My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 29



"Bagaimana ini bisa terjadi pada mu?" todong Sean saat Genta yang baru saja membuka mata dan mendapatkan kesadarannya.


Genta mengernyit heran menatap keberadaan Sean yang ada di sampingnya. Ia hendak duduk dan memaksakan tubuh lemah itu bangkit dari baringnya.


"Akhhh," ringis Genta ketika merasakan pening yang mendera kepalanya. Ia menyentuh keningnya yang terbalut perban.


"Kau ini bodoh atau bagaimana?" tanya Sean kesal sembari memutar bola mata malas melihat kecerobohan Genta.


Ia menarik napas lelah dan membantu Genta duduk. Genta menatap ke arah Sean dan menghembuskan napas panjang.


"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Genta dengan mata mendelik mengamati seluruh sudut di ruangan ini.


"Apakah aku harus menjawab pertanyaan bodoh ini?" tanya Sean yang tidak mengerti jalan pikiran Genta, jelas saja ini rumah sakit kenapa pria itu masih bertanya lagi.


Ia menganga melihat Genta yang seperti orang kehilangan ingatan saja. Ia menyentuh kening Genta seraya menggelengkan kepala.


"Ku rasa kau geger otak."


Genta mendelik menatap mata Sean dengan horor. Bisa-bisanya pria itu menyimpulkan sesuka hatinya, sangat jelas ia masih waras tidak kehilangan ingatan satupun.


"Sean apa kau sendiri di sini?" Genta mengamati sekitar berharap menemukan orang lain selain Sean.


"Memang kau mencari siapa?" tanya Sean heran kepada pria yang tertunduk karena tidak dapat menemukan apa yang tengah ia cari.


Wajah Genta tampak kecewa dan lemas. Ia menatap Sean dengan pandangan sendu.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" heran Sean seraya menyentuh wajahnya dan meneliti seluruh tubuhnya, "apa ada yang aneh?"


Genta menggeleng pelan sambil kembali merebahkan tubuhnya. Kepalanya saat ini bak ketiban puluhan buah duren, sangat sakit.


Pintu kamar rawatnya dibuka dan Genta langsung menoleh ke arah sana melihat sesuatu yang telah menarik perhatiannya. Seketika bibirnya tersungging melihat Drake dengan semangat berlari ke arahnya. Ia pun berusaha untuk duduk kembali.


Wajah Drake sembab seperti habis menangis sangat lama. Ia memeluk tubuh Genta yang terlihat lemah itu dengan erat.


"Papa kenapa bisa begini? Hiks, hiks, Drake takut pa," ujar Drake dalam pelukan Genta, tubuhnya bergetar dikarenakan takut jika terjadi sesuatu dengan sang ayah.


Anak itu sangat posesif kepadanya dan sulit untuk ditenangkan jika sudah menangis kencang seperti ini.


Genta mengusap punggung anaknya dengan sayang. Drake sudah besar, tidak dirasa waktu telah berlalu begitu saja. Dahulu tubuh itu mungil saat ia menemukannya di depan rumahnya, bahkan Genta sampai sekarang masih kebingungan kenapa anaknya bisa ada di sana waktu dulu.


Genta menatap lurus ke depan menerawang beberapa tahun yang lalu. Di mana dirinya yang baru saja datang dari kota dan tidak mengetahui apa-apa di kota besar ini.


Ia begitu naif dahulu hingga memperkosa nona mudanya sendiri. Tapi sisi lain Genta sangat bahagia karena ia yang pertama untuk perempuan itu meskipun begitu banyak drama yang akan ia lampaui.


Genta sampai sekarang masih bingung belum tahu akan dibawa ke mana perasaannya yang salah ini. Ia merasa linglung bagaimana cara ia menyikapi rasa ini yang kian hari makin besar.


Dirinya kira beberapa tahun berpisah dengan Alice akan membuatnya melupakan perasaan itu, tapi ternyata semua salah malah dirinya makin terjatuh pada pesona Alice.


Genta menarik napas dan berusaha mengenyahkan pikiran itu. Ia pun mengurangi pelukannya pada Drake dan tersenyum menatap wajah imut bocah di depannya.


"Jangan khawatir aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil," ujar Genta berusaha menjelaskan kepada Drake yang tampak sangat mencemaskan dirinya.


"Papa Drake benci nona muda hiks, hiks, benarkan nona muda yang buat papa begini? Drake tidak jadi ingin bertemu dengan nona muda."


