My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 57 A



Mobil jenis BMW berwarna hitam berhenti di depan sebuah penginapan yang tak lain adalah hotel terbesar di ibu kota.


Hotel itu adalah salah satu hotel terkenal di Washington DC dan juga memiliki kualitas dan pelayanan terbaik.


Badai salju malam ini membuat suhu dingin sampai menusuk kulit. Alice menatap keluar jendela mobil melihatĀ  keadaan di luar.


Banyak orang mengenakan mantel, baju rajut, maupun yang berbulu dilengkapi dengan syal. Suasana begitu ekstrim membuat Alice beberapa kali susah menarik napas.


Ia menatap Genta di samping, pria itu diam tak niat membuka suara. Ia menarik napas dan meraih tangan milik laki-laki itu.


Genta merasakan ada yang menyentuhnya kontan menatap ke samping. Ia memandang Alice bingung lalu tersenyum kemudian.


"Apakah dingin?" tanya Genta begitu lembut membuat Alice tersipu malu.


Wajah putih milik Alice sangat kontras dengan udara dingin hingga membuat wajahnya memerah. Genta berniat menghangatkan tubuh wanita itu dengan cara memeluknya.


"Sekarang apa masih dingin?" tanya Genta sambil mengusap punggung kecil milik Alice.


"Begini lebih nyaman."


Alice enggan melepaskan pelukan ini. Ia tidak ingin berpisah takut Genta menghilang lagi. Jika tidak ada Damian, ia akan mengajak Genta menginap saja di hotelnya.


Merasa ia sudah cukup lama menghabiskan waktu bersama Alice di dalam mobil, Genta melepaskan tautan tubuh mereka.


Ia menatap serius wajah Alice lalu membenahi rambut yang menutupi sebagian wajah cantik wanita itu. Ia tersenyum tipis nyaris tidak terlihat oleh indra penglihatan.


"Kau tampak lelah hari ini, aku akan membawa mu masuk."


Senyum Alice terukir kecil, dirinya memang kelelahan dan itu penyebabnya pria itu. Banyak hal yang telah mereka lakukan hari ini.


Menghabiskan waktu untuk membalas perpisahan. Tidak cukup satu hari saja mungkin dilanjutkan besok dan seterusnya.


"Itu karena kau," pungkas Alice seraya menghela napas kasar.


Genta diam beberapa detik sebelum berbicara, "Alice, apakah kau akan pulang ke Kanada?"


Alice syok dan menatap Genta. Dirinya baru menyadari jika keberadaannya di Washington DC tinggal beberapa hari lagi dan itu artinya ia akan berada di negara yang berbeda.


Alice tertunduk dan kedua jarinya saling meremas. Ia juga bingung apakah terus berada di Washington DC bersama Genta atau pulang ke Kanada. Perusahaan utamanya ada di sana dan banyak hal yang harus dirinya urus.


"Aku tidak tahu."


Mengerti dengan situasi, Genta keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Alice, ia tidak ingin wanita itu terperangkap dalam rasa kebingungan.


"Keluarlah, aku akan mengantar mu. Aku juga ingin bertemu dengan anak ku." Genta menyambut hangat tangan Alice lalu menutup pintu mobil ketika wanita itu telah berada di luar.


Tatapan Alice mengarah pada kaki Genta. Ia menarik napas sejenak dan mengamati wajah pria itu yang tengah bengong heran karena netranya mengandung tatapan sendu.


"Genta! anak-anak merindukan mu."


"Aku tahu. Dan aku juga merindukan mereka," sedih Genta tapi berusaha tegar, "mari kita masuk. Aku tidak sabar memeluk mereka."


Alice dan Genta memasuki bangunan megah penginapan tersebut. Badai salju malam ini sepertinya tidak memungkinkan Genta untuk pulang.


Mungkin menunggu beberapa jam lagi baru bisa dirinya pulang. Salju menyelimuti ibu kota hingga bangunan dan pepohonan.


Tidak membutuhkan waktu lama menempuh jalan ke ruangannya, Alice, akhirnya mereka tiba di depan pintu. Alice tidak sabaran mendorongnya dan memberikan kejutan pada putra putrinya.


"Apa kau merasa gugup?" kekeh Alice seraya menepuk pundak pria itu memenangkannya.


