
Lapangan dipenuhi dengan suara riuh dari masyarakat yang tidak sabar ingin mendengar Kampanye dari salah satu calon wali kota mereka.
Ada yang menatap tidak senang karena bukan pendukung dari Thomas. Dan banyak juga yang kagum dengan sosok Thomas yang sangat bijaksana, bahkan terlihat dari cara ia berbicara.
Masyarakat setempat berharap ialah yang maju sebagai wali kota, tidak calon yang lain. Meskipun ada masyarakat yang menentang keras.
Tepukan tangan begitu nyaring di telinga saat Thomas menyapa mereka. Masyarakat dengan antusias pula menjawab.
Sementara dibalik itu semua, sebuah senapan mengarah ke dadanya. Thomas tidak menyadari itu diantara ribuan manusia. Ia tertawa terbahak-bahak sambil melemparkan lelucon kepada masyarakat, tidak menyadari bahaya sedang mengincar dirinya.
Orang yang memegang senapan tersebut mengambil ancang-ancang dan memastikan targetnya. Ketika Thomas telah selesai berkempanye dan hendak menjauh dari mimbar lalu orang tersebut Langsung menarik pelatuk senapannya hingga peluru itu melayang tepat ke arah sasaran.
"Akhh!!" Teriak kencang dari Thomas yang tiba-tiba merasakan peluru tajam masuk ke dalam dadanya.
Sontak saja seluruh yang ada di sana langsung panik dan berhamburan seperti semut yang merasakan kegelisahan. Para pengawal Thomas cepat mencari arah datangnya peluru.
Sedangkan yang lain langsung melarikan Thomas ke rumah sakit, tubuhnya penuh dengan darah segar dan nyawa Thomas diambang Kematian karena ia kehabisan banyak darah dan peluru itu terus menjalar ke seluruh tubuhnya. Masyarakat berteriak histeris dengan kejadian tersebut.
Sementara orang yang melakukan aksi tersebut langsung keluar dari kerumunan. Ia sama sekali tidak takut jika ketahuan, sebab ia yakin hal itu tidak mungkin.
Pria itu membuka topinya dan kacamatanya, lalu meletakkan senjata api yang ia gunakan tadi. Seseorang dari dalam mobil telah menunggunya.
Ia masuk ke dalam mobil itu dan menatap lurus ke depan sangat dingin. Orang di dalam mobil tersebut sedikit menyeringai dan menjalankan alat transportasi tersebut.
"Aksi mu sangat bagus Genta," seru Sean sebagai pengamat Genta melakukan aksinya.
Ia sangat puas Genta telah melakukan hal tersebut. Pria itu tidak henti tersenyum senang.
"Apa kau sudah puas?" tanya Genta yang sudah muak dengan Sean. Ia bosan dengan pembicaraan itu.
"Yeah sedikit, tembakan mu sudah sangat bagus. Aku senang kau bisa belajar banyak," ucap Sean pada Genta. "Sebentar lagi tv akan dipenuhi dengan berita pria tua itu."
Genta menarik napas panjang. Meski hatinya mengutuk keras perbuatannya tapi ia tetap mengikuti otaknya. Genta merasa bersalah tapi entah kenapa seiring dirinya dilatih untuk kuat ia selalu bisa mengendalikan perasaannya.
Maka dari itu penyesalan hanya sedikit di dadanya. Pria itu lebih tidak memperdulikan perbuatannya tadi.
"Jika ayah mu di sini dia pasti akan senang melihat mu," tutur Sean sembari membayangkan ekspresi Miguel.
Genta melirik Sean sambil menggerutu di dalam hati. Bagaimana mungkin ayahnya senang? Yang ada Sean lah yang senang sendiri.
Ia memohon agar Tuhan tidak menghukum ayahnya karena perbuatannya.
"Berhenti berkata, kau membuat telinga ku panas," marah Genta seraya mengambil senapannya tadi dan meletakannya di samping dirinya.
Sebenarnya sudah sangat lama ia hendak menembak kepala Sean, tapi ia selalu mengurungnya. Ia memiliki waktu yang tepat untuk melakukan hal itu.
Mobil mereka masuk kedalam pekarangan rumah tua. Genta keluar sambil membuka jaket hitamnya. Anggota yang lain telah menunggunya dan heboh karena Genta telah melakukan misinya.
"Aku sangat berterima kasih pada mu," ujar calon wali kota dari partainya, Darren.
Genta tersenyum tipis pada Darren. Ia pergi begitu saja tidak menjawab ucapan Darren. Meski Darren sedikit merasa tersinggung, tapi nyatanya ia tidak masalah dan tetap tersenyum bahagia.