Sean cepat menatap Genta, ia mengangkat satu alisnya. Ia sangat terkejut orang yang membuat Genta seperti itu adalah Alice.


Sementara Genta terdiam di tempat setelah mendengar pernyataan Drake yang terdengar sangat membenci Alice. Hatinya sakit ketika anaknya mengatakan itu, entah kenapa dia tidak rela Drake membenci Alice.


"Hey tenanglah, nona muda orang yang baik. Dia tidak sengaja melakukan ini, kau tidak boleh benci dengannya," ucap Genta dengan pelan berharap rasa benci Drake pada Alice akan luntur.


"Tapi nona muda jahatin papa."


"Drake tenanglah. Benar apa yang dikatakan papa mu, nona muda sangat baik, kau tidak boleh membencinya," nasehat Sean untuk bocah kecil tersebut.


Genta melemparkan senyum kepada Sean seolah sedang mengutarakan rasa terimakasihnya pada pria itu.


Drake menatap mata Sean mencari kebohongan di sana. Ia pun mengangguk lemah yang membuat kedua orang dewasa di sana mengangkat sudut bibir mereka.


Sean mengusap rambut Drake dengan lembut. Ia menatap dalam mata Drake yang sangat mirip dengan Alice, perlahan-lahan senyumnya memudar.


Drake mengerutkan keningnya kala melihat sesuatu yang sangat asing di tangan kanan Sean. Merasa penasaran Drake pun menyentuh lengan tersebut.


"Paman kenapa menato tangan paman denganĀ  bunga mawar? Apakah paman menyukai bunga mawar?" tanya Drake dengan polos.


Mendengar pertanyaan dari Drake kontan membuat Genta ikut juga menatap pada lengan Sean. Ia melihat raut wajah Sean yang pucat pasi seperti tengah menahan kegugupan.


"Tato mu seperti tidak asing," ujar Genta berusaha mengingat di mana ia pernah melihat tato seperti itu.


Sean memaksakan tersenyum kepada Genta berusaha menutupi kekhawatirannya. Ia menggeleng lalu menutup tangannya.


"Akhh itu tat---." Belum sempat Sean menyelesaikan ucapannya seseorang masuk ke dalam ruangan itu.


Wajah Sean mengeras dan napasnya memburu. Tapi pria itu tetap berdiri dari tempatnya dan menyambut orang yang baru datang tersebut seramah mungkin.


"Hal apa yang membawa mu ke sini?" ketus Sean sembari meneliti penampilan Miguel, "ku rasa kau belum akrab dengan Genta? Oh tunggu, apakah kalian telah menjadi sahabat?"


Miguel menatap tajam Sean yang sulit untuk dipecahkan apa maksud tatapan itu. Ia melewati Sean dengan acuh dan menghampiri Genta yang ada di ranjang rumah sakit.


"Kakek. Kakek datang menjenguk papa ya?" tanya Drake penuh semangat.


Matanya jatuh kepada Genta yang heran melihat dirinya ada di sini. Ia pun melangkah untuk lebih dekat.


_________


3 hari setelah kepulangannya dari rumah sakit. Tidak ada yang dirinya lakukan selama itu selain berbaring ria.


Sementara William menyuruh anak buahnya untuk mencari pelaku yang membuat Genta terluka. William mengira jika Genta dipukul oleh seseorang yang ingin membobol rumah mereka dan lalu Genta yang berusaha menyelamatkan anaknya.


Ia melamun di tepi jendela menatap keindahan langit di malam hari. Begitu banyak kesalahan yang cukup fatal di rumah ini dan itu membuatnya merasa sangat bersalah.


Ia termenung dan tiba-tiba sesuatu yang selalu menganggu pikirannya beberapa hari belakangan ini kini muncul kembali. Ia teringat pembicaraannya tempo lalu bersama Miguel.


Lamunannya seketika buyar ketika seseorang membuka pintu kamarnya. Ia pun berbalik dan langsung terkejut melihat Alice yang berdiri di depan pintu.


Pandangan Genta jatuh kepada tangan Alice yang sedang membawa sesuatu. Ia mengernyit heran melihat itu.


Alice berjalan makin dekat ke arahnya. Ia duduk di tepi ranjang milik Genta.


Ia mengamati ruangan ini yang sama sekali tidak berubah setelah 4 tahun lebih atau mungkin sudah 5 tahun ia tidak melihatnya lagi. Ia sangat hapal dengan ruangan ini serta memori dirinya yang selalu menyelinap di kamar ini masih terpatri di benaknya.


