
Genta bersama orang-orangnya berjalan memasuki rumah sakit. Sudah beberapa hari ini ia melalaikan waktunya untuk menjenguk sang istri.
Pria itu menatap para suster yang menunduk dengan sebuah senyuman. Meski keadaannya cacat namun tidak mengurangi sama sekali ketampanan dan kesempurnaan yang dimilikinya.
Ia telah menawan banyak hati orang meski dalam kondisi seperti saat ini. Helaan napas darinya terdengar parau. Pria itu berjalan menyusuri setiap lorong rumah sakit menuju kamar tempat sang istri dirawat.
Keningnya mengernyit kala melihat ada orang yang tengah berteriak hingga menimbulkan kerumunan. Sejenak ia berhenti ingin tahu ada masalah apa.
Dari yang telinganya tangkap bahwa perempuan tersebut sudah sering kali mengalami beberapa gangguan hingga setiap kali mengingat kejadian yang menyebabkan traumanya.
Saat ia hendak berbalik dirinya tidak sengaja menatap wajah sang perempuan. Ia langsung syok ketika melihat wajah sang wanita.
Dadanya berdegup kencang karena rupa wanita itu sangat mirip dengan perempuan yang ia lihat di foto kemarin.
"Apa maksudnya?" tanya Genta dalam hati tidak mengerti. Pertahanannya runtuh dan hatinya tiba-tiba merasa sesak tanpa dimengertinya apa penyebab dari semua ini.
Genta tidak berniat buat beranjak fokusnya masih kepada wanita yang tengah berteriak ketakutan seperti mengalami trauma parah.
"Siapa kau?" tanyanya lagi dalam hati. Genta sungguh sangat penasaran bagaimana kisahnya di masa lalu, "apakah kita pernah memiliki sangkutan sebelumnya?"
"Tuan kita harus segera menjenguk Nyonya," peringat sang asisten sembari menunduk takut.
Genta mendengus ia mengangguk benar ia datang kemari untuk menjenguk Elizabeth bukan melihat orang yang gangguan jiwa bak orang bodoh.
Ia pergi dari sana dan berlenggang santai diikuti oleh beberapa orang di belakangnya. Ketika ia sudah jauh seseorang yang sempat mengamatinya menarik napas panjang.
"Aku tidak percaya kau dapat bertahan," kekeh Damian menatap kepergian Genta.
Hari ini ia akan menemani Alice ke Amerika untuk melakukan kerjasama sekaligus berlibur berlibur bersama anak-anak mereka.
Tapi, naas penyakit Alice kambuh tiba-tiba hingga ia harus dilarikan ke rumah sakit. Sebelumnya Alice mengidap gangguan pada dirinya akibat trauma yang cukup panjang. Alice trauma karena pemerkosaan, tabrakan dan terakhir traumanya semakin parah ketika seluruh keluarganya meninggal bahkan suami yang sangat ia cintai.
"Aku harap kau tidak akan pernah bertemu dengannya."
Damian tersenyum tipis dan memberikan kepercayaan kepada sang suster untuk mengurus Alice. Sementara pria itu pergi mengikuti Genta, begitu banyak pertanyaan yang harus ia pecahkan secepatnya.
Kenapa Genta bisa selamat dari maut?
_________
Sudah berjam-jam lamanya ia bersandar di ruang tunggu yang mana setiap detiknya selalu berdoa kepada Tuhan agar diberikan keselamatan untuk istrinya.
Tapi tidak ada tanda-tanda itu bakal terjadi dan hal tersebut menyesakkan di dada Genta.
Ia tertidur saking lelahnya hingga tiba-tiba ia dibangunkan oleh suara panik dari di sekitar dirinya.
"Ada apa Daniel?" tanya Genta heran dan ikut panik melihat dokter dan suster yang sibuk keluar masuk dalam kamar istrinya.
Tanpa dijelaskan pun Genta mulai paham jika tengah terjadi sesuatu. Ia bangkit dan mencengkram jas mahal milik sang asisten.
"Katakan!!" ujarnya penuh dengan penekanan di setiap Kalimatnya.
"Tuan jantung Nyonya semakin melemah saya takut terjadi apa-apa dengan nyonya."
Genta menarik napas cemas tidak hanya Daniel yang mengawatirkan Elizbate, dirinya juga.
"Dokter bagaimana keadaan istri ku!?"
Dokter yang baru saja keluar dari kamar inap Elizabeth langsung ditodong oleh Genta.
"Maaf Tuan saya tidak bisa berlama-lama," sesal sang dokter dan berjalan cepat. Dokter itu harus menyiapkan beberapa alat yang bisa membantu Elizabeth.
"Maafkan aku Elizabeth," ringisnya dengan wajah berkaca-kaca.
Tidak lama dokter itu kembali lagi dan tersenyum kepada Genta sebelum masuk ke kamar sang istri dengan beberapa obat.
Genta berharap tidak akan terjadi apa-apa di dalam sana dan semuanya baik seperti semula.
Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, akhirnya dokter itu kembali keluar dengan ekspresi yang sedih. Genta menahan napasnya dan menatap ke dalam ketika mulai paham, ia hendak menerobos masuk namun para suster belum selesai dengan tugasnya.
"Maaf nyawa istri Anda tidak bisa terselamatkan." Satu kalimat itu sukses membungkam mulut Genta.
Pria itu tertawa kecil dan menggeleng sementara matanya terus mengeluarkan buliran air mata.
"Maksud mu? Katakan semua ini bohong."
"Maaf Tuan apa yang dikatakan saya benar."
Genta luruh ke lantai dan memukuli lantai geram. Sudah hilang malaikat pelindungnya dan satu persatu mereka yang hidup akan meninggalkan dirinya, dan pada akhirnya aku hidup sendiri di dunia.
"Tidak mungkin. Elizabeth tidak mungkin meninggalkan ku."
Semuanya ia harap hanya mimpi dan ketika ia bangun suasana berbeda akan menyapanya.
______
Tbc