My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 41



Pemberkatan telah dilakukan oleh Pendeta Thomas dan berjalan dengan lancar. Saat ini kedua mempelai tengah tersenyum bahagia di atas altar dan resmi menjadi pasangan suami istri.


Sang Pendeta meminta agar Genta mencium mempelai wanitanya. Hal itu dengan senang hati Genta melakukan.


Ia mendekatkan wajahnya yang membuat buruk bagi keamanan jantung Alice. Degupan tidak terkontrol seakan hendak meledak.


Alice meneguk ludahnya melihat wajah Genta yang kian mendekat. Perempuan itu memejamkan matanya siap menyambut ciuman dari lelaki itu.


Perlahan-lahan ia merasakan bibir kenyal berada di area mulutnya dan menjelajahi dengan hikmat. Mereka seakan lupa tengah berada di depan banyak orang.


Suara riuh dari para tamu undangan menyadarkan keduanya jika tidak hanya mereka berdua saja yang ada di sini.


Alice melepaskan tautan bibir tersebut dan wajahnya memerah menahan malu di depan orang ramai.


Para tamu undangan merasa gemas dengan tingkah Alice yang seperti malu-malu kucing. Perasaan Genta tidak dapat dijabarkan betapa bahagianya dirinya.


Tidak pernah disangka jika wanita yang ada di depannya inilah yang akan menjadi labuhan hatinya untuk pertama kali dan semoga saja juga untuk terakhir kalinya.


Genta meraih jemari Alice dan menggenggamnya. Mereka berjalan di atas karpet merah menuruni altar dan melewati para tamu undangan.


Genta tertawa renyah sembari melambaikan tangannya pada tamu undangan. Undangan yang hadir hanyalah rakyat desa sekitar. Meski tidak terlalu mewah tapi acara ini sangat memukau dan meriah dengan ala-ala tradisi desa.


"I love you," tutur Genta sebelum menitikkan air matanya dan mengecup puncak kepala perempuan itu.


Alice mengangguk mendengar ucapan Genta. Ia tahu pria ini sangat mencintainya dan ia yakin itu tidak ada keraguan di dalam hatinya untuk menyerahkan dirinya seumur hidup pada laki-laki ini.


"I know."


Tibalah acara utama yaitu pesta pernikahan. Kedua mempelai duduk di singgasana dan para tamu undangan yang tiada hentinya melimpahkan ucapan syukur mereka untuk Alice dan Genta.


Adaire dan Drake hari ini damai untuk sementara. Mereka berdua meriahkan acara dengan tampilan tarian mereka yang sangat menggemaskan.


Alice dan Genta bertepuk tangan semangat melihat anaknya menari dengan heboh. Sulit dipercaya bahwa Drake bisa menyeimbangi Adaire, biasanya kedua bocah ini akan selalu bertengkar dimana pun.


"Kau tahu apa yang lebih menyenangkan dari ini?" tanya Genta kepada perempuan yang berdiri di sampingnya sambil bergandengan tangan.


Alice tampak berpikir sejenak. Otaknya mencerna jika tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada ini, moment yang tengah mereka lewati sekarang adalah hari yang paling bahagia.


"Tidak ada yang lebih bahagia dari pada menikahi pelayan ku sendiri," ujar Alice dengan senyum tulus menatap Genta.


Genta menyentuh wajah Alice dan menatap lamat wajah wanita itu. Siapa sangka jika jodohnya adalah anak majikannya sendiri, pergi ke kota telah membawa berkah yang sangat bahagia bagi Genta.


"Ku harap waktu hanya memutar hari ini saja agar kita bisa terus merasakan bahagia Nona."


Alice tertawa kecil saat Genta memanggilnya dengan sebutan itu. Apa kata ayahnya jika anaknya kabur bersama pelayannya sendiri.


Genta menarik napas dan memeluk tubuh kecil milik perempuan itu dengan erat. Tuhan jagalah kebahagiaan ini dan lawanlah musuh dengan kekuatan cinta mereka.


Itu adalah harapan dari Genta, sejujurnya ia tidak tenang karena pria misterius tadi. Ia masih memikirkan tentang siapa yang tukang membawa kereta kuda tersebut. Ia harap orang itu bukanlah ancaman untuk Genta.


