
Suara amukan petir menggelegar saling bersahutan, hujan saling berlomba saling jatuh ke bumi, angin bertiup kencang, dedahanan saling bertabrakan, dan daun-daun berterbangan.
Hujan deras melanda kota New York malam ini. Sementara dari arah kegelapan Seseorang berjalan memasuki area pekarangan rumah mewah, tubuhnya basah kuyup di bawah derasnya hujan.
Jalannya lemah seolah sedang menahan sesuatu. Wajahnya tertunduk, dan bulir-bulir air jatuh dari rambutnya.
Napasnya memburu merasakan dingin yang merasuki jiwanya. Tubuhnya menggigil merasakan suhu yang cukup ekstrim.
Ia hendak berjalan masuk ke rumah mewah tersebut melalui jalan belakang, namun seseorang mencegat jalannya. Ia mengangkat kepala hendak memastikan siapa yang telah menghentikan perjalannya.
Matanya yang memerah tersebut menangkap seseorang yang cukup ia kenali di depannya. Pria itu menghela napas dan memasang mimik seperti tengah menannyakan kenapa pria itu menemuinya dengan wajah panik pula.
"Ada apa?"
"Genta cepatlah. Kau harus memperbaiki atap di dapur yang bocor. Cepat sebelum ketahuan Tuan, kau pasti akan diamuk Genta. Lagian kau ke mana saja seharian ini? Aku tak melihat mu tadi di taman," kesal orang itu merutuki kecerobohan Genta.
Genta mengangguk. Ia berjalan gontai hendak terjatuh, seluruh tubuhnya terasa sejuk bak es di kutub Utara, kepalanya pusing. Tubuhnya letih, ia terpaksa harus memperbaiki Genteng terlebih dahulu sebelum mengistirahatkan tubuh yang hampir tak ada energinya lagi.
Genta berjalan ke arah dapur. Tubuhnya hampir limblung namun ia usahakan agar tetap berdiri dengan benar dan melangkah dengan tegap.
Pria itu mengambil tangga dan memanjat atap rumah yang cukup tinggi. Saat telah di atas, Genta menyentuh kepalanya yang berdenyut pusing itu.
Ia menarik napas panjang agar keadaan dirinya cepat kembali normal. Dirasa telah nyaman, Genta pun mulai memperbaiki kerusakan-kerusakan tersebut, cukup lama sampai hingga akhirnya ia selesai.
Pria itu turun dari sana, hampir saja ia terjatuh saat menuruni tangga dan untung pula tangga yang roboh tak menimpa dirinya.
Genta bersyukur lalu menunduk untuk menenangkan perasaan dirinya. Ia menatap orang yan tadi menghampiri dirinya dengan cukup sebal, apa pria ini tidak bisa memperbaiki sendiri? Kenapa pula harus dia yang disuruh?
"Genta ada apa dengan mu? Sepertinya kau sedang tidak enak badan."
Genta menggeleng dan tersenyum sekilas pada pria itu. Melihat senyum dari Genta membuat orang tersebut merasa jika Genta baik-baik saja. Ia mulai meninggalkan Genta di sana sambil membawa tangga untuk meletakkan ke tempat semula.
Pria dengan bentuk wajah sempurna itu hanya bisa menghela napas lemah, kemudian ia berjalan ke arah kamarnya. Sesampainya di sana, ia mendudukkan bokongnya di sebuah kursi lalu terdiam beberapa detik.
Genta teringat dengan keluarganya di kampung, sudah hampir 2 bulan ia bekerja di sini dan meninggalkan keluarganya. Ia juga mendapatkan kabar dari sang ibu jika ayahnya sudah cukup membaik.
Tentu ia bahagia mendengar kabar itu, namun senyuman yang tadi terbit harus kembali terbenam kala mengingat hal bejat yang telah ia lakukan. Pasti keluarganya di sana jika mengetahui itu akan membenci dirinya.
Genta memejamkan matanya dan memijat kepalanya yang cukup pusing. Ia membuka bajunya yang basah kuyup lalu meletakkannya ke tempat kotor. Pria itu berjalan ke arah kamar mandi dan membersihkan badan.
Genta keluar dengan hanya handuk yang melilit di pinggang. Di rumah semewah ini tentu disediakan fasilitas yang sangat cukup bagi para pekerja.
