
Genta membantu ibunya keluar dari dalam mobil dan memapah tubuh rintih sang ibu membawa ke dalam rumah. Ia menuntunnya penuh dengan kasih sayang dan hati-hati.
Alice dari lantai atas melihat mobil Genta yang memasuki pekarangan sontak membuatnya tersenyum bahagia. Ia berlari turun ke lantai bawah tidak sabar lagi menemui Genta, suaminya.
Melihat ada seorang wanita tua di samping suaminya itu membuat Alice menatap sang suami penuh tanya. Begitu banyak pertanyaan muncul di kepala cantik wanita itu.
Siapakah perempuan tua yang dibawa Genta? Ia tidak pernah melihat wanita tua itu sebelumnya, atau Genta menemukan perempuan tersebut di tengah jalan, merasa kasihan lalu membawanya, mungkin saja begitu.
Jika itu benar Alice pun tidak masalah. Orang-orang seperti itu memang harus ditolong tapi apakah akan lebih baik diletakkan di panti jompo saja? Ia bukan tidak ingin menerima dan mengurusnya, mereka terlalu sibuk tidak punya waktu untuk mengurus.
Ia berjalan mendekati Genta dan membantu Genta membawa wanita itu masuk ke dalam rumah. Tera menatap rumah besar di sisa kesadarannya.
Sedikit wajah penuh kerinduan terukir jelas di matanya. Sudah lama ia tidak memijakkan kaki di rumah besar semacam ini. Terakhir beberapa tahun yang lalu ia juga pernah tinggal di rumah besar dan megah persis seperti ini.
"Ini rumah siapa?" tanya Tera lemah diambang kesadarannya.
Genta tersenyum melihat sang ibu. Ada sesuatu yang amat membahagiakan di dalam benaknya. Setidaknya ia bisa membawa sang ibu ke tempat yang lebih layak.
"Ini rumah ku."
Alice terdiam mendengar ucapan Genta. Ia tersenyum masam, ini jelas rumah Elizabeth, bukan rumah suaminya. Mengingat perkataan beberapa pelayan tadi membuat dadanya terasa nyeri amat menyakitkan.
Kata-kata itu bak silet yang menyayat separuh jiwanya yang membuat ia hendak jauh pergi meninggalkan tempat ini. Tapi ia tidak bisa, ia tidak akan mampu pergi karena cukup sudah perpisahannya. Ia tidak ingin lagi ada ujian.
"Siapa wanita ini?" tanya Alice memutuskan untuk bertanya ketimbang memendam sendiri rasa penasaran.
Genta membantu Tera duduk dan memanggil pelayan sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan Alice. Wajar saja jika Alice bertanya pasalnya ia belum pernah melihat dan bertemu secara langsung dengan ibunya di kampung.
"Dia ibu ku, ibu Tera." Sukses kalimat Genta membuat Alice terkejut.
Wanita itu menatap tidak percaya Tera. Tera begitu menggemaskan dalam kondisinya yang bisa dikatakan cukup buruk. Kenapa Tera bisa dibawa dalam keadaan penuh darah?
Ia juga bisa melihat beberapa titik di tubuh Tera yang penuh dengan luka lebam. Bagaimana bisa hal memilukan itu terjadi pada Tera. Ia menatap Genta penuh selidik.
"Ma-maksud mu? Kenapa dia dalam kondisi seperti ini? Apa yang telah terjadi?" khawatir Alice seraya mengambil obat-obatan yang dibawa pelayan.
Ia membersihkan beberapa titik luka dan memberikan obat pereda nyeri serta obat luka. Ia tidak sengaja menatap kaki Tera yang terbalut kain, sepertinya kaki wanita ibu dari Genta ini terluka parah.
Benak Alice semakin berlomba saling tanya ingin tahu kebenarannya. Apa yang terjadi saat Genta pergi tadi. Ia juga melihat keadaan Genta yang juga sama kusutnya. Alice yakin sesuatu telah dialami pria ini.
"Tidak apa." Genta tidak ingin menceritakan hal yang ia alami pada Alice.
Ia tidak ingin menambah beban pikiran Alice. Ia tahu wanita itu pasti bakal mengkhawatirkan dirinya dan melupakan kondisinya yang akhir-akhir ini sering sakit-sakitan.
"Kau sudah meminum obat mu?"
Tangan Alice sontak berhenti membalut luka di tubuh Tera. Ia menatap Genta begitu intens. Ia kecewa pria ini menyembunyikan sesuatu darinya dan mengalihkan pembicaraan. Padahal mereka berjanji akan saling jujur dan menceritakan masalah masing-masing.
"Genta aku bertanya. Apa yang terjadi dengan kalian? Kau berniat ingin menyembunyikan dari ku? Kau.. Genta," geram Alice dengan mata terdapat penuh rasa kecewa.
"Maafkan aku."
Alice menatap Tera yang perlahan mulai merasa nyaman. Ia tersenyum pada perempuan tersebut. Tera tampak sudah mendingan dari sebelumnya.
