
Buku jari Genta memutih ketika melihat gambar yang baru saja dikirim oleh nomor tanpa nama. Ia menarik napas panjang dan meremas ponselnya.
Unknow: Jika ibu mu ingin selamat datanglah ke alamat ini sendirian
Isi dari pesan itu membuat marah Genta semakin bertambah. Ia menatap alamat yang dikirim pria itu kemudian mematikan ponselnya dengan perasaan jengah.
Ia berusaha merendam emosinya agar handphone yang ia genggam ini tidak menjadi korban selanjutnya. Sudah banyak handphone yang ia hancurkan karena emosi lalu berganti ponsel dan itu dilakukan setiap kali ia marah untungnya hal-hal penting masih tersimpan di akunnya selama ia masih mengingat kata sandinya.
Alice yang berada tak jauh dari Genta mengerutkan kening heran melihat suaminya itu tampak tengah diliputi amarah besar, pasti bukan karena hal kecil. Ia mendekati dan menatap Genta penuh pertanyaan di benaknya.
"Ada apa?" tanya Alice hendak mengintip hp laki-laki tersebut, namun Genta menjauhkannya.
Ia memasukkan benda itu ke dalam saku celananya lalu tersenyum kecil. Hal yang barusan ia lihat tak boleh diketahui oleh siapa pun terutama Alice.
Begitu banyak pikiran yang ada di benaknya, siapakah dalang dibalik semua ini. Ia sudah melakukan penyelidikan tapi nyatanya ia selalu gagal mencaritahu dalang di balik pelaku teror pesan ini.
Dan sekarang berani-beraninya orang tersebut mengancam dirinya dengan sebuah foto. Ia tidak menyangka jika orang itulah yang membawa orangtuanya dari kampung dan menyekapnya.
Demi Tuhan Genta tidak akan tinggal diam saja. Ia akan melakukan cara apa pun untuk menyelamatkan ibunya. Ia tidak rela wanita yang sangat ia sayangi harus menanggung derita karenanya.
Satu kata *bajing'an* yang hendak ia lontarkan kepada orang tersebut. Berani-beraninya mengancamnya. Lihat saja mereka akan menjadi debu di tangannya.
Ia tidak akan membiarkan ibunya akan menjadi korban selanjutnya setelah Elizabeth. Sebenarnya Genta sudah dari lama mendapatkan pesan semacam itu.
Ia sering bercerita kepada Elizabeth tapi nyatanya Elizabeth sama sekali tidak pernah menjawab dan selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali ia memberitahu pesan aneh tersebut. Genta menjadi penasaran ada hubungan apa Elizabeth dengan orang tersebut sebenarnya.
"Alice ada hal yang harus aku urus. Aku akan pergi. Ah, sebelum itu kau bisa membuka kado yang aku berikan. Jangan lupa kau harus turuti arahan yang aku tulis."
Alice mengerutkan keningnya melihat respon laki-laki tersebut. Genta sama sekali tidak memberikan ucapan selamat tinggal kepadanya atau bahkan mencium keningnya, ini sangat aneh.
Tampak ia tengah terburu-buru, terlihat dengan jalannya yang cepat dan wajah yang sedikit panik.
"Ada apa sebenarnya?" gumamnya pelan serta mata yang terus terarah kepada sang suami.
Usai mobil yang dikendarai Genta kian jauh dari tatapannya, Alice pun masuk ke dalam rumah.
Hari ini ia tidak bekerja karena kondisinya akhir-akhir ini seringkali mudah merasa kelelahan. Sekarang
hanya ada dirinya yang berada di rumah bersama para pelayan.
Ia tahu para pelayan belum bisa menerima kehadirannya, tapi Alice tidak mau ambil pusing dan membiarkan saja mereka. Nanti lama-lama waktu yang akan membuatnya akrab dengan seluruh penghuni rumah ini.
Ia mendorong pintu kamar tersebut lalu melihat benda yang dimaksud Genta. Ia meraih sebuah kotak yang dihiasi pita itu kemudian membukanya.
Matanya sontak terbelalak menandakan jika ia tengah terkejut. Ia menutup mulutnya tidak percaya. Satu tangannya membuka hadiah itu.
Senyumnya mengembang menatap sebuah dress berwarna silver yang ternyata isi di dalam-nya dan menjadi hadiah yang diberikan untuknya. Ia pun meraih secarik kertas yang dimaksud Genta tadi dan membuka gulungannya.
Di situ tertera jika ia harus mengenakan dress itu nanti malam dan Alice harus sudah berdandan saat pria itu menjemput. Laki-laki tersebut mengatakan akan membawanya pada acara pesta pernikahan temannya.
