
Genta yang baru saja menginjakkan kakinya di depan rumah langsung disambut Alice dengan wajah memerah karena amarah.
Wanita itu menatap sengit sang suami seolah tengah siap mengintrogasi. Genta mengernyit heran dengan perlakuan tak biasa sang istri.
Alice melirik pakaian Genta yang hanya mengenakan pakaian kasual. Ia menatap kalung yang menjuntai di leher sang suami dan seketika dadanya sesak.
Alice tak dapat lagi menahan air matanya, cairan bening itu lolos begitu saja dari bola mata indahnya.
Genta terkejut dan memeluk tubuh Alice tapi perempuan itu malah menghindar dan mundur spontan.
"Alice katakan ada apa? Apa ada yang menyakiti mu?" tanya Genta yang sudah dihantui rasa was-was.
Alice tidak menjawab tapi lirikan matanya sudah bisa menggambarkan jika ia tengah marah besar. Genta bertanya-tanya apa penyebabnya.
"Kau tidak ingin menjelaskan semuanya?" tanya Alice, ia tertawa tidak percaya.
Matanya berkaca-kaca hal itu membuat Genta merasa sangat bersalah. Tapi ia tidak tahu ingin menjelaskan apa.
"Aku yang salah?"
"Kau bertanya? Kau masih belum sadar rupanya," kekeh Alice dan menganggukkan kepala dengan perasaan gundah.
Genta hendak mengusap wajah Alice yang penuh jejak air mata, tapi wanita itu menepis tangan Genta dan memberikan peringatan keras padanya.
"Jangan berani kau sentuh aku!!"
"Ada apa? Aku tidak mengerti."
Genta jelas tidak tahu karena tiba-tiba ia langsung ditodong dan diintrogasi dengan hal yang tidak ia ketahui.
"Kau yang membunuh Thomas Leonard?"
Sontak Genta membulat dan menatap Alice tidak percaya. Dari mana wanita ini tahu, ia rasa sudah merahasiakannya dari Alice.
Alice tertawa dan menepuk bahu Genta bak teman, "kau memang hebat Genta. Ini rupanya sifat terpuji. Ku harap kau mendapatkan hadiahnya. Aku tidak ingin melihat mu lagi!!"
Alice yang sedang hamil tersebut akhir-akhir ini mudah sensitif. Perasannya begitu lemah, selain itu ia dikecewakan dengan lukisan tidak pantasnya.
Ia sangat malu dan merasa hina, ia tidak tahu jika Genta bisa sebejat itu. Hatinya sukar menerima kenyataan, tapi ia berusaha berlapang dada dan tersenyum pahit.
Tatapan Genta berubah dingin. Alice merasa yang ia lihat sekarang bukan Genta yang dikenalinya, setelah ia bertanya seperti tadi pria itu langsung berubah begitu cepat.
Alice merasa heran, rasa marahnya entah hilang ke mana, dan digantikan dengan rasa takut yang mendera dadanya.
Tatapan Genta begitu mengintimidasi. Napasnya memburu dan tangannya saling mengepal, sementara urat-urat menyembul dari pergelangan tangannya.
Alice berjalan mundur kala pria itu menghimpit dirinya ke tembok. Alice merasa takut ketika punggungnya telah mencapai tembok, ia tidak tahu bagaimana caranya kabur dari pria ini.
"Dari mana kau mengetahuinya? Dan sebanyak apa yang sudah kau ketahui?"
Alice melirik bola mata Genta dan meneguk ludahnya kasar, bola matanya yang indah itu menangkap netra yang penuh amarah Genta. Ia tidak mengerti kenapa pria ini marah, seharusnya dialah yang marah saat ini.
"Apa penting kau mempertanyakannya? Kau tidak perlu tahu aku mengetahui dari mana."
Plakkk
Alice menampar wajah Genta sekuat tenaga. Ia sudah terlampau kecewa dengan pria di depannya ini.
Wajah Genta mengeras ketika tangan lembut itu lancang menampar wajahnya. Genta mencengkram dagu Alice dan mengangkatnya.
"Berhenti mencari tahu tentang ku Alice!!! Kau lakukan saja tugas mu sebagai ibu yang baik dan tidak perlu ikut campur urusan ku!!"
Alice menangis sesugukan karena perlakuan Genta. Baru kali ini ia diperlakukan buruk oleh pria itu, hatinya sangat sakit menerimanya.
