My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 10



Miauww


Seekor kucing yang baru saja terbangun dari tempat nyamannya merilekskan tubuhnya yang gempal. Ia berjalan ke arah sebuah ranjang yang ditempati seseorang.


Kucing itu melompat ke atas ranjang dan mendusel-duselkan tubuh gembulnya kepada orang yang ada di sana.


Ia begitu menikmati aksinya hingga membuat seseorang terbangun dan membuka matanya yang begitu indah.


Sesuatu yang bercahaya langsung menembus netranya. Kepalanya terasa pening saat sinar matahari tepat berada di depan wajahnya. Mungkin ini akibat ia sudah lama tak membuka mata lagi.


Alice merasa lega kala penglihatannya kembali normal. Perempuan itu menatap lurus ke atas. Napasnya sesak, lagi-lagi ia selamat. Ia berharap harusnya ia sekarang sudah ada di surga. Tapi apa? Ia kembali lagi ke tempat ini.


Rasa sesak dan bayangan itu masih saja tetap menempel indah di otaknya. Alice ingin menghapusnya namun selalu saja gagal.


Alice merasakan ada benda berbulu di sekitar tubuhnya. Ia menatap ke samping dan tersenyum melihat seekor kucing mendengkur di sampingnya.


Ia mengangkat tangannya dengan pelan lalu mengusap bulu halus yang dimiliki sang kucing.


Senyuman mengembang kembali setelah lama tak terlihat lagi. Kini keceriaan itu kembali hadir, senyuman manis itu telah terbit terulas dengan indah.


Alice menatap lagi ke samping. Sebuah boneka kelinci yang terlihat imut ada di sampingnya. Alice terkekeh karena ia menyukai benda tersebut. Ia berpikir yang meletakkan itu adalah orangtuanya.


Namun pergerakan Alice terhenti saat ia merasa jika pada saat ia sedang tertidur tadi ada seseorang yang telah membelai tubuhnya, dan juga menceritakan dongeng yang romantis untuknya. Tapi siapa? Tidak ada orang di sini? Apakah itu tadi hanya mimpi saja?


Alice berusaha buat melupakannya. Ia yakin itu hanya bunga tidur semata hingga terbawa ke dunia nyata.


Sedangkan di luar ruangan tepatnya di depan kaca yang transparan, seseorang mengulas senyum melihat pemandangan yang sangat indah baginya itu sebelum beranjak dari sana.


Alice hendak meraih gelas yang berisi air, namun ia merasa seluruh sendi tubuhnya tak dapat digerakkan. Ia lupa jika dirinya sekarang telah menjadi wanita lumpuh.


Perempuan itu menghela napas pasrah. Sungguh melelahkan, ia melamun sejenak memikirkan masa-masa sebelum semua masalah datang padanya.


Ia merupakan wanita periang yang selalu berceloteh apa pun kepada orangtuanya. Ia juga suka bermain dengan adiknya. Berlari, tertawa, dan lelah bersamaan.


Alice merindukan masa itu.


Sebuah suara dari arah pintu membuyarkan lamunan Alice. Wanita itu menatap ke arah suara dan tersenyum kecil.


Lina berjalan ke arahnya dengan beberapa barang di tangannya. Pelayan itu menaruh beberapa barang kebutuhan selama mereka di sana.


Alice menatap Lina seolah sedang menannyakan di mana kedua orangtuanya sekarang, ia harus berterima kasih dengan papa dan ibunya atas hadiah yang cukup menarik di pagi hari.


Seolah mengerti Lina memberitahukan jika ayahnya ada sesuatu yang mendesak di kantor. Sementara ibunya ada di ruangan lain sedang dirawat karena penyakit jantungnya kambuh kala mendengar kabar sang anak melompat ke dasar kolam.


"Tuan sedang ada pekerjaan mendadak di kantor nona, dan nyonya Tiara sedang dirawat karena penyakit jantungnya kembali kambuh."


Alice terpaku. Ia membuang wajahnya menatap ke arah samping. Hatinya bak diremas kuat mendapatkan kenyataan itu. Ia sakit hati saat tahu ibunya kembali merasa sakit di jantungnya karena dirinya.


"Nona makanlah terlebih dahulu," pinta Lina pada perempuan itu. Ia menyodorkan sesendok bubur ke arah Alice. Alice menerimanya dan mengunyahnya.


