
Semua mata tertuju pada objek wanita yang terbujur tak berdaya di atas ranjang. Beragam tatapan diarahkan kepada sang wanita.
Sementara yang ditatap hanya bisa menangis tanpa suara. Ia ingin menjerit mengeluarkan semua rasa sakitnya dengan berteriak sekencang-kencangnya.
Tubuhnya bergetar hebat. Keringat menghiasi permukaan wajahnya. Ia seperti kesetanan dan berusaha bergerak dan berteriak meski hanya mengeluarkan suara kecil dari mulutnya.
Tangisnya meledak mendapati ternyata ia tengah hamil karena perbuatan bejat pria itu. Ia tidak akan memaafkan Genta, sepeserpun tak akan. Alice tidak sudi.
Yang ada dibenaknya hanyalah bagaimana cara dirinya agar bisa membunuh pria itu. Ia tertawa tak bersuara, lalu memasang wajah sedih dan kembali menangis, dan itu terjadi berulang-ulang kali.
Para dokter dan suster yang berada di sana cepat menangani kondisi Alice tersebut. Mereka menyuntikan obat penenang pada perempuan itu hingga Alice pun perlahan mengantuk dan tertidur.
Sang dokter hanya bisa menunduk melihat wajah Tiara tanpa ekspresi. Perempuan itu terlihat mengerikan. Dadanya kembang kempis menahan napas penuh emosi.
Tangannya mengepal hingga menampakkan buku jarinya. Tidak ada lagi tangis di wajah Tiara, ia pun juga sudah lelah menangis. Ibu mana yang tidak sakit hati mendengar anaknya hamil di luar nikah?
Ia tidak marah dengan Alice, tapi ia tak bisa menahan emosi ingin menguliti hidup-hidup pria yang berani-beraninya melakukan hal keji pada anaknya di saat kondisi putrinya itu yang sedang lumpuh.
"Berani-beraninya dia berurusan dengan keluarga Arakhe. Lihat saja kau bajing*n." Tiara langsung melongos pergi meninggalkan kamar putrinya dengan langkah cepat dan penuh hentakan kemarahan.
Sementara Lina hanya membeku di tempat tak berani melakukan apa pun. Usai kepergian Tiara ia langsung terkulai di lantai dan menangis cukup kencang.
Para suster dan dokter yang menatap itu hanya menghela napas dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Mereka tidak ingin ikut campur takut mereka akan terkena imbasnya.
Pelayan tua itu memegang dadanya dan meremasnya. Benar apa yang telah ia duga. Dan lebih bodohnya lagi hanya dia yang tau di sini pelakunya tapi dirinya entah kenapa tak sanggup mengatakan.
Lina berusaha untuk bangkit dengan energi yang tersisa ia berjalan gontai sembari menitikkan air mata di setiap irama langkahnya. Ia mendekat pada ranjang Alice anak perempuan yang telah ia rawat sejak anak itu kecil.
Ia bersimpuh sambil memegang tangan wanita yang juga telah menjadi anak angkatnya. Sungguh Lina tidak dapat berkata apa-apa.
Ia sudah lalai dalam menjaga nonanya. Apakah dirinya masih punya muka tetap berada di sini? Sungguh tak tahu malu dirinya, ia telah gagal.
"Nona maafkan saya nona. Saya telah lalai menjaga anda. Saya salah, saya tidak bisa menyelamatkan Anda. Andai saja anda tidak menyuruh saya meninggalkan anda waktu itu, mungkin kejadian ini tidak akan ada. Hiks hiks."
Lina mengusap air matanya dan menarik hingusnya. Ia menatap lekat wajah yang tampak kelelahan bahkan saat wanita itu sedang tertidur.
Wajah cantik, dengan hidung mancung, bulu mata lentik, tapi sayang tubuh perempuan itu semakin mengecil.
Hati Lina pedih menatapnya. Wanita ini tidak berdosa, tapi Tuhan tega menghukum perempuan manis seperti Alice.
"Sungguh malang nasib anda nona Alice. Semoga Tuhan memberkatimu."
_________
Genta berjalan hendak pulang dari sebuah bank. Ia baru saja mengirimkan uang gajinya bulan ini untuk orangtuanya di kampung.
Pria itu menunduk dan memasukkan tangannya di kedua saku celananya. Tak ada yang menyangka jika ia hanyalah seorang pelayan dan tukang kebun.
Tubuhnya yang atletis dan sempurna serta perawakannya yang gagah dengan wajah bak pahatan dewa Yunani hingga pakaian apa pun dikenakan olehnya tampak seperti barang mahal.
Ia tak cocok menjadi pelayan lebih cocok bekerja sebagai model. Genta menghela napas dan ingin mencari taksi di sekitaran situ.
Ia celengak-celenguk ke sana kemari mencari taksi. Ia tak memesan taksi online dikarenakan ponselnya kehabisan daya.
