My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 73



Alice menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah satu jam lamanya ia mengelilingi mall, hanya sekedar melihat-lihat dan membeli barang yang menarik perhatian hingga ia akhirnya bosan. Lebih tepatnya Alice kemari hanya untuk menghilangkan rasa jenuh yang terus berada di rumah terus, lagipula Genta mengisi ATM-nya begitu banyak.


Pria itu sengaja memberikan banyak uang untuk Alice, karena bagi Genta peri cintanya memang patut untuk diberikan hak istimewa, dan itu adalah Alice.


Semenjak tragedi besar yang menimpa keluarganya membuat perusahaan William merasakan lonjakan drastis. Banyak orang yang mengetahui sifat William dan memutuskan mundur bekerja sama dengan perusahaan ayahnya.


Demi menghidupi Alice, Damian menjual setengah saham perusahaan. Ia tidak tahu sisa uang tersebut digunakan untuk apa, disisi lain Alice juga sangat merindukan adiknya.


Sudah lama ia tidak berjumpa dengan Grisson, ia yakin Grisson sekarang telah remaja. Sama sekali setelah Damian membawa adiknya ia tidak tahu menahu kabar Grisson.


Alice juga kerap meminta kepada Damian ingin dipertemukan dengan adiknya, tapi oleh pria itu sama sekali tidak dihiraukan, itu salah satu membuat kebencian Alice kepada Damian semakin meningkat.


Damian bukan sekedar berniat ingin membantunya dan setia kepada William, ia jelas memiliki rencana besar dibalik pengetahuannya.


Ia tidak rela jika Grisson diasah otaknya. Alice tidak akan terima bila Grisson memiliki pemikiran sama kejamnya dengan sang ayah, jika benar itu ia akan menyalahkan Damian.


"Huftt." Alice menghembuskan napas bosan seraya menatap seluruh barang-barang yang dijual mall ini.


Kakinya telah menjelajahi hampir seluruh sudut mall. Tak lama Alice merasakan tungkainya terasa letih. Alice lantas memutuskan untuk pulang, sebentar lagi anak-anaknya datang dan ia belum menyiapkan sesuatu.


Meski pelayan ada tetap beda rasanya, ia ingin menjadi ibu yang sempurna bagi anak-anaknya, tidak peduli jika Genta melarang.


Saat hendak memutar tubuhnya seseorang yang berlari dari arah depan menabraknya hingga Alice merasakan tubuhnya akan jatuh, tapi cepat orang itu menahan tangannya.


Alice bersyukur dalam hati karena ia tidak sempat terjatuh dan kandungannya tidak kenapa-napa.


"Maafkan aku!" panik orang tersebut sembari menyerahkan barang-barang Alice yang tercecer.


Alice mengerutkan alis merasa heran sebab wajah perempuan tersebut terlihat pucat dan seperti tengah menghindari sesuatu. Alice merasa penasaran lantas melihat ke arah datangnya perenungan tadi, tapi ia malah melihat Damian di sana, rupanya pria itu juga ada di mall ini.


Perempuan tersebut menarik dirinya ke samping dan berlindung di belakangnya, wanita itu terus berada di punggungnya sampai Damian pergi.


"Terimakasih," ujar si wanita sambil memegang dadanya Yangs bergemuruh. Napasnya tidak teratur saking gugupnya.


Alice meneliti penampilan wanita ini yang sangat kacau. Ia sudah dapat menebak jika perempuan tersebut kabur dari Damian, tapi apa hubungan Damian dengan wanita yang ada di depannya ini.


"Maaf jika boleh aku tahu kau kenal pria tadi?" tanya Alice basa-basi ingin menyelidiki.


Terlihat wajah perempuan itu sangat ketakutan. Ia mengangguk dengan wajah seperti menahan beban.


"I-iya," balas wanita tersebut sambil menggigit bibir. Ia menatap tempat Damian tadi berdiri, sepertinya ia sudah aman, "terimakasih sudah menolong ku, aku tidak akan melupakan kebaikan mu!"


Ia akan pergi dan belum tahu tujuannya. Sedangkan Alice merasa tak tega, ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Siapa nama mu?"


Spontan wanita itu menghentikan langkahnya, ia memutar tubuhnya dan tersenyum sekilas untuk Alice.


"Nama ku Angel Taria Miller!" Alice mengangguk kala mengetahui nama perempuan tersebut.


"Aku Alice! Alice Nekhade Miller."


Semula tampak biasa saja sebelum keduanya merasa marga mereka sama. Angel menatap Alice tidak percaya dan sebaliknya pula.


Alice melangkah lebih dekat dengan Angel. Sesekali Alice menatap sekitar jika Damian ada di sini.


"Miller?" tanya Angel heran. Yang Angel tahu hanya keluarganya yang menggunakan nama belakang Miller.


"Kau? Apa kita saudara?" tanya Alice tidak mengerti. "Dan kenapa kau seperti menghindar dari laki-laki tadi.


Angel menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia tidak sanggup menceritakan semuanya. Terlalu berat dan sangat menyesakkan dada.


Alice mengerti dan mengusap bahu Angel untuk menguatkan perempuan ini.


"Kau tenang saja, kau akan aman dengan ku. Angel kau akan kemana?"


