
Genta menemui Adaire sesuai janjinya. Sebelumnya ia telah membuat janji dengan anak manis tersebut tempo hari lalu.
Maka dari itu hari ini Genta ingin menepati janjinya pada Adaire. Ia mengenakan pakaian sederhana dan menunggu sang putri kecil keluar dari dalam kamarnya.
Adaire telah membaik setelah kejadian kemarin. Ia sama sekali tidak mengalami trauma karena perlakuan tersebut sudah sering kali ia terima dari Alice.
Adaire muncul dari dalam sana dan berlari semangat menghampiri Genta yang berada tidak jauh. Ia mencolek perut Genta hingga pria itu pun tersadar dan tersenyum melihat ada sebuah tubuh mungil di belakangnya.
Ia meraih tubuh Adaire dan menggendongnya. Terlebih dahulu Genta menciumi wajah anak tersebut hingga menghasilkan bunyi tawa geli dari Adaire.
Hati Genta menghangat mendengar tawa renyah dari anak kecil yang berada di gendongannya. Ia tersenyum dan tangan kirinya mengusap punggung Adaire.
"Paman kita hari ini akan ke mana?" tanya Adaire sangat penasaran kemana jalur destinasi yang akan mereka kunjungi hari ini.
Genta memasang raut wajah tengah berpikir. Ia mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke dagu dan menatap Adaire yang tida sabar mendengar jawaban darinya.
"Coba Adaire tebak," pinta Genta sembari tertawa melihat wajah masam Adaire.
Ia mencubit pipi gembul yang hampir tumpah tersebut dan ia sukses dihadiahi tatapan nyalang dari Adaire.
"Paman!!!" kesal Adaire dan meminta diturunkan dari gendongan Genta.
Anak kecil itu membuang wajahnya seolah ingin memberitahukan kepada Genta jika ia tengah mengambek.
Malah yang ada Genta semakin gemas dan makin berhasrat mencubit pipi chubby anak itu.
Ia mencuri kesempatan dan melakukan apa yang disuruh otaknya. Ia mencubit pelan pipi Adaire dan anak itu langsung menatap Genta dengan marah.
Tidak mau mendengar amukan dari Adaire Genta berlari dan kemudian dikejar oleh Adaire yang hendak menangkap Genta.
"Ayo Adaire kejar paman!!"
Sejauh ini Genta tidak memiliki keberanian untuk mengaku di depan Adaire jika ia adalah ayah dari anak perempuan itu, karena dirinya takut Adaire akan marah padanya dan menjauhi dirinya. Sungguh mimpi paling buruk jika itu benar terjadi.
Ia berusaha memendam sendiri rasa sakit ketika Adaire harus menyebut dirinya dengan embel-embel paman.
"Paman berhenti!!!" teriak Adaire sembari tertawa mengejar Genta.
Genta pun memelankan langkahnya dan mengejek Adaire yang tidak dapat mengejar dirinya. Adaire merasa terpancing dan semakin bersemangat untuk mendapatkan Genta, tapi naas ia malah tersandung dan terjatuh.
"Auuu!!" rintih Adaire seraya menyentuh lututnya.
"ADAIRE!!!"
Adaire mendongak dan matanya langsung bertubrukan dengan manik seram. Tubuhnya bergetar dan langsung menunduk dan mengesot mundur ke belakang.
Di depannya telah berdiri Tiara dan William yang memandang ia dengan tajam. Seumur-umur ia tidak pernah berani bertemu dengan dua orang yang cukup mengerikan bagi Adaire.
William menatap dalam wajah Adaire dengan mata penuh emosi. Sementara Tiara tampak acuh dan tidak kasihan melihat Adaire.
Jantung Genta langsung pause sementara melihat ada tuannya di sana. Ia tercekat dan takut jika Adaire akan mendapatkan hukuman.
"Siapa yang membiarkan mu berlari di rumah ini?" tanya sinis Tiara kepada Adaire. Lalu manik matanya berpindah menatap Genta dengan tajam.
"Ma-ma-maffkan say-a nyonya."
Tiara menghela napas dan menatap suaminya yang ada di samping. William mengepalkan tangannya, hatinya panas setiap kali melihat wajah Adaire.
"Bangun kau!" pinta Tiara.
Adaire pun berusaha bangkit dengan kaki yang sakit akibat terkilir. Melihat wajah Adaire yang ketakutan tentu Genta tidak dapat diam saja. Ia berjalan mendekat dan memohon kepada Tiara agar Adaire dimaafkan.
"Maafkan Adaire nyonya. Saya yang salah seharusnya anda menghukum saya."
Tiara melirik Genta sebentar, ia tidak mempedulikan kehadiran pria itu. Tangannya terangkat hendak memukul Adaire namun sebuah tangan lain menghentikan Tiara.
Tiara menatap orang itu dengan heran. Alice dengan wajah datar menatap sang ibu seolah menandakan permusuhan.
"Aku dan Adaire hari ini akan pergi."
"Maksud mu?" tanya William tidak mengerti, setahunya Alice sangat anti dengan Adaire.
"Apa papa tidak mendengarnya? Apa papa sudah tuli?"
William menarik napas dan mengintimidasi Alice yang berani berbicara sedatar itu kepadanya.
"SIAPA YANG MENGAJARI MU SEPERTI ITU?"
Tangan William terkepal melihat tingkah Alice yang cukup berbeda hari ini.
"Pa! Ma!! Cepatlah aku akan terlambat nanti!!" teriak Grisson bosan mendengar pertengkaran tersebut.
Tiara memandang sinis Adaire dan meninggalkan ruangan itu bersama William.
Setelah keduanya tidak terlihat lagi Alice menghembuskan napas lega. Ia menatap sekilas Adaire yang menunduk dengan ketakutan.
