My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 34



"Lepaskan aku brengs*ek!!" Genta menarik tangannya berusaha lepas dari belenggu yang diciptakan orang yang telah membawanya entah di mana.


Matanya tertutup tidak dapat melihat keadaan sekitar, yang Genta tahu ia sedang berada di dalam suatu ruangan kedap suara dan jauh dari sinar matahari, entahlah itu hanya baru dugaannya.


Pria itu berusaha sekuat tenaga walau hasilnya nihil. Dalam hati ia merapalkan doa-doa agar ada keajaiban yang diturunkan Tuhan untuknya.


Pria itu terkulai lemas di tempat. Tenaganya terkuras ia tidak mampu lagi untuk bersisi keras. Ia tahu di dalam ruangan ini penuh dengan umat manusia yang menatap dirinya. Ia bagaikan tontonan tidak berguna.


Apa yang ada di kepala Genta benar adanya. Orang tengah berkumpul dan menatap naas ke arah pria itu. Tidak ada yang tahu siapa Genta dan apa alasan ia dibawa kemari selain dari pada sang ketua.


Orang yang menjadi peran utama dalam penculikan itu mengetuk jarinya di meja dengan kaki yang disilangkan. Sama sekali ia tidak terganggu dengan suara Genta.


Ia menghela napas dan berniat untuk menghampiri Genta. Pria tersebut menatap dengan pandangan sulit diartikan.


Dengan wajah datarnya ia memandang sang penjaga untuk melepaskan benda yang menahan pergerakan Genta.


Semua mata langsung tertuju padanya. Tidak ada yang menyangka jika tuannya akan melakukan itu, mereka bengong keheranan.


"Lakukan! Apa kau tuli!?"


Pria itu dengan panik cepat melepaskan borgol di tangan Genta dan membuka penutup matanya.


Hal yang pertama saat membuka mata ia rasakan adalah pening menyambutnya. Genta kontan memandang sekitar dan ia terkejut melihat orang yang tegap berdiri di depannya.


Napasnya memburu dan tangannya terkepal. Ia berdiri tanpa terduga melayangkan pukulan kepada pria yang ternyata adalah Miguel.


Aksi tidak disangka-sangka dari Genta turut menjadi bumerang baginya. Para pengawal langsung waspada dan mengangkat senjata mereka dan puluhan moncong senjata terarah di kepalanya.


Dengan napas memburu seraya mengepal ia memandang kecewa Miguel. Apa keinginan pria itu hingga membawanya ke tempat yang ia tidak ketahui.


"Apa maksud anda?"


Salah satu dari bodyguard Miguel langsung waspada dan hendak menarik pelatuk. Genta memandang orang itu dan mendengus.


Ia mendecih Miguel hanya berani membawa pasukan. Pria itu juga memandang ke arah Cristian yang rupanya di sana juga.


Namun ada yang lebih menarik perhatian Genta yaitu pria yang berpakaian serba hitam dan agak berbeda dengan yang lainnya. Ia pernah melihat pria itu dulu di saat ia di China.


Genta terkejut apa hubungan pria itu dengan keadaan semua ini? Genta memandang ayahnya lalu Cristian satu persatu.


"Apa maksudmu?" tanya Genta tidak percaya.


Miguel menatap anak buahnya yang masih mengacungkan senjata. Ia meminta agar senjata itu diturunkan dan mereka mengangguk patuh.


Miguel melewati Genta begitu saja. Ia mengambil sesuatu di atas meja kerjanya. Berupa senjata keluaran baru dan merupakan rancangan terbaik di Amerika Serikat.


Ia membawa senjata langka tersebut dan menyerahkannya kepada Genta. Pria tersebut masih diam di tempat tidak paham apa yang diinginkan oleh Miguel.


Genta mengamati senjata itu. Seumur-umur ini perdananya memegang senjata api. Dadanya berdegup kencang tidak percaya melihat benda itu ada di tangannya.


"Senjata itu sekarang akan menjadi milik mu. Ini saatnya yang aku tunggu puncak dari segala puncak," ujarnya dengan nada angkuh penuh bangga, "aku memutuskan agar kau masuk ke dalam agen rahasia ku. Anak ku, kau harus membalaskan dendam kematian ibu mu, William telah membunuhnya dan merebut kebahagiaan mu, tidak hanya kau tetapi aku juga. Maka dari itu sebagai pekerjaan pertama mu kau harus menjadikan Alice tawanan agar memudahkan kita membalas dendam." Ia menatap Genta yang tidak terima dengan perkataannya.


Mendengar pernyataan tersebut membuat Genta menjadi geram. Ia membuang senjata itu dengan kasar dan memancarkan kemarahan di matanya.


Ia memukul wajah Miguel untuk kali kedua. Dan lagi-lagi banyak senjata yang mengincar kepalanya. Miguel menarik napas dan meminta agar anak buahnya menurunkan senjata tersebut.


"Genta ku harap kali ini kau menuruti keinginan ayah mu. Apa kau tidak merindukan aku nak?" ujar Miguel dengan mata penuh rasa rindu.


Ia menangis dan memeluk tubuh Genta. Akhirnya lega sudah hatinya saat dapat memeluk tubuh anaknya yang sangat ia rindukan bertahun-tahun lamanya.


Manik Genta tidak dapat menahan segalanya. Ia melepaskan air mata yang mendobrak ingin luruh. Genta merasakan sakit di dadanya.


Ia merasakan perasaan nyaman saat memeluk tubuh Miguel. Tidak dia sangka pria ini adalah ayahnya.


"Kau terlalu jahat ayah. Aku tidak bisa," Isak Genta seraya menggelengkan kepala.


Ia tidak akan pernah sanggup menerima tawaran dari Miguel. Tawaran itu akan menyakiti hatinya, dia tidak mungkin melukai orang yang menjadi sumber kehidupannya.


Miguel melepaskan pelukan tersebut. Ia mengamati wajah Genta yang sangat mirip dengan dirinya dan sang istri. Melihat kemiripan Genta pada istrinya membuat luka lama lebar kembali.


"Setiap melihat mu jiwa balas dendam ku semakin berkobar. Lakukan ini untuk ku."


Genta menepis kasar tangan Miguel dipundaknya. Aura perumusan terpancar jelas dari matanya.


"Meskipun kau ayah ku, kau tidak berhak mengatur aku. Aku sudah besar!!!"


Tamparan dari Cristian yang datang tiba-tiba mengejutkan semuanya. Genta memandang pria itu tidak percaya, ia tertawa sumbang penuh kekecewaan. Tidak ada yang benar-benar tulus.


"GENTA LUPAKAN PERASAAN MU!! SEBAGAI ANGGOTA KELUARGA MILLER DILARANG KERAS MENCAMPURKAN PERASAAN DALAM PEKERJAAN!! KAU TAHU? WILLIAM TELAH MENGETAHUI SEMUANYA, DIA TAHU KAU ANAK MIGUEL DAN JUGA ORANG YANG MENGHAMILI PUTRINYA? JIKA KAU TIDAK BERTINDAK APA YAKIN KAU MASIH DAPAT AKAN MELIHAT HARI ESOK?!!!!"


Genta menggeleng tidak percaya ia memandang semua orang penuh dengan amarah. Dirinya jatuh ke dalam lubang frustasi. William telah mengetahui semuanya, perbuatannya? Bagaiman dengan Drake dan Adaire di sana? Ia sangat mengkhawatirkan itu.


Terlebih bagaimana keadaan Alice? Ia sangat takut jika