Angel menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu akan kemana karena ia tidak memiliki tujuan. Dirinya uring-uringan tidak memiliki semangat hidup lagi, mungkin lebih baik ia menyusul keluarganya di surga.


"Aku tidak tahu."


Alice menatap prihatin Angel. "Kau boleh ikut dengan ku dan menjelaskan semuanya di rumah ku."


Angel terharu mendengar tawaran Alice. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi dan akan tida tahu kemana singgahnya. Air matanya sudah tumpah bak tetesan hujan yang terus mengalir.


Perempuan itu memeluk tubuh Alice dengan tangisnya. Alice merasa tidak enak di dads melihat wanita ini, pasti ada sesuatu yang membuat Angel terbebani.


"Kau tenang saja. Aku akan membantumu."


"Aku sungguh berterima kasih, dan tidak tahu cara membalas budi."


Alice memberikan secangkir air hangat kepada Angel. Angel merasa tidak enak dan ingin menghargai lantas meminumnya. Tubuhnya terasa jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Sekarang kau bisa menceritakan masalah mu?" tanya Alice menatap ke dalam netra wanita tersebut yang mulai kambuh ketakutan.


Angel tidak sanggup menahan rasa traumanya tiap kali harus mengingat hal-hal yang ia lewati semasa hidupnya selama 4 tahun ini. Begitu suram untuk dikenang.


"Apa aku salah bicara?" Alice merasa tidak enak ketika melihat perubahan raut wajah Angel.


Dirinya merasa bersalah, mungkin ia terlalu memaksa Angel untuk mengatakannya. Angel belum siap menceritakan masalahnya dan Alice berusaha tidak akan memaksa wanita itu.


"Tidak. Tapi aku ingin bertanya kenapa kau bisa memilik marga Miller? Siapa diri mu?"


Alice tersadar jika nama belakang mereka memiliki nama yang sama. Entah itu kebetulan atau ada hal lain.


"Miller adalah nama belakang suami ku, aku menikah dengannya dan aku menggunakan nama itu." Alice tersenyum pada Angel yang masih bingung. "Lalu bagaimana dengan mu?"


"Aku? Nama ayah ku Miguel Miller!"


Nama ayah Angel sukses membuat mata Alice membulat. Tiba-tiba dirinya merasa tidak nyaman dan seluruh tubuhnya bergetar.


"Maksudmu? Ayah mu yang telah tiada di tragedi 4 tahun yang lalu?"


Angel menumpahkan air matanya. Ia ingat dengan ayah yang begitu disayanginya.


"Kau mengenal ayah, ku? Ya benar dia ayah ku."


Alice tidak tahu ingin berkata apa, ia tidak menyangka wanita di depannya ini adalah adik Genta.


"Kau tahu siapa aku? Aku sepupu mu!" Benar bukan jika ia sepupu Angel? Ibunya adik Miguel.


Sekarang Angel yang dibuat terkejut. Ia tidak tahu jika memiliki sepupu. Dia memang mengetahui jika ayahnya memiliki seorang adik, tapi Miguel selalu mengatakan jika adiknya telah mati.


"Tidak mungkin, Tante ku telah meninggal saat dia muda."


Alice menggeleng, dirinya sempat ragu dengan perkataan Tera, tapi ketika telah diselidiki dia memang benar sepupu dengan Genta.


"Tante Tiara memilik anak dari William!"


"Apa maksudmu?!" Refleks Angel berdiri dan menatap nyalang Alice.


Ia menghela napas kembali duduk. Perempuan itu menyentuh kepalanya yang berdenyut hebat.


"Apa maksud perkataan mu? Tante Tiara menikah dengan William? Yang benar saja? Tante tidak mungkin menikah dengan musuh ayah."


"Tapi itu kenyataannya Angel," balas Alice lalu meraih tangan wanita itu.


Ia menggenggam tangan Angel yang kaku agar dapat membantu mengirimkan energi. Angel tidak kuasa menahan tangis ia menumpahkan semua perasaannya di dalam pelukan Alice.


"Kata mu, kau menikah dengan orang bermarga Miller, siapa dia?"


"Kakak mu, Genta."


Angel langsung mengendorkan pelukan mereka. Ia mengarungi netra Alice tidak percaya.


"Kau bohong, kan? Kakak ku masih hidup?"


Alice mengangguk meyakinkan.


"Benar, sekarang kau ingin menceritakan ke mana kau selama ini?"


Angel tertawa lirih sambil mengusap air matanya. Senyum sedihnya menghiasi wajah perempuan itu.


Perlahan ingatannya memutar kembali memori yang ingin ia hapus. Usai pasukan Miguel dipukul mundur habis-habisan, Angel berserta keluarganya diculik.


Ada seorang pria yang membawanya dan memberikan penderitaan yang tidak sanggup diterimanya. Ia dijadikan objek balas dendam dan harus menjadi pelacur orang tersebut, sungguh menyakitkan.


"Orang yang kau lihat tadi, dia menculik ku! Dia menjadikan ku budak nafusnya," rintih Angel begitu memilukan.


Sedangkan Alice merasa syok dan hatinya bergetar. Ia tidak menyangka Damian lebih bejat di luar dugaannya. Tangannya mengepal seiring runtuhnya pertahanan air matanya.


"BENAR DAMIAN MELAKUKAN HAL ITU KEPADA MU?!!" tanya Genta yang baru saja tiba di ruang tamu.


_________


Tbc