Ditengah kebingungan sebuah mobil BMW merah berhenti tepat di depannya. Genta pun mengernyit tak paham kenapa mobil itu malah berhenti di dekatnya.
Tidak lama keluar seorang wanita dengan setelan sederhana baju selutut dan cukup ketat namun tidak vulgar. Genta hanya bisa melongo melihat penampilan wanita itu yang elegan, dan ia semakin dibuat melongo lagi kala wanita tersebut malah berjalan ke arahnya.
Saat keduanya bersisi tatap barulah Genta tersadar akan sesuatu. Ia mengingat siapa perempuan ini. Perempuan tersebut adalah wanita yang ia temui di rumah sakit yang tidak sengaja ditabraknya.
Genta pun mulai merasa tak nyaman. Apakah wanita itu akan meminta pertanggungjawaban dan menuntut sesuatu?
Angel pun jengah menatap Genta di depannya. Ia memutar bola matanya malas. Perempuan itu bersedekap dada.
"Kau rupanya."
"Ya aku. Ada apa?"
"Kita bertemu lagi."
Angel pun tersenyum dan memandang Genta dengan senyum smirk-nya, ia mengangguk-ngangguk lalu meneliti penampilan Genta.
"Oh begitu kah? Well sesuai apa yang kau katakan."
Genta pun muak dengan percakapan ini, kenapa dengan wanita di depannya. Kenapa terlalu banyak basa-basi.
"Aku ingin meminta kau untuk bertanggungjawab perbuatan mu di rumah sakit kemarin," ucapnya yang sukses membuat Genta pun terkejut.
"Maksud mu? "
"Apa kau ingin aku menuntut mu ke jalur hukum heh?"
Genta pun menggeleng. Ia tidak ingin ayah ibunya di kampung bersedih. Ia juga belum siap untuk meninggalkan dunia dan mendekam di penjara.
"Katakan apa mau mu," tutur Genta to the point.
"Menarik sekali. Bagaimana jika kau berpura-pura menjadi pacar ku dan menemui orangtuaku?"
Sebuah kalimat tersebut pun sukses membuat jantung Genta hendak copot dari tempatnya. Ia menganga tak percaya.
"Jangan bercanda. Siapa yang mau menjadi pacar bohongan mu. Aku tak sudi." Genta pun berlalu dari sana meninggalkan perempuan aneh yang memintanya menjadi pacar perempuan itu, apa wanita tersebut tak punya malu?
Angel yang melihat Genta pergi pun lekas mengejar pria itu dan mencekal lengan Genta.
"Jika kau tidak mau, jangan pernah kau berharap keluarga mu di kampung akan baik-baik saja."
Angel pun tersenyum menang kala melihat Genta yang mulai berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya.
"Bagaimana?" tanya Angel dengan senyuman bangga.
"Apa maksudmu?"
"Masih tidak mau?" Alice mendekati Genta dan membisikan sesuatu yang membuat Genta geram hendak menghajar wanita tersebut namun diurungkan.
"Ada baiknya kita saling memberitahukan nama masing-masing. Ah nama ku Angel. Bagaimana dengan mu?"
"Tidak penting."
__________
Genta dan Angel bersamaan memasuki rumah mewah milik keluarga Angel dan menuju ruang makan. Penampilan Genta dirombak. Ia mengenakan jas mahal yang bahkan sama sekali tak terbayangkan oleh pria itu jika ia akan mengenakannya.
Genta telah dilatih bagaimana mejadi pria yang berkelas agar ayahnya tak curiga. Angel berada di samping Genta sambil melingkarkan tangannya pada pria itu.
Ia menghampiri keluarganya di meja makan dengan senyum yang sangat lebar untuk membuktikan jika ia bahagia dengan pria yang ada di sampingnya.
Semua mata keluarga Angel pun memandang saat kedatangan keduanya.
Mata Genta tak sengaja menangkap Cristian yang juga berada di sana ia terkejut dan begitupula sebaliknya.
"Cristian kenapa kau bisa ada di sini?"
Cristian terdiam bisu. Lelaki itu panik namun berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Kalian saling mengenal?" kaget Angel tidak percaya.
"Ya dia teman ku," tegas Genta.
Angel pun langsung berkeringat dingin. Takut ketahuan jika ia telah menipu keluarganya.
Begitu juga dengan ayahnya yang tak hentinya terkejut dengan kehadiran Genta. Wajahnya mengeras dan menatap nyalang putrinya. Ia menatap putrinya dengan marah.
"Kalian tidak bisa bersama," tutur Miguel seperti tengah menyimpan sesuatu kenapa mereka berdua tidak bisa bersama.
Miguel beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruang makan. Saat berpas-pasan dengan Genta sejenak ia terdiam sebentar lalu memandang lekat Genta dengan serius lalu setelahnya ia pun berjalan meninggalkan ruang makan.
________