My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 31



"Papa dia siapa? Hiks, hiks, hiks, dia mau ambil papanya Drake sama mama Alice, kan?" tangis Drake pecah saat melihat Adaire yang diberikan ice cream dan mendapatkan perhatian penuh dari Genta. Ia telah mengamati cukup lama dari tadi hingga akhirnya Drake memutuskan untuk menghampiri dan melupakan kekesalan hatinya.


Drake mempelototi Adaire berharap jika anak perempuan yang telah membuatnya iri tersebut ketakutan dan cepat meninggalkan keluarganya.


Yang ada malah Adaire keheranan melihat tingkah Drake. Ia tertawa gelak melihat Drake yang berusaha menakut-nakutinya tapi malah terlihat sangat lucu.


Drake mendengus dan membuang wajahnya ke samping. Ia sangat malu dengan Adaire yang malah mentertawakan dirinya.


"Kenapa kau berguling-guling di tanah tadi? Kau seperti anak kecil yang tidak diberikan ice cream." Adaire tertawa sembari memegang perutnya saking gelaknya ia tertawa. "Apa kau mau ini? Kau menginginkan ice cream ku? Ambil saja, aku tahu kau pasti sangat kehausan."


Mata Drake melirik Adaire yang tengah menatap dirinya sambil memamerkan senyum, seperti manis saja senyuman itu yang ada malah ia ingin muntah.


Dengan perasaan tidak sudi Drake merebut ice cream milik Adaire lalu mencecepnya. Adaire melontarkan tatapan geli melihat Drake yang sama sekali tidak merasa jijik dengan ice cream bekas mulutnya.


"Aku tidak mengambil ayah dan ibu mu. Dia adalah nona dan paman ku. Perkenalkan nama ku Adaire? Dan kau siapa pria cengeng?"


Drake menjauhkan ice cream yang menjadi objek utama dari lidahnya. Ia menatap tidak percaya ke arah Adaire dan menggerutu marah.


"AKU BUKAN PRIA CENGENG!!" tekan Drake di setiap katanya untuk menegaskan ucapannya.


Adaire tidak bisa menghentikan tawanya saat Drake malah mengamuk dan terlihat tengah marah pada dirinya.


"Kau memang pria cengeng. Kau tahu kau sangat imut seperti itu."


Wajah Drake bersemu merah mendapatkan pujian. Tapi anak itu juga tengah kebingungan harus bahagia dipuji atau marah dihina?


"Kau anak laki-laki kenapa kau lebih pendek dari ku?"


"Lihat saja aku jika sudah besar akan lebih tinggi dari mu," kesal Drake dan menatap orang tuanya yang dari tadi hanya menyaksikan tontonan drama dari kedua bocah yang baru hidup tersebut.


Genta dan Alice saling pandang masih belum selesai mencerna apa yang telah terjadi. Apalagi Alice ia menggaruk kepalanya bingung, tapi ia sangat senang berjumpa dengan Drake kembali.


"Apa kalian sudah selesai? Aku lelah mendengar kalian berdua." Wajah Genta pasrah melihat kedua anak kembarnya yang bertemu dan malah beradu mulut.


Ia juga tidak menyangka kenapa Drake bisa sampai kemari. Apa anak itu berjalan dari sekolahnya sendirian?


Tapi tidak mungkin anak sekecil Drake mampu melakukan hal semacam itu, pasti ada orang yang telah mengajak Drake kemari. Ia lantas mengamati sekitar mencari orang tersebut.


Mata tajamnya menangkap tubuh tegap Cristian yang duduk di salah satu kursi sambil menyantai. Ia seakan tidak terganggu dengan keributan yang ditimbulkan dari pertengkaran Drake dan Adaire.


Wajah Genta berubah 180⁰ menatap Cristian. Ia masih tidak percaya dengan semua alur yang akan ia tempuh.


Cristian telah membohonginya, pria itu adalah adik tirinya. Rasanya Genta belum sepenuhnya percaya, ia merasa takdirnya seperti tengah dimainkan oleh seseorang.


"Papa!!" marah Drake setelah beberapa kali menyeru ayahnya tapi malah sikap bisu yang ditunjukkan pada Drake.


"Ah, iya ada apa Drake?"


"Kenapa Mama Alice bisa bersama papa?" tanya Drake yang sulit mencari jawaban dari rasa penasarannya.


"Dia adalah nona muda," ucap pria dewasa tersebut yang mengakhiri semua rasa penasaran Drake. Ternyata mama Alice yang membuat ayahnya terluka kemarin. Anak itu menatap Alice dengan pandangan perumusan, dan perubahan sikap Drake yang tiba-tiba membingungkan Alice.