Alice memukuli dada Genta dengan tangan kecilnya. Ia menangis sambil berteriak dan mendorong tubuh Genta.
Genta menangkap tangan Alice yang memukulinya tersebut dan menghela napas berat. Ia menahan tangan wanita itu di atas kepala sang wanita.
"Kau jahat Genta!! Kau baji*ngan!! Aku membenci mu!! Kau bukan Genta yang ku kenal!! Apa kau tahu? Kau itu iblis!!"
Alice terus mengumpati Genta tanpa takut, ia menantang balik pria itu meskipun Genta sudah memberikan peringatannya.
"Aku tidak ingin kau ikut campur, biarkan semuanya aku yang mengurus!!"
"Asal kau tahu itu sajakah kesalahan mu?" Alice tertawa masam dan menatap tajam laki-laki tersebut.
"Apa maksudmu!!"
"KAU MEMANG BIADAB!!! APA MAKSUD KATA-KATA DAN LUKISAN DI RUANGAN RAHASIA MU ITU SIALAN!!!" Alice terisak usai berteriak.
Sedangkan tubuh Genta membeku. Ia tidak menyangka Alice menemukan ruangan tersebut. Ia menatap Alice dengan pandangan lemah.
"Dari mana kau tahu!!"
"KAU TIDAK PERLU TA--- AKHH!!" Alice merasakan perutnya bak diremas.
Ia memegang perutnya yang membuncit itu dan hendak terjatuh ke lantai karena tak sanggup menahan rasa sakit di perutnya, Genta sigap menyambut dan memanggil asistennya untuk menyiapkan mobil.
"BURUAN!! JANGAN LELET!! marah Genta kepada seluruh pelayannya.
Ia memasukkan tubuh rapuh itu ke dalam mobil dan menarik napas sebanyak mungkin agar bisa mengendalikan diri lebih tenang. Genta merasakan khawatir berlebih. Ia panik bukan main melihat istrinya yang tak berhenti merintih.
Ia meraih kedua tangan Alice yang sangat dingin itu dan mengecupnya beberapa kali.
"Sayang tenanglah, kau akan baik-baik saja!"
___________
Genta cemas bukan kepalang di depan ruang inap Alice. Alice sekarang sedang berada di dalam salah satu ruangan UGD.
Ketika dokter keluar dari ruangan Alice, Genta cepat menahan dokter itu dan memberikan pertanyaan begitu banyak kepada sang dokter.
"Bagaimana keadaan istri ku?" tanya Genta yang sangat khawatir tersebut.
Dokter itu menghela napas dan tersenyum, "istri Anda baik-baik saja, hanya saja dia terlalu banyak fikiran dan mengakibatkan setres dan lemah kondisi fisiknya. Saya harap Anda dapat memberikan kenyamanan kepada istri Anda."
Genta mengangguk paham dan ia melihat ke dalam, ternyata istrinya sudah bangun.
Genta masuk ke dalam ruangan itu dan cepat meraih tangan Alice kemudian memberikan kecupan beberapa kali di kepala Alice. Ia tahu Alice masih enggan menatap dirinya, tidak apa Genta sangat mengerti bagaimana kecewa yang dialami oleh pria itu.
"Kau masih marah pada ku?" tanya Genta menyelidiki Alice.
Tidak ada jawaban, itu artinya perempuan tersebut masih marah dengannya.
"Aku minta maaf, aku akan berjanji tidak mengulanginya lagi."
"Maaf mu tidak berguna. Kau tetap akan membunuh Dante meskipun kau mengatakan tidak pada ku!!"
Genta menarik napas dan membuang pandangannya. Ia meremas rambutnya yang acak-acakan tersebut bertanda ia sudah sangat buntu untuk berpikir.
"Bagaimana dengan anak kita?" tanya Genta mengalihkan pembicaraan dan mengusap perut besar Alice.
Tidak terasa sudah lima bulan semenjak kehamilan Alice. Alice juga lebih mudah merasa lelah, di samping itu ia juga harus merasakan cemas yang tidak ada hentinya.
Ia sangat khawatir jika akan terjadi sesuatu dengan Genta. Ia harap hal itu tidak akan pernah terjadi dan keluarga mereka hidup dengan damai.
"Baik."
_______
Tbc