Alice merasa bahagia diperlakukan bak ratu oleh prianya. Genta sama sekali tidak pernah pelit dengannya, tapi bukan uang yang membuat Alice ingin bersama pria tersebut melainkan kasih sayang.
"Ku kira kau tidak bisa romantis," ejek Alice sembari memasukkan dress tersebut ke dalam tempatnya semula.
Senyumnya terus terpatri di wajah cantiknya. Ia menatap pintu kamarnya yang ternyata tidak terkunci.
Alice kaget saat melihat ada yang mengintip dan ternyata itu pelayannya. Merasa berbahaya ia pun sontak menghampiri mereka.
Hanya tatapan penghinaan yang didapatnya. Bahkan pelayan pun tidak menghormatinya layaknya bukan bos mereka tetapi malah menatapnya dengan sinis.
"Apa pantas seorang pelayan menatap majikannya seperti itu?"
"Apa? Kami tidak salah dengar, kan? Nyonya di rumah ini bagi kami hanya nyonya Elizabeth. Jangan mentang-mentang kau dibawa oleh Tuan bisa berlaku seenaknya di rumah ini. Kau tahu bahkan rumah dan seluruh harta Tuan milik nyonya. Kau siapa menikmati harta orang saja. Cuihh!! Miskin, kah?" hina pelayan itu dan pergi usai memberikan ucapan pedas.
Alice terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya terasa tercubit ribuan tangan. Ia baru tahu kenyatannya, jika itu benar mungkin lebih baik ia pergi dari rumah ini.
Jika Elizabeth ada di sini dia pasti akan sedih ada wanita lain yang dibawa Genta tinggal di rumahnya. Ia tahu perasaan wanita, seharusnya ia tidak pantas ada di rumah ini, bahkan Elizabeth baru saja beberapa bulan pergi.
_______
Genta memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah tua. Lingkungan ini tampak sepi dan bahkan sama sekali tidak ada rumah selain tempat tua ini.
Dengan ragu ia keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah tersebut. Tidak ada rasa takut sama sekali di hatinya ketika harus masuk ke dalam sana.
Yang ada di benaknya hanyalah menemui pria tersebut. Ia sangat penasaran siapa dibalik teror itu. Pastinya orang itu berperan penting dalam organisasi Black Rose.
Ia tahu ini berbahaya tapi ia tidak memiliki jalan lain selain mengambil pilihan ini. Entah itu berbahaya bagi dirinya Genta tidak perduli.
Ia mendorong pintu reyot tersebut hingga terdengar decitan dan akhirnya pintu itu roboh sendiri saking tuanya.
Genta menatap itu sedikit terkejut tapi tak lama ia menormalkan kembali perasannya. Pria itu melangkah pelan menyusuri tempat tua dan gelap itu dengan alat bantu penerangan dari lampu di ponselnya.
Genta menarik napas dalam ketika bingung lorong mana yang akan dilewatinya. Banyak lorong yang mengarahkannya, tapi ia tidak tahu di lorong mana pria itu berada.
Semakin ia masuk ke dalam semakin tampak ruangan ini seperti sebuah tempat rahasia. Rasa penasaran terus menggebu di dadanya.
Genta dengan keberanian penuh memilih salah satu lorong yang ia yakini di situlah tempat utamanya.
Genta terhenyak sebentar lalu cepat berbalik dan melihat seorang pria yang ditutupi dengan pakaian hitam.
Ia tidak dapat melihatnya dengan jelas. Tempat ini sangat gelap ditambah wajahnya ditutupi oleh topi Hoodie yang dikenakannya membuat Genta sukar menebak wajah pria ini.
"Siapa kau?" Genta mengacungkan senjata api jenis Glock 45 GAP tepat di kepala pria itu.
Orang itu malah tertawa dan menepis senjata Genta hingga terjatuh. Genta geram dan cepat menyambar senjata api itu lalu memasukkan ke dalam jasnya.
Ia menghela napas dan lebih memilih melihat-lihat ruangan ini. Ruangan tersebut penuh dengan arsitekturnya yang indah. Benar dugaan Genta jika tempat ini bukanlah rumah tua biasa, ini adalah markas rahasia tempat perkumpulan satu organisasi.
"Ternyata kau datang Genta."
Orang itu membuka topinya lalu menekan saklar lampu. Tampaklah ruangan megah yang penuh dengan persenjataan dan alat perlindungan lainnya.
"Kau tahu tempat ini? Ayah mu yang membangunnya dengan susah payah. Anehnya tidak ada satupun polisi yang tahu tempat ini."
