
Suara burung saling menyapa juga saling bersahut-sahutan. Panas matahari kalah akan rintikan salju. Musim dingin masih 1 bulan lagi akan berakhir.
Di pagi yang penuh dengan hikmat ini, ada seorang pria yang tengah sibuk dengan dasinya. Ia berjalan menuju halaman utama terburu-buru setelah lama mengurung diri di tempat bersemayamnya, ia melihat sang istri tengah mengobrol serius dengan seorang pria di depan rumahnya.
Mata Genta menggelap dan tangannya mengepal. Langkah kakinya kian cepat membara ingin menghancurkan apa pun yang ada di dekatnya.
Ia dongkol dan hendak meninju orang tersebut namun pergerakannya sudah dibaca oleh Josua. Josua menangkap tangan Genta kemudian mendengus menatap pria itu dingin dipenuhi aura permusuhan diantara keduanya.
Sementara Alice terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sudah barang tentu tatapan dingin dihadiahi untuk dirinya dari wanita itu.
"Apa-apaan maksud mu Alice?" melas Genta dan menarik tangannya yang ditangkap Josua tadi.
"Harusnya aku yang bertanya apa maksudmu ingin memukul asisten ku?"
"Kau membela dia?" tanya Genta dengan wajah tidak percaya jika ia diabaikan.
Josua tertawa tipis melihat penderitaan Genta. Ia berusaha menutup senyumnya itu namun bukan Genta namanya kalau dia tidak bisa melihatnya.
Genta mendengus kasar lalu masuk ke dalam rumah bak orang sedang merajuk. Alice hanya pasrah dengan ke-posesif-an Genta yang makin hari semakin parah.
"Maafkan suamiku," mohon Alice kepada asistennya tersebut.
Josua mengangguk tidak masalah. Meskipun ia juga kesal dengan suami Alice tidak mungkin-kan ia mengatakannya di depan wanita ini?
"Tidak apa," sahut Josua.
Alice mengangguk percaya lalu menyerahkan beberapa berkas ke Josua. Josua pun menyambutnya dan menelitinya sementara.
"Kau tidak masalah kan kalau kita akan pindah ke Amerika?"
Josua menutup map yang ada di tangannya kemudian matanya memandang tepat di netra wanita tersebut.
"Sebenarnya sangat masalah, tapi mau bagaimana lagi? Aku harus mengikuti tuan ku. Meski sedikit kesal dengan suami mu," timpal Josua blak-blakan.
"Josua, ini sebenarnya juga keinginan ku."
Josua mengangguk saja. Sudahlah tidak akan habisnya jika membicarakan hal yang sudah terlanjur terjadi.
"Ya. Nona saya akan pergi secepatnya."
Alice mengangguk dan menyilakan pria itu pergi. Setelah mobil yang dikendarai Josua menjauh Alice pun beranjak dari tempatnya.
Ia masuk ke dalam rumah megah itu. Dan kakinya kontan berhenti kala melihat kedua anaknya dan ada Genta di sisinya sedang saling bertengkar.
Entahlah bagaimana cara mendamaikan anak-anak itu. Mereka selalu tidak pernah akur, dari pada berdamai kedua anak tersebut lebih rela didiamkan oleh-nya, aneh bukan?
Genta di sana seperti orang bodoh yang tidak mengerti harus melakukan apa ketika kedua anaknya saling pukul dengan bantal. Bantal sofa harus menjadi korban perang bantal kedua anak kembar itu.
"ADAIRE!! DRAKE!!" teriak Alice memenuhi ruangan luas tersebut.
Adaire dan Drake langsung berhenti dan menunduk ketakutan melihat ibunda bak seperti macan. Mama cantik maksudnya, cantik tapi suka marah-marah.
Alice dengan tangan berkacak di pinggang menghampiri kedua anak tersebut lalu menatap tajam.
"Angkat kepala kalian!"
Drake beserta Adaire mengangkat Kepalanya dan menyengir tak berdosa. Jika melihat keimutan anaknya sukar sekali hatinya ingin membentak mereka.
"Untung kau datang Alice," lega Genta dan berdiri di sisi wanita itu.
Alice melirik sebal laki-laki tersebut lalu membuang mukanya. Pria ini bahkan tidak bisa menghentikan pertengkaran anak-anaknya dan malah bengong seperti orang bodoh menontoni mereka.
"Adaire! Drake! Minta maaf kalian berdua. Kalau tidak, aku tidak akan memberikan kalian uang jajan lagi."
Ancaman tersebut biasanya ampuh. Mereka sangat membutuhkan uang jajan sebab dari uang itu kedua anak tersebut bisa membeli buku kesukaannya dan membeli boneka.
Boneka Adaire sebenarnya sudah banyak bahkan di kamarnya tidak terhitung berapa jumlahnya. Kadang ia hanya mencomot dari kantor ibunya yang akan membuat Alice marah.
