
Sinar matahari siap menyambut pagi. Mata Alice terbuka perlahan. Tubuhnya tak dapat digerakkan, semuanya terasa nyeri. Ia menatap kosong ke samping. Semua harapan sirna diterpa hembusan angin.
Hancur segalanya, ia benci ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Jika ia tau ini akan terjadi lebih baik ia memilih mati sebelum hal memilukan seperti ini menimpanya.
Air mata mengalir dari kedua pupil indah milik Alice. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Sungguh Tuhan tak adil dengannya bukan? Ia hanya wanita lugu tak tahu apa-apa dipaksa untuk menjalani takdir yang begitu rumit.
Alice pelan menatap ke samping. Ia ingin sekali menjambak, meneriaki, dan menerjang seseorang yang di sampingnya itu, namun apa daya takdir tidak memihak padanya.
Mata Genta terbuka perlahan. Ia mengusap kepalanya yang pusing. Ia tak mengingat apa pun kecuali secuil ingatan mengenai ia yang mabuk di club. Bahkan ia sampai lupa bagaimana caranya ia bisa sampai berada di kamarnya lagi.
Genta memejamkan mata menyesali perbuatannya. Ia menghela napas lalu hendak bangun. Tapi ada yang berbeda.
Ia menatap ke samping dan pria itu dikagetkan dengan pemandangan Alice terdampar di kamarnya. Matanya kian membola kala melihat tubuh mulus Alice tanpa sehelai benang pun yang tersingkap selimutnya.
Lantas cepat Genta menatap pada dirinya. Kini ia makin terkejut, dan sesuatu mulai kembali ke dalam ingatannya, dadanya sesak saat ingatannya semua telah kembali. Ia menatap Alice dengan penuh bersalah.
Ia mendekati perempuan itu yang tampak tak Sudi memandang dirinya. Itu wajar saja, memang bajingan seperti dirinya pun tak pantas dimaafkan.
Setitik bulir di netranya jatuh. Pria itu mengambil selimut dan menutupi tubuh Alice. Ia mengusap kepala perempuan itu dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan saya nona. Saya salah, saya pantas untuk mendapatkan hukuman nona," ucap Genta lirih. Air mata tak henti mengalir.
Alice sungguh benci dengan pria ini. Ia tak sudi rambutnya dielus oleh pria tersebut namun ia pun tak dapat untuk mencegah sang pria agar tidak melakukannya. Yang ia hanya bisa lakukan menangis-menangis. Ia bukan wanita cengeng, namun di posisinya yang seperti ini siapa yang masih sanggup untuk bertahan?
Setiap mendengar kata maaf dari Genta, rasanya ia hendak muntah. Apa guna maaf? Apakah maaf dapat membalikkan keadaan seperti semula?
"Nona. Saya khilaf nona." Genta terus mengelus kepala Alice.
Ia menghela napas dan memberanikan diri untuk mencium puncak kepala Alice.
Perempuan itu terdiam atas perlakuan Genta, tetap saja aksi Genta tersebut takkan dapat membuka maaf untuk pria itu. Perbuatan Genta tak bisa untuk dimaafkan.
Genta menarik napas dalam dan turun dari ranjang, ia menatap sedih kepada pakaian keduanya yang berserakan dan tercampur. Pria itu mengambil pakaiannya dan mengenakannya.
Lalu ia membantu Alice mengenakan pakaian perempuan itu. Dengan susah payah ia menahan gejolak yang ada di tubuhnya saat menatap betapa mulusnya tubuh mungil itu. Namun Genta tak mau kejadian tersebut kembali terulang.
Genta menggendong tubuh Alice dengan penuh kehatian. Sementara perempuan tersebut tak Sudi memandang wajah bejat itu. Yang ia inginkan segera lekas sampai ke kamarnya.
Siapa yang ingin berlama-lama dengan seorang pemerkosa?
Sesampainya di kamar, Genta merebahkan tubuh nonanya di kasur empuk. Ia mengambil minyak pereda nyeri dan mengoleskan ke tubuh Alice.
Ia dengan cekatan mengurut tubuh wanita itu. Ia tau Alice pasti sangat lelah dan tubunya penuh akan rasa nyeri.
Tuhan kenapa kau membiarkan dirinya tetap di sini? Apakah kau bahagia melihatku seperti ini?
Alice ingin mengusir Genta namun apa yang bisa ia lakukan? Rasanya ia hendak menendang tangan itu yang tanpa tahu malu masih berani menyentuh tubuhnya.