"Ibu, kau baik-baik saja?" tanya Alice sangat lembut di telinga Tera.
"Ya aku baik-baik saja, Nak."
Tera pun perlahan menatap jauh ke dalam netra di depannya ini. Wajah Alice sangat cantik dan ia penasaran siapa wanita yang ada di rumah anaknya dan mengobatinya ini.
Ia memandang Genta meminta pria itu menjelaskan siapa wanita yang sudah menarik perhatiannya tersebut. Genta menarik napas dan tersenyum sekilas. Mungkin sudah saatnya bagi Genta mengakui semuanya. Ia memang terlalu bodoh tapi juga suka rela karena hal itu membawanya ke puncak bahagia.
"Dia istri ku, Alice anak William."
"Kau.."
"Iya Ibu. Aku anak William, maafkan ayah ku." Tera menghela napas dan mengangguk, lagian tidak ada gunanya menyalahkan Alice yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kejadian di di waktu dulu.
"Kau sudah besar rupanya. Kau anak Lina kah?" Setahu Tera William dulu adalah kekasih Lina pembantu pribadinya dan mungkin saja Alice adalah anak dari Lina pikir Tera.
Alice terpaku di tempat. Matanya nanar ingin menumpahkan perasaan sakitnya. Ia juga tidak menyangka jika pembantunya selama ini adalah mantan dari ayahnya bahkan memiliki anak di antara cinta mereka.
Ia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya hati ibunya dulu. Tapi entahlah Alice juga tidak tahu terlalu banyak tentang orangtuanya.
"Ibu dia anak William dan Tiara," kata Genta membantu Alice menjawab, ia yakin Alice sulit akan mengatakannya.
Kini Tera merasa terus menerus diberikan kejutan. Ia menatap keduanya kaget, hal itu tidak dimengerti Alice dan Genta.
"Kau anak Tiara?" Wajah Tera tiba-tiba mengerut air mata memenuhi matanya.
Tangannya bergetar menatap kedua anak muda di depannya. Sungguh seperti dijatuhi hal besar yang membuatnya begitu terkejut.
"Kau tahu Alice siapa ibu mu? Ibu mu adalah adik Miguel, ayahnya Genta."
Kini Alice dan Genta lah yang dibuat kejutan. Mereka saling tatap tidak percaya. Mata Alice berkaca-kaca merasa takdir telah mempermainkan mereka.
"Jadi maksud ibu Alice adalah sepupu ku?"
Tera mengangguk, "tapi tidak masalah jika kalian memilik hubungan. Memang sudah seharusnya kalian menyatukan dua keluarga agar tidak bermusuhan. Tiara dulu adalah tawanan mereka untuk melemahkan posisi ayah mu. Di mana ibu mu sekarang Nak?"
Alice tertunduk dengan sedikit linangan air mata di pipinya. Mengingat tentang ibunya membuat sakit di dadanya kembali kambuh. Ia sudah berusaha melupakan segalanya di masa lalu, di mana ibunya bunuh diri dan tidak perduli bagaimana nasibnya setelah wanita itu akan meninggalkannya.
"Ibu sudah meninggal. Dia bunuh diri saat tahu ayah meninggal."
Tera menangis mendengar kabar menyedihkan itu. Malang sekali nasib Tiara, mungkin depresi di masa lalunya kambuh hingga ia tidak bisa berpikir jernih dan memilih jalan tersebut.
"Kau yakin Tiara bunuh diri hanya karena kehilangan suaminya? Sudah pasti Tiara merasa kehilangan semuanya. Kakak yang ia cintai dan ponakannya, dan suaminya. Mungkin Tiara sudah merasa sendirian."
"Tapi kan aku masih hidup Ibu. Kenapa Mama tega ninggalin Alice," ujarnya tidak terima.
Genta yang paham pun meraih tubuh Alice dan memeluk wanita itu erat. Ia mengecup beberapa kali puncak kepala wanita itu dan mengusap belakangnya.
"Tenanglah sayang."
Tera tersenyum melihat pemandangan itu. Ia ikut bahagia melihat mereka bersatu dan itu artinya keluarga mereka kembali terjalin berkat keduanya.
"MAMA! ADAIRE BELI BONEKA BARU!!"
"PAPA DRAKE BELI BUKU KLASIK KOTA PARIS ZAMAN DULU!!"
Kedua anak itu saling berlomba siapa dulu yang akan sampai di depan orangtuanya. Tera bingung melihat ada dua bocah yang berlarian.
"Dia anak ku dan Alice."
"Tapi mereka sudah besar." Tera sama sekali tidak mengerti.
"Aku memperkosa Alice di saat dia berumur tujuh belas tahun. Maafkan aku Ibu mengecewakan mu."
"DASAR ANAK NAKAL KAU GENTA!!"
________
TBC
Jangan lupa komen yang banyak dan di-like juga man teman🥺🥺🥺