My Handsome Maid

My Handsome Maid
Extra Part



Tatapan nanar dari balik penjara tak membuat Alice goyah dan merasa kasian sama sekali. Terlalu kejam perlakukan orang tersebut bahkan kata maaf tidak bisa terucap untuknya.


Genta menarik napas mana kala matanya bertubrukan dengan manik kelam bahkan tidak ada penyesalan di sana.


Damian meski dijenguk tapi ia tidak mengharapkan kedatangan mereka. Sama sekali Damian tidak berpikir untuk dikasihani, dendamnya pada Genta sudah mendarah daging.


"Aku harap kau dapat menerima rumah baru mu," ucap Alice sebelum pergi meninggalkan ruangan penjara tersebut.


Damian dipenjara 5 tahun yang lalu atas kasus korupsi, fitnah, dan pemerkosaan, serta pembunuhan.


Memang pantas bukan orang seperti Damian berada di dalam jeruji besi? Alice menarik napas menatap sang suami yang terus mengeraskan wajahnya.


Ia tahu Genta sangat emosi bertemu dengan Damian setelah sekian lama. Dendam Genta juga tidak bisa padam begitu saja hanya karena watu yang terus berlalu.


Begitu banyak kejahatan yang dilakukan Damian membuat keluarganya hancur. Membunuh ayah dan adiknya serta melecehkan Angel.


Lantas haruskah ia memaafkan? Alice juga mengerti dengan perasaan Genta, oleh sebab itu ia tidak pernah melarang rasa benci yang terpendam di dada pria itu.


"Genta tenanglah!! Kita akan pulang yah, pasti anak-anak menunggu kita."


Genta mengangguk dengan ucapan sang istri. Ia mengecup sekilas kepala Alice sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.


Senyum Alice mengembang dan mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya tersebut.


Sudah lama mereka menikah dan hidup bersama, kini anak-anak mereka juga telah tumbuh dan beranjak dewasa.


Tidak terasa waktu begitu berlalu cepat meninggalkan setiap masa lalu yang menjadi kenangan.


Sekarang senyuman telah terukir di wajah masing-masing, mereka berharap ini adalah akhir dari segalanya.


__________


"Papa!! Mama!!" teriak dari dalam rumah ketika mendengar suara mobil ayah mereka yang memasuki halaman.


Alice mengembangkan senyumnya dan melirik Genta yang tidak kalah tersenyum lebar.


Genta menatap anak-anaknya yang berlari ke arahnya. Begitu sempurna kebahagiaan ini, canda dan tawa mereka telah menjadi bagian hidup Genta.


"Kau benar, aku sangat bersyukur akan itu."


Dari arah belakang datang Angel yang juga menghampiri mereka. Angel menepuk pundak sang kakak. Genta dan Alice terkejut, mereka membalikkan tubuh dan tersenyum melihat kedatangan Angel bersama suaminya, Josua.


"Anak-anak mu begitu lucu, aku senang melihat mereka."


Angel baru-baru saja menikah dengan Josua. Padahal Alice iseng menjodohkan mereka tapi ternyata memang mereka berjodoh.


Genta menarik napas panjang dan bahagia melihat sang adik bahagia. Genta merangkul pundak sang istri.


"Jadi kapan kalian akan punya anak?" tanya Genta sembari terkekeh.


"Pa, Ma!" teriak seorang anak kecil bernama Andreas dan satunya lagi Patrica.


Patrica adalah adik dari Sean. Lebih tepatnya adik angkat. Patrica adalah anak sebatang kara dan oleh sebab itu Sean menolongnya dan ketika akhir hayatnya ia khawatir tidak ada orang yang akan menjaga Patrica dan karena itu Genta menerima tawaran Sean.


"Kau sangat cantik dan tampan rupanya," ucap Angel sembari menjawil pipi Patrica dan Andreas bergantian.


Angel tidak menyadari jika ada dua anak lagi yang merasa cemberut karena merasa diabaikan. Angel menarik napas dan tertawa kecil.


Tawanya diikuti oleh Alice dan Genta yang tak kalah merasa senang. Angel memeluk Adaire dan Drake.


"Kau anak manis tidak mungkin aku melupakan mu," ujar Angel seraya menciumi wajah keduanya. "Kau sudah besar, tinggi kalian sudah melebihi ku."


"Tidak mungkin aku kecil terus Tante," ketus Drake.


"Sudah-sudah, kalian masuk dulu. Aku telah menyiapkan sesuatu untuk kalian!!"


Semuanya tampak antusias dengan ucapan Alice. Alice memboyong keluarga besarnya menuju dapur menikmati malam Natal bersama keluarga besarnya.