
Pandangan Genta hanya tertuju satu objek saja sedari tadi. Pria itu sangat menikmati pemandangan kehangatan Alice pada Drake.
Hatinya cukup senang meski Alice belum tahu jika Drake ternyata anak kandungnya.
Genta juga mengetahui bahwa tiada satupun dari keluarga Alice yang tahu dengan kelahiran sang putra, pasalnya ia adalah orang pertama yang melihat anak-anaknya pada saat itu.
Seketika Genta bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melihatnya meski hanya sesaat waktu itu. Setidaknya dia tahu anaknya kembar.
Mendengar celotehan dari Drake membuat Genta mengukir senyum. Tawa nyaring dari kedua orang dicintainya menghangatkan perasaan Genta.
Baik Drake dan Alice tidak menyadari jika di belakang mereka Genta tengah mengintai mereka dan mengamati dengan seksama.
Tubuh Genta kontan tercekat saat melihat Cristian beserta sang ayah yang keluar dari sekolah anak-anak tersebut dan berjalan ke arah Alice dan Drake.
Ia pun heran kenapa mereka bisa ada di sana. Dilihatnya Cristian dan Miguel menghampiri Alice. Itu membuat dada Genta merasa tidak nyaman.
Cristian menatap Alice dengan pandangan sulit dimengerti, kemudian ia menatap ke arah Drake yang bersembunyi di belakang Alice.
Sementara Miguel masih terpaku dengan Drake. Ia menatap pada Alice yang hanya diam usai kedatangan mereka.
"Apa aku mengganggu?" tanya Cristian pada wanita itu.
"Ku rasa tidak. Kenapa kau ada di sini paman?"
Cristian tertawa kecil lalu menatap serius wajah Alice. Wanita ini adalah gadis yang dibawa oleh Genta ke rumahnya dulu. Tidak terasa waktu berlalu cepat.
"Tentunya aku juga ikut mengisi acara siang tadi."
Alice mengangguk mendengar ucapan Cristian. Ia tidak tahu jika pria itu ternyata juga ada di sana. Dirinya hanya menghela napas pelan.
Melihat Cristian membuat Alice kembali ingat dengan pria yang sempat dilupakannya. Genta.
Di sisi lain Genta tidak berani keluar dari persembunyiannya. Miguel yang menyadari itu menatap pada Genta yang berada di balik sebuah pohon besar.
Merasa aksinya tengah diperhatikan seseorang membuat Genta cepat mencari pelakunya. Ia pun menyadari jika yang melakukan itu adalah Miguel.
"Drake kenapa kau takut pada ku?"
Drake lantas keluar dari balik punggung Alice. Ia memasang tampang polosnya dan menyengir tidak berdosa.
"Kakek. Drake sekarang punya mama." Miguel lantas mengangkat alisnya. Ia menatap Drake tidak paham begitupula dengan Cristian.
"Setahuku kau tidak memiliki ibu!" kata Cristian spontan seraya melirik wajah Alice yang tersenyum kecil.
"Drake Sekarang punya ibu. Mama Alice, katanya dia sayang sama Drake."
Cristian sentak saja melihat wajah Miguel yang tampak tenang. Miguel mengusap kepala Drake dengan penuh cinta
Pria itu dapat melihat ketampanan Drake dari dekat, sialnya Drake merupakan keturunan dari William. Ia tidak sudi menerima kenyataan tersebut.
"Suatu hari kau pasti dapat melihat ibu kandung mu juga," tutur Miguel seraya melarikan pandangannya pada Genta yang tercekat di balik pohon.
Miguel melempar senyuman pada Genta. Lantas pria itu pun pergi usai mengusap kepala Drake.
Sedangkan Alice ia terdiam di tempatnya. Tiba-tiba ia merasa tidak mood setelah bertemu dengan Cristian barusan.
"Mama akan pergi ya sayang. Semoga kita bertemu lagi."
Alice mengecup singkat kepala Drake dengan hikmat dan tersenyum pada anak yang sangat tampan di depannya itu.
_______
Seorang anak kecil dengan berkepang dua duduk di taman yang tidak jauh dari perumahan mewah. Matanya mengedar melihat anak-anak seumurannya yang bermain dengan penuh canda dan tawa.
