My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 38



Genta mengulas senyum ketika melihat sang istri yang sibuk di dapur. Ini untuk kali pertama bagi Alice membedah dapur.


Ia kebingungan apa yang akan dilakukan di dapur. Perempuan itu berusaha menghidupkan kompor gas namun dirinya takut jika gas akan meledak.


Genta tertawa dalam diam melihat Alice pacarnya itu yang kesulitan memasak. Ia menghampiri perempuan tersebut dan memeluknya dari belakang.


Alice merasa tersentak mendapatkan sentuhan tersebut. Dadanya berdegup kencang berusaha menahan suatu gejolak yang menggebu-gebu di dadanya.


Perempuan itu melirik singkat Genta dari celah matanya dan tersenyum tipis. Ia berusaha menjauhkan tangan Genta yang melingkar di perutnya.


"Hey, lepaskan aku. Kenapa tiba-tiba?" tanya Alice penasaran dengan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


Melihat Alice dirinya semakin gemas. Tidak semudah itu melepaskan tangannya sesuai keinginan dari perempuan tersebut. Ia malah makin gencar memberikan ciuman kecil di kepala Alice.


Alice pun geram dan mengintimidasi lawan jenisnya itu, tentu Genta tidak akan terintimidasi malah yang ada ia ingin membawa perempuan itu ke ranjang.


"Kenapa? Bukan kah ini lebih bagus?" tanya Genta tidak luput dengan kejahilannya.


Alice mendengus, jika caranya seperti ini kapan ia akan memasak. Sebentar lagi kedua bocah itu akan bangun dan merengek meminta sarapan.


"Genta menyingkir lah, aku ingin membuatkan sarapan." Alice berucap dengan nada kesal. Dirinya terus saja dihujani dengan kecupan-kecupan.


"Memang kau bisa?" Alice tidak terima saat Genta meremehkannya. Ia tidak seburuk itu meskipun ia sendiri belum yakin.


Alice merengut dan mendiamkan si pria hingga Genta pun bosan dan melepaskan tangannya itu. Akhirnya Alice pun dapat bernapas dengan lega, tidak ada lagi belenggu yang menahan dirinya.


"Menyingkir lah."


Genta menarik napas dan tidak menjauh dari tempatnya. Ia merebut peralatan dapur yang dipegang Alice.


"Kau duduk manis saja serahkan pekerjaan ini pada ku," imbuh Genta lalu melakukan pekerjaan dapur dengan teletan.


Bahkan Alice sendiripun tercengang melihat aksi pria itu di dapur yang sangat memukau. Alice menjerit dalam hati yang menatap ketampanan Genta berkali-kali lipat. Oh Tuhan ia sangat bahagia dianugerahkan Tuhan pria seperti ini.


Genta melakukan pekerjaannya dengan baik, ia menyulap bahan makanan yang hanya ada beberapa itu menjadi makanan yang sangat istimewa.


Tidak lama akhirnya pekerjaannya selesai. Alice menggelengkan kepala sembari bertepuk tangan kagum. Ia menghampiri pria itu yang memasang gaya angkuhnya.


Genta tersenyum penuh percaya diri. Ia menaik turunkan aslinya memamerkan keahliannya.


"Bagaimana?"


"Aku baru tau kau sangat pandai memasak," ujar Alice sembari berdecak kagum.


Genta tersenyum kemudian ia meletakkan hasil olahannya di atas meja. Penyajiannya sangat menarik untuk dipandang mata apalagi rasanya.


"Ya ku harap kau akan lebih tau kepandaian ku yang lain."


Genta mengacak rambut Alice dengan gemas merusak tatanan rambut yang telah dibentuk sebaik mungkin.


Alhasil ia mendapatkan tabokan keras dari Alice.


"Akhh baby kau tahu ini sangat sakit," ujar Genta seraya menyentuh bekas pukulan keras perempuan itu.


"Salah mu."


Genta menormalkan sikapnya. Ia menatap Alice serius lalu menyentuh kedua pundak wanita itu. Pandangannya jauh menjelajah dalam manik indah tersebut.


"Aku akan menikahi mu secepatnya."


Alice tidak mengerti dan ia menatap serius pria itu. Ia membuka mulutnya dan menggunakan ekspresi tidak menyangka.


"Apa kau serius?" tanya Alice, ia juga belum tahu siap tidaknya.


Perempuan itu terdiam untuk beberapa saat. Pikirannya sibuk bergulat sementara Genta memandang Alice dengan wajah penuh harap.


