My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 70



Semenjak kehamilan Alice terungkap seluruh isi rumah bermarga Miller itu berubah dalam sekejap. Kamar utama yang semula berada di tingkat atas dipindahkan berada di lantai bawah.


Hal itu sengaja dilakukan agar tidak terjadi sesuatu dengan Alice, ya meski rumah tersebut menggunakan lift. Tapi tetap saja kan tidak ada salahnya jika Genta khawatir dengan calon anak dan istrinya?


Genta begitu apik mengatur sistem rumahnya dan para pekerjanya. Ia bahkan memecat beberapa pelayan yang kedapatan menghujat Alice terang-terangan, ia baru tahu jika banyak pelayannya yang melakukan hal keji itu kepada istrinya.


Masih baik jika Genta hanya memecat tidak dengan melenyapkan. Seharusnya mereka bersyukur Genta masih berbaik hati.


Alice sempat mencegah namun Genta tetap besrsisi keras ingin memecat mereka. Tidak ada pilihan lain untuk Alice selain hanya menuruti keinginan pria itu.


Padahal jauh di dalam lubuk hati Alice ia sudah memaafkan para pelayan itu. Wajar jika mereka mengatakan hal tersebut, Nyonya mereka memang Elizabeth, anggap Alice.


"Genta aku tidak apa-apa," ujar Alice yang muak dengan suaminya yang selalu melarangnya untuk melakukan kegiatan yang selalu ia lakukan di pagi hari.


Pasalnya suaminya ini melarang dirinya untuk memasak. Padahal tidak ada salahnya bukan jika ia ingin memasak, lagian juga tidak membahayakan janinnya, memang Genta saja yang terlalu berlebihan.


"Baby, kan ada pelayan. Kau tidak boleh melakukan hal berat."


Justru ibu hamil harusnya memilik aktivitas yang cukup. Jika ia terus mengurung diri di dalam kamar itu malah membuat buruk untuk kesehatan anaknya.


"Genta!!"


Jika sudah terdengar nada bicara seperti itu habislah sudah Genta. Pasti Alice akan mendiamkan dirinya sangat lama.


Saat Alice hamil banyak hal yang harus diterima Genta, ia hampir setiap hari menerima mood buruk Alice dan menjadi sasaran kemarahan Alice.


Alice juga tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini bawaannya marah dan selalu saja kesal setiap kali menatap suaminya, mungkin ini bawaan janin.


Jika benar itu, tentu Genta akan sangat dendam dengan anaknya. Gara-gara anak yang masih di dalam perut jatahnya juga berkurang dalam satu Minggu, sangat tidak adil.


Meski begitu tidak dapat dipungkiri jika Genta sangat bahagia menyambut calon buah hatinya. Umur kandungan Alice baru 1 bulan, dan ia ingin menjaganya dengan baik.


Berbagai hal ia terapkan di rumah ini meski banyak yang menolaknya, ia tidak peduli. Siapa yang berani menentangnya? Bahkan Alice sekalipun akan takluk di bawah kakinya.


"Baby!! Menurut lah!" Genta menyodorkan segelas susu ibu hamil yang baru saja dibuatnya. "Minumlah!"


Alice memutar bola mata malas dan meraih gelas tersebut dan menelannya hingga tandas. Wajah manyun wanita itu terlihat sangat lucu ketika harus terdapat sisa air susu di sela bibirnya.


Genta menghapus sisa susu itu dengan menjilatinya. Alice terkejut merasakan sapuan hangat di bibirnya. Ia menatap Genta dengan jijik.


"Genta!!! Kau jorok sekali!!" Alice berusaha mengelap kasar bibirnya dengan sisi baju.


Ia mundur spontan melihat mata Genta yang dipenuhi kabut gairah. Ia tidak tahu apa yang diinginkan Genta, atau pria itu hanya ingin menjahilinya saja, kah?


Sepertinya memang benar. Genta hanya berniat mempermainkannya, lihatlah sekarang Genta tertawa terbahak-bahak melihat respon Alice. Ia memeluk tubuh wanita itu dan menghirup wangi rambut yang dikeluarkan surai indah milik istrinya.


"Wangi rambut mu membuatku candu," ujar Genta terus menyesap wangi itu.


Ia melepaskan pelukan tersebut dan menatap perut istrinya yang masih rata namun dapat terlihat agak buncit dari sebelumnya.


Genta mensejajarkan wajahnya tepat menghadap perut perempuan tersebut, ia menyentuh perut Alice dan memberikan kecupan singkat pada perut sang istri.


"Ku harap kau dapat berkembang dengan baik di dalam," bisik Genta sembari mengusap-usap perut Alice.


Ada perasaan aneh di dalam hati Alice. Ia sangat bahagia ketika setiap Genta melakukan itu. Dirinya merasa nyaman dan terus ingin merasakannya.