Seketika jiwa Adaire langsung iri melihatnya. Ia ingin juga bergabung tapi Adaire merasa minder. Mereka tampak seperti anak-anak dari konglomerat, berbeda dengannya.
Adaire menatap pada boneka yang ada di dekapannya. Ia mengacungkan boneka tersebut di tepat di depan wajahnya.
"Tata jangan tinggalin Adaire. Adaire cuman punya Tata," ujarnya dengan sedih. Matanya sendu menatap boneka tersebut seraya membawa ke dalam pelukannya.
Matanya tak lepas dari anak-anak yang sedang bermain di taman tersebut. Ia juga tertawa ketika melihat mereka tertawa. Ketika suasana tegang hatinya juga ikut berdegup kencang, ketika mereka bertepuk tangan ia juga ikut dengan penuh semangat bertepuk tangan.
Ia melangkah dengan wajah tertunduk. Tiba-tiba dirinya melihat ada sebuah kaki seseorang yang berada di depannya menghalangi jalannya. Alice pun mengangkat pandangnya.
Ia menatap heran orang di depannya. Ia tidak mengenal siapa orang itu. Sontak saja Alice berjalan mundur dan mendekap bonekanya dengan erat.
"Hey jangan takut."
Melihat Adaire yang ketakutan padanya sambil mendekap boneka mengingatkan Genta pada ia menemukan Alice di malam hari waktu dulu, sudah sangat lama.
"Pa-paman siapa?"
Seperti tercubit oleh sesuatu pada dadanya mendengar anak kandungnya sendiri memanggilnya dengan sebutan paman.
Genta tersenyum lebar dan berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Adaire.
"Paman punya coklat, kau mau cantik?"
Alice menatap pada coklat yang ada di tangan Genta. Ia takut-takut menatap wajah Genta seraya mengangguk pelan.
Genta lantas tersenyum dan memberikan coklat itu dan langsung disambar oleh Adaire.
"Te-terimakasih paman."
Genta mengusap kepala Adaire dan mengangguk. Melihatnya Adaire pun perlahan tidak takut lagi kepada Genta. Ia juga membalas senyuman Genta.
"Paman kenapa baik dengan Adaire?"
"Karena kamu anak cantik," ujar Genta pada anak yang seperti duplikatnya itu.
"Kata nona Adaire jelek," lirihnya pelan dan tertunduk.
Ia sangat sedih bahwa nona yang sangat ia sayangi membenci dirinya. Adaire ingin Alice baik padanya walau hanya sehari saja, Adaire tidak meminta lebih.
Genta terdiam mendengar pernyataan Adaire. Hatinya juga sakit mendengar ucapan yang dikatakan Alice untuk putrinya sendiri.
Entah insting dari mana tiba-tiba Genta memeluk tubuh putrinya itu. Dan mendekapnya erat, ia mengelus puncak kepala Adaire.
"Adaire jangan sedih. Nona pasti akan baik pada mu suatu hari nanti. Pegang kata-kata ku, aku berjanji."
Adaire menatap wajah Genta. Tiba-tiba senyumnya terbit dan ia bersemangat kembali.
"Beneran Paman?"
"Tentu saja. Mari kita jalan-jalan hari ini, apa kau mau?"
Adaire cepat mengangguk semangat. Dan ia segera meraih tangan Genta dan mengajak pria itu berkeliling taman.
"Paman kenapa ada di sana?"
"Paman bekerja di rumah itu," tunjuk Genta pada bangunan megah yang tidak jauh dari mereka.
"Bener paman? Adaire juga kerja di sana. Nanti Adaire akan mengenalkan nona kepada paman."
Genta pun tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Adaire. Ia mengusap kepala Adaire dan meraih tangan mungil itu dan digenggamnya.
"Ya. Kita dapat bermain setiap hari."
"Paman kenal dengan nona?"
Tentu saja ia mengenal Alice. Wanita yang menjadi fantasinya setiap hari, wanita yang dirindukannya dan wanita yang merupakan ibu dari anak yang digenggam tangannya ini.
"Ya. Paman mengenalnya."
_____
Tbc
Jangan lupa like dan komen