Kegugupan pun melanda hati Genta, ia sangat takut jika Alice akan menolak dirinya. Jik benar itu terjadi ingin diletakkan di mana wajahnya?


"Ya aku mau."


Satu kalimat yang dituturkan Alice sanggup membuat hari Genta langsung indah melebihi keindahan yang ada di muka bumi.


Pria itu langsung menerjang tubuh Alice dengan sebuah pelukan erat. Alice tertawa melihat raut bahagia dari Genta, pria ini sangat menggemaskan.


Genta mengurangi pelukannya dan menatap dalam mata Alice. Ia menyentuh wajah perempuan itu seraya mendekatkan wajah mereka dan berakhir dengan sebuah ******* kasar dari pria itu.


Alice sukar mengimbangi keahlian Genta hingga dadanya merasa sesak karena kehabisan napas. Ia memukul tubuh Genta hingga lelaki itu sadar dengan perbuatannya dan melepaskan ciuman itu.


"Hah hah hah," suara Alice yang berusaha menghirup udara sebanyak mungkin.


"Hey maafkan aku." Genta mengecup bibir yang bengkak karena ulahnya.


"Papa, Mama, lagi ngapain?"


Alice dan Genta terkejut dan menatap anak mereka yang keduanya yang berada di meja makan.


"Sejak kapan kau ada di sana?" tanya Genta dengan wajah menahan malu.


"Sudah dari lama Papa," jawab Adaire dengan polosnya.


Alice dan Genta saling pandang, wajah keduanya kontan penuh dengan kemerahan. Alice menatap sinis Genta, ini semua karena ulah pria itu.


________


Hari ini mereka akan mengantarkan Adaire dan Drake ke sekolah barunya. Sekolah ini bergaya klasik orang-orang zaman dahulu.


Tidak banyak murid di sana tapi pendidikannya cukup terkenal dengan prestasinya lalu dengan alasan tersebut pula lah Genta memilih sekolah itu.


Adaire memakai seragam lengkap, wajah anak perempuan itu tidak dapat dibohongi jika dia sedang bahagia.


Berbeda dengan Drake yang memandang Adaire dengan malas dan wajah yang masam. Ia sangat ingin mengajak perempuan itu bergulat.


Pada dasarnya Adaire tidak jauh berbeda dengan Alice, boneka tidak lepas dari tangannya dan itu membuat Drake sangat malu memiliki adik seperti Adaire.


"Kau sangat berlebihan Adaire, ini tidak sebagus sekolah ku dulu," ujar Drake memamerkan sekolahnya yang dulu ingin membuat iri Adaire.


Tapi sepertinya cara tersebut tidak berhasil. Adaire tidak mempedulikan Drake dan malah berlari menjelajahi setiap sudut dari sekolah itu.


Banyak siswa yang memakai seragam yang sama seperti dirinya dan itu membuat hatinya bangga.


Genta dan Alice saling berpegangan tangan melihat kedua bocah itu yang tiada habisnya bertengkar.


"Apa kau bahagia?" tanya Genta pada sang perempuan.


Alice mengangguk kecil. Matanya tidak lepas dari kedua anaknya, ia tidak menyangka di umurnya yang masih belia bisa menghasilkan bocah ajaib seperti mereka.


Tapi kebahagiaan Alice langsung meredam seketika saat melihat ada salah satu dari guru tersebut yang memandang Genta dengan kagum.


Alice merasa terbakar dan dirinya menghampiri perempuan itu. Tatapan matanya seperti tengah mengajak perang.


"Jauhkan pandangan mu dari suami ku!" marah Alice kepada guru tersebut.


"Apa maksudmu?"


"Jangan berpura-pura bodoh sial*n!"


Genta tercengang melihat aksi Alice. Ia langsung memisahkan Alice dari guru tersebut. Tentu Alice tidak setuju dengan apa yang dilakukan Genta.


"Berhentilah Alice!"


Alice menatap Genta dengan dingin kemudian ia melirik guru tersebut, "sekali lagi kau menatap suami ku seperti itu jangan harap nyawa mu akan aman. Dan kau Genta sekali lagi kau melarang ku jangan pernah temui aku."


Alice berlalu dengan kesal dan kecemburuan yang memenuhi ruang hatinya.


Genta tersenyum geli melihat Alice yang dibakar cemburu, yang lebih membuatnya tidak menyangka adalah Alice menyebut dirinya suami.


_____


Tbc


Jangan lupa like dan komen btw jangan lupa juga ya baca karya temen aku pasti gak kalah seru.