
Alice dan Genta keluar dari kamar kedua anaknya. Ruangan yang disewa Alice adalah ruangan hotel yang memilik level tinggi yang mana lebih mirip dengan sebuah rumah, ada ruang tamu, dapur dan kamar.
Genta menatap ke jendela yang tidak tertutup lalu menatapnya terdiam. Badai salju tak kunjung berhenti dan itu membuatnya sedikit khawatir.
"Tinggal lah beberapa menit dulu di sini."
Genta setuju dengan Alice dan duduk di ruang tamu menunggu badai salju berakhir. Matanya melirik Alice yang datang dengan secangkir wedang jahe di tangannya.
"Minumlah, ini sangat mahal di Amerika. Mungkin ini bisa membantu mu menghangatkan tubuh mu."
Genta meminum air tersebut dan menutup matanya. Sedikit lebih nyaman dari sebelumnya.
"Kau juga harus meminumnya," balas Genta dan menyuruh Alice menyeruput bekasnya.
"Aku sudah meminumnya tadi. Genta apa kau tidak ingin tidur di sini malam ini?"
Genta menatap Alice dengan tertarik, boleh juga ia menginap dimari. Bukan kah mereka memang harus tidur sekamar.
"Benar kata mu, mungkin dengan aku tidur di sini akan lebih mudah menghangatkan tubuh ku." Genta memandang dengan tatapan yang sangat dimengerti Alice.
"Dasar mesum kau!! Kau sudah hampir tua."
"Apa salahnya? Kau istri ku. Hubby boleh ya? Ya? Ya?"
Digoda oleh Genta membuat pertahanan Alice runtuh juga. Mendapatkan sinyal bagus dari Alice membuat Genta merasa senang dan langsung menindih tubuh wanita itu.
"Menyingkir lah!! Kau berat sekali," protes Alice berusaha mendorong tubuh laki-laki itu dari atasnya.
Usaha yang dilakukan Alice malah berujung petaka baginya. Genta semakin sulit terkendalikan dan gencar menyerang beberapa titik tubuhnya.
Alice merintih sembari mengigit bibirnya. Itu sangat nikmat dan susah dijelaskan. Ia mengalungkan tangannya di leher pria itu dan membalas ciuman dari Genta yang tidak seimbang dengannya.
"Akhem!" Suara batuk disengaja dari seseorang menyadarkan kedua insan itu yang larut dalam kenikmatan.
Alice mendorong tubuh Genta dan membenahi pakaiannya yang sedikit terbuka. Wajahnya memerah melihat Damian ada di depannya dan menyaksikan semuanya.
Genta memandang sinis Damian. Dendamnya pada pria itu sangat besar, Damian yang menghabisi keluarganya, Miguel, Cristian, dan juga Sean.
Genta mendecih dan berdiri mendekati Damian. Terjadi adu sesi menegangkan. Tatapan mereka saling mengintimidasi.
"Ku pikir kau telah menjadi mayat seperti kerabat mu yang lain," sindir Damian dan tertawa kecil.
Ia duduk di sofa yang hampir menjadi wadah percintaan keduanya. Ia menatap adiknya yang juga memandangnya sebal.
"Kenapa kau membawa pria ini pulang?"
"Alice bisa tinggalkan kami berdua?"
Alice menatap heran Genta. Ia mendengus mengangguk lalu pergi dari ruangan tersebut.
"Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan dengan ku," tutur Damian.
Genta menatap tajam pria itu dengan tangan terkepal. Pria yang ada di depannya ini adalah orang yang telah mendorongnya ke jurang dan memberikan beberapa kali tembakan tambahan agar ia tidak bisa bertahan, selain itu Damian juga yang menghabisi keluarganya.
"Ya. Seperti yang kau lihat aku masih hidup." Genta tersenyum miring membuat kesal Damian.
"Dan aku menyesal kenapa tidak membakar mu saja kemarin."
"Mungkin Tuhan berkata lain." Genta menarik napas dan tertawa, "Damian! Aku tidak akan pernah memaafkan mu. Aku bukan Genta yang dulu, aku bisa saja menjadi pencabut nyawa mu. Apa kau tidak takut Damian?" ujarnya nyaris berbisik
Damian tertawa gelak. Ia menatap jenaka Genta, tangannya menepuk pundak pria itu. Dalam sekejap lenyap tawa tersebut.
"Apa aku takut? Oh Tuan Genta yang terhormat kau sekarang orang terpandang. Tapi sayang kaki mu menggenaskan."
Genta menatap kakinya dengan masam. Ia harus cepat melakukan pemulihan kakinya.
Genta menarik kerah Damian dan memandang tajam Damian seperti memberikan sebuah peringatan.
"Benar kau yang melakukan penyeludupan barang haram itu di kapal ku untuk memfitnah ku, bukan?"
"Begitu saja kau sudah marah. Jika benar itu aku, kau mau apa?"
"Bareng*sek kau Damian!" Genta meninju wajah pria itu.
Ia berusaha menstabilkan napasnya dan mendorong kasar Damian lalu meninggalnya. Tapi langkahnya terhenti kembali membalikkan badan.
Damian menarik sudut aslinya heran. Ia berjalan mendekat dengan tangan melipat di dada bertujuan memamerkan wibawanya.
"Kau sengaja ikut dengan Alice ke Amerika untuk mengurus ku bukan? Lakukan saja, kita lihat siapa yang menang."
Genta pergi menemui Alice sementara di sana menyisakan Damian dengan wajah tenang tapi tangan terkepal. Ia mendapatkan jika Genta tak meninggal di tragedi itu dan mengetahui jika Genta pula lah yang menjadi pesaingnya yang sering menggagalkan aksinya dalam transaksi bisnis gelap.
Organisasi yang dibuat Genta sangat meresahkan dan menyulitkannya, maka dari itu ia mencaritahu pemimpinnya dan terkejut kala tahu Genta lah orangnya. Maka dari itu dendamnya dengan Genta semakin bertambah.
________
Tbc