Genta tertawa miring, "sekarang kau memberitahukannya kepada orang yang salah. Kau tidak takut aku akan membocorkan tempat ini?"
"Aku memberitahu mu karena aku yakin kau tidak akan melakukan itu. Kau tidak ingin Ayah mu mati sia-siakan?"
"Aku tidak ingin melakukannya," timpal Genta sembari meludah di depan pria itu. i tahu apa yang dimaksud pria tersebut.
Ia menatap wajah yang penuh dengan luka bakar tersebut. Suaranya pun sedikit parau hingga Genta kesulitan mengenali siapa pria ini.
"Siapa kau?"
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Aku menyuruh mu datang kemari bukan mendengar untuk kau bertanya seperti itu."
Bughhh
Tiba-tiba Genta meninjau wajah pria itu dan terjadilah perkelahian sengit dari kedua laki-laki ini. Genta menendang keras perut pria tersebut hingga ia menubruk meja dengan sangat keras.
Genta mengacungkan senjata api tepat di kepala pria tersebut dan hendak menembakkan ke kepalanya.
"Lakukan saja jika kau tidak ingin ibu mu mati." Lelaki itu tersenyum miring.
Genta menatap ke belakang ketika ada suara rantai yang saling bersentuhan. Ia menatap sang ibu ditahan dengan diikat menggunakan rantai dan diacungkan pistol di kepalanya. Tera menangis tidak ada suara karena mulutnya tersumpal.
Ia menatap Genta penuh rindu yang dicampuri rasa pilu. Genta spontan hendak memeluk sang ibu tapi seluruh senjata mengacung ke kepalanya.
Genta berhenti. Ia meneguk ludahnya kasar di tempat. Tangannya terkepal penuh amarah.
"KAU! LEPASKAN IBU KU!!"
"Maka bergabunglah dengan Black Rose baru ibu mu akan ku lepaskan."
Genta tidak akan sudi mengatakannya tapi mereka tahu Genta tidak akan semudah itu maka mereka telah mengaturnya dengan apik.
Dor
"Akhh!"
"Ibu!!!" teriak Genta dan hendak menghampiri ibunya tapi tangannya ditahan oleh beberapa anggota Black Rose.
Kaki sebelah kanan Tera sengaja ditembak oleh mereka agar semakin memperdaya Genta. Jerit sakit dari wanita berumur itu memenuhi ruangan tersebut.
"Emamanamamm!!" ujarnya tak jelas dengan mulut disumpal.
Mata Genta menggelap tangannya yang sudah terkepal semakin menggenggam erat hingga melukai tangannya sendiri karena tusukan kukunya.
Genta dengan raungan marah menembak para penjaga itu. Ia menyerangnya brutal dan membabi buta.
Ia melayangkan tembakan ke arah orang-orang tersebut tanpa ampun dan tidak peduli lagi dengan rintih kesakitannya.
Di tengah kesibukannya tiba-tiba seseorang memandang kakinya hingga ia tersungkur. Ia mendongak dan ternyata moncong senjata api tepat di depan matanya.
"Katakan 'Aku sebagai pewaris Black Rose bersumpah akan melanjutkan organisasi yang dibangun ayah ku' atau ibu mu ini akan dibunuh. Masih tak mau juga? Atau akan terjadi sesuatu dengan istri cantik mu itu. Hahhaha," gelak tawanya pelan.
Genta menatap mereka dengan kondisinya yang sudah lemah. Sebenarnya ia masih mampu tapi ketika ia melihat ibunya ia tidak sanggup membiarkan wanita itu terus di sana dengan darah bersimbah. Semakin ia melawan semakin Tera akan menerima siksaan.
Ia dirundung delima yang begitu nyata. Ini pilihan sulit, ia tidak ingin menjadi ketua organisasi gelap itu. Tapi, ia juga tidak bisa membiarkan orang-orang yang disayanginya menjadi korbannya.
"KATAKAN!!" tegas yang lain sembari menendang Tera.
Tera merintih merasakan sekujur tubuhnya yang tersiksa. Hati Genta sakit mendengar suara tangis wanita itu. Ia menatap tajam orang tersebut. Tidak ada jalan lain.
"AKU GENTA ARAKHAN MILLER BERSUMPAH AKAN MELANJUTKAN POSISI AYAH KU DAN MENERUSKAN ORGANISASI BLACK ROSE." Genta memandang orang tersebut yang tersenyum miring, wajahnya tampak puas.
_____
Tbc
Gaess ayo komen yang banyak biar bakal dilanjutkan nih cerita🤓🤓