"Aku ingin kau," ujar Genta dan membopong Alice seperti karung beras. Alice terpekik dengan aksi Genta yang tidak tahu malu membawanya di depan orang banyak.


"Kau memang gila!!"


________


Genta keluar dari kamarnya. Alice masih terlelap karena lelah dengan percintaan mereka. Genta merasa bersalah karena kebrutalannya dan ia meminta maaf kepada wanita itu yang masih tertidur.


Ia hendak berjalan ke dapur dan melihat keadaan di luar yang mana pesta mereka telah usai beberapa jam yang lalu.


Ia mengambil gelas dan menuangkan air ke dalam cangkir lalu menegaknya hingga tandas. Pria itu merasa bosan dan membuka kaos bajunya.


Tampaklah badan Genta yang sangat berotot dan menggairahkan. Lelaki itu duduk di luar rumah mencari angin segar di malam hari.


Jujur saja bayangan pria tadi selalu menghantui dirinya. Siapa pria itu? Kenapa tingkahnya sangat aneh? Tapi Genta bersyukur tidak terjadi apa pun dengan pernikahannya tadi, semua berjalan dengan lancar.


Mata Genta menerawang langit yang menaburkan bintang-bintang, ia menarik napas panjang dan melamun beberapa saat.


Lamunannya buyar ketika mata jelinya tidak sengaja melihat ada seseorang yang tengah mengamati rumahnya.


"Siapa?" benak Genta bertanya.


Pria itu menghampiri semak-semak tersebut dan benarlah ada seseorang di balik situ. Genta terkejut dan pria itu juga sama namun hanya sesaat.


Pria itu keluar dari persembunyiannya dan menatap Genta yang tengah mengintimidasi dirinya.


"SIAPA KAU?!"


"Santai," ujar laki-laki itu dan duduk di teras bekas Genta tadi. Pria tersebut terdiam beberapa saat sebelum akhirnya angkat bicara, "kenapa orang-orang bodoh itu tidak dapat menemukan mu? Apakah itu orang yang katanya hebat?" monolognya sendiri.


Genta mengernyitkan alisnya tidak mengerti. Apa maksud pria ini berucap seperti demikian.


"Apa maksudmu?"


"Kau tahu, apa yang paling bahagia itu masanya pasti hanya sesaat. Kita punya keinginan tapi keadaan punya kenyataan."


"Aku tidak mengerti apa kata mu."


"Aku meminta agar kau berjaga-jaga sebelum hari itu tiba. Mereka sudah mulai mendapatkan petunjuk, dan kau tidak perlu tahu siapa aku."


Genta membalikkan kasar tubuh pria tersebut dan menahannya yang hendak pergi begitu saja. Laki-laki itu tidak bisa pergi dengan meninggalkan berjuta pertanyaan setelah memberikan ucapan yang tidak dimengerti Genta.


"Kau pikir aku akan percaya dengan ucapan mu baji*Ngan? Katakan siapa kau? Jangan bertele-tele."


Pria itu menatap tanah di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan lalu tersenyum lirih.


"Aku adalah anak buah ayah mu, tidak ada yang tahu keberadaan mu selain aku. Aku menemui mu karena aku menyayangimu, ayah mu menganggap bisnis adalah Medan pertemuan di mana dirimu harus saling menjatuhkan lawan tak peduli apa mereka adalah seseorang yang engkau sayang, kau tahu itu dilakukan semua karena uang. Mereka sudah mengetahui keberadaan mu maka secepatnya pergilah dari sini sebelum mereka menemukan mu dan mungkin saja akan terjadi sesuatu dengan Alice."


Genta menahan napas mendengar ucapan pria itu. Ia mengamati orang tersebut apakah kata-katanya dapat dipercaya, namun sepertinya tidak ada pilihan lain selain menuruti ucapan pria itu.


Tidak mungkin Miguel dan William tidak dapat menemukannya, itu sangat mustahil.


"Lakukan anak muda, aku tidak tahu akan sampai mana umur ku."


"Ya, terimakasih."


Genta menitikkan air mata, lagi-lagi bahagia itu hanya sementara. Apa yang diharapkan tidak terkabul, Genta bertekad pergi dari sini sebelum pagi tiba.


______


Tbc


Hay teman-teman jangan lupa juga buat mampir di karya temen aku.