
Hari berlalu begitu laju meninggal kan sisa memori masa lalu. Cukup lama kejadian itu tapi Alice tak hilang dari rasa traumanya. Kondisinya sangat menyedihkan.
Dulu rumah penuh dengan suara riangnya namun sekarang sunyi bak tak berpenghuni. Sudah redup sang bunga tak ada lagi kecerahan.
Alice bak setangkai bunga layu yang hendak jatuh. Hanya sedikit tenaga yang masih mampu membuatnya menopang keadaan.
Wanita itu menatap jendela kamarnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam dan mengamati. Keindahan bintang malam bak luka di jiwanya. Dulu ia suka melihat bintang itu di tengah pasar saat pameran. Itu ia lakukan sendiri.
Alice menarik napas dan memberi kode untuk pelayan membawanya pergi dari hadapan jendela. Sang pelayan pun paham dan mengantarkan nonanya sesuai instruksi.
Ia tak memiliki teman dan ia rindu untuk bermain seperti dulu. Alice ingin menghilangkan rasa bosannnya.
Sepintas ide berlian memuat pikirannya. Ia teringat dengan paman Genta. Ia ingin paman itu menceritakannya sebuah dongeng. Setidaknya itu dapat mengurangi rasa jenuh yang selalu mengikuti Alice.
Alice memberikan petunjuk sang pelayan untuk mengantarkan dirinya ke kamar Genta melalui arah jari telunjuknya.
Sang pelayan sempat kaget namun ia tetap mematuhi, kawasan itu cukup aman jadi mungkin tak akan ada masalah.
Sampai pada depan pintu kamar Genta yang dibiarkan tak dikunci. Ia dapat melihat paman Genta di sana yang sedang mengobati lukanya. Mungkin luka itu ia dapatkan saat bekerja di taman. Bagaimana pun Genta merupakan pekerja kasar.
Ia menatap luka itu di punggung Genta cukup besar dan Alice khawatir dengan Genta. Tidak dengan pelayan mungkin ia tak dapat bernapas lagi melihat tubuh indah yang dimiliki Genta.
Alice meminta agar pelayan itu mendorong kursi rodanya ke dalam kamar. Merasakan ada kehadiran orang cepat Genta langsung berbalik dan menutup tubuhnya dengan selembar kain.
Wajahnya kian memerah saat mengetahui jika itu adalah nona mudanya.
Genta menunduk takut. Ia memasang bajunya terlebih dahulu. Sangat tidak sopan dengan ia bertelanjang dada di depan anak majikannya.
"Ada apa nona?" tanya Genta namun matanya melirik pada pelayan yang ada di belakang Alice.
Alice hendak mengatakan sesuatu namun sulit baginya mengeluarkan suara. Usahanya malah membuat ia merasa sakit di tenggorokan.
Melihat itu Genta panik. Ia tak ingin dituduh nantinya.
"Nona mau apa?"
Sementara Alice bingung bagaimana cara ia mengatakan jika dirinya hendak dibacakan dongeng kembali.
Alice menangis dan itu makin membuat Genta dan pelayan satunya ketakutan dan panik.
"Ya Tuhan aku lelah seperti ini," batin Alice menangis pilu.
"Nona jangan menangis lagi. Saya akan membacakan sebuah cerita lagi nona."
Mendengarnya membuat Alice langsung bersemangat. Kesedihan berubah menjadi senyuman yang mengembang. Ia mengangguk penuh dengan semangat.
Genta tanpa sadar tersenyum lebar dan menarik napas lega. Setidaknya keadaan tak mencekam seperti sebelumnya.
Genta menceritakan sebuah dongeng yang dikarangnya sendiri. Sementara Alice mendengarkan dengan seksama. Tak terasa sudah memakan waktu yang cukup panjang. Alice juga sudah tertidur sedari Genta bercerita.
Ia meminta sang pelayan agar membawa Alice ke kamarnya. Sang pelayan mengangguk dan pergi meninggalkan kamar Genta.
Genta menatap pada pintu kamarnya dan menarik napas panjang melihat sang nona hilang dari pandangan.