Adaire meminta maaf terlebih dahulu lalu tersenyum ramah pada Drake. Drake mendecih pasalnya ia tahu senyum itu sangat palsu.
Usai saling meminta maaf Alice meminta mereka masuk ke dalam kamar masing-masing dan mengerjakan tugas sekolah.
"Sayang!" panggil Genta sukses menghentikan langkah Alice. "Kau terlalu lamban berjalan."
Genta mengangkat tubuh Alice bak karung beras. Sedangkan wanita tersebut masih dalam suasana kaget dan terus memukuli punggung Genta berharap pria ini melepaskannya.
"Genta lepaskan aku!!"
"Tidak akan. Kau ringan sekali, sayang!"
"Turunkan aku Genta!!"
"Bilang gini. 'Genta sayang lepasin aku dong ayang' baru aku akan turunkan."
Alice bungkam ia tidak akan mungkin mengatakan hal menjijikkan tersebut. Tapi mau bagaimana lagi ia terpaksa mengatakannya dengan tidak ikhlas.
"Genta sayang lepasin aku ayang." Alice hendak muntah kala mulutnya mengatakan kalimat alay tersebut.
Genta tersenyum penuh kemenangan. Ia lantas menurunkan Alice. Bukannya Alice lepas dari pria ini malah ia menyudutkan wanita itu ke tembok dan ******* brutal bibir ranum Alice.
"FUC*K KAU GENTA!"
_________
"DIMANA SUAMI KU!!" rintih-nya berusaha menahan sakit di sekujur tubuh wanita tua tersebut.
Wanita renta itu menangis pilu dengan kondisi yang memprihatinkan. Seluruh tubuhnya penuh dengan bau anyir dan darah dimana-mana.
Begitu banyak siksaan yang harus ia rasakan. Padahal ini bukan di dalam penjara tapi tempat penahanan orang milik pribadi.
"Suami mu? Oh, maafkan aku. Aku sudah membunuhnya," entengnya menyebut lalu tertawa gelak.
Wajah Tera memanas dan membara. Ia bergagah hingga terdengar suara besi bertubrukan yang mengikatnya.
"Kau!! BAJINGAN KAU!! KENAPA KAU MEMBUNUH SUAMI KU!!"
"Dia sudah banyak ikut campur, dan menghalangi ku! Kau juga," ujarnya seraya memperhatikan dalam manik milik wanita tua renta tersebut.
"KAU TIDAK BISA MELUKAI GENTA!! DIA ANAK KU, KAMI YANG MENGURUSNYA BERDUA!! KENAPA KALIAN MENGAMBILNYA BAHKAN INGIN MENCUCI OTAKNYA?!!"
Tera sungguh benci dengan orang ini. Jika tahu kepergian Genta akan membawa petaka seperti ini lebih baik ia dulu melarang Genta lebih awal.
Tapi semuanya telah terlambat, kata pepatah nasi telah menjadi bubur. Apa yang akan diharapkan lagi?
Hanya tangis pilu penuh penderitaan yang mampu membungkam keadaan. Ia tidak masalah dengan dirinya, tapi bagaimana Genta? Ia harap anak itu selamat dan tetap hidup damai. Biarkan penderitaan ia yang menanggungnya.
"Tera kau tahu anak mu itu keras kepala. Aku menyesal membunuh suami mu lebih awal. Ada baiknya kau dan suami mu menjadi tawanan ku terlebih dahulu," timpalnya lalu memotret Tera yang dalam kondisi jauh dari kata baik itu.
Ia tertawa gelak mendapatkan potret yang bagus. Kemudian orang tersebut pun mengirimkan potret itu kepada Genta.
Ia sangat penasaran bagaimana wajah Genta setelah melihat gambar ibunya. Yang ia tahu Genta sangat menyayangi ibunya, bahakan pria tersebut juga lagi melakukan pencarian ibunya.
"Kira-kira apa reaksi anak mu yah?"
"Bajingan kau!! Genta tidak boleh masuk ke Black Rose, organisasi haram tidak berguna!!"
"Apakah aku peduli? Tutup mulut mu Tera, kau hanya membesarkannya tapi hak sepenuhnya masih milik Miguel," marahnya dan menatap tajam Tera.
"Kau pikir Nyonya akan senang dengan perbuatan kalian?!!"
Plakk
Tamparan keras didapatkan oleh wanita tua renta itu. Ia menangis sesugukan merasakan pedas di wajahnya.
Begitu mengerikan takdir, mereka memainkan orang lemah seperti dirinya dan berpihak kepada orang yang beruang saja.
"Oh Tuhan apakah arti semua ini? Kenapa kau membiarkannya terjadi?"
_______
Tbc