
Lina terkejut melihat kekacauan di kamar nonanya. Ia menatap Genta yang tertunduk dengan pakaian penuh dengan noda makanan.
Matanya melirik k arah sang nona yang mengeluarkan air mata. Lina langsung memandang wajah Genta meminta penjelasan.
Situasi ini tampak tak seperti biasanya. Biasanya Alice bila dekat dengan Genta maka ia akan mengukir senyuman yang amat luas. Namun sekarang ia terlihat sangat tak menyukai keberadaan Genta.
Lina melangkah masuk dan lekas membersihkan tempat tersebut. Ia pun membantu sang nona agar kembali tenang.
Pelayan wanita itu menatap Genta melalui isyarat mata agar pria itu cepat keluar dari situ.
Genta yang mengerti pun mengangguk. Ia berjalan dengan wajah tertunduk. Ia tak menyangka hal tersebut terjadi, hatinya sedih nonanya telah membenci dirinya. Apakah ada setitik harapan lagi untuk Genta?
Alice sungguh sesak melihat Genta keluar. Ia juga tidak mau melakukan itu, namun jiwanya sudah terbutakan akan dendam dan sakit hati terhadap pria tersebut.
Ia membiarkan saja Lina membersihkan kamarnya. Bahkan perempuan tersebut mengambilkan makanan kembali untuk Alice.
Ia menyuapi Alice dengan penuh sayang seperti anaknya sendiri. Lina dapat melihat tak ada lagi semangat hidup dari bola mata hitam itu. Ia sedih menatapnya. Nonanya sangat aneh semenjak bangun tidur.
"Nona makanlah barang sedikit," pinta Lina pada perempuan itu. Namun sama sekali tak ada jawaban darinya. Ia seperti mayat hidup.
Lina pun khawatir, apalagi merasakan suhu badan Alice sangat tinggi. Wajahnya pucat dan tampak kelelahan.
"Nona ada apa? Makanlah sedikit."
Muak mendengar kicauan Lina di sampingnya, terpaksa Alice menelan makanan menggelikan itu.
Ketika telah usai pekerjaannya memberikan sang nona makan, Lina pun memutuskan untuk membersihkan tubuh Alice dan menggantikan pakaiannya.
Sedangkan dengan Alice ia tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh pembantunya.
Saat Lina membuka pakaian sang nona. Ia terkejut melihat tubuh itu. Hatinya gelisah dan ia tau semua itu. Dunianya bak runtuh, namun ia tetap berpikir positif. Jika itu bukan karena hal tersebut apakah nona Alice sedang terserang penyakit?
Ia tak bisa membayangkannya. Alice yang dulu tumbuh dengan sehat harus berakhir seperti ini
Apakah nona Alice berubah karena ini? Bisa jadi ini penyakit, tubuh gadis muda itu sangat panas.
Namun pelayan tersebut berusaha mengenyahkan pikirannya. Ia harus fokus dengan pekerjaannya sekarang.
Lina menggosok area tubuh nonanya pelan, dan membasuhnya. Setelah ritual itu selesai ia pun membantu Alice mengenakan pakaiannya.
________
Suara kicau burung menghangatkan sore Genta. Ia menyapu halaman rumah dengan telaten. Saat sang tuan datang pria tersebut lekas menunduk hormat.
Punggung William mulai menjauh, dan Genta memberanikan diri untuk menatap punggung ayah dari wanita yang telah ia nodai.
Bisakah William memaafkan perbuatannya yang bahkan tak pantas untuk dimaafkan itu?
Genta menarik napasnya dan berusaha untuk kembali fokus dengan pekerjaannya. Namun matanya membuat melihat Cristian yang dari arah dapur berjalan dengan mengendap-endap, Genta heran bagaimana cara pria itu masuk ke sini?
Ia pun menghampiri Cristian yang belum menyadari dirinya. Cristian tampak seperti sedang melarikan diri.
Genta menepuk pundak pria itu hingga mengejutkan Cristian. Laki-laki itu menatap Genta dengan kesal.
"Kenapa kau bisa di sini?" dihadang oleh pernyataan semacam itu membuat Cristian pun gelagapan.
Ia menarik napasnya terlebih dahulu lalu menghembuskan perlahan. Pria tersebut memandang Genta dengan wajah tak bersalahnya.
"Oh iya Genta bagaimana dengan mu semalam? Baik-baik saja kan? Ku harap kau tidak mengacaukan sesuatu di rumah ini saat mabuk," ujar Cristian terkikik seraya menepuk pundak Genta.