"Aku akan ikut kalian hari ini!"
Mulut Genta membulat tidak percaya dengan pendengaran yang barusan mengalun di telinganya. Alice akan ikut bersama mereka? Genta rasa bahkan ia juga belum menceritakan akan pergi jalan-jalan hari ini kepada Alice? Kenapa perempuan itu tahu?
"Apa kau serius?" Genta memastikan jika apa yang didengarnya tidak salah.
"Ya."
Perempuan itu berjalan mendahului dan Genta yang masih terbengong-bengong tersebut dan mengikutinya. Sama halnya dengan Adaire ia juga tidak menyangka.
_____
Hahahaha
Itu adalah suara yang berasal dari Alice. Ia gelak tertawa saat belalai gajah menyentuh wajahnya. Hari ini mereka mengunjungi kebun binatang yang ada di New York.
Tidak luput pula untuk mengabadikan setiap moment di hari itu. Mereka bertiga berfoto menggunakan ponsel milik Alice.
Adaire memberikan makan burung Cendrawasih, ia sangat bahagia makanan ia berikan diterima baik oleh burung itu.
Bulunya yang sangat indah menarik perhatian Adaire. Ia tertawa bahagia saat mengelus bulu halus milik burung tersebut.
Selanjutnya mereka pun beristirahat setelah sekian lama menjelajahi kebun binatang yang cukup menyenangkan.
Genta meninggalkan Adaire dan Alice berdua untuk membeli ice cream. Tubuh Alice penuh dengan peluh di wajahnya. Ia sudah lama tidak bercanda ria seperti ini.
Ia mengukir senyum dan menatap ke samping. Wajahnya perlahan makin datar saat menatap Adaire yang juga tengah menatap ke arahnya.
Adaire sangat mirip Genta dan itu sudah ia sadari dari dulu. Anehnya ayahnya kenapa tidak pernah menyangka jika bisa saja Genta pelakunya, ya memang dia pelakunya.
Jauh di lubuk hati Alice sebenarnya ia sangat khawatir dengan Adaire. Tanpa orang ketahui setiap malam ia akan datang menjenguk Adaire yang tertidur.
Alice adalah seorang ibu sampai kapan pun ia tidak akan sanggup membenci Adaire. Ia selalu mengusap tubuh Adaire kala malam datang. Ia menangis di samping perempuan itu setiap hari karena rasa bersalahnya.
Ia belum berani menerima kenyataan dan menunjukkan siapa dirinya. Kadang ia harus menahan sakit di dada saat Adaire memanggilnya dengan kata nona.
Anak itu sama sekali tidak pantas mengatakan itu. Tapi lagi-lagi hati Alice yang lain menghasut jika Adaire pantas mendapatkan perlakuan itu semua untuk menebus dosa ayahnya.
Alice memutuskan untuk mulai sekarang ia akan berdamai dengan keadaan dan menerima semuanya, ia akan memaafkan Genta dan berusaha menerima Adaire meski belum sepenuhnya dapat ia lakukan.
Kedekatannya dengan Adaire sendiri masih sangat canggung. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, baik Adaire dia tidak akan memulainya karena ia masih terkekang dengan rasa takut terhadap Alice.
Sementara Genta sedang membeli ice cream yang lokasinya tidak jauh. Ada rasa senang yang cukup dalam melihat Alice perlahan bisa menerima kehadiran Adaire, tentu Genta sangat senang.
Tapi kebahagiaan yang tercetak di wajahnya tidak berlangsung lama. Genta menelan ludah dengan lambat dan menatap kosong ke arah depan.
Ia teringat pembicaraannya dengan Miguel yang datang ke rumah sakit kemarin. Ia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Ia masih mengira jika Miguel hanya membual. Tapi dengan semua bukti yang ditunjukkan Miguel tidak dapat dipungkiri jika dirinya memang anak dari pria itu.
Dunianya seakan runtuh ia tidak menyangka 33 tahun lebih ia berada di bumi kenapa ia baru tahu sekarang? Ia tidak bisa mempercayai begitu saja bukan? Ia harus memastikannya sendiri.
"Tuan!!" panggil seseorang sambil mengibaskan tangan di depan wajah Genta.
Ia pun tersadar dari lamunannya dan tersenyum lalu menghela napas kasar. Ia mengambil ice cream tersebut dan membayarnya.
Genta menghampiri Alice dan Adaire yang telah menunggu. Ia memberikan ice cream tersebut kepada keduanya. Sudut bibir Genta terangkat melihat Alice yang mencicipi belepotan, ia pun berinisiatif membersihkan bekas ice cream tersebut.
Deg
Dada Alice berdegup kencang mendapatkan sentuhan itu. Alice menatap Genta dengan mata bulatnya.
Pria itu menelan ludahnya dan semakin mendekatkan wajahnya. Mereka lupa jika sedang berada di tempat umum.
"PAPA!!!" teriak nyaring seseorang yang menghentikan aktivitas Genta.
Genta cepat berbalik dan melotot melihat Drake berlari ke arahnya. Wajah Drake tampak tengah marah besar. Matanya berkaca-kaca dan menatap Adaire yang masih menikmati ice cream dengan hikmat.
Ia menghampiri Adaire yang duduk manis itu dan langsung mendorongnya hingga Adaire memekik kaget.
"JANGAN AMBIL PAPA DAN MAMA KU!!" marah Drake lalu menangis kencang dan duduk di tanah sambil menghentak-hentakkan kaki.
"Huaaaaa!!!"
Alice tidak percaya melihat pemandangan itu dan menggaruk pipinya. Sebenarnya ia pun tidak paham dengan situasinya.
_____
Tbc
Jangan lupa like dan komen. Btw mampir juga yah ke karya teman saya