
Suasana pagi yang cukup cerah menyambut pekan kali ini. Alice tersenyum sangat menawan menyaksikan jalanan yang penuh salju dari atas hotel.
Begitu ramai jalanan ibu kota ini beragam manusia mengisi dari beberapa suku dan ras. Semua terlihat sama dibawah naungan cuaca dingin penuh salju.
Setiap hembusan napas maka setiap detik itu pula lah manusia menaruhkan hidupnya. Tiada yang berarti namun memiliki arti disetiap maknanya.
Alice menarik napas sejenak lalu berjalan pelan menuju nakas. Ia terdiam sejenak menerawang beberapa kegiatannya belakangan ini.
Kehadiran Genta telah memenuhi hidupnya dan memporak-porandakan perasannya hingga ia memberikan dengan suka rela hal yang berharga dirinya.
Cinta telah membutakan Alice, tapi bagi perempuan itu justru menambah wawasan penglihatannya. Genta bak cahaya baru yang akan membawanya dari kegelapan menuju terang.
Tidak ada yang bisa menggantikan posisi pria itu barang sedikit pun. Ia akan menjaga hatinya dengan sepenuh jiwa hanya untuk pria itu, Genta.
Tangan Alice meraih syal yang ia letakkan di meja dan mengenakannya. Ia begitu apik melilitkan benda yang dapat memberikan rasa hangat tersebut di lehernya.
Ia menatap penampilannya yang amat sempurna dari kaca. Wajah itu semakin terlihat dewasa, berbeda dengannya yang dulu akan bermanja dengan kedua orangtuanya, meminta boneka kepada mereka seperti anak-anak.
Mengingat kenangan bersama kedua orangtuanya melukai hati Alice. Tiara tega meninggalkan dirinya di tengah rasa ketakutan dan saat ia butuh dukungan.
Tidak ada lagi yang menjaganya, ia ditinggalkan dengan rasa kesakitan ditambah beberapa fakta baru yang terkuak begitu melukai perasaannya.
Ia tidak menyangka jika William memiliki anak dari wanita lain, naas lagi perempuan itu adalah pengasuhnya. Damian dengan seenak jidatnya mengatai ibunya perebut.
Alice tidak peduli yang terpenting ia anak sah dari William. Grisson adiknya dibawa ke pengajaran khusus oleh Damian entah di mana. Ia hendak menemui Grisson tapi pria sialan itu sengaja menyembunyikan darinya.
Alice begitu khawatir dengan Grisson, ia sangat yakin jika adiknya diberikan pembekalan dan pencucian otak. Sungguh Alice tidak rela tapi ia harus bagaimana?
"Sangat melelahkan," ratap Alice seraya meraih tas kerjanya.
Wanita itu keluar dan menutup pintu kamarnya dengan rapat. Ia tersenyum tipis dan akan pergi ke kantor. Hari ini adalah pengurusan terakhir kerjasama mereka dan akan launching bulan depan.
Tidak terasa waktu begitu rakus, sebentar lagi ia akan pulang ke Kanada. Tapi entahlah apakah ia akan pulang atau tidak.
Alice merasakan dadanya bak dihantam benda keras dan jantung hendak copot melihat seorang pria dengan penuh wibawa dan tangan terlipat duduk di sofanya.
Ia mendengus kasar menatap pria itu dengan tampang sombongnya. Suasana pagi Alice harus terganggu sementara karena kedatangan pria tak diundang ini.
"Kenapa kau ada di sini?" marah Alice dan melihat ke setiap ruangan apa ada Damian atau tidak.
Ia tidak ingin Genta bertemu lagi dengan Damian seperti saat itu. Kekacauan yang dibuat keduanya membuat kepala Alice pening, memang Damian sangat menyebalkan ia pun membencinya.
Tak sudi ia menganggap jika pria itu kakaknya. Laki-laki pisiko yang telah membunuh manusia tanpa rasa bersalah dan masih tidak puas juga.
"Kenapa? Tentu aku ingin menjemput istri ku," melas Genta seraya berdiri dari tempatnya.
Ia menghampiri Alice lalu tersenyum dengan menampakkan deret giginya. Genta begitu menggemaskan di mata Alice tapi ia mengenyahkan dan berusaha memendamnya agar Genta tidak besar kepala.
"Aku tidak menyuruh mu untuk menjemput ku," ujar Alice seraya berlalu meninggalkan Genta.
Genta ternganga tidak percaya jika ia diabaikan begitu saja. Harga dirinya turun di depan wanita itu.
Ia tidak terima dan mengejar Alice cepat. Genta mensejajarkan langkah kakinya dengan Alice.
Ia ikut masuk ke dalam lift ketika Alice juga masuk ke dalam sana. Akhirnya pria itu mendapatkan suasana tenang juga dan mengajak Alice mengobrol.
"Kau masih marah dengan ku?"
Napas Alice memburu dan tangannya terkepal. Ia berusaha menghilangkan kegeramannya dengan senyuman terpaksa.
"Menurut mu?"
"Kau sudah memaafkan ku," tutur Genta begitu saja dan tidak peduli faktanya.
Alice memukul Genta dengan tasnya begitu kencang hingga menghasilkan suara tepakkan begitu kuat.
"Omong kosong!! Sejak kapan aku memaafkan mu? Aku tidak akan memaafkan mu, bisa-bisanya kau dengan kaki lumpuh seperti itu membuat ku pingsan di ranjang ku sendiri karena ulah mu!!" Alice menghembuskan napas terburu-buru, ia sedang kesal dengan pria ini yang menggempurnya malam tadi tanpa ampun hingga pingsan merenggutnya.
"Aku khilaf tidak sengaja, kau terlalu nikmat hubby. Ku harap kau bisa memaafkan ku!" sesal Genta berharap dimaafkan tapi ucapannya malah menjadi bumerang sendiri baginya.
Alice murka dan menambahkan pukulannya hingga lift pun terbuka.
____________
Meeting telah selesai dan para karyawan kembali ke tempat kerjanya masing-masing. Genta berpikir sejenak menyadari jika wanitanya tidak ada di tempat.
Ia pun mencari Alice ke mana perginya perempuan tersebut setelah meeting tadi. Kakinya yang cacat tidak menghentikan misinya untuk terus mengelilingi gedung perusahaan tersebut.
Hingga Genta melihat seorang wanita sedang asik mengobrol dengan seorang pria. Api emosinya memuncak seketika.
Genta menghampiri mereka dan menarik kerah baju pria itu yang berani mengobrol dengan istrinya.
"Apa-apaan kau Genta!!" marah Alice berusaha melepaskan Josua dari amuk Genta.
Genta menatap Alice yang membantu pria ini. Ia mendengus dan melepaskan kerah Josua dengan kasar.
"Berani-beraninya kau mendekati istri ku." Tatapan Genta begitu mengintimidasi Josua tapi nyatanya Josua sama sekali tidak takut.
Alice menatap kesal Genta. Pria ini memang aneh, sikapnya akhir-akhir ini sangat posesif dan pencemburuan. Padahal ia dan Josua sebagai rekan kerja memang diharuskan banyak berinteraksi.
"Genta! Dia asisten ku, kau tidak berhak cemburu padanya."
Nyatanya Genta tidak peduli siapa Josua meskipun pria itu kerabat Alice sekalipun, tidak ada alasan untuk tidak cemburu dengan pria ini.
"Apa kata mu? Aku tidak ingin kau dekat dengan lelaki mana pun, termasuk dia," tunjuk Genta mentah-mentah di depan Josua.
Alice memutar bola matanya malas. Genta telah benar-benar dirasuki iblis jahat, pikirnya. Tingkahnya sangat aneh diluar pemikiran normal seorang manusia.
"Dia Josua, Genta! Orang yang membantu ku melakukan pekerjaan."
"Siapa pun dia tetap aku tidak suka. Apa kau tidak menyadari jika Josua menyukai mu?" pungkas Genta membuat syok Alice.
Alice menatap Josua yang sedang membara melihat Genta, pria itu tampak tengah marah dengan kata-kata Genta.
"Apa maksud mu?!! Tutup mulut mu, kau tidak berhak mengurusi perasaan ku!!"
"Apa? Kau masih ingin menyangkalnya?"
"Genta sudah!!" tegur Alice seraya menatap Josua mohon maaf. "Maafkan suami ku Josua. Kau pergilah lebih dulu."
Setelah Josua pergi Alice menatap tajam Genta. Ia juga hendak pergi tapi tangannya diseret terlebih dahulu. Genta menggendong tubuh wanita itu di depan banyak orang.
Tentunya kelakuan Genta menjadi pusat perhatian. Alice meringis membayangkan hinaan apalagi yang akan diterimanya.
"Genta turun kan aku!! Bareng*sek lepaskan aku!!"
Genta membawa Alice ke ruang pribadinya dan mendudukkan wanita itu di pangkuannya.
Ia tersenyum tanpa rasa bersalah yang membuat Alice hendak sekali menjambak wajah pria ini.
"Nyonya Miller, tugas mu sekarang adalah menyuapi ku." Genta memberikan sepiring pizza dan meminta perempuan tersebut menyuapinya.
Alice merasa kesal dan terpaksa menyuapi bayi besar tersebut. Dengan sabar ia melakukannya berharap cepat selesai dan cepat pergi dari ruangan ini.
Akhirnya hal yang ditunggu pun tiba. Alice menarik napas dalam cukup bahagia. Ia bergerak hendak turun tapi pinggulnya ditahan.
"Jangan bergerak," rintih Genta dengan wajah memerah.
Alice tercekat dan ia menyadari sesuatu yang menusuk di area pribadinya. Habislah dirinya, hilang sudah harapannya.
"GENTA AKU BELUM MEMAAFKAN MU!!"
"Aku tidak peduli," ujar pria tersebut dan menyerang Alice tanpa ampun. Ia sudah siap menerima amukan Alice nantinya.
______
Tbc