Lelaki itu menatap pada area perutnya yang terdapat luka bakar. Luka itu melepuh dan cukup menyakitkan. Ia mendapatkan luka tersebut saat Alice menumpahkan makanan hangat ke tubuhnya kemarin, Genta tak bisa marah kepada wanita tersebut, bukan karena Alice anak sang majikan tapi karena ia mencintai perempuan itu.
Genta mengambil salep lalu mengoleskan ke luka yang cukup besar itu.
"Bagaimana aku bisa marah denganmu? Bahkan aku pun rela terluka jika itu karena dirimu."
Genta tertawa hambar, sungguh konyol sekali bukan dirinya?
________
Lelaki itu mengernyitkan alisnya heran. Ia pun mendekat ingin sekedar mencari tahu. Kebetulan Sean ada di sana, Genta berniat hendak menannyai pria itu.
Ketika telah mencapai tujuannya, Sean yang menyadari keberadaan Genta pun tersenyum lega.
"Ah Genta aku tadi baru saja hendak mencari mu. Bisakah kau bantu aku masukkan barang ini ke mobil?"
"Mau dibawa ke mana barang ini?" tanya Genta penasaran.
Sean tertawa pelan lalu menepuk pundak pria itu pelan.
"Lakukan saja, kau tak perlu tahu." Genta tersenyum dan menghela napas. Baiklah ia tidak akan penasaran lagi.
Pria tersebut pun melakukan tugasnya dengan cukup baik membantu Sean. Ia berjalan ke arah Sean saat pekerjaan mereka telah selesai.
"Thanks kawan." Sean masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobil Alphard tersebut.
Genta tersenyum menanggapi dan hendak melanjutkan ke tempat tujuan utamanya tadi.
Namun pendengarannya menangkap sesuatu yang sangat mengejutkan. Dunia Genta bagaikan runtuh berkeping-keping. Ia kembali menatap kepergian Sean. Dirinya terpaku tak percaya.
Genta pun langsung bergegas berlari ke arah pintu gerbang yang hendak ditutup. Pria itu menghentikan taksi yang kebetulan melintas di sana. Tinggal beberapa bulan di New York telah membuatnya cukup tahu dengan kota tersebut.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh Genta pun akhirnya sampai ke bandara yang hendak ia tuju.
Di sana dirinya kalang kabut di antara kerumunan banyak orang untuk mencari Alice. Sudah hampir setengah jam ia berkeliling tapi dirinya tak kunjung jua menemukan keberadaan Alice.
Ia memegang kedua tungkainya yang letih sambil menahan Isak tangis. Dadanya sangat sesak jika mendapatkan kemungkinan Alice sudah terbang ke China.
Di saat keterpurukan serta keputusasaan ia melihat salah satu penumpang yang hendak menaiki pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.
Genta tersenyum penuh kebahagian. Dirinya tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan. Ia berjalan mendekat.
Mata Alice tak sengaja menatap kehadiran Genta di antara kerumunan banyak orang. Alice terkejut namun ia tak mau mengalihkan pandangannya.
Mata mereka beradu cukup lama hingga tanpa sadar keduanya sama-sama menitikkan air mata di dalam bisu keduanya.
Genta bahagia melihat wanita itu kembali. Namun hanya sesaat kebahagian tersebut sebelum akhirnya sirna saat kursi roda Alice perlahan masuk ke dalam pesawat.
Genta memejamkan matanya membiarkan air mata tersebut jatuh perlahan-lahan membasahi kedua belah pipinya.
Ia baru mengetahui jika beginilah sakitnya parah hati. Ia baru pertama kali merasakan apa itu cinta, tapi ia juga langsung merasakan disuguhkan untuk pertama kali apa itu sakit hati. Ini sungguh menyakitinya.
Tapi dipikir-pikir mungkin apa yang dirasakan Genta tak sebanding dengan apa yang telah dirasakan Alice. Wanita itu harus menderita karena kelumpuhan dan cacatnya, kini ia juga harus menderita karena kehilangan sesuatu yang berharga dari dirinya, bayangkan seberapa besar dendam yang akan dipendam Alice?
______
Jangan lupa like dan komen yah teman-teman 🥺🙏🥰