"Genta!" lirih Alice kecil penuh kelembutan.


Tangannya mengusap rambut Genta yang sedikit lebih panjang. Ia meminta pria itu berdiri dan meraih tangan Genta.


"Apa sayang?"


"Aku sayang kamu." Alice merasakan panas di pipinya setelah mengakui perasaannya. Sungguh memalukan, tapi bagi Genta mendapatkan kata-kata itu merasakan dejavu.


Ia tertawa kecil dan mencubit pipi Alice yang lebih chubby dari sebelumnya. Tubuh Alice tidak melebar hanya saja semakin terlihat menggemaskan.


Tingkah kekanakannya pun sudah mulai muncul lagi setelah lama tenggelam. Untuk perusahaan Alice, Genta melarang perempuan itu bekerja makanya Josua yang menghandle semuanya.


Genta juga akhir-akhir ini memutuskan untuk tidak masuk karena ia ingin merasakan mengurus istrinya di saat sang istri tengah hamil.


Kini ternyata tidak buruk saat hamil dan ada suaminya di sisinya. Ia dapat bermanja dan beralasan jika itu dari bayi yang dikandungnya padahal itu murni keinginan Alice.


"Baby! Hari ini kau tidak melakukan pemeriksaan?"


"Aku mager sayang! Mending kamu suruh dokternya ke rumah."


Genta mengangguk jika memang itu keinginan Alice ia akan penuhi. Ia membawa wanitanya itu ke dalam kamar.


Ia juga menghubungi dokter yang menangani Alice agar bisa datang ke rumahnya. Ditunggu-tunggu beberapa jam akhirnya dokter itu pun datang bersama seorang suster yang bergender laki-laki.


"Kau tidak boleh masuk." Genta berkata dingin kepada suster lelaki tersebut.


Ia tidak mengizinkan jika ada pria yang masuk ke dalam kamarnya dan berdekatan dengan istrinya.


"Maaf Tuan, suster ini yang akan membantu saya."


"Tapi aku tidak mau dia masuk," keras Genta tetap tidak mau kalah.


"Tapi Tuan And--"


"Seharusnya kata-kata ku kau turuti bukan membantah!!" Intimidasi dari Genta membuat nyali sang dokter wanita itu menciut.


Ia menatap Andirian suster yang akan membantunya itu dan memintanya tinggal di luar. Sikap tidak ingin ditentang milik Genta ternyata memang sudah turun temurun dimulai dari kakeknya hingga ke dirinya.


Genta tidak tahu jika sifat itu berasal dari keluarga ayahnya. Ia jadi penasaran dengan keluarganya.


Pria itu masuk mengikuti langkah sang dokter. Ia menatap tajam suster tersebut seolah tengah memberikan peringatan.


Jika Andria tahu suami pasien kali ini sangat mengerikan ia tidak akan mau datang ke sini. Dirinya bagaikan orang bodoh yang tidak tahu melakukan apa ketika menunggu di luar kamar.


Alice yang sudah mengetahui semua keributan itu hanya bisa mendengus kasar.


"Silakan diperiksa istri ku, jangan kau bengong saja!"


Dokter itu yang tengah menyiapkan peralatan medis yang dibawanya pun terkejut dan mengangguk cepat.


"Iya Tuan, saya akan melakukannya!"


"Genta! Tidak seharusnya kau bersikap seperti itu kepadanya!"


"Dia lama sekali, sayang!"


"Seharusnya tanyakan kepada diri mu sendiri! Jelas ia lama menyiapkannya karena kau menahan susternya!"


Dokter itu sepertinya akan banyak-banyak berterimakasih dengan Alice. Ia juga hendak menimpali mulut pria itu dengan perkataan semacam tadi.


Genta kesal karena harus disalahkan. Padahal dirinya hanya tidak ingin ada pria lain yang melihat wajah istrinya yang berbaring di ranjangnya, pasalnya Alice sangat menggoda dalam posisi itu.


Hendak sekali Alice mengatakan jika hal tersebut hanya ada di dalam otak sengklek milik pria itu saja.


Dokter tadi melakukan pemeriksaan. Ia tersenyum dan memberikan beberapa obat kehamilan pada Genta.


"Janin Anda sangat baik, dan juga perkembangannya bisa dikatakan sempurna tidak ada hambatan. Hanya saja istri Anda lebih baik banyak melakukan aktivitas!"


Alice menatap nyalang Genta. Ia seolah ingin mengejek pria itu, memang sepantasnya bukan ia melakukan banyak aktivitas, buka dilarang.


"Tapi bagaimana jika kau terluka?"


"Kau terlalu berlebihan!!"


"Aku melakukan itu karena aku menyayangimu!!"


"Terserah kau saja!!"


_______


Tbc