My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 42 A



Alice tidak mengerti kenapa Genta mengajaknya untuk berkemas. Pria itu tampak panik sembari memasukkan barang-barang mereka ke dalam koper.


Ia hendak bertanya namun Genta tidak berkesempatan untuk menjawab. Ia selalu akan menjawab perkataan yang berbeda dari yang ditanyakan Alice.


Hal itu membuat Alice merasa kesal dengan pria itu. Apa susahnya menjawab pertanyaan yang tidak seberapa itu? Kenapa pria ini malah membuat ribet.


"Genta katakan ada apa," khawatir Alice dan memakai pakaiannya dengan cepat.


Ia tidak mengerti kenapa pria ini mengajaknya untuk meninggalkan desa. Padahal dirinya sudah terlanjur nyaman di sini, lagi pula mereka telah menyewa rumah dengan jangka watu sangat lama.


"Kau bangunkan Adaire dan Drake suruh mereka berkemas barang mereka jangan sampai ada yang ketinggalan."


Dengar sendiri bagaimana jawaban Genta? Bagaiman ia bisa melakukan dengan cepat pekerjannya jika sesuatu yang menjadi dasar masalah saja dia tidak tahu, yang ada dirinya selalu dibayang-bayangi dengan rasa penasaran.


Alice mendengus dan keluar dari kamar. Ia membanting pintu hingga menghasilkan bunyi yang cukup nyaring di telinga.


Genta menghela napas dan tersenyum pahit melihat kemarahan Alice untuknya. Ia yakin sangat sulit membujuk Alice. Namun tidak ada cara lain, ia takut jika Alice akan panik dan dirinya semakin kehilangan cara untuk berpikir.


Beberapa menit kemudian Adaire dan Drake dengan wajah mengantuk mereka keluar dari kamar dengan pakaian lengkap.


Barang kedua bocah itu juga telah dikemas oleh Alice. Sesuai firasat Genta, Alice bersikap acuh dengannya.


"Kalian bisa masuk ke dalam mobil terlebih dahulu."


Adaire mengangguk singkat dan membawa kedua anaknya ke dalam mobil milik mereka sembari menunggu Genta masuk.


Genta terdiam di tempat dan dirinya menelpon seseorang. Ia meminta agar orang tersebut menghadangnya di lokasi tertentu untuk menjemput mereka tanpa ketahuan oleh anak buah William dan Miguel.


Genta dengar kedua orang tersebut telah melakukan pencarian. Tempatnya telah terdeteksi, ia tidak ingin tertangkap meski itu adalah ulah keluarga mereka sendiri.


Keduanya ingin hidup tenang tanpa gangguan bisnis yang tidak dimengerti.


"Ya aku akan segera ke sana."


Ia sudah bisa menyetir dan itu buah hasil dari ajaran Sean. Dirinya belajar dengan cepat karena otak Genta memang sangat cerdas, tidak butuh waktu lama untuk belajar hal semacam itu, mungkin anak kecil pun bisa melakukannya.


"Genta apa kau yakin tidak ingin mengatakan kepada ku?" tanya Alice untuk kesekian kali. Nada suaranya terdengar sinis enggan berbicara dengan Genta.


Genta sepertinya tidak ada pilihan lain untuk memberitahu Alice. Lagi pula perempuan itu sepertinya harus tahu juga agar mudah melindungi diri.


"Ayah mu dan ayah ku sudah mengetahui keberadaan kita," ujar Genta sembari menghidupkan mesin mobil.


Pria itu menancap gas dengan cepat membelah jalan sementara Alice masih syok dengan apa yang didengarnya. Ia menatap ke arah rumahnya di desa yang ditinggalkan begitu saja.


Banyak kenangan yang tersimpan di sana yang tidak dapat dirinya hitung. Hatinya seakan tidak rela meninggalkan tempat itu, namun benar apa kata Genta tidak ada pilihan lain selain dengan terpaksa meninggalkan tempat itu.


"Ke mana kita akan pergi?" tanya Alice pasrah dengan perasaan was-was takut jika tujuan mereka masih dapat diketahui oleh orangtuanya.


"Aku memiliki kenalan yang akan membantu kita. Untuk saat ini kita harus memikirkan cara keluar dari desa ini."


Alice mengangguk setuju dengan Genta, ia sependapat mereka harus cepat pergi dari sini sebelum terlambat.


Jalanan begitu sunyi dan di samping penuh dengan pepohonan rimbun sementara hari masih gelap suasana sangat mencengkram. Semoga mereka lekas sampai ke tujuan.


________


Tbc


Jangan lupa like dan komen


Btw aku membawa blurb rekomendasi novel temen ku nih buat kalian siapa tau kalian suka.