My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 36



Genta berjalan dengan perasaan pasrah menuju sebuah rumah yang berada tidak jauh dari depan matanya. Adaire dan Drake ikut bersamanya, Drake ketakutan, tubuh bocah itu bergetar masih trauma dengan apa yang dilihatnya.


Genta berjalan teratih-atih menahan perih di kakinya yang tertembak. Peluru telah dikeluarkan oleh suster yang menanganinya atas perintah Sean.


Aksi Sean tidak terduga dan Genta cukup terkejut pria itu malah membantunya, padahal William meminta Sean untuk menyeretnya.


Kedua bocah lucu itu tidak dibolehkan oleh William ikut dengan Alice. Sama halnya dengan Alice pula yang mendapatkan kekangan dari William.


Satu hal yang membuat Genta bersyukur yaitu William masih melepaskannya. Ia tidak tahu alasan apa yang membuat William memberikannya jalan kabur.


Kakinya yang telah ditembus timah panas terbalut dengan baik. Pria itu menyeka peluh di dahinya. Ia berusaha sekuat tenaga menahan sakit di area kakinya.


Sangat perih, dan dirinya berusaha buat menahan. Satu tangannya digunakan untuk menggendong tubuh Adaire yang lemah.


Sementara Drake enggan melepaskan satu tangannya lagi yang digenggam erat oleh anak itu.


"Papa," ujar Drake dengan wajah penuh tangis.


Genta menghela napasnya dan menatap Drake. Senyumnya menghangat dan hatinya melemah. Ia mengusap sayang puncak kepala Drake.


Sangat malang nasib mu Drake, kau harus menderita karena sesuatu hal yang tidak pernah dia lakukan.


"Drake kau harus tenang. Kau akan aman, dan aku menjamin kau masih bisa bertemu dengan ibu mu, tidak akan aku biarkan seseorang melukai ibu."


Drake menatap Genta penuh harap. Jauh di lubuk hatinya masih ingin berlama-lama bersama Alice. Alice adalah ibu kandungnya dan ia baru saja bertemu dengan ibunya, kenapa Tuhan malah ingin memisahkan mereka lagi, apakah Tuhan murka melihat ia bahagia?


Tidak hanya Drake yang berpikiran semacam itu, Genta juga sama. Kali ini Tuhan tidak mengabulkan doanya.


"Ayo masuk."


Genta merebahkan tubuh Adaire di suatu ranjang. Ia terharu melihat Adaire yang rela mengorbankan dirinya demi Alice.


Tangannya tidak berhenti membelai sang anak. Sementara Drake ia juga sama seperti Genta menatap Adaire dengan pandangan yang berbeda dari biasanya.


Ia sudah tahu jika Adaire adiknya dan ia ingin menyayangi Adaire meski itu sulit.


"Jadi Adaire adik Drake, Papa?" tanya Drake dengan polos dan mulutnya bertanya antusias.


Genta melirik Drake dan melemparkan senyum lebarnya. Ia menganggukkan kepala dan menatap lurus ke depan.


"Iya. Dia adalah adik yang dijanjikan ku pada mu dulu."


Sontak Drake menatap Genta dengan heran. Ia menerawang ingatannya, seketika ia mendapatkan jawabannya.


Benar Drake pernah berkata kepada Genta ingin memiliki adik perempuan dan kini keinginannya telah dikabulkan Tuhan.


"Tapi Drkae sering jahatin Adaire, Papa!"


"Tenanglah Drkae, Adaire pasti akan memaafkan mu," ucap Genta tersenyum geli, "Drake ambilkan air minum."


Anak itu langsung melaksanakan perintah dari sang ayah. Sembari menunggu Drake, Genta mengobati tubuh Adaire yang terluka.


Melihat buah hatinya seperti ini Genta merasa sesak. Hanya senyum getir yang selalu menyertainya dan menguatkannya.


Genta tidak sekuat dibayangkan, dia rapuh. Perasaannya melimpah mana kala kebahagiaan mulai menyertai dirinya tapi malah Tuhan merenggut dengan sekejap.


Ia baru merasakan bahagia bisa bersama Alice tapi malah itu hanya pertemuan manis semata sebelum mereka berpisah jauh karena keegoisan orang tua masing-masing.


