
4 tahun kemudian
Drake dan Adaire putra putri dari Alice bersama Genta sudah besar dan tidak bersekolah lagi di TK seperti dulu. Mereka semakin hari semakin akrab meski tetap ada pertengkaran dari kedua bocah itu.
Hari ini mereka dengan semangat mengelilingi keindahan negara Kanada. Mereka bercanda ria menikmati masa liburan yang sangat menyenangkan.
Adaire mendengus saat Drake menarik dirinya ke bawah pohon mapel.
Ia mengambil daun mapel yang jatuh dan meletakkan di atas kepala Adaire. Perempuan itu sangat kesal dengan sang Kaka yang kurang aja pada dirinya.
"Awas kau Drake!!!" marah Adaire dan mengejar Drake.
Drake berlari seraya tertawa dan mengejek sang Kaka yang sangat lambat mengejar dirinya.
"Kau memang lamban Adaire!!"
"Apa masalah mu!!"
"Ayo kejar aku kalau dapat!!!"
Napas Adaire ngos-ngosan dan ia berhenti sejenak sembari memegangi kedua lututnya kelelahan.
Drake merasa bersimpati dengan Adaire. Ia menghampiri bocah itu dan memegang kepala Adaire.
"Kau tidak apa?" tanya Drake sembari meneliti Adaire.
"Nah dapat kau!!!" antusias Adaire sembari memeluk tubuh Drake.
Drake memutar bola matanya malas, ternyata dirinya dijebak. Otak Adaire memang sangat baik dan mudah mengelabuhi, kenapa ia harus bersimpati dengan anak ini segala sih.
Ia membiarkan tubuhnya dipeluk Adaire dan bahkan anak itu mencubiti wajahnya dengan keras sebagai bentuk hukuman.
Drake mendengus dan menjauhkan tubuh Adaire darinya, "sudah, kan?" tanya Drake dengan memelas.
"Sebenarnya aku belum puas."
"Eh paman," ujar Drake melihat kedatangan Damian yang tersenyum kepada mereka.
Damian mencium puncak kepala Adaire dan Drake bergantian. Tidak disangka kedua bocah itu sekarang telah besar dan menjadi idaman para wanita dan pria.
"Kalian semakin hari semakin tampan saja," kekeh Damian dan membawa kedua bocah itu duduk di bawah pohon mapel.
"Hanya aku saja tidak dengan dia," tunjuk Drake dan menatap tajam Adaire. Adaire tidak cantik dia jelek.
"Apa kau yakin Drake? Lihat dia sudah besar nanti bahkan bisa saja kau menyukai kembaran mu sendiri."
"Aku tidak sudi," balas Adaire menolak keras.
"Siapa juga yang mau bersama dengan mu!"
"Ya kalian memang tidak boleh bersama." Mata Damian jauh menerawang ke belakang, ia tersenyum lirih, "andaikan ibu mu ada di sini pasti dia akan tertawa melihat tingkah kalian."
______
Prangg
"Huh," hela orang itu seraya menatap ke lantai melihat gelas yang dijatuhkan sudah hancur berkeping-keping.
Ia berusaha berjongkok dan mengumpulkan beling-beling kaca itu. Ia meletakkan tongkatnya ke lantai terlebih dahulu baru berjongkok dengan penuh hati-hati.
Saat tangannya hendak menyentuh tiba-tiba ada tangan lain yang lebih dulu membersihkan pecahan tersebut.
Ia menatap ke arah orang itu dan tersenyum lebar. Padahal dirinya masih mampu membersihkan kaca tersebut.
"Eliza biarkan aku saja," ujarnya dengan tawa kecil.
Perempuan yang dipanggil Eliza itu tidak peduli dengan panggilan Genta. Ia tetap meneruskan pekerjaannya.
Ketika semua telah terselesaikan perempuan itu berdiri di depan sang pria sambil berkacak pinggang.
"Baby," lirih sang pria sambil berjalan mendekati Eliza dengan tongkatnya.
Yah dia mengalami lumpuh pada kakinya yang sebelah kanan sehingga membuatnya harus menggunakan tongkat saat berjalan.
"Ada apa?"
"Kenapa kau lagi yang melakukannya?" tanyanya tidak senang dan mendengus lucu.
"Serahkan saja pada ku." Eliza tertawa dan menuntun sang pria duduk di sofa ruang makan itu.
"Aku ingin menjadi laki-laki seperti diluar sana yang bisa melindungi istrinya."
Eliza meraih wajah laki-laki tersebut lalu menatapnya dengan lamat. Eliza tersenyum sangat cantik sehingga membuat si pria terpaku.
"Kau di mata ku lebih dari segalanya Genta."
Genta menunduk dan mengangguk setelahnya. Ia memeluk Eliza istrinya dan mengusap belakang itu dengan lembut.
"Aku bahagia bersama mu, i love you my wife."
_______
Tbc
Btw Jangan lupa yah like dan komen
Hay aku bawain lagi nih karya temen aku. Boleh mampir teman-teman pasti seru, bagus tentunya, kalian gak akan nyesel buat baca. keren deh. Nih bisa lihat di bawah yah