Adaire menatap remeh Drake. Anak itu tidak dapat menahan tawanya saat Drake menannyakan sebuah perihal konyol.


"Apa kau tahu ayah mu, aku, dan nona ku berada di rumah yang sama?"


Hati Darke makin membara mendengar nada kompor dari Adaire. Ia meraih baju anak perempuan itu dan mengajaknya untuk bergulat. Sama sekali tidak ada ketakutan dari Adaire. Ia sudah biasa menghadapi kerasnya kehidupan apalagi hanya bergulat dengan Drake, itu hanya hal kecil.


Mereka berkelahi hingga terguling-guling di tanah dan menjadi tontonan banyak orang di sekitar. Cristian yang di awal tidak tertarik pada keluarga itu memutuskan untuk melihat siapa pemenang gulat tersebut.


Sangat tidak disangka Adaire memenangkan tantangan gulat dari Drake. Di sisi lain Drake mendengus sebal. Ia menatap penuh dendam ke arah Adaire. Ia meringis merasakan sakit di pantatnya.


Genta dan Alice terbengong. Genta menepuk jidatnya dengan lelah. Kenapa kedua anak kembar itu malah bergulat di tempat umum seperti ini? Sangat memalukan, hendak ditaruh di mana wajahnya.


"Hey kenapa kalian malah bertengkar."


"Papa dia mengejekku." Drake menunjuk ke arah Adaire yang berdiri dengan wajah tenang.


"Sudah kalian. Jika kalian berdua masih bertengkar maka aku akan meninggalkan kalian."


Adaire dan Drake langsung terkejut dan saling menyalahkan satu sama lain. Genta menggeram dalam hati, ternyata belum habis juga.


Alice menatap wajah Genta yang tampak sangat lelah dan penuh kekhawatiran.


"Siapa Drake?" Alice mengamati seksama Drake penuh teliti, baik fisik, rupa, dan sifat dan segalanya.


Napas perempuan itu tercekat ketika ia menyadari beberapa dari tubuh Drake yang tidak asing.


Ia langsung menatap Genta dan bergantian mengamati Drake dan Adaire. Ia membeku dan langsung pucat.


"Genta," lirihnya sangat pelan. Alice tidak percaya dan menggelengkan kepalanya.


Ia menyentuh dadanya yang sesak saking shock nya ia. "Tidak mungkin, kan?" Alice menatap wajah Genta dengan penuh harapan.


Genta yang awalnya keheranan melihat raut wajah Alice yang berubah pucat pasii seketika pun perlahan mulai mengerti. Ia juga terdiam dengan mata tidak lepas dari kedua anaknya.


"Ya benar."


Genta tidak mungkin menutupi kebenaran Drake, ia juga yakin bahwa Alice mengetahui jika anaknya dulu kembar, ia yang melahirkan dirinya tentu tahu.


Adaire menelan ludahnya susah payah. Hatinya bercampur aduk tidak menentu. Tiba-tiba ia menangis melihat Drake yang ternyata sudah besar dan jauh dari jangkauan dirinya.


Bagaimana pun ia yang telah melahirkan bocah kembar tersebut mana mungkin ia tidak tahu jika ia memiliki dua anak, hanya saja Alice dulu terlalu sangat frustasi makanya ia tidak peduli bagaimana pun keadaan anaknya.


"Drake," lirih Alice sembari diiring air mata yang jatuh dari manik indahnya.


_____


Selembar kertas di dalam kotak menarik perhatian Alice saat memasuki kamarnya. Ia membuka kotak itu dan menemukan ada boneka kelinci beserta bunga lili.


Kini ia sudah mendapatkan jawaban siapa yang dahulu memberikannya kotak tersebut.


Ia tidak menyangka Genta melakukan hal itu, bahkan kini terungkap jika badut dahulu yang menghiburnya juga adalah Genta.


"Paman," lirih Alice. Ia masih sama seperti dulu anak polos dan masih kekanak-kanakan serta anak yang terobsesi mengkoleksi boneka.


Alice menghampiri tempat koleksi bonekanya dan menatap boneka kelinci yang terpajang di sana.


Ia meraih boneka itu dan mendekapnya di dada. Alice tahu betul Genta sering menemuinya dan memberikan perhatian yang sangat dalam untuk Alice.


Ia tidak menyangka orang yang dianggapnya sudah seperti pamannya sendiri dahulu malah memiliki hubungan yang sudah sangat jauh dengannya sekarang.