___________
DI SUATU MALAM
Cristian:
Temui aku di luar pagar sekarang juga
Genta yang melihat pesan dari Cristian pun tampak bingung. Kenapa pria ini menghubunginya malam sekali? Ada kepentingan mendesak kah?
Genta menghela napas. Pekerjaan nya memang sudah selesai semua. Ia melakukannya cukup baik hari ini dan ia bersyukur akan itu.
Pria yang memiliki perawakan sempurna itu pun memutuskan untuk menemui Cristian yang telah menunggunya di luar. Di dalam hati ia bertanya-tanya ada apa gerangan dengan pria tersebut? Sangat mendadak sekali pikirnya.
Saat sampai di ruang tengah ia melihat nona mudanya yang meminta sang pelayan untuk menghampiri dirinya.
Menyaksikan itu lekas Genta menunduk hormat. Meskipun ia sudah cukup dekat dengan perempuan cantik di depannya, bukan kah ia juga harus tetap menghormati sang majikan?
Alice memberi isyarat jika ia hendak dibacakan kembali dongen yang menarik oleh Genta. Yah semenjak malam kemarin kala ia meminta Genta membacakan dongeng untuknya, Alice kian rajin datang menemui Genta untuk dibacakan dongeng-dongeng yang ada di seluruh dunia.
Sementara Genta tak punya hak untuk menolak meski ia dalam kondisi sibuk.
"Maafkan saya Non, saya ada urusan sebentar, jika urusan saya selesai saya akan menemui Nona," ujar Genta dengan ramah. Ia takut jika Alice akan marah mendengar pernyataannya.
Alice menatap kecewa namun ia mengangguk sembari tersenyum. Alice juga tidak boleh egois.
Wanita cantik itu menatap kepergian Genta yang berjalan mundur perlahan meninggalkan dirinya.
Alice menunduk menatap pada genggaman tangannya yang terdapat sebuah boneka lucu.
"Aku rindu masa seperti dulu. Tuhan izinkan aku merasakannya kembali."
_______
"Ku tebak kau belum pernah ke tempat semacam ini kan?"
Genta mengangguk. Benar apa yang dilontarkan oleh Cristian. Bahkan ia pun tak tau apa nama tempat ini yang penuh dengan bau rokok dan alkohol.
Ah iya Genta tidak pernah sama sekali menyentuh alkohol semasa hidupnya. Pria polos itu terbelalak melihat pakaian minim dari para wanita, bahkan ada dari mereka yang terang-terangan melakukan *** di tempat terbuka semacam ini.
Genta ngeri melihat itu, rasanya ia ingin segera keluar dari tempat menjijikan tersebut.
Tidak dengan Cristian yang bersemangat memboyong Genta, ia bangga karena sebentar lagi ia akan mengajarkan pada laki-laki itu bagaimana caranya menjadi pria sejati.
Cristian menepuk pundak Genta dan mengajak pria tersebut untuk bergabung dengan temannya yang lain.
Di situ Genta membola melihat mereka. Kenapa perempuan di dalam pelukan para pria itu tak malu dengan pakaiannya?
"Siapa?" tanya salah satu teman Cristian yaitu Alex yang memandang Genta dengan intens. Menatap pakaian dan tingkah lugunya.
Teman Cristian yang lain tertawa melihat Genta. Mereka tak menyangka Cristian akan membawa pria cupu seperti itu.
"Apa aku tak salah lihat? Bisa-bisanya kau mengajak pria seperti itu Cristian!"
"Siapa dia?"
"Kalian ini. Santai dulu, dia teman ku dari desa. Dia ingin aku mengajarinya menjadi pria sejati."
Genta membelalakkan matanya. Apa kata Cristian? Oh God ia sama sekali tak pernah berkata seperti itu kepada Cristian. Pria itu memang jago mengarang.
"Begitukah?" tanya Ansel yang tersenyum miring ia mendekati Genta sambil membawa sebotol dan gelas Wine.
Ia menuangkan segelas wine dan diletakkan di depan Genta. "Bagaimana kalau kita melakukan taruhan? Siapa yang menang akan mendapatkan uang lima juta dolar dari ku? Kau berani!?" tanyanya pada Genta.
Genta lekas menggeleng. Ia tak mau melakukannya, meski hadiahnya menarik tapi ia berjanji pada Tuhan tak akan melakukannya.