"Abaikan saja dia," perintah Sean dan mengambil gelas Wine di tangan Darren dan menegaknya.
"Anggur pilihan memang sangat enak," celetuk Sean dan tertawa kecil. Mereka bersulang untuk merayakan keberhasilan, sedangkan Genta termenung di depan jendela.
________
Wanita itu mengalih Chanel ke yang lain dikarenakan siaran itu tidak sesuai dengan keinginannya.
Ia pun akhirnya menonton seputar berita. Sang pembawa acara mengalihkan beritanya ke berita hangat baru-baru ini.
"Penembakan oleh orang misterius terjadi dini hari dan menargetkan calon walikota New York Thomas Leonard. Hingga sekarang polisi masih menyelidiki kasus ini dan mencari bukti untuk menangkap pelakunya. Terlihat jelas dari rekaman sisi tv seorang pria diantara kerumunan tengah memberikan ancang-ancang."
Alice terkejut ketika pria itu di zoom. Ia tidak melihat siapa orang itu, tetapi Alice sang hapal dengan kalung yang menyembul sedikit di lehernya.
Spontan Alice menggeleng kuat berharap itu hanya dugaannya. Ia sangat gelisah dan terus melanjutkan menonton berita itu.
Hatinya tidak tenang terus kepikiran dengan sang pelaku. Tidak mungkin Genta, pria itu sangat baik jadi jelas bukan Genta pelakunya.
Angel yang melihat Alice yang tampak khawatir tersebut menghampiri perempuan itu dan duduk di samping Alice sambil ikut menonton berita.
"Ada berita hangat apa? Sepertinya aku ketinggalan," ujar Angel sambil terkekeh.
Ia melirik Alice yang fokus dengan pikirannya. Angel mengerutkan keningnya dan melambaikan tangannya di depan wajah Alice.
Alice belum menyadari jika Angel juga ada di sini. Ia sadar ketika Angel memanggil namanya, ia menatap Angel dengan sulit diartikan.
"Calon walikota New York tertembak baru-baru saja."
Mata Angel membulat dan memandang tv. Ternyata berita itu memang benar, tapi ia tidak mengerti apa hubungannya dengan Alice.
"Sepertinya kau sangat sedih, korban adalah keluarga mu?" tanya Angel yang dipenuhi dengan penasaran.
"Tidak. Aku tidak apa." Alice tersenyum kecil lalu pergi dari ruang tamu.
Moodnya seketika rusak, dan kemungkinan-kemungkinan menghantui otaknya.
Wanita itu membuka pintu kamarnya dan melihat ruangan itu yang sangat sunyi. Ia kepikiran untuk memastikan hal tersebut sendiri.
Wanita itu pergi ke ruang kerja Genta. Ia mencari sesuatu yang menjadi bukti, tapi nyatanya ia tidak menemukan apa pun di ruangan itu.
Mata Alice tertuju pada dinding yang menarik perhatiannya. Ia menyentuh dinding itu, ia terkejut ruangan tersebut adalah ruangan rahasia.
Alice mencari cara untuk membuka ruangan itu, hampir 1 jam lamannya tapi tidak menghasilkan apa pun.
Alice memasukkan digit angka ulangtahun keuda anaknya, dan alhasil ruangan itu terbuka.
Alice tersenyum senang dan pelan-pelan melangkah ke dalam. Ruangan itu sangat kedap dan lantas ia menggunakan lampu handphonenya mencari saklar.
Alice menekan saklar tersebut dan ruangan itu seketika menjadi terang. Awalnya Alice merasa senang, tapi tidak lama senyumnya pudar.
Ia melihat ruangan itu yang dipenuhi dengan lukisan, lukisan erotis dirinya. Dada Alice sesak dan menatap banyaknya lukisan yang terpajang, ia sendiri malu melihat dirinya yang dilukiskan di dalam sana.
Tidak hanya itu yang membuat Alice terkejut, tetapi di sana banyak terdapat kata-kata seperti sebuah karangan. Menceritakan hal vulgar tentang dirinya, dan di situ Alice mengetahui jika Genta sangat terobsesi padanya.
Hal lain yang membuat Alice kian terkejut adalah sebuah wacana dan peta di atas meja. Itu adalah wacana penembakan Thomas dan juga peta yang digunakan Genta untuk melakukan penyerangan.
"Aku tidak percaya semua ini!" Alice menangis dan pergi dari ruangan itu dengan dada sesak, ia tidak menyangka Genta melakukan hal itu dan lebih parah lagi, pria itu sangat terobsesi padanya.
_______
Tbc