"A-Alice," ujar Genta terbata-bata tidak percaya melihat Alice yang datang kemari.


Alice memandang Genta dengan wajah datar. Ia meletakkan bubur yang ia bawa ke atas nakas.


Wanita itu melihat kepala Genta yang diperban lalu menyentuh gulungan kain putih itu. Ia meringis membayangkan betapa menyakitkan itu.


"Kenapa kau ke sini nona?"


Alice menarik napas dan mengalihkan pandangannya dari Genta ke arah apa yang ditatap oleh Genta sebelumnya.


"Ini rumah ku, kenapa aku tidak boleh kemari?"


"A-aa-a itu maksud ku itu..." Genta menghembuskan napasnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pada akhirnya ia pun kebingungan sendiri dengan kalimatnya.


Alice mengambil bubur yang ia letakkan tadi. Ia mengaduk bubur itu dan meniupnya hingga dirasa dingin ia menyodorkan ke arah Genta.


Genta dengan bodohnya menatap heran Alice. Ia masih mencerna kejadian ini di kepalanya.


"Buka mulut mu."


Ia lantas mengikuti ucapan Alice. Alice menyuapinya bubur dan itu berkali-kali, sementara padangan Genta tidak lepas dari Alice barang sedetik pun.


"Alice," lirihnya. Matanya berkaca-kaca melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu yang terasa mimpi.


Ia menampar wajahnya dan dirinya mengaduh kesakitan. Kini Genta mengetahui kebenarannya, ini bukan halu maupun mimpi, ini nyata. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan kini tersuguh di depan mata.


Alice meletakkan mangkuk buburnya dan mengamati wajah Genta dengan sendu. Entah apa yang membawanya kemari dan melakukan hal yang tak terduga.


Genta meraih tangan wanita itu dan satu tangannya menyentuh wajah mungil Alice. Genta mengamati wajah Alice dari dekat dan ia dapat melihat betapa cantiknya Alice.


"Aku akan berusaha memaafkan mu," tutur Alice yang terlalu tiba-tiba.


Sontak saja Genta langsung shock, perasaannya bercampur aduk antara ingin menangis dan tertawa. Ia lekas membawa tubuh Alice ke dalam pelukannya.


Ia mendekapnya dengan erat dan tidak ingin melepaskan selamanya jika bisa. Akhirnya setelah ditahan cukup lama air matanya pun jatuh juga.


"Alice terima kasih."


Alice tidak mengangguk dirinya bak patung terdiam di dalam dekapan Genta. Tubuhnya seperti tersambar aliran listrik ketika pria itu memeluknya.


Genta menyudahi pelukan mereka dan menatap wajah Alice yang masih tidak menunjukkan ekspresi.


"Apa kau serius?"


Alice mengangguk dan Genta tertawa sambil terisak lalu kemudian kembali memeluk tubuh Alice. Serasa puas ia pun melepaskannya.


Ia mengamati wajah Alice cukup lama dan pandangan matanya jatuh kepada bibir mungil milik perempuan itu. Ia mendekatkan wajahnya, dan tidak ada reaksi apa pun dari Alice.


Bibir lembut Genta menyentuh bibir halus milik Alice. Ia memperdalam ciuman tersebut yang awalnya cukup lembut berkahir dengan liar.


Genta menjauhkan wajahnya untuk melihat Alice. Ia menatap manik indah itu yang masih terdiam, tidak melawan dan juga tidak membalas.


Pria itu melanjutkan kegiatannya dan mencium dada Alice hingga wajah perempuan itu terdongak dan bibirnya tidak sengaja mengeluarkan *******.


Genta mengangkat kepalanya demi melihat perempuan itu. Ia pun kembali pada kegiatannya dan membuka atasan perempuan itu. Tapi ketika ia hendak membuka kain terakhir, Alice cepat tersadar dan langsung mendorong tubuh Genta.


Ia menatap Genta dengan napas memburu dan air mata yang bercucuran. Ia pun cepat mengambil pakaiannya dan mengenakannya kembali. Ia pergi dari kamar Genta.


Sedangkan Genta menatap dengan bodoh dari tempatnya. Ia merutuki kesalahannya dan memaki dirinya sendiri. Ia lepas kendali saking rindunya dengan perempuan itu. Genta merasa ia seperti pedofil.


___


Tbc


Jangan lupa like dan komen. Dan jangan lupa buat mampir di karya temen saya ya. Dijamin pasti seru