
Mata Genta nanar menatap batu nisan yang tertancap pada kuburan yang masih basah. Ia menaburkan kembang dengan bergetar di atas gundukan tanah itu.
Genta berusaha menguatkan perasaannya dan tersenyum lebar supaya orang menyangka dia baik-baik saja.
Yah dia memang tampak baik dari luar tapi tidak untuk perasaannya. Istrinya meninggal bagaimana dia bisa baik-baik saja? Sungguh hari ini adalah hari termalang dalam hidupnya.
"Aku akan selalu merindukan mu," lirih Genta seraya mengusap batu nisan tersebut dengan gerakan lambat.
Orang-orang dan teman-teman Elizabeth yang hadir menatap Genta dengan sedih. Pria itu masih belum bisa ikhlas menerima keadaan.
"Tuan tenanglah," pinta sang asisten yang dari tadi memantau Genta.
"Bagaimana aku bisa tenang Daniel," ujarnya sembari mengeluarkan cairan bening begitu banyak.
Genta menghapus air matanya kasar lalu beranjak dari sana dengan laju. Ia berusaha berjalan cepat tidak ingin menatap pemakaman itu lagi.
"Daniel antarkan aku ke rumah sakit." Daniel mengangguk dan masuk ke dalam bagian tempat supir lalu membawa sang tuan sesuai keinginan dari Genta.
"Tuan kau tidak boleh lama, keluarga Elizabeth akan datang."
"Hm," balas Genta dingin.
Dia tidak peduli, yang hanya menjadi prioritasnya sekarang adalah Elizabeth. Ia menyayangi wanita itu tidak tau dalam bentuk apa.
"Aku selalu merindukan mu dalam hidup ku," gumamnya seraya menatap keluar jendela mengamati jalanan di Washington DC yang ramai dan padat oleh gedung-gedung tinggi.
_______
"Bagus kau menyempatkan diri datang untuk terapi," puji sang dokter atas kesediaan Genta padahal masih dalam masa berkabung.
Genta tersenyum tipis lalu mengangguk. Sebenarnya ia tidak ingin kemari, namun karena tekadnya sering kali memaksa hatinya untuk datang ke rumah sakit.
"Ya terimakasih," ujar Genta lalu mendengus.
"Aku tidak menyangka Elizabeth secepat itu. Maafkan aku tidak bisa hadir di pemakamannya."
"Tidak apa."
Tidak ingin banyak basa-basi lagi Genta meminta sang dokter cepat memeriksa kondisi kakinya.
Beberapa obat resep dokter diberikan padanya untuk dikonsumsi selain itu ada juga suntikan dan metode lain. Genta menghela napas setelah terapi kakinya hari ini selesai.
Sebelum pulang ia harus beristirahat total beberapa menit. Genta memejamkan matanya sejenak melupakan dunia.
_________
Genta berdiri di ruang tamu. Ia menatap sofa sendu, tempat itu adalah tempat canda dan tawanya ketika bergurau bersama Elizabeth di setiap harinya.
Genta meraih sebuah bingkai foto pernikahan mereka yang diletakkan di ruang tamu. Ia tertawa kecil menatap foto itu.
Pria tersebut teringat masa-masa awal mereka menikah, tidak ada yang saling mencintai waktu dulu.
Tiba-tiba dia teringat pada saat pemakaman, orang tua Elizabeth tidak ada atau memang dirinya tidak melihat.
Selama ini ia yang menantunya saja tidak tahu bagaimana rupanya dan siapa saja kerabat Elizabeth.
Seolah keluarga mereka dirahasiakan dan tersembunyi. Keterdiamannnya seketika membuyar kala terdengar ada suara tapak kaki yang mendekat.
Genta menatap dua orang berbeda jenis kelamin yang baru saja datang. Ia mengernyit heran pasalnya tidak tahu mereka siapa, wajahnya sangat asing di rumah ini.
Ia berdiri waspada menyediakan tenaga untuk berjaga-jaga. Genta meneliti mereka satu-persatu. Kedua manusia yang sudah berumur lanjut itu menghela napas.
Aura dingin mereka memancar membuat Genta merinding. Kedua pasangan tua itu duduk di sofanya dan Genta juga mengikutinya.
"Siapa kalian?" interogasi Genta berusaha mengorek informasi.
"Kau tidak tahu aku siapa?" tanya yang perempuan dengan sinis. Genta menghela napas, kenapa mereka sangat mengerikan.
Sedangkan sang pria satunya memutar bola mata jengah menatap Genta. Ia membenarkan posisinya seolah ingin mengatakan dia tidak sedang bercanda.
"Bagaimana kau bisa memimpin jika dengan istri ku saja kau sudah ketakutan, jika terus menerus seperti ini kau akan mudah dimanfaatkan musuh."
"Katakan saja kalian siapa atau aku akan meminta satpam mengusir mu," balas Genta tidak kalah sinis ingin menggertak kedua orang yang tidak jelas itu.
"Kami orang tua Elizabeth. Tenanglah kau jangan panik, kami tidak akan memarahi mu."
Genta akhirnya bisa menghembuskan napas dengan lega. Ia benar-benar kaget jika orang ini adalah keluarga Elizabeth. Ditatapnya keduanya ingin memastikan apakah yang dikatakan benar adanya.
Tapi, dari segi rupa sangat mirip tampangnya dengan Alice, dari bentuk wajah hingga beberapa bagian tubuh lainnya.
"Maafkan aku."
Tidak lama datang Daniel dari arah luar dengan beberapa berkas di tangannya. Sebelum duduk dia memberikan hormat dulu kepada orang tua Elizabeth.
"Selamat datang Tuan, Nyonya," ujarnya ramah lalu kemudian duduk di sofa lain. "Hari ini aku akan membacakan surat wasiat dari mendiang Nyonya Elizabeth.
Aku Elizabeth Gustav yang bertanda tangan di bawah ini secara sah mengangkat orang yang akan mewarisi harta ku adalah Genta Arakhan, Suami ku."
Napas Genta tertahan dan matanya membulat saking syok tidak percaya dengan pernyataan itu.
"Apa maksudnya?"
"Kau akan mewarisi harta anak ku Elizabeth, karena kalian tidak memiliki anak maka kau yang akan mendapatkan semuanya. Ku harap kau dapat memimpin perusahaan dengan baik."
Genta menatap lantai dengan pandangan sangat susah dijelaskan, tidak mungkin dirinya pewaris, ia bukan siapa-siapa dari keluarga mereka, dia hanya orang asing yang baru masuk kedalam keluarga Gustav. Situasi ini membuatnya merasa ada yang aneh.
______
Tbc