My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 47 A



"Huftt," helaan napas dari seseorang yang tampak tengah kelelahan.


Orang tersebut merebahkan wajahnya di atas meja kerjanya untuk menuntaskan rasa lelahnya.


Ia mengusap kepalanya yang terasa sakit beserta pening. Kira-kira lima menitan lamanya ia kembali mengangkat kepalanya dan menghirup udara dengan rakus.


"Hari yang melelahkan," lirihnya dalam gumaman kecil. Dia menopang dagunya dan menatap sekitar dengan pandangan tidak berarti.


Perempuan tersebut terdiam beberapa menit dalam lamunannya. Begitu banyak pikiran yang menghampiri dirinya yang membuatnya merasa pusing.


Beragam hal yang harus ia lakukan dan itu benar-benar sangat menuntut dirinya. Ia sekarang adalah wanita karir yang kehidupannya penuh dengan kesibukan.


Ia membuka toko boneka dan merancang boneka yang cukup terkenal di dunia internasional. Alice merasa senang impian kecilnya tercapai.


"Tidak ku sangka hidup ku akan penuh dengan berkas," ujarnya seraya menatap dokumen yang tertata rapi di mejanya dengan malas.


Bibirnya tersungging membentuk lengkungan yang lebar. Namun semakin lama senyum itu berubah menjadi sebuah senyum kecut.


Sang wanita meratapi dirinya yang sangat malang ini. Tidak lama pernikahannya mungkin belum ada satu Minggu dirinya harus benar-benar merelakan sang suami.


Entah dimana keberadaan pria itu Alice sudah berusaha payah melakukan pencarian secara diam-diam.


Selama ini ia merahasiakan pencarian itu agar tidak dihentikan oleh Damian. Ia juga meminta orang-orangnya menyelidik Damian tanpa sepengetahuan laki-laki itu karena hanya Damian lah kunci dari jawaban tersebut.


Tangan Alice mengepal berusaha kuat saat buliran bening mendobrak pertahanan. Kilasan senyuman, canda, tawa, dan penuh kebahagiaan itu melintas di benaknya.


"Aku merindukanmu," lirih Alice, pada akhirnya ia pun menyerah dan menumpahkan cairan bulir air mata dengan deras.


Dadanya terasa sesak dan napasnya tersengal-sengal berusaha menahan rasa sakit di dadanya.


Ia mengambil salah satu berkas yang disembunyikan di tempat yang tidak terjangkau.  Tumpukan dokumen itu adalah merupakan data pencarian Genta yang dilakukan sembunyi-sembunyi.


Alice menarik napas dan berusaha kuat dengan keadaan. Ia meraih laptopnya dan mencari di aplikasi Google tragedi beberapa tahun lalu di salah satu pelabuhan di desa yang ada di Amerika.


Beragam uraian dan website yang bisa dirinya akses di sana. Ada salah satu website yang menarik Alice, website itu tidak banyak dikunjungi makanya tidak terangkat.


Ia membuka website tersebut dan masuklah ia ke dalam halaman pembahasan.


Alice dengan teliti membaca setiap katanya dan mencatat hal-hal yang baru ia ketahui. Di sana diceritakan jika ada seorang remaja yang melihat tragedi itu hingga akhir.


Dan sang remaja pula lah yang membuat website ini. Alice semakin tertarik untuk menyelidikinya dan membacanya hingga halaman terakhir.


Si penulis juga menceritakan bahwa ada salah satu pria yang masih hidup, namun ia ditempatkan ditumpukkan mayat. Si penulis menceritakan jika ia juga mendengar mayat-mayat itu ada yang akan dibakar dan juga dibuang ke jurang.


Ketika polisi yang dikirim kembali dari pusat datang, orang-orang tersebut telah pergi tanpa meninggalkan jejak selain tetesan darah.


Mereka merekayasa dengan sangat luar biasa hingga kantor polisi pun dibungkam dengan uang mereka.


Alice menyentuh kepalanya dan menarik napas sebanyak mungkin. Ia tidak tahu Genta berada ditimpukkan yang mana, yang akan dibakar atau yang dibuang ke jurang.


Alice mengeluarkan ke halaman utama dan menatap laptop dengan kosong.


Derttt


Lamunan Alice buyar dan ia segera mengangkat telepon. Ia meletakkan benda pipih itu ke telinganya.


"Nona perusahaan terkenal dari Amerika Mitra Crop setuju melakukan kerjasama dengan perusahaan kita."


"Ya, bagus. Pastikan kita mendapatkan keuntungan yang banyak. Dan siapkan data dan berkas yang cukup untuk meeting." Alice menarik napas dan memejamkan matanya, "Josua bisakah kau selidiki jurang yang tidak jauh dari tragedi di pelabuhan? Lakukan untuk ku, ku harap aku mendapatkan kabar baik."


Alice mematikan ponselnya dan matanya setia lurus ke depan dengan pandangan kosong. Perempuan itu beberapa kali menarik napasnya.


Tiba-tiba pintu ruang kerjanya dibuka dan masuklah seorang pria dengan perawakan tegap. Alice melirik sekilas dan mendecih.


"Siapa?"


"Aku rasa kau tidak perlu ikut campur urusan ku. Aku sudah besar." Alice menutup laptopnya dan berusaha menjauhkan beberapa dokumen dari pandangan Damian.


Ia tersenyum tipis dan keluar dari ruangannya tanpa peduli ada Damian di sana.


Damian diam dan mengepalkan tangannya. Ekspresi nya tampak tenang dengan sirat wajah yang tidak ditebak dan kemudian tidak lama ia juga meninggalkan ruangan tersebut.


_________


Tbc


jangan lupa like dan komen. eh ini ada rekomendasi terakhir saya buat kalian, novelnya seru banget pasti dijamin. silakan tambahkan ke favorit ya man teman