
Seluruh kamera terpusat pada sosok yang baru saja keluar dari mobil. Penampilan kedua insan itu mampu menarik banyak awak media dan perhatian para undangan.
Genta dan Alice melambaikan tangan menyapa mereka semua. Senyum manis serta menebar, setiap pertanyaan dijawab dengan santun.
Wartawan berlomba-lomba mewawancarai kedua pasangan itu. Genta sudah memperkenalkan diri ke awak media jika ia adalah CEO dari Mitra Crop dan Alice adalah istrinya.
Selama ini CEO dari Mitra Crop belum diketahui dan sengaja disembunyikan identitasnya. Banyak orang yang bertanya dan kini mereka telah menemukan jawabannya.
Tidak ada yang menyangka jika CEO Mitra Crop setampan itu. Bahkan beberapa dari para undangan berdecak kagum dan menggigit jari khusunya kaum hawa.
Alice berasa kikuk di samping pria ini. Ia bak kasta rendahan dan merasa tidak sebanding. Tapi Genta terus meyakinkan jika memang Alice lah yang pantas menempati posisi itu.
Mereka memasuki ruangan yang sudah disulap semenarik mungkin itu sambil bergandengan. Sesekali Genta memeluk posesif ingin memamerkan jika Alice adalah wanitanya.
Tidak sedikit yang memandang Alice lapar. Banyak dari kaum adam bahkan wanita yang menatap Alice seperti ingin menerkam.
Genta memutar bola mata bosan, jika buka karena temannya ia tidak akan datang. Ia sengaja mengajak Alice karena tahu jika ia datang sendiri banyak wanita centil yang diundang temannya itu akan menggodanya.
Ia tidak ingin tersebar rumor buruk dan sampai ke telinga Alice. Sungguh hal buruk jika itu terjadi.
Alice menghembuskan napas lega ketika mereka telah jauh dari keramaian. Genta membawa Alice untuk duduk di paling sudut ruangan agar jauh dari pandangan orang-orang.
"Kau menyukainya?" tanya Genta seraya membenahi rambut Alice yang berantakan.
"Lumayan."
Genta tertawa renyah, jawaban seperti apa itu. Ia memaklumi saja Alice, tapi setahu Genta Alice memang sangat suka keramaian. Itu dulu tidak tahu ketika ia sudah dewasa ini.
Seorang pria bersama wanitanya datang menemui Genta. Ia menepuk tangan Genta dan bersalaman ala-ala teman pria yang saling bertemu.
"Kenalkan ini istri ku, Maria." Jhone membawa Maria dan memperkenalkannya ke Alice.
"Aku Alice," ujar Alice malu-malu.
Jhone tertawa kecil lalu menatap Alice seperti tengah meneliti. Alice yang ditatap itu pun merasa tidak nyaman.
"Jauhkan pandangan kurang ajar mu itu Bung." Genta menatap sengit Jhone.
Jhone hanya tertawa santai seraya merangkul bahu Maria. Ia mengambil wine dari tangan istrinya itu dan menyesapnya.
Maria hanya menanggapi biasa. Ia tidak marah ketika Jhone menatap Alice dengan pandangan seperti itu. Ia sudah biasa dengan sifat suaminya ini.
"Santai Bro, istri mu cantik sekali. Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Jhone sembari berdecak kagum.
"Kau Jhone," geram Genta tidak suka ada pria lain yang memuji istrinya, "kau tidak lihat jika istri mu juga cantik malah melirik istri orang lain."
"Hahahah tidak apa Genta." Itu suara Maria sambil tersenyum lalu mengecup bibir suaminya di depan mereka tanpa ragu.
Genta menghela napas melihat wajah istrinya yang sudah seperti kepiting rebus. Alice tidak biasa melihat orang yang menebar mesra di depan umum padahal mereka hidup di Amerika seharusnya hal semacam ini sudah biasa.
Membantu istrinya menghilangkan rasa malu Genta malah juga mengecup bibir sang istri di depan Jhone dan Maria sengaja membalas mereka.
Kini pipi Alice bak bakpau. Ia memukul pria itu seraya mengumpat penuh amarah.
"Kau Genta," marah Alice dan mencoba tidak lagi menghiraukan Genta.
"Hahaha sepertinya aku mengganggu kalian. Ah, Genta sebentar lagi ada pesta dansa ku harap kau dapat mengikutinya."
Pasangan itu pun lantas pergi dan Genta dapat menghela napas. Ia sangat tahu betul perangai Jhone yang playboy tidak ada duanya.
Ia tidak ingin istrinya menjadi tatapan jelalatan dari pria itu. Hanya ia sendiri yang boleh menatap Alice penuh kagum, lelaki lain tidak boleh dan sangat dilarang keras.
Karena hanya tinggal mereka berdua, Genta pun menatap Alice dengan wajah imutnya. Ia tahu Alice pasti sedang merajuk gegara prihal tadi.
"Baby jangan marah lagi."
"Hm," jawab singkat Alice seraya membuang muka.
Terdengar pengumuman jika pesta dansa akan segera dimulai. Alice yang penuh semangat lantas berjalan lebih dulu ke ball room.
