siapa yang telah datang ke sini, dan ada keperluan apa? Bukankah jurang ini dijuluki dengan keangkerannya? Pasti seseorang juga tengah mencari sesuatu.


Jika itu benar siapa yang melakukannya dan ada keperluan apa? Apakah sama seperti dirinya yang juga mencari kebenaran?


Tak Genta sangka ada banyak orang yang masih penasaran dengan kasus ini yang ditutup tiba-tiba. Lagi-lagi timbul pertanyaan siapa yang telah menutup kasus ini?


Sudah barang tentu orang tersebut terlibat dengan tragedi itu. Ia harus mencari tahu dan apa motif si pelaku.


"Ada lagi yang ingin kau sampaikan Daniel?" tanya Genta seraya memandang manik Daniel dalam. Ia tahu betul jika banyak yang ingin disampaikan pria itu.


"Mereka sepertinya baru saja pergi. Kerangka dan tengkorak korban semua telah dikuburkan."


Genta terkejut menatap lagi ke bibir jurang. Benar di bawah sana ia dapat melihat gundukan dengan nisan salib yang tertajak. Apa niat orang ini, entahlah ia tidak begitu mulus memikirkannya.


"Apa mereka ingin menghilangkan bukti."


Daniel tampak berpikir tengah memecahkan hal yang menjadi pertanyaan mereka.


"Bisa dibilang begitu, tapi belum tentu."


"Kita harus ke pelabuhan," perintah Genta yang diangguki oleh anak buahnya.


Daniel sempat bertanya namun tidak digubris oleh Genta. Otaknya tengah berperang memikirkan hal apa yang sebenarnya terjadi.


Mungkin dengan cara dirinya datang ke pelabuhan dapat membantu ingatannya.


Ia masuk ke dalam mobil dan membiarkan Daniel yang membawa dirinya menuju pelabuhan.


Ketika sampai di sana, sunyi menyambut kedatangan mereka. Tempat ini tidak lagi berpenghuni dan menjadi wadah yang terbengkalai.


Sayang sekali padahal arsitekturnya sangat indah. Suasana mencengkram tidak menghalangi niat Genta tetap menerobos masuk ke dalam pelabuhan tersebut.


Banyak bangunan yang hancur dan banyak pula noda darah yang telah berubah hitam pekat sudah menyatu dengan semen. Napas Genta tertahan melihat keadaan sekitar tampak horor.


Ia bersama rekannya yang lain menjelajahi setiap seluk beluk pelabuhan tersebut.


Genta berjalan ke pagar pembatas antara laut dan daratan. Pagar itu usang dan sudah lapuk.


Di sekitar juga tampak ada bekas tembakan dan ledakan di sini. Matanya menjelajahi tempat tersebut hingga sampai pada suatu titik yang membuatnya tiba-tiba merasa sakit di kepalanya.


"I love you so much."


"Too."


"Jangan katakan too seolah-olah kau mengikuti ucapan ku saja."


Satu persatu memori datang ke dalam benaknya. Begitu banyak bayangan seorang pria dan wanita sedang berdiri di tempat ini. Bayangan ketika mereka melemparkan botol berisi harapan, bermain, dan berlari, suara canda dan tawa memenuhi kepala Genta.


Pria itu tersungkur di tanah. Napasnya tersengal dan bayangan itu semakin jelas, suara tembakan, ledakan, teriakan, tangisan, serta perpisahan. Air matanya jatuh perlahan-lahan.


"Akhhh!!!"


Daniel yang mendengar Genta berteriak lekas mencari sumber suara. Matanya membulat melihat Genta yang meregang kesakitan dengan tubuh berguling-guling di tanah.


"TUAN!! ADA APA DENGAN ANDA." Daniel menghampiri Genta dan membantu Genta bangkit.


Wajah Genta penuh dengan keringat serta deru napas yang terdengar kasar. Ingatan yang baru saja dilihatnya membuat ia sedikit mengetahui masa lalunya. Dirinya menatap Daniel dengan wajah tak terbaca.


"Alice," lirihnya tanpa sadar dengan dada sesak saat menyebut namanya. Air matanya jatuh begitu deras.


Ia melihat sekitar yang sangat berbeda dengan dahulu. Tempat ini penuh kenangan juga penuh dengan penderitaan dan penyiksaan.


"Anda tidak apa-apa Tuan?"


"Aku tidak apa-apa," pungkas Genta berusaha bangkit sambil menyentuh kepalanya yang masih berdenyut hebat.


"Tuan, perempuan yang Anda minta identitasnya kemarin sudah saya dapatkan. Dia Nona Alice yang bekerjasama dengan perusahaan kita."


"Alice," gumam Genta dengan wajah sangat bahagia. "Bukan kah besok kita ada meeting dengannya? Aku akan datang. Siapkan kepulangan ku!"


"Tuan!!"


Genta pergi dengan wajah semangat. Sekarang terpecahkan sudah siapa wanita yang selalu ada di pikirannya. Alice, cinta sejatinya.