Begitu banyak pengorbanan Genta demi mendapatkan satu kalimat dari mulutnya, aku memaafkan mu.


Tapi kalimat itu sampai sekarang belum benar-benar ia ucapkan. Ia akan belajar memaafkan Genta tapi bukan berarti ia telah memaafkan perbuatan bejat yang telah dilakukan Genta.


Alice beranjak dari tempatnya dan melangkah keluar dari ruangan ternyaman miliknya. Tapak demi tapak membawa perempuan tersebut menuju satu-satunya kamar yang terletak di sudut dapur.


Ia memegang gagang pintu dan mendorong batasan pemisah tersebut. Di sana ia melihat Adaire putrinya telah terlelap dengan nyenyak.


Tungkai Alice berjalan lamban meresapi setiap langkahnya. Ia mengamati wajah yang sangat damai yang terbaring di kasur tipis.


Setetes air bening jatuh dari pelupuk matanya dan disusul tetesan lain hingga wajahnya basah karena air mata.


Tangannya terangkat hendak menyentuh kepala Adaire. Tapi, Alice menarik kembali tangannya dan mengepalkan kuat. Ia menatap tangan itu seraya menangis tersedu-sedu.


"Apa aku pantas?" tanya Alice kepada dirinya sendiri.


Ia menatap tubuh kecil Adaire, rasanya ia sangat hina untuk menyentuh tubuh polos itu.


"Maafkan Mama Adaire." Untuk kali pertama Alice menyebut dirinya dengan panggilan mama. Sebelum-sebelumnya pun ketika ia sering diam-diam menyelinap sama sekali tidak pernah mengatakan itu.


Di sisi lain Genta tidak bisa tertidur. Benaknya dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan. Otaknya jauh terlempar kepada kejadian beberapa hari lalu.


"Kau adalah anak ku," ujar Miguel dengan dingin tapi tatapan matanya tidak terlepas dari Genta.


Genta mengernyit heran lalu tertawa pelan. Ia menatap serius Miguel, apa pria itu tengah mengalami sakit jiwa? Ya Genta rasa memang seperti itu adanya.


"Aku cukup terkejut kau mengalami kegilaan dan datang kemari," spontan Genta tak luput berbarengan tersenyum geli.


Miguel mendengus kasar dan membuang pandangannya ke objek lain. Tidak lama datang Cristian dan anak buahnya yang lain.


Cristian menceritakan tiap detail nya kenapa Genta bisa menjadi anak dari Miguel. Ia juga menceritakan semua yang dirahasiakan dan mengatakan jika Tera ibunya di kampung hanyalah pelayan sekaligus pengasuhnya waktu kecil.


Tera membawa kabur Genta tanpa memberitahu Miguel, dan ia mengurusnya bersama suaminya.


"Apa kalian gila? Aku bukan anak kalian!!!!" Genta menyanggah dan menggeleng tidak yakin.


Mungkin orang pada sakit makanya bisa melantur saat berbicara. Tapi matanya memberikan setitik rasa kecewa. Semuanya telah dia ketahui, dan ia juga mendapatkan fakta yang tidak terduga.


Jadi selama ini ia tidak dapat tercium oleh William karena ulah mereka? Benar-benar gila. Dirinya tidak mengharapkan bantuan mereka, jikalau pun benar apa yang dikatakan mereka lagian ia bisa berbuat apa?


Genta menitikkan air matanya. Cukup sakit menerima kenyataan yang pada dasarnya tidak dapat diterima. Semua bukti telah terpampang di depan mata, jadi dasar apa yang membuatnya harus menolak kenyataan ini?


"Genta kau tahu siapa yang menghancurkan keluarga kita dan membunuh ibu mu?" tanya Cristian serius.


Genta langsung menatap Cristian penuh harap. Ia penasaran siapa berani-beraninya menghancurkan keluarganya.


"Dia adalah William." Genta langsung menggelengkan kepalanya tidak percaya, ia terkejut. "Maka dari itu kami telah menyusun rencana ingin menjatuhkan perusahaan William dan membalas dendam perbuatan mereka, aku dan ayah akan mengajak mu bekerja sama menghancurkan keluarga Arakhe."


"Papa." Suara halus tersebut membuyarkan lamunan Genta.


Pria tersebut tersenyum kecil dan menghampiri Drake yang terbangun dari tidurnya.


"Papa akan membacakan sebuah cerita untuk mu."


_______


Tbc


Jangan lupa like dan komen ya man teman. Btw jangan lupa juga mampir di karya temen saya, bagus juga lho.