Ia menarik tangan Genta agar pria itu berjalan agak cepat. Ia tidak sabar ingin melakukan dansa, sudah lama ia tidak berdansa. Terakhir ia berdansa bersama ayahnya ketika ulangtahunnya ke 17.
Ia sungguh merindukan moment yang tidak akan pernah terulang lagi. Mungkin ia akan membuat moment dan lembaran baru bersama laki-laki yang ada di dekatnya ini.
Suara musik pun mengalun, Alice mulai bergerak sesuai dengan irama musik tersebut. Mereka berdansa dengan santai dan semakin lama alunan musik itu semakin laju, maka gerakan mereka juga kian cepat.
"Aku sudah lama tidak berdansa seperti ini. Rasanya rindu sekali," lirih Alice seraya menatap kepada pasangan lain yang juga sangat menikmati jalannya dansa.
"Kau menyukainya?"
"Maka lain waktu aku akan mengajak mu."
Tiba saatnya bertukar pasangan. Alice melepaskan Genta dan berdansa dengan seorang pria keturunan Arab. Sementara Genta mendengus kasar tidak fokus dengan pasangannya, ia sibuk memperhatikan Genta.
"Hay tampan, apa boleh malam ini aku menemani mu?" ujar pratner dansanya kali ini. Demi Tuhan ia sangat jijik dengan wanita yang tidak tahu malu tersebut. Ia sengaja menggesekkan dadanya ke tubuh Genta, ia tidak tergiur dan malah menghinanya karena bentuk punya wanita itu tak sebesar milik Alice.
Sementara Alice sibuk dengan pratner dansanya kali ini. Sedangkan Genta terus memperhatikan wanita itu dan tidak peduli dengan celotehan perempuan yang sedang berdansa dengannya.
"Siapa nama mu Nona?"
"Alice Tuan," ucap Alice seraya berputar.
"Kau sangat cantik Nona."
"Terimakasih."
Tanpa sadar percakapan diantara keduanya mengalir begitu saja hingga alunan musik berhenti dan tiba-tiba Alice merasakan tangannya ditarik kasar.
Ia berdecak malas ketika pelakunya adalah Genta. Pria itu membawanya ke tempat yang sedikit sepi dan mengintimidasi Alice.
"Apakah menyenangkan? Oh tentunya iya bukan? Hahha," sindir Genta dengan wajah yang penuh amarah.
Napasnya memburu dan kian lama nada suaranya semakin meninggi. Demi apa pun ia ingin sekali mengacaukan acara pesta ketika melihat Alice mengobrol santai dengan pria lain.
Dadanya bergemuruh bak dirasuki setan. Ia ingin pulang secepatnya dari pesta membosankan ini.
"Kau berdansa dengan wanita lain, aku tidak marah."
"Kita berbeda."
"Sama saja," timpal Alice.
Alice hendak beranjak ingin menikmati makanan yang dihidangkan di acara pesta ini. Tapi seorang pelayan datang dengan membawa nampan yang berisi kue dan segelas wine.
Pelayan itu menawarkan makanan dan minuman tersebut. Genta mengambil minuman itu dan memberikan sepotong kue ke Alice.
Laki-laki tersebut menegaknya hingga tandas berharap cairan itu dapat meredam amarahnya.
"Sudahlah aku ingin pulang."
Alice menganga melihat reaksi pria ini. Ia belum ingin pulang dan ingin menikmati banyak makanan di pesat ini. Ia tidak terima dan mengejar pria itu.
"Genta!! Tapi aku ingin mencoba semua makanan di sini!!"
"Nanti aku akan membeli semua makanan seperti yang ada di pesta ini untuk mu!!"
"Genta!!" seru Alice berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah lebar pria itu.
Genta tiba-tiba merasa sesak di dadanya. Ia kesulitan bernapas seperti ada yang menghalanginya, matanya juga seperti berbayang-bayang.
Ia merasakan seluruh persendian tubuhnya sangat lemah, dan dadanya terasa dicabik-cabik oleh tusukan pedang. Sakit itu menggerogoti jiwanya, hingga ia pun memuntahkan darah begitu banyak.
Ia merasakan pandangan matanya yang kunang-kunang lalu ambruk. Alice terkejut melihat itu dan memangku tubuh Genta yang penuh dengan darah.
"Genta!!"
"SIAPA PUN TOLONG AKU!!" tangis Alice seraya menepuk-nepuk pipi Genta. "Genta bangun, hiks."
Alice begitu panik dan menggoyangkan tubuh lelaki tersebut berharap suaminya segera sadar.
Tangisnya pecah, bahkan ia tidak peduli lagi dengan kerumunan orang-orang yang heboh dan sangat histeris melihat kondisi CEO Mitra Crop tersebut. Yang ia butuhkan sekarang Genta tersadar.
Tubuh Genta diangkat dan cepat dimasukkan ke dalam mobil dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Pesta yang semula berjalan hikmat harus berubah panik. Sang pemilik pesta yang notabenenya adalah sahabat Genta juga lebih memilih meninggalkan pestanya.
______
Tbc
Hayolo kenapa tuh🙈 Jangan lupa like dan komen yang banyak bestie biar kita lanjut terus