___________


Ceklek


Alice sama sekali tidak melihat ke arah suara tapak kaki yang mendekat. Napasnya memburu sementara tangannya terkepal.


Wanita itu senantiasa menatap meja dan enggan melihat orang yang baru saja datang. Ia menarik sudut bibirnya tipis.


"Anda terlambat datang Tuan," ujarnya sambil meraih kopinya dan menegaknya.


Sudah hampir sejam lebih ia menunggu kedatangan bos dari perusahaan itu yang katanya dia sendiri yang akan memimpin jalan meeting hari ini.


Alice sangat tidak menyukai keterlambatan, masih banyak hal yang harus ia lakukan tanpa membuang-buang waktu menunggu mereka.


Entahlah mood Alice sudah rusak dari semalam ketika mendapatkan kebenaran. Genta menikah lagi, dan itu sangat menyakitkan.


"Maafkan saya."


Wanita itu dengan wajah terkejut mengangkat kepalanya dan tiba-tiba tubuhnya bergetar dan pucat pasi. Dadanya berdegup kencang melihat pria itu di depannya tengah menatapnya tajam.


Pria yang sudah lama ia cari keberadaannya, pria yang telah mengkhianatinya pula. Ia tidak percaya Genta duduk di depan sana di kursi utama.


Sebisa mungkin Alice menahan tangisnya, gelas yang masih berada di tangannya jatuh dan hancur berkeping-keping.


Napasnya saling beradu dan terdengar kuat. Tidak mungkin itu Genta. Tuhan pria itu ada di dekatnya, apa yang harus ia lakukan?


"Ada apa dengan Anda Nona? Sepertinya ada yang menganggu Anda," ujar Genta dengan wajah serius.


Alice tidak percaya mendengar penuturan pria tersebut. Ia memandang Genta dengan penuh rasa sakit.


"Ma-ma-maffkan, saya tidak apa-apa." Genta tidak lagi mengenalinya dan itu adalah berita yang sama sekali tidak diharapkannya.


"Kalau begitu apa meeting bisa kita lakukan Nona?"


Alice meneguk ludahnya kasar dan mengangguk dengan gerakan kikuk. Selama meeting Alice sama sekali tidak fokus terus memperhatikan Genta bukan ucapannya yang sangat berbeda jauh dari yang dulu.


Genta yang sekarang penuh wibawa dan pengetahuannya luas, Genta yang polos kini telah menjadi pria dengan aura mengerikan.


"Ada apa Nona? Apa ada masalah? Sepertinya Anda tidak fokus. Meeting bisa kita tunda dahulu."


Alice tergagap dan menatap rekan-rekan dan karyawan yang ikut meeting juga. Mereka menatap dirinya dengan serius.


Alice tersenyum canggung, "ah, terimakasih pengertiannya."


Meeting pun diberhentikan sementara, baik dari pihak Genta dan Alice telah keluar dan hanya menyisakan mereka berdua.


Pria itu semakin mendekat membuat pertahanan Alice buyar dalam sekejap. Ia berusaha menghindar dari pria itu dan hendak meninggalkan ruangan tersebut.


"Alice," lirih Genta yang membuat aliran tubuh wanita itu membeku.


Tangannya mengepal menahan perasaannya yang menggebu-gebu ingin dilupakan, Alice berjalan mundur.


"Apa yang ingin Anda lakukan?"


Genta sigap meraih tubuh Alice dan memeluknya dengan erat. Air matanya tumpah mengungkapkan rasa penuh rindu.


"Memeluk istri ku apalagi." Genta menghapus air mata dari wajah Alice.


Diamatinya wajah menawan itu lalu mengecup puncak kepala sang wanita yang sudah lama tak dilakukannya.


"Genta!! Kau mengingatku?"


"Tentu, i love you istri kecil ku."


Genta meraih dagu Alice dan mendekatkan wajahnya. Ia menyatukan bibir mereka tanda menyatunya lagi hubungan keduanya.


Alice membalas tautan bibir tersebut, kini ia sudah lihai bermain lidah membuat keduanya hanyut dalam mabuk asmara.


Genta begitu ganas dan meraih tubuh Alice lalu membaringkannya di sofa. Ia gencar menyerang istrinya dan ******* area pribadinya.


Genta melucuti baju Alice dengan satu tangannya sementara tangan yang lain ia gunakan untuk menyentuh Dada Alice yang tampak lebih besar dari sebelumnya.


"Ah," desah Alice ketika pria itu bermain di dadanya.


"Genta hentikan, bagaimana jika ada yang melihat kita?"


Genta tidak peduli dan terus melakukan aksinya hingga membuat pertahanan Alice melemah dan masuk dalam perangkap permainan laki-laki itu.


"Tidak akan ada yang melihat kita. Aku merindukanmu, aku akan membuatmu mengandung anak ku lagi."


"Apa kata m.." Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya tubuhnya sudah digagahi membuat Alice terbuai dalam pesona pria itu. Tiada kata yang bisa ia ucapkan selain sebuah *******.


_______


Tbc


Jangan lupa like dan komen