My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 56



"Nona!"


Josua tercengang dengan mulut terbuka melihat pemandangan di depannya. Wajahnya memerah dan tersenyum kikuk dengan tangan yang menyentuh tengkuk.


"Eummm maafkan saya," ujarnya cepat meninggalkan ruangan tersebut.


Niatnya tadi ingin memanggil Alice yang tak kunjung keluar dari ruangan meeting, dirinya kira ada masalah tapi ternyata ia malah melihat pemandangan dewasa di depan matanya, merusak kesucian matanya saja.


Sedangkan Alice bersama Genta juga panik bukan main, melihat ada orang yang menyaksikan kegiatan mereka. Keduanya masih dalam keadaan tidak berbusana.


"Kau!! Mana pakaian ku?" marah Alice dan berdiri dan tidak peduli dengan tubuhnya.


Ia mengenakan pakaian satu per satu dan begitupula Genta. Keduanya duduk di sofa dengan lamunan masing-masing.


Tidak ada kalimat yang membuka bicara. Hingga kedua insan sama-sama terdiam dalam kebisuan. Genta sibuk dengan pemikirannya dan Alice juga sibuk dengan keterdiamannnya.


"Kau memang gila Genta!!! Ini di ruang meeting bukan area pribadi mu."


"Sudahlah. Aku akan membawa mu ke ruangan ku."


Alice mengikuti Genta dari belakang. Akhirnya ia bisa melihat punggung tegap pria itu lagi. Ia menatap prihatin ke arah kaki Genta yang tidak normal seperti dulu.


"Apa perlu ku bantu?" tanya Alice sembari tersenyum sementara tangannya memegang tangan Genta.


Genta ikut tersenyum dan mengangguk kecil. Mendapat respon baik dari Genta membuat Alice memberikan sedikit tenaganya untuk membimbing laki-laki tersebut.


Senyumnya begitu cerah secerah hari ini. Rintik salju yang turun terlihat indah dari kaca.


Genta membawanya ke ruangan pria itu yang berlapiskan dinding kaca transparan sehingga bisa melihat keadaan di luar.


"Aku tidak menyangka akan melewati musim salju tahun ini bersama mu," ujar Genta dan membenahi posisinya.


Ia berbaring telentang di pangkuan Alice. Sementara wanita itu yang menatap wajahnya dengan senyuman manisnya yang bisa membawa hal buruk bagi jantung Genta. Tangannya senantiasa membelai rambut milik Genta.


"Aku juga," ujar Alice diiringi dengan rasa bahagianya.


Ia tidak berbohong jika dirinya bahagia, Alice benar-benar senang dan melupakan suatu fakta yang masih membuatnya khawatir.


Kali ini biarkan waktunya untuk menikmati kedekatannya, sekeras apa pun ia menghindar rasa rindu yang membuncah tak mampu dilawan.


"Maafkan aku." Genta menatap dalam lautan biru netra sang wanita. Begitu besar harapannya yang tersirat dalam benaknya berharap ada maaf baginya. "Aku melupakan mu, aku kehilangan ingatan ku beberapa tahun ini."


Alice menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Syok, itulah satu kata yang mampu mendeskripsikan keadaannya sekarang.


Melihat wajah Alice yang terkejut dengan pengakuannya membuat Genta mengukir senyum. Pria itu bangkit dari pangkuan Alice dan duduk di samping dengan kepala bersandar di pundak wanita tersebut.


Banyak hal yang tidak diketahui Alice dan begitu juga Genta. Mereka sama-sama terpisahkan dan itu amat menyesakkan. Keduanya berharap tiada lagi rintangan meski itu hanya angan kosong.


Nyatanya masih banyak rintangan dan cobaan untuk mengakhiri kisah ini, entah berakhir dengan penuh canda dan tawa atau teriakan dan tangisan.


Genta menarik napas dalam. Matanya serius menatap keindahan salju yang jatuh ke bumi dan menyelimuti apa pun itu.


"Aku tidak pernah berpikir akan hidup seperti ini. Pergi ke kota demi ayah ku, jatuh cinta dengan mu dan menikahi mu." Ia tertawa kecil dan mengamati pemandangan di depannya sambil membayangkan sesuatu di otaknya. "Ah, bagaimana kabar ibu ku sekarang yah? Aku pernah mencarinya dulu tapi mereka sudah tidak ada. Tidak ada yang tahu ke mana mereka. Ini teka teki lama yang masih aku simpan dan ingat," cerita Genta.


