My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 61



Genta yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya meraba sisinya yang ternyata sudah tidak ada lagi penghuninya. Ia membuka matanya dan bangun dengan panik sembari menyibakkan selimut.


Ia mencari Alice ke sana ke kemari dan ke bawah ranjang tapi nihil tetap saja Genta tidak menemukan wanita itu. Ia pun membuka kamar mandi yang sama juga tidak memberikan petunjuk.


Napas Genta memburu takut jika Alice kabur dari rumahnya. Ia pun kontan mencari ke dapur dan kali ini ia bisa bernapas dengan lega.


Ia melihat istri kecilnya itu sedang memasak di dapur. Dulu setahu Genta perempuan itu belum bisa bekerja di dapur tapi sekarang ia begitu lihai membuat makanan.


Genta mendekati perempuan tersebut dan memeluk Alice dari belakang. Alice tersentak ketika merasakan ada sepasang lengan melingkar di perutnya.


Ia mendongak ke samping dan tersenyum tipis melihat sang suami lah pelakunya. Tidak heran lagi Genta memang suka berbuat onar padanya.


"Genta lepaskan!" pinta Alice seraya menjauhkan tangan pria itu.


Alice kesal ketika Genta malah lebih mengeratkan pelukannya dan membuatnya sukar melepaskan tangan pria itu dari perutnya. Alice menarik napas pasrah.


Ia membiarkan Genta melakukannya sesuka hati laki-laki itu. Setiap kali ia berjalan ingin mengambil rempah-rempah Genta juga akan mengekori dengan tangan terus memeluk perutnya.


Alice merasa terganggu dan mendengus kasar. Ia menyentak kan kasar tangan pria itu lalu berbalik dengan wajah yang cemberut.


"Bisa kau pergi dari dapur? Kau membuat ku muak," marah Alice dan menyodorkan pisau menakut-nakuti pria itu.


Jika dulu ia akan merasa ngeri berbeda dengan Genta yang sekarang tampak tenang tidak terganggu. Ia mendekati Alice dan malah Alice yang mundur, ia pun meraih pisau tersebut dan meletakkannya di atas meja.


"Cantik-cantik mau jadi pembunuh?" tanya Genta dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya, "Nona Alice, saya siap melayani Anda."


Tidak menunggu respon dari wanita itu Genta lebih dulu memasakkan semua makanan yang akan menjadi menu di pagi hari ini. Alice hanya tinggal duduk manis.


Ia tidak keberatan jika Genta melakukannya, jujur saja ia begitu merindukan masakan pria itu. Senyumnya mengembang kala Genta melakukan atraksi yang sukar dilakukan orang awam.


Melihat Alice yang suka dengan atraksinya, Genta kian gencar dan bersemangat melakukan atraksi dalam memasak lainnnya.


"Nona ini makanan untuk Anda." Genta menyerahkan beberapa makanan khas Italia yang dibuatnya.


Alice merasa lapar menatap semua makanan itu. Perutnya bergejolak tidak sabar ingin mencicipi setiap jenis makanan tersebut.


"Kau memang hebat Genta. Baru kali ini aku bangga memilik suami seperti mu."


Seketika wajah Genta menjadi muram, pujian yang harusnya membuatnya bahagia malah membuat dirinya kesal.


"Maksud mu? Kau baru kali ini bangga dengan ku?" tanya Genta dan tertawa kecil seperti menahan sesuatu di dadanya.


Tawa Alice hendak meledak melihat reaksi sang suami. Mulailah timbul sikap polos pria itu, seberubah apa pun Genta sikapnya yang dulu tetap mendominasi jika bersama Alice.


"Kau tidak mengerti jokes?"


Genta berusaha menutupi rasa malunya di depan Alice. Ia memasang tampang sangar dan serius.


"Siapa bilang? Aku tahu, aku juga tahu kau hanya bercanda tadi," imbuh Genta seraya mengambil kursi dan duduk.


Wajah Alice semakin menantang Genta. Ia meletakkan tangannya di meja sebagai tumpuan dagunya.


"Kau tahu yang tadi aku juga bercanda, aku memang baru kali ini bangga dengan mu."


Wajah bangga Genta memudar seketika ia mengercutkan bibirnya lalu membuang wajahnya dari pandangan Alice.


Tidak berapa lama, terdengar suara tapak kaki yang temponya sangat cepat dari arah luar. Seperti pagi biasanya, kedua anak itu akan saling kejar-kejaran. Tidak pernah sekalipun akur.


"Abang itu punya Adaire!!! Kembalikan boneka Adaire!!! Mama! Abang Ma!" adu Adaire dengan mata yang memerah.


Drake menjulurkan lidahnya mengejek Adaire yang hendak menangis. Memang itu niatnya menjahili Adaire.


"Drake berikan boneka adik mu!!"


Dengan terpaksa Drake memberikan boneka itu. Sungguh ia tidak ikhlas karena belum sempat mendengar tangis Adaire.


Alice menarik napas dan menepuk jidatnya. Sikap keduanya memang freak sama seperti ayahnya. Alice melirik Genta yang malah tersenyum melihat kedua anaknya bertengkar, memang orang tua yang sangat aneh.


