
Genta berjalan cepat dengan teratih-atih menuju salah satu kamar rumah sakit.
Napasnya memburu kala melihat ruangan yang terkunci rapat. Matanya memanas menatap nama ruangan tersebut, kondisi Elizabeth kritis.
Ia menatap orang yang membantunya kemari dengan pandangan masam. Napasnya menghela beberapa kali hingga membuat orang di sebelahnya merasa jengah.
"Tuan tenangkan diri Anda."
"Bagaimana aku bisa tenang?"
Orang itu menunduk dan tersenyum kecut, mudahan ada keajaiban yang diberikan kepada Elizabeth agar selamat dari maut meski itu sangat mustahil.
"Semoga kau memberikan aku anugerah mu Oh Jesus."
Suara pintu dari ruangan kamar tersebut memecahkan suasana penuh kekhawatiran. Genta berjalan dengan dibantu tongkatnya menghampiri orang tersebut.
"Bagaimana dengan istri ku?" tanyanya khawatir dan menatap sang dokter penuh harap.
Terdengar beberapa kali tarikan napas dari sang dokter yang kian membuat rasa khawatir Genta berada di level atas. Ia menatap cemas lalu menggertak sang dokter agar membuka suara dan mengatakan yang sejujurnya.
"Istri Anda mengalami koma dan kondisinya sangat kritis, dan kehilangan banyak darah. Kami sudah mendapatkan darah yang cocok dengan istri Anda, tapi syaraf otaknya terganggu dan sukar mendapatkan rangsangan," ujarnya seraya menepuk pundak Genta menyemangati pria itu.
Setelahnya dirinya tersenyum dan pergi dari depan Genta yang hanya bisa menatap sang istri dari luar. Ia belum diperbolehkan untuk menjenguk karena masih dalam penanganan.
Genta terduduk di ruang tunggu dengan wajah tidak terbaca. Ia sangat khawatir sudah pastinya.
"Ku harap Tuhan kali ini mengabulkan doa ku Eliza."
_________
Genta memasuki rumahnya yang tampak sepi. Sudah seminggu lamanya Elizabeth masih dalam masa kritis dan selama itu dia tidak bekerja di kantor.
Sebenarnya tidak terlalu masalah karena dia bosnya, tapi ia harus profesional seperti saat ini contohnya. Genta baru saja selesai dan memutuskan untuk pulang ke rumah.
Pria itu berjalan menuju kamarnya dan menatap setiap sudut kamar yang penuh dengan kenang-kenangan dirinya bersama Elizabeth.
"Aku merindukan mu." Entah kenapa setiap kata terucap perasaannya merespon dengan cara yang berbeda tidak dimengerti Genta.
Menghela napas panjang lalu memutuskan membersihkan diri beberapa menit bergulat dengan sabun di kamar mandi.
Ia yang penasaran pun mendekatinya dan melihat sebuah kalung. Ia tiba-tiba merasakan sakit di Kepalanya karena merasa familiar dengan kalung itu.
Refleks yang tidak dimengerti Genta, tapi secara spontan ia mengambilnya dan menatap benda itu dengan lama serta serius. Ia seperti familiar dengan benda ini namun tidak tau kenapa dirinya bisa merasakan hal tersebut.
Ia kembali menyentuh kepalanya yang berdenyut dan menarik napas dalam. Kalung itu seperti bisa membantunya untuk mendapatkan ingatan. Ya Genta mengalami gangguan saraf hingga membuat otaknya tidak bekerja dengan normal sehingga ia kehilangan memorinya dan yang masih dirinya ingat hanyalah namanya, Genta
Genta pun menggeledah bagian sudut itu dan tidak sengaja menemukan pakaian hitam yang tampak usang dan bertumpuk penuh dengan darah. Ia tidak mengerti kenapa pakaian berlumuran darah tersebut ada di kamar ini.
Ini adalah sudut sekaligus ruangan yang berada di dalam ruangan. Itu seperti tempat penyimpanan barang-barang lama, namun yang tidak dimengerti kenapa ada pakaian sobek dan berlumuran darah semacam itu, sungguh mengerikan.
Genta meraihnya dan tidak sengaja jatuh selembar surat yang di kertasnya berisi sebuah foto yang terdapat tulisan i love you.
Genta menatap foto itu dan napasnya tercekat ketika melihat dirinya di dalam foto itu bersama seorang perempuan yang bukan Elizabeth dan yang membuatnya terbelalak di sana terdapat dua bocah yang sangat mirip dengannya dan wanita itu.
"Siapa aku?" ringisnya kala kepala cantiknya terus memaksa untuk mengingat.
Ia membaca isi dari surat itu dengan syok berat.
Alice ku, wanita ku, aku mencintaimu. Keindahan Tuhan yang tidak pernah tergambarkan. Aku bahagia bersama mu melewati masa-masa yang sama seperti melewati ribuan tahun lamanya. Tidak ada yang bisa menggeser mu dari hati ku meski itu Tuhan ku, Tidak ada yang berbeda, semuanya masih sama tentangmu dan akan tetap selalu kamu. Bunga Mawar ku.
Tiba-tiba cairan kental yang berbau anyir keluar dari hidungnya. Genta mengusap darah itu dan terduduk di sudut dengan tubuh tersandar.
Ia berteriak berusaha sekuat tenaga melawan rasa sakit yang terus menggebu-gebu hingga dirinya tersungkur di tanah.
"AKH!! SANGAT SAKIT, SIAPA MEREKA DAN SIAPA AKU!!!!"
____
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR.
Oh ya teman-teman seperti biasa setiap update pasti bakal ngerekomendasikan karya orang. Nah kali ini aku bakal rekomendasikan karya teman aku yang gak kalah seru, bisa dibaca di NovelToon.