Pelayan perempuan itu juga membantu Alice untuk minum. Sungguh ini bukan seperti dirinya yang selalu diperlakukan seperti itu.


"Yaampun nona saya akan menyingkirkan kucing itu," Lina kaget melihat ada binatang berbulu tebal di samping Alice.


Mata Alice tak sengaja menangkap sebuah kotak yang ada di atas nakas. Kotak tersebut menarik perhatiannya. Perempuan itu memberi isyarat kepada Lina agar membuka kotak tersebut.


Lina pun juga baru menyadari ada kotak di sana. Ia mendekat dengan bingung, tangannya meraih benda tersebut dan membukanya hati-hati, takut jika isinya sesuatu yang mengerikan.


Di dalam kotak sederhana tersebut berisi sebuah bunga lili. Lina memberikannya pada sang nona, di dalam kotak itu juga masih ada selembar kertas.


Di dalam kertas terdapat tulisan yang cukup panjang.


"Nona ada selembar kertas," lapor Lina.


Alice mengedipkan matanya meminta Lina untuk membacakan tulisan yang tertera di sana.


Lina membacanya dengan perlahan. Di awal ia juga sedikit bingung dengan kalimat-kalimat fiksi namun indah. Hingga mengalirlah suaranya dan terdengar seperti seseorang yang sedang mengkisahkan sesuatu.


Alice menangis saat mendengar cerita itu. Ia sedih saat sang pangeran yang harus mati terbunuh demi menyelamatkan sang putri yang sangat ia cintai namun sama sekali tak mencintai si pangeran. Sungguh tega sekali putri tersebut.


Alice terdiam sesaat menenangkan perasannya. Lina juga tampak mengusap sisi matanya, ia ikut sedih dan terbawa suasana oleh cerita itu.


Alice mengambil selembar kertas dan menuliskannya di sana. Ia meminta agar Lina membawanya keluar.


"Nona maafkan saya. Anda tidak bisa keluar, anda baru saja dua hari yang lalu siuman. Anda perlu perawatan efektif."


Alice merengutkan wajahnya. Ia memandang Lina dengan kesal.


Lina yang menatap itu menghela napas sejenak dan menghubungi suster.


Saat suster telah masuk ke dalam ruangan itu, Lina menannyakan apakah boleh Alice untuk keluar.


Sang suster mengizinkan karena Alice pun butuh alam segar untuk menenangkan otaknya. Sang suster membantu Alice untuk duduk di kursi roda dan mengantarkannya ke taman rumah sakit.


Dari taman rumah sakit Alice dapat melihat beragam jenis pasien, ada yang sudah menua, ada yang buta, ada yang cacat, ada yang tak punya kaki. Ia memandang sedih, nasib mereka juga sama seperti dirinya.


Mata Alice tak sengaja memandang segerombolan anak SMA yang pulang sekolah. Alice meratap pilu, ia rindu sekolah lagi. Ia ingin pergi bersekolah seperti dulu.


Lina yang menyadari arah pandang Alice pun ikut bersedih, sungguh malang nasib nonanya, entah salah apa hingga nonanya mengalami takdir semacam ini.


Sebuah badut boneka beruang besar menghampiri Alice. Badut itu menari, dan bertingkah lucu di depan Alice. Alice pun tertarik dengan badut itu.


Badut tersebut mirip dengan boneka kesayangannya. Ia bertepuk tangan saat sang badut bernyanyi dengan suara berat. Badut itu juga melakukan atraksi lainnya serta juga melakukan sulap.


Alice tertawa sambil bertepuk tangan melihat tingkah lucu sang badut. Hingga pada akhirnya ia puas dan harus kembali ke kamar inapnya.


Saat Alice sudah menjauh, sang badut melepaskan kepala beruang yang menutupi wajahnya dan tampaklah paras tampan seseorang dengan perawakan sempurna. Ia tersenyum bahagia tak menyangka melihat tawa indah itu kembali. Ini nyata bukan mimpi, Alice bahkan mengeluarkan sedikit suara saat ia menghibur wanita itu.


"Nona saya harap anda akan tetap terus tersenyum seperti itu."


______


Hohoho jangan lupa like dan komennya 🥺🥺🙏