"Tidak ku sangka aku begitu hebat sekali buat langsung jadi. Bibit ku memang tidak ada yang gagal, lihatlah keduanya sangat sempurna. Aku bangga dan tidak menyesal seorang pelayan ini telah menghamili mu." Sepanjang menceritakan Genta tersenyum bangga melihat hasil spermanya.


Alice tercengang dengan perkataan pria ini yang sama sekali tidak ada sensor di mulutnya. Ia mendengus kesal kenapa bisa bersama pria semacam Genta.


"Aku yang menyesal."


"Aishh kau ini. Katakan bangga kepada ku! Kau kan yang melakukan pencarian di jurang kemarin?"


"Bagaimana kau tahu?"


"Dasar tukang pamer." Alice mendecih lalu melipat tangannya di dada, "kau tidak bohong kan telah memindahkan kantor ku? Awas kau mendustai ku hanya karena aku tidak boleh pulang ke Kanada. Ku pastikan kau tidak akan mendapatkan jatah sebulan."


"Kalau aku benar kau harus melayani ku setiap hari bahkan kalau bisa setiap jam."


Alice melempar buah jeruk di depannya kearah Genta. Tapi, lebih dulu disambut oleh laki-laki tersebut.


"KAU INGIN MEMBUATKU TIDAK BISA BERJALAN?!!"


"Memang itu yang aku inginkan," ceplos Genta tanpa disadarinya.


Mendengar amuk Alice barulah Genta sadar dengan ucapannya. Ia meminta ampun memohon kepada wanita tersebut. Entahlah Alice akhir-akhir ini ia mudah tersulut emosi dan sering marah-marah.


"TIDAK DENGAN KU!!"


Genta menatap serius Alice lalu memegang pelipis wanita itu, "Baby aku curiga dengan mu. Akhir-akhir ini kau sering marah dengan ku, apa jangan-jangan kau..."


"Jangan harap, kita baru saja seminggu yang lalu melakukannya!!"


_______


Hari ini perdananya Genta berani berjalan tanpa membawa alat bantu. Kakinya akhir-akhir ini kian membaik dan ada kemajuan.


Genta tersenyum kepada semua karyawannya ketika melewati mereka. Banyak para karyawati yang kagum melihat Genta lebih tampan ketika tidak menggunakan alat bantu berjalan.


Laki-laki tersebut tampak lebih berwibawa dan aura kepemimpinannya lebih meningkat. Usai memberikan senyuman hangat maka hanya wajah dingin tak berekspresilah yang tercetak di wajahnya.


"Bapak, ada seorang pria yang nekat ingin bertemu Anda." Sekretaris itu menghentikan perjalanan Genta menuju ruangannya.


Alis pria itu terangkat dan ia menatap sang sekretaris penuh tanya. Siapa yang ingin bertemu dengannya setahu Genta tidak ada membuat janji dengan siapa pun hari ini.


"Di mana dia sekarang?"


"Ada di ruangan Bapak. Maaf kami tidak bisa mencegah karena beliau mengancam kami."


Genta menghela napas dan berlalu kesal. Kenapa dengan satu orang saja mereka bisa kalah menghadapinya.


Sesampainya ia di ruangannya ia melihat seorang laki-laki bertubuh tegap yang mengintimidasinya.


"Kenapa kau kemari?"


Bughh


Damian meninju wajah Genta hingga tercetak merah aliran darah di sana. Genta pun menatap emosi Damian tanpa ada angin malah tiba-tiba meninjunya.


"Apa maksudmu?"


Genta hendak membalas tinju pria itu tapi tangannya berhasil dihentikan sebelum bertubrukan dengan pipi Damian.


Damian mencengkram kerahnya dan menatap marah Genta.


"Brengs*k!!" Dimana kau membawa adik ku, hah?!! Katakan Bangs*at!"


Genta tertawa mengejek. Ia menjauhkan tangan pria itu dari kerah bajunya dan membenarkan dasinya yang acak-acakan.


Genta duduk di kursi kebesarannya dengan kaki disilangkan.


"Mau kemana pun aku membawanya itu urusan ku, aku dan Alice sudah menikah dan sudah sepantasnya seorang wanita ikut suaminya."


"Apa maksudmu baj*Ingan?? Aku tidak akan membiarkan kau menikah dengan Alice!"


Genta menggeleng heran melihat Damian. Sudah terlambat mengatakan tidak setuju karena nyatanya mereka sudah menikah dari lama.


"Tidak ada gunanya kau melarang ku Damian. Lebih baik kau keluar dari ruangan ku!!" Genta menatap kepada bodyguardnya yang berjaga di depan pintu. "Seret pria ini keluar!!"


Genta kesal bisa-bisanya orang berbahaya seperti Damian dibiarkan masuk ke dalam ruangan kerjanya. Pria itu licik dan pasti ia sudah melakukan sesuatu terhadap berkas-berkasnya.


"Kau pikir bisa menghalangi ku?"


__________


Tbc


Hay teman-teman seperti biasa jangan lupa like dan komen. Mohon banget untuk kalian meninggalkan jejak terutama memberikan komentar kalian 🥺🥺