Namun Alice tak dapat bohong jika pijatan dari Genta dapat mengurangi rasa nyeri yang ada di sekitar tubuhnya.
Genta menyelesaikan pekerjaannya. Ia beranjak dari sana dan mengambil salah satu boneka perempuan itu dan diberikan pada Alice.
"Nona maafkan saya. Saya akan bertanggung jawab nona. Saya akan mengakuinya nanti."
Alice cukup puas mendengar kalimat akhir pria itu. Emang hal tersebut yang diinginkannya, Genta mengaku dan pergi dari rumah ini, jika perlu laki-laki itu harus membusuk dipenjara.
_______
Hati Genta tak kunjung tenang. Perasaannya gundah, dan ia melakukan pekerjaannya dengan tidak baik.
Perasaan bersalah terus menghantuinya hingga kegelisahan menggerogoti jiwanya. Ia melamun di taman. Teringat olehnya senyuman manis Alice. Tapi senyuman itu sepertinya tak kan lagi dapat ia lihat.
"Maafkan aku ibu."
Sepintas ia memikirkan bagaimana cara dia mengakui kesalahannya di depan keluarga Arakhe? Ia takut keluarganya di kampung malah terkena imbas perbuatannya. Pasti William tidak akan tinggal diam. Ia tidak apa mati, tapi bagaimana dengan keluarganya?
Genta tak menemukan jalan mulus. Otaknya buntu, tak ada satu solusi pun yang dapat membantu dirinya berpikir jernih.
"Baaa!!" kejut seorang pelayan.
Genta repleks langsung melompat. Jantungnya hampir saja copot akibat ulah pelayan wanita itu.
"Lina kau mengejutkan ku," keluh Genta dan mendengus.
Ia duduk kembali di kursi taman. Kehadiran Lina membuat otaknya makin tersumbat.
"Ada apa kau melamun? Habis putus cinta ya?"
Genta menggeleng dan menunduk, ini lebih berat dari putus cinta ronta Genta di dalam hati.
"Tidak apa."
"Kau murung sekali, sayang sekali padahal hari ini cukup cerah." Lina menatap pada cuaca siang yang begitu indah. "Aku tak bisa lama-lama aku harus mengantarkan makanan nona Alice, ku dengar kondisi nona Alice semakin parah setelah bangun tidur."
Mendengar nama yang menjadi objek otaknya pun lekas Genta menatap Lina. Ia semakin bersalah pada Alice. Wanita itu harus menanggung deritanya dan itu karena dirinya.
"Lina bisakah aku saja yang mengantarkan makanan itu?"
Lina mengernyitkan keningnya heran. Aneh sekali pikirnya. Genta tak biasanya, apalagi tugas ini hanya untuk pelayan wanita bukan pria.
Lina menatap Genta dari bawah hingga kepala. Ia mengamati pria itu, apa ada yang salah dari pria ini?
"Ini pekerjaan ku bukan kau."
"Ku mohon Lina," lirih Genta penuh permohonan.
Lina yang menatap hal tersebut meringis, ia membiarkan saja Genta melakukan itu. Ia pun menyerahkan makanan untuk nona mudanya pada Genta.
Genta tersenyum puas dan lekas mengambil nampan tersebut. Ia langsung berlalu menyisakan keanehan Lina.
"Ada apa dengan pria itu?"
Genta mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar Alice. Setelahnya ia membuka pintu dan melangkah pelan masuk ke dalam.
Di sana dapat ia pandang tubuh rapuh yang terbalut selimut. Ia mendekatinya.
"Nona makan lah aku membawanya untuk mu," ujar Genta. Ia meletakkan nampan di atas meja dan mengusap pundak Alice.
Alice membuka matanya dan terkejut melihat Genta. Rasa sakit dan tatapan gairah itu muncul kembali ke benaknya. Ia takut dan berusaha untuk menghindar dari Genta.
Genta memandang hal tersebut menjadi sedih. Ia menenangkan Alice tapi wanita tersebut semakin parah dan memberontak kuat.
"Nona makanlah terlebih dahulu!!"
Namun Alice berusaha menggerakkan tangannya yang masih berfungsi menepis mangkuk yang masih panas itu hingga tumpah ke tubuh Genta.
"GENTAAA!!" ujar seorang yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.
_______
huhuhuhu🙏🙏 makasih banget yang udah mau baca... jangan lupa like dan komen🥺🥺