Genta menatap kesal Alice. Terdengar beberapa kali helaan napas kasar dari laki-laki tersebut. Bagaimana mungkin tidak gugup, sudah sekian lama ia meninggalkan dan melupakan anaknya dan ini pertama kalinya ia akan bertemu lagi setelah kejadian itu.


Ia ingin melihat sudah sebesar apa mereka, tentunya mereka sudah hampir remaja dan dirinya pun hampir berkepala empat. Tapi jangan salah, ia tetap tampan dan makin berwibawa di umurnya sekarang.


"Tidak. Ayo kita masuk."


Alice terkekeh melihat wajah Genta yang makin memanas padahal suhu udara sangat dingin. Ia menekan beberapa digit nomor hingga pintu itu terbuka.


Ia menekan saklar lampu hingga ruangan yang semula gelap kini terang karena cahaya lampu.


Genta tersenyum melihat kedua anaknya yang tertidur di sofa, mungkin mereka sedang menunggu kepulangan Alice.


"Mereka menunggumu Lice," kata Genta berjalan menghampiri mereka.


Genta duduk di samping keduanya lalu mengusap pelan tubuh Adaire yang ternyata sudah besar lebih dari sepinggangnya, anak ini juga sangat cantik.


Pandangannya terkunci kepada Drake yang tidak jauh tampan. Ia begitu mempesona dan perawakannya juga tinggi mungkin 145cm dan itu termasuk tinggi untuk pria seusianya.


"Mereka sangat cantik dan tampan," puji Genta melihat Alice yang menghampirinya. Ia terus mengamati keduanya tanpa lelah. Ia sangat bahagia, sudah pasti.


"Udara dingin mereka tidur tidak mengenakan selimut. Bantu aku mengangkat mereka ke kamar."


Genta mengangguk dan hendak mengangkat tubuh Drake terlebih dahulu tapi kedua bocah tersebut sudah terbangun.


Adaire remang-remang membuka matanya dan pemandangan pertama yang dilihatnya sang ayah menatapnya dengan rasa rindu.


Mata Adaire langsung terbuka dan memeluk tubuh Genta sangat erat. Drake terkejut melihat sang ayah ada di sini, ia melihat Alice yang tersenyum meyakinkan dirinya.


"Papa kenapa tinggalin Adaire, Adaire rindu papa," tangis Adaire dan bergantung di leher Genta tidak ingin lepas dari pria itu.


Ia memeluk posesif dan tidak membiarkan Drake memeluk sang ayah. Drake hanya diam dan menunggu, ia masih merasa kecewa kepada sang ayah karena kejadian kemarin.


"Adaire biarkan Kaka mu memeluk Papa juga."


Adaire membuang muka dan malah memeluk Genta semakin kencang membuat pria itu kesulitan bernapas.


"Tidak mau."


Genta menghela napas melihat putrinya, ia tersenyum dan mengusap kepala bagian belakang Adaire.


"Adaire, Drake juga kakak mu."


"Biarkan saja, Drake lagi marah dengan mu Pa."


Genta menatap terkejut Alice. Alice hanya menarik napas dan mengajak Drake berbicara.


"Apakah benar begitu? Papa ada masalah yang sulit dijelaskan makanya dia tidak bisa mengenali mu waktu itu."


Genta paham sekarang, Drake marah kepadanya karena ia lupa dengan sang anak waktu itu. Ia mengerti kemarahan Drake karena memang salahnya.


Genta menyentuh tangan Drake dan mengusapnya halus.


"Kau marah dengan ku? Aku minta maaf dan kau boleh meminta apa pun dari ku."


Drake tidak dapat menahan perasaannya. Ia menangis dan menjauhkan paksa tubuh Adaire yang masih memeluk ayahnya dan berganti dengannya yang memeluk Genta.


"Drake juga rindu Papa," aku Drake membenamkan kepalanya di ceruk leher Genta.


Adaire kesal melihat sang kakak dan tidak ingin kalah. Ia berebut dengan Drake ingin memeluk sang kakak.


"Kalian ini, apa tidak ada yang ingin memeluk ku?" cemberut Alice membuat Genta terkekeh.


"Mama," ujar Adaire dan memeluk sayang sang ibunda.


"Akhirnya kita berkumpul lagi bukan Drake? Seperti yang ada di gambar mu kemarin?"


Drake mengangguk membenarkan, akhirnya harapan itu terwujud juga. Ia sangat bahagia bisa memeluk sang ayah seperti ini. Ia akan menceritakan banyak hal pada Genta nantinya.


____________


tbc