Alice mendengarkan saja dari tadi. Tapi, dari setiap kalimat Genta terdapat banyak misteri yang belum terungkap.


"Maksudmu? Mereka menghilang?"


"Bisa jadi begitu. Menghilang atau sengaja dihilangkan dari bumi. Ini pasti ulah Ayah ku, entahlah aku tidak punya bukti yang kuat."


Begitu banyak hal yang harus mereka lewati. Tidak lagi untuk terpisah kesekian kali. Cukup hanya sekali itu saja keduanya berpisah.


Alice menatap pria di sampingnya dengan lirih. Ia mengangkat tangannya ragu-ragu dan mengusap wajah Genta lembut.


Ia masih ingat dengan perkataan orang desa yang sangat ingin ia ketahui kebenarannya. Alice ragu untuk bertanya bagaimanapun ini awal pertemuan mereka kembali, ia tidak ingin ada pertengkaran di moment ini.


Tapi hatinya memberontak tidak sabaran. Ia sangat penasaran dan rasa tersebut terus menyiksa dan mendesaknya.


"Genta." Ia menguatkan mentalnya untuk bertanya. Alice berusaha menerima resiko apa pun yang akan ia dapatkan.


Genta mendongak dan menatap wajah sang wanita yang seperti menyimpan sesuatu.


"Apa ada yang ingin kau katakan?"


"Benar kau menikah dengan Elizabeth?" Pernyataan Alice membuat Genta langsung membeku.


Laki-laki itu menatap serius Alice, bagaimana Alice bisa mengetahui Elizabeth. Genta rasa mereka hanya beberapa kali bertemu dan pernikahannya bersama Elizabeth juga tidak terendus media, jadi mustahil Alice mengetahui dari media.


Wajah Genta sudah cukup memberikan jawaban untuk Alice. Ia menumpahkan air matanya dan merasa sesak yang begitu dalam di lubuk hatinya.


Genta mengkhianati janji mereka yang diucapkan di atas altar. Alice berusaha tetap tersenyum dan menerima semuanya meski hatinya bertentangan.


Melihat Alice menangis di depannya Genta merasa sangat bersalah. Ia meraih wajah Alice yang sembab serta air mata masih keluar dari kedua netranya itu.


"Hey, aku kehilangan ingatan ku. Orang yang menyelamatkan ku banyak berhutang budi dengan keluarga Elizabeth. Aku terpaksa menikah dengan Elizabeth untuk menebusnya." Air muka Genta tiba-tiba menjadi sendu, "dan Elizabeth dia, dia telah meninggal karena kecelakaan."


Genta tersenyum dan melihat Alice yang terheran dengan pengakuannya. Wanita itu membuang wajahnya ke samping lalu mendorong Genta.


"Apa yang dikatakan mu benar?"


"Tentu, aku tidak mungkin berbohong dengan istri tercinta ku."


Wajah Alice bersemu merah mendengar godaan dari sang suami. Sudah lama ia tidak digoda seperti ini, sangat rindu rasanya.


Wajahnya yang semula tenang kini mengernyit heran melihat perubahan ekspresi Genta yang sangat tiba-tiba.


"Ada apa?"


"Elizabeth mati tertabrak, aku merasa kecelakaan ini direkayasa. Sekarang orang tua Elizabeth ingin menutup kasusnya. Aku tidak bisa membiarkan begitu saja, masih banyak yang tidak beres. Aku juga merasa orang tua Elizabeth tidak beres."


Alice tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Genta. Otaknya berusaha mencerna setiap kalimat agar mudah dipahami.


Ia menatap Genta penuh tanya, "maksud mu ada orang lagi di belakang ini?"


"Ya. Entah apa motif orang ini yang pasti bersangkutan dengan ku. Elizabeth seperti dikendalikan, banyak gelagat aneh dari Elizabeth. Aku dipaksa belajar berbisnis, diajarkan bersenjata, dan diajarkan berorganisasi gelap," katanya dengan lirih sementara wajah tertunduk.


Alice tercekat mendengar ucapan Genta. Tidak, ia tidak akan pernah setuju Genta masuk ke dalam organisasi gelap. Cukup ayahnya yang memiliki organisasi gelap, dan kalian bisa lihat endingnya bukan? Satu keluarganya tewas.


"Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Alice khawatir, ia harap Genta tidak ikut dengan organisasi gelap itu.


"Meskipun aku merasakan diarahkan, aku tetap diri ku. Aku membuat organisasi ku sendiri diam-diam tanpa sepengetahuan orang rumah maupun Elizabeth. Aku bukan membuat jaringan mafia yang kejam dan Pisikopat yang sadis, aku membuat organisasi White Rose yang akan membantu masyarakat." Tetap saja apa yang dikatakan Genta tidak dapat membuat tenang batin Alice.


"Aku tidak akan sudi kau membuat organisasi. Apa pun bentuk dan tujuannya, kau tahu itu berbahaya. Bagaimana dengan mu? Kau ingin aku menjanda? Jangan gila kau!!!"


Alice marah dan ingin pergi tapi tangannya ditahan oleh Genta. Alice mantap bingung pria itu.


"Aku membuat organisasi atau tidak, tetap saja kan aku dalam bahaya? Aku anak Miguel, kau tahu siapa ayah ku bukan?"


Alice mendengus dan tersenyum kecut bercampur sendu.


"Kau benar. Aku akan membantumu. Aku akan menemanimu, aku tidak ingin berpisah dengan mu." Genta tersenyum senang mendengar kalimat yang dituturkan, "Genta ada yang ingin aku tanyakan pada mu. Apakah kau mencintai Elizabeth? Apakah kau masih mencintai ku?"


Genta tertawa kecil lalu mencubit pipi menggemaskan milik perempuan itu. Ia mengecup singkat bibir merah merekah Alice.


"Aku tidak tahu perasaanku kepada Elizabeth, tapi perasaan itu berbeda dengan perasaan ku ke kau. Aku mencintaimu, selalu takut kehilanganmu."


Genta menatap Alice lama membuat wanita tersebut merasa aneh dengan pandangan Genta. Pasti ada sesuatu yang akan dilakukan laki-laki ini.


Dan benar, Genta mengangkat tubuhnya dan memanggul seperti karung beras.


"GENTA APA YANG KAU LAKUKAN?!! LEPASKAN AKU!!"


Teriakan keras Alice sama sekali tidak menyelamatkannya dari Genta. Ia tidak tahu kenapa Genta tiba-tiba memperlakukannya seperti itu.


"Kenapa?"


"Apa kau sudah gila? Bagaimana jika ada yang melihat kita. Di luar sangat ramai."


"Aku tidak peduli. Niat ku memang ingin orang-orang melihat kita. Aku akan mengenalkan kepada mereka kau adalah istri ku!!"


Alice langsung panik dan memukul-mukul belakang tegap laki-laki tersebut hendak minta diturunkan.


Wajah Alice meringis melihat banyak karyawan dan karyawati yang menatap ke arah mereka dengan tatapan heran.


Sudahlah entah ingin diletakkan dimana lagi wajahnya, ia sudah teramat malu dan percuma saja ingin kabur, itu tidak akan bisa.


Genta menurunkan Alice, ia menatap wajah kesal milik wanita itu. Hati Genta merasa lega melihat sang wanita di sisinya dan akan membantunya.


"SEMUANYA!!!! PERKENALKAN INI ISTRI KU, ALICE NEKHADE MILLER!!! MENYAMBUT KEPULANGAN ISTRI KU, AKU AKAN MENTRAKTIR KALIAN SEMUA!!"


Semua orang syok bukan main mendengar pernyataan gila Genta. Banyak diantara mereka yang tidak percaya tapi Genta tidak peduli.


Suara riuh dari para pekerja yang saling melemparkan pertanyaan dan memandang Alice sinis.


"JANGAN ADA YANG BERANI MENYAKITI ISTRI KU!!! ATAU KALIAN AKAN MENDAPATKAN AKIBATNYA!!"


"NYONYA ELIZABETH BARU SAJA MENINGGAL DAN KAU MENGENALKAN WANITA BARU SEBAGAI ISTRI MU?!! KAU MEMANG SUDAH GILA BOS!!" marah Daniel tapi tak mendapatkan gubrisan dari Genta.


Josua yang sudah melihat semuanya hanya diam santai diantara kerumunan. Alice dapat melihat pria itu sangat jelas. Josua melepaskan senyum padanya, ia senang jika Alice sudah mendapatkan buah hasil dari usahanya.


Josua pergi dengan senyum yang kian memudar dan digantikan dengan wajah sendu.


_________


Tbc