
Kantor barunya Alice ternyata tidak jauh dari perusahaan Genta. Sepertinya pria itu sengaja memindahkan kantornya di dekat area tersebut, apalagi jika bukan semata-mata alasannya karena untuk mengawasi dirinya takut-takut ada pria yang akan menggoda Alice. Genta bucinnya memang sudah tingkat akut.
Sukar untuk menyadarkan Genta dan menjelaskan itu tidak akan mungkin tapi nyatanya laki-laki itu tetap keras kepala dan kekeh sampai rela beradu mulut agar keinginannya dipenuhi.
Alice tidak punya pilihan lagi selain pasrah dan menurut. Beberapa hari ini ia melakukan pekerjaannya begitu lancar bahkan semenjak menjalin kontrak kerja sama tokonya sudah ramai pengunjung dan klien yang ingin membeli.
Padahal launching resminya bulan depan. Mitra Crop adalah perusahaan yang bergerak di semua cabang mulai dari penyiaran, perfilman, industri, tambang, pengolahan minyak tanah, dan pembuatan benda elektronik, bahkan Mitra Crop juga masuk dalam dunia politik. Salah satu anggotanya ada yang menjabat sebagai walikota California saat ini.
Betapa suksesnya Mitra Crop di tangan Genta. Semua itu ia direktur utamanya, untuk kali ini Alice bekerjasama dalam penyiaran yang mana Mitra Crop akan menampilkan iklan produknya.
Alice mendengus tidak menyangka jika Genta telah menjadi orang hebat. Sudah hampir 9 tahun lebih mereka mengenal dan 4 tahun lamanya mereka menjalin hubungan pernikahan.
Ia sangat bahagia semuanya berlalu dengan baik-baik saja untuk saat ini. Seperti biasanya ketika ia pulang bekerja maka Alice akan ke kantor Genta dan membawakan beragam makanan yang ia olah sendiri.
Setiap masuk ke kantor laki-laki tersebut ia tidak lagi meminta izin dari Sekretaris Genta, pasalnya mereka semua sudah tahu siapa Alice. Tidak ada yang berani berbuat ulah dan mengatai Alice terang-terangan.
Semua orang menunduk hormat menghargai Alice layaknya mereka hormat kepada sang atasan. Jujur saja Alice masih tetap merasa tidak nyaman jika orang yang bersikap berbeda dengannya, terlalu hormat Alice rasa berlebihan juga.
Ia bukan wanita yang gila hormat danĀ haus pujian. Jika ia bisa memilih maka Alice akan lebih senang Genta menjadi dirinya yang dulu, lugu, dan sederhana. Terlalu banyak bahaya yang mengincar jika ia menjadi orang hebat seperti saat ini.
"Nyonya silakan masuk." Sang sekretaris membimbing Alice menuju suatu ruang tunggu dikarenakan Genta sedang melakukan meeting tidak dapat ditemui.
Sudah hampir sejam lebih dirinya menunggu tapi laki-laki itu tak kunjung keluar dari ruang meeting-nya. Mata Alice perlahan memanas karena kantuk menyerang dan tak lama kemudian terpejam.
Sempat Alice mengarungi benua Eropa dan Asia dalam kurun waktu 2 jam hingga ia merasakan dingin di sekujur tubuhnya dan ada orang yang memanggil namanya.
Alice menggosok matanya dan berusaha mendapatkan kesadarannya. Ia mengerjapkan mata dan mengedipkannya beberapa kali.
"Eumm... Sudah jam berapa?" Alice melihat benda yang melingkar di tangannya.
Dalam hitungan detik ia langsung terkejut dan membelalakkan matanya. Ia menatap sekretaris tersebut.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku?" marah Alice seraya meraih rantang yang dibawanya.
Ia berjalan terburu-buru ke ruangan Genta. Sementara sekretaris tersebut merasa bersalah karena lupa memberitahu Genta jika Alice sedang menunggu.
Begitu banyak pekerjaan yang dilimpahkan hingga ia melupakan amanat Alice.
Alice mendorong pintu ruangan Genta dan berjalan menuju meja pria itu sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kenapa manyun begitu?" tanya Genta heran. Ia membuka kacamatanya dan meletakkan di samping laptopnya yang menyala.