"Tidak aku tak mau."
"Hahaha manis sekali. Sungguh menarik teman mu ini Cristian." Alex benar-benar kegirangan melihat pria yang langka seperti Genta.
"Ya tentu. Dia memang menarik, dan itu menjadi tantangan buat kita. Benar begitukan?" Cristian menenangkan Genta agar pria itu tetap rileks dan menikmatinya. "Tenang saja Genta, mari kita melakukan taruhan itu sekarang."
Genta tetap terus menolak. Ia bahkan menunjukkan perlawanannya, namun pada akhirnya ia menyerah. Ia pun juga dihantui dengan rasa penasarannya.
Ia memenuhi ucapan Ansel dan mereka melakukan taruhan tersebut. Gelas demi gelas dinikmati Genta, ia tak tahu jika rasanya senikmat itu. 15 gelas sudah habis di tenggorokannya. Namun ia belum tepar berbeda dengan yang lain yang mulai mabuk dan terkulai di meja.
Pada akhirnya taruhan itu dimenangkan oleh Genta. Ia langsung lunglai di atas meja. Menghela napas dan berusaha menolak rasa sakit yang mulai menderanya di kepala.
"Kau tak bilang sial*n jika dia sangat kuat. Uang ku habis bodoh," maki Ansel pada Cristian yang sama mabuk berat seperti dirinya.
"Diam saja kau Ansel sial*n. Kepala ku pusing, jika bukan karena misi mu aku tak mau melakukan ini."
"Dasar kau lemah," kesal Ansel. "Ah sudahlah ku harap kali ini dapat berjalan dengan baik."
"Hm."
Genta tak mendengar percakapan mereka dengan jelas. Kepalanya sangat pusing. Ia ingin pulang sekarang. Dia tidak ingin besok ia tak maksimal dalam melakukan tugasnya.
_______
Alice sedari tadi tak kunjung tidur. Ia menunggu Genta di kamar pria itu. Ia tidak akan bisa tidur jika tidak mendengarkan cerita dari Genta.
Ia menghela napas dan menatap pada jam di dekatnya. Sudah pukul 12 tapi paman Genta tak kunjung datang.
Ia sedikit khawatir, takut jika terjadi apa-apa dengan Genta.
Napas Alice memburu hendak menangis sedih karena ia tak bisa melakukan apa pun sekarang.
Tuhan selamatkan paman Genta.
Alice menarik napas pasrah dengan wajah tertunduk tak berdaya. Namun ketika mendengar sebuah suara pintu digesekkan membuatnya kontan mengangkat kembali wajahnya dan tersenyum senang saat yang dilihatnya adalah Genta yang sedari tadi ia tunggu kehadirannya.
Alice ingin mengutarakan keinginannya, namun terdiam kala melihat ada yang berbeda dengan Genta. Pria itu sangat kental dengan bau alkohol lalu berjalan ke arahnya dengan sempoyongan.
Sementara Genta yang menatap ada seorang perempuan di kamarnya dengan pakaian yang cukup tipis membuat birahinya pun memuncak. Ia tak dapat melihat jelas siapa wanita itu.
Yang ia lakukan hanyalah bagaimana cara untuk memuaskan birahinya. Ia berjalan ke arah Alice mendekat dan dengan sigap ia langsung menempelkan bibirnya ke bibir lembut wanita tersebut.
Alice yang masih terkejut dengan itu pun terdiam hingga beberapa detik kala sebelum ia menyadari kembali saat Genta memperdalam ciuman itu pada dirinya.
Ia menangis saat Genta turun ke lehernya. Ia berontak dan berusaha buat melawan namun tubunya berkhianat, ia tak bisa bergerak barang sedikit pun.
Hatinya sakit saat miliknya disentuh dengan cara biadap. Tubuhnya yang diletakkan di atas ranjang dengan tidak manusiawi itu terasa remuk. Ia menjerit dalam hati saat pakaiannya ditanggalkan hingga tak tersisa sepeserpun.
Pria itu dengan bringas melakukannya hingga Alice jatuh pingsan
_________
Plis like dan komen man teman🥺🥺🙏