
Seorang perempuan keluar dari mobil sedan berawan hitam. Jalannya begitu penuh wibawa apalagi ketika ia membuka kacamata hitamnya membuat aura keanggunannya semakin menguak.
Orang itu berjalan memasuki rumah yang sudah beberapa tahun ini menjadi tempat tinggal barunya.
Pakaiannya cukup kasual dan kecantikannya menghipnotis setiap orang yang dilewatinya. Senyum manis mengembang di wajahnya saat memasuki rumah itu.
Sudah lama ia meninggalkan tempat tersebut ke London mungkin ada sebulan lamanya, sekarang saatnya ia akan bernostalgia bersama keluarganya.
Wanita itu melangkah dengan pelan dan tersenyum lebar melihat anak-anaknya tengah bermain di ruang tamu.
Kedua anaknya belum menyadari kehadiran dirinya. Wanita yang memiliki nama lengkap Alice Nekhade Miller itu menghampiri mereka.
Ya Alice resmi mengganti namanya dengan Miller karena tidak ada yang bisa menggantikan Genta siapa pun dan nama belakang itu ia gunakan untuk menghormati Genta. Ia tidak tahu keberadaan pria itu dan bagaimana nasib pria tersebut setelah penyerangan terjadi.
Alice tersenyum kecut kala mengingat pria itu, ia menarik napas dalam dan berusaha menahan tangisnya yang hendak pecah setiap kali mengingat Genta.
"I Miss you," bisik hatinya sembari mengamati anaknya yang ternyata belum menyadari keberadaan Alice.
"MAMA!!" teriak Adaire heboh seraya berlari ke arah Alice dan memeluknya dengan kencang.
Drake lantas melihat ke arah sang ibunda dan dia tidak kalah heboh seraya berlari ke dalam dekapan Alice yang siap menyambut mereka.
"Adaire kangen mama."
"Drake juga ma."
Alice mengulas senyum hangat dan mengusap punggung anak-anaknya dengan penuh rasa kasih sayang. Ia sangat merindukan mereka, bertemu melalui Videocall tidak akan pernah mengobati rasa rindu sesungguhnya.
"Mama juga," ujar Alice seraya menatap wajah cantik dan tampan yang dimiliki keduanya.
Adaire sangat mirip sekali dengan Genta dan itu membuat hati Alice sesak setiap kali menatapnya.
Sementara Drake tingkahnya yang sama. Tingkah laku Drake seperti duplikatan Genta.
"Mama ada bawa oleh-oleh?"
"Tentu sayang." Alice mengusap puncak kepala Drake, "di mana Damian?"
"Ah, paman Damian ada di kantor."
"Oh."
Alice menghela napas panjang dan membawa Drake dan Adaire ke dalam kamar. Tidak sengaja matanya menatap Lina dan ia hanya tersenyum tipis.
________
"Apa kau perlu aku jemput?"
"Aku khawatir pada mu."
"Aku lebih khawatir dengan mu."
Terdengar helaan napas dan kekehan kecil dari seberang sana. Elizabeth mengulas senyum dan berjalan sembari mendengar celotehan Genta.
Ia sedang mencari taksi di sekitar sini. Namun hiburan dari Genta yang berada di tempat berbeda dengannya pun tidak kalah seru.
Ia menikmati kata-kata humoris yang diciptakan Genta hingga tawanya menggelegar.
"Apa kau sudah menemukan taksi?"
"Belum. Sebentar lagi baby tenanglah."
"Aku tidak bisa tenang."
Elizabeth menarik napas dan memandang jalan dengan wajah muram. Sudah cukup lama ia berdiri di sini mencari taksi namun tidak ada yang kosong.
Matanya tidak sengaja menatap ke arah mobil yang hendak lewat. Senyumnya terukir dan ia berjalan agak ke tengah agar mudah menghentikan taksi.
Dari jauh tangan Elizabeth melambai untuk memberikan sinyal untuk taksi itu berhenti.
Bukannya berhenti, taksi tersebut malah menabrak dirinya dengan kencang hingga ia terpental beberapa meter ke depan.
Brakkk
Akhhh
Genta yang berada di seberang sana langsung tercekat dan menahan napas. Tidak mungkin kan? Katakan pada Genta jika itu ia hanya salah mendengar.
"Halo! Eliza apakah kau masih di sana?"
"Halo istri Anda baru saja mengalami kecelakaan!"
Di tempat yang berbeda Genta langsung menjatuhkan ponselnya dan menatap ke depan dengan pandangan lurus tidak percaya.
________
Tbc
Jangan lupa like dan komen yah man teman. Oh iya aku juga bawain karya yang sangat rekomendasi banget buat kalian. boleh mampir dijamin gak ngecewain