Matanya terus memperhatikan pergerakan sang wanita. Alice hanya mendengus kasar dan meletakkan rantang dengan hentakan yang cukup kuat hingga menghasilkan bunyi nyaring.
Genta mengangkat kedua alisnya. Ia tersenyum berusaha membalikkan mood wanita itu lagi.
"Tidak berniat menjawab, hm?"
Alice pun angkat bicara dan mengungkapkan kekesalannya hari ini.
"kau tahu aku menunggumu sudah berjam-jam."
"Hah kenapa bisa?" heran Genta sembari meraih rantang yang diletakkan Alice tadi.
Ia membuka rantang tersebut lalu tercium lah aroma lezat dari makanan di dalam tersebut. Ia mencicipi sepotong kue tersebut dan rasanya cukup lumayan dan teksturnya juga sangat lembut.
"Sekertaris mu lupa memberitahu mu kalau aku sedang menunggu."
Alice menggeleng keras. Mempecat seseorang karena hanya masalah sepele itu sangat tidak dianjurkan dan tak profesional.
"Jangan berani kau melakukan itu," ancam Alice pada pria tersebut jika berani-berani melakukan apa yang barusan dikatakan oleh Genta tadi.
Genta menghela napas sebab tidak mengerti apa keinginan wanita ini. Ia hendak memecat pun salah, ia membiarkan juga salah. Genta hanya ingin membalikkan senyum Alice.
Nyatanya Alice akan luluh sendiri. Hanya butuh beberapa menit saja seperti saat ini sang wanita malah santai ikut menghabiskan kuenya. Padahal itu untuk dirinya.
"Kau membawakan kue ini untuk ku atau untuk mu?" sindir Genta menyinggung Alice yang lahap memasukkan potongan kue ke mulutnya.
Alice tampak seperti tidak peduli dan terus mengunyah kue itu tanpa bersalah.
"Ikutilah makan dengan ku. Rasanya enak, aku menyesal membuatkan ini untuk mu."
Genta menggeleng melihat tingkah Alice yang terlihat seperti anak kecil. Ia makan belepotan, dan Genta lantas menyapu sisa makanan di bibir Alice.
"Hati-hati sayang makannya."
___________
Drake dan Adaire tampak berlari dari kejauhan. Kedua saudara kembar itu baru saja keluar dari sekolah barunya. Sekolah itu sangat megah melebihi sekolah mereka yang ada di Kanada.
Alice tersenyum lebar menyambut anaknya dengan tangan yang merentang lebar. Drake memeluk erat Alice sementara Adaire memeluk sang ayah.
Mereka berganti-gantian agar tidak saling iri. Alice mencium seluruh permukaan wajah kedua bocah itu lalu mengusap kepalanya.
"Gimana belajarnya hari ini?" tanya Alice pada kedua orang itu.
"Kami satu lokal Ma. Adaire senang punya banyak teman di sini," cerita Adaire menceritakan banyak wanita bahkan pria yang mengajaknya saling bersahabat.
Alice menatap Drake ingin mendengar kisah menarik apa yang akan disampaikan oleh Drake. Sepertinya anak itu enggan menceritakannya.
"Bagaimana dengan mu Drake?" tanya Genta dengan mengangkat satu alisnya.
Drake yang berwajah dingin itu malah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Alice menghela napas melihat sikap dingin Drake yang makin terlihat.
Drake memainkan ponselnya dan mengotak atik benda itu lalu memasukkan ke dalam saku bajunya.
"Biasa saja. Adaire terlalu berlebihan, aku tidak suka satu kelas dengannya."
"Papa sengaja meminta sekolah agar kalian sekelas. Kau harus saling jaga Drake, kau Abang harus menjaga Adaire adik mu."
"Adaire tidak ingin dijaga sama dia Pa!! Kuat Adaire dari Abang," sahut Adaire tidak terima. Ia tidak ingin dijaga bak orang lemah saja.
Meskipun ia perempuan tapi nyatanya ia lebih sering melindungi Drake. Pria itu bukan lugu maupun nerd, ia sebenarnya hebat dan pintar tapi malas menunjukkan ke orang-orang.
"Sudahlah mari kita pulang dulu."
"Mama tapi kita mampir ke tokok buku dulu!!"
"Tidak ke toko boneka dulu!!"
________
Tbc