Kenapa Genta tidak punya kuasa? Ya ia tidak memiliki tekad kuat dan pemberani. Padahal dia ingin, apa dia pria lemah yang tidak bisa melindungi wanitanya apalagi keluarganya? Genta rasa dia memang pria seperti itu.


Brakk


Seseorang mendobrak pintu rumahnya dengan kencang hingga menghasilkan bunyi kencang.


Tapi, malah dirinya dibuat kaget bukan kepalang. Seorang wanita dengan wajah berantakan masuk ke dalam rumahnya dan langsung mendekapnya dengan erat.


Genta mengernyit melihat penampilan Alice yang jauh dari kata baik. Perempuan itu panik seperti tengah dikejar sesuatu.


Genta mencoba untuk menenangkan Alice. Ia mengusap tubuh Alice yang bergetar ketakutan. Ia sangat bahagia Alice ada di sini bersamanya.


"Hey tenanglah, ada apa?" tanya Genta dengan hati-hati dan mengusap puncak kepala Alice.


Alice mantap mata Genta dan dirinya tiba-tiba menyerang Genta dengan sebuah ciuman brutal. Genta langsung terpekik heran.


Genta membalas ciuman Alice yang buas. Alice mendorong tubuh Genta hingga jatuh ke sopa dan memperdalam ciumannya. Ia berada di atas dan menurunkan ciumannya ke leher Genta hingga meninggalkan jejak.


"Genta ikutlah dengan ku, kita akan pergi jauh ke desa hingga tidak ada orang tua kita yang tahu," lirih Alice dengan mata berlinang.


________


Lina sibuk membersihkan kamar Alice, perempuan itu belum tahu jika Alice pergi dari rumah.


Dengan santai dirinya menyapu dan membersihkan, namun ia melihat lemari yang kosong tidak terisi barang-barang milik Alice.


Ia mengerutkan kening kebingungan ke mana hilangnya benda-benda milik Alice. Ia hendak melaporkan kejadian itu kepada William sang tuan namun seseorang lebih dulu menghadang jalannya.


Lina syok dan matanya berkedip beberapa kali melihat tubuh jakung sedang berdiri di hadapannya. Senyum Lina melengkung terukir dan orang itu juga membalas senyum Lina yang tipis tersebut.


Mata Lina berkaca-kaca dan langsung menghambur ke dalam pelukan pria muda itu. Sang pria dengan sayang membalas pelukan dari Lina.


"Kau tidak apa, anak ku?" tanya Lina dengan was-was dan meneliti seluruh tubuh pria itu.


Sang pria menggeleng meyakinkan sang ibu jika tidak terjadi apa-apa padanya. Lina menghela napas lega dan matanya berkaca-kaca.


Meski berada di rumah yang sama sangat sulit baginya untuk berinteraksi dengan anaknya. Ia harus menahan demi kebaikan semua.


"Ini apa?" tanya Lina heran melihat benda yang dipegang sang anak.


Orang itu menatap sang ibu dengan serius. Sementara Lina tidak mengerti kenapa anaknya melayangkan pandangan penuh kekhawatiran.


"Perang antara bisnis dan balas dendam sudah dimulai. Kasih sayang tidak ada artinya dengan uang. Simpanlah dokumen ini jika sesuatu terjadi."


"Apa maksudmu?"


"Tidak ada salahnya menyimpan dokumen ini jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu. Ingat jika hari itu telah terjadi bawa nona Alice jauh dari New York. Hanya ini yang bisa kita lakukan demi keluarga Arakhe."


Perasaan Lina pun gundah. Hatinya melemah dan menatap sang anak dengan sedih, ternyata hari itu sangat dekat.


"Barang-barang nona Alice tidak ada," lapornya.


Orang itu pun langsung terkejut dan bergegas mencek lemari Alice. Matanya membulat benar apa yang dikatakan sang ibu. Ia pun mencek ke sisi lain, dan benar kamar ini seperti tengah di tinggalkan majikannya.


"Gawat."


______


Tbc


jangan lupa like dan komen.


btw jangan lupa baca juga karya temen saya. dijamin seru ya manteman