Kali ini Genta yang terdiam. Dadanya berdegup kencang, kilasan ingatan semalam menghampirinya. Tuhan apa yang harus ia lakukan?
Genta menatap Cristian dengan lirih. Dan Cristian pun mengernyitkan kening bingung dengan wajah gelisah Genta. Ia menunggu jawaban dari pria itu yang tampak ragu-ragu.
"Aku se-mala..."
"NONA ALICE TENGGELAM DI KOLAM!!"
Teriak salah satu pelayan yang membuat seluruh penjuru tempat langsung terkejut. Sama halnya dengan Genta dan Cristian.
Genta cepat berlari ke arah kolam renang dan disusul Cristian. Genta yang melihat tubuh mungil itu di dalam sana langsung melompat ke dalam kolam.
Ia berenang mendekati Alice dan meraihnya. Ia langsung menangis melihat Alice sudah tak sadarkan diri.
Genta panik dan ia cepat-cepat berenang ke tepi. Lalu sang ayah William lekas menyambar tubuh putrinya dan meminta Sean untuk menyiapkan mobil.
Genta terduduk di tepi kolam. Matanya tak sengaja melirik ke arah Alice tadi tenggelam. Ia tak tau bagaimana kondisi Alice bahkan ia sendiripun tak sempat mencek apakah tubuh tersebut masih bernyawa.
Hatinya bak ditusuk ribuan pisau kala wajah pucat itu kembali terputar di otaknya. Genta memang bodoh, ia telah mengkhianati kepercayaan nona mudanya dan tuannya.
"Genta kau tidak apa-apa?" tanya Cristian panik.
Genta tak menjawab ia masih tertunduk dengan rasa bersalah, ia tau pasti kejadian ini berhubungan dengan kelakuan bejatnya.
"Cristian bisakah kita menyusul nona ke rumah sakit?"
Cristian mengerutkan keningnya, "kenapa? Bukankah di sana sudah ada keluarganya?"
"Tolong aku Tian."
Cristian menghela napas pasrah dan mengangguk. "Ya aku akan mengantarkan mu. Tapi kau tidak mungkin ke sana dengan pakaian seperti ini bukan?"
Genta menatap pada tubuhnya dan menghela napas. Ia berdiri dan langsung berlari ke kamar untuk mengganti pakaian.
__________
Para suster dan dokter dengan cepat menangani Alice. Kondisi Alice benar-benar kritis, untung ia lekas dibawa ke rumah sakit, jika tidak mungkin putrinya itu tak kan dapat melihat hari esok dan seterusnya.
William bersandar pada dinding di luar ruang UGD, Tiara yang baru datang dari arisan itu langsung berlari ke arah suaminya dengan panik.
Ia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan William. Ada apa lagi Dengan anaknya?
William berusaha menenangkan Tiara meski ia sendiripun tak tenang. Di tatapnya anaknya yang masih kecil di dalam gendongan Sean dengan pandangan putus asa.
"Kenapa Alice bisa masuk ke kolam? Bukan kah keamanan di sana cukup ketat? Aku akan memecat mereka yang tidak becus menjaga putri ku. Kau tenang saja Tiara," ujar William penuh dengan kemarahan.
Sementara Lina pelayan pribadi Alice yang berada tak jauh dari sana langsung ketakutan. Ia meremas bajunya, ia telah lalai menjaga nona muda mereka.
Beberapa jam kemudian.
Kondisi Alice telah normal kembali, keluarga telah boleh menjenguk Alice. Tepat setelahnya Genta sampai dan berdiri dari luar ruangan.
Ia dapat melihat dari dinding transparan di depannya. Ia tak bisa berbuat apa-apa kala menyaksikan tubuh mungil terbaring kembali di ranjang rumah sakit. Cristian yang berada di samping pria itu pun heran. Ia menatap Genta lekat lalu beranjak mengikuti Genta yang berlalu dari tempat itu.
Di tengah jalan Lina mencegat jalan Genta. Ia menatap pria itu penuh dengan selidik.
"Ada apa Lina?"
"Genta apa yang terjadi semalam? Bukankah malam tadi nona berada di kamar mu semalaman?"
Genta tercekat, ia tahu Lina curiga. Tapi ia tak tahu harus menjawab seperti apa pernyataan Lina. Ketakutan pun mendera dirinya. Tubuhnya bergetar.
________
Plis like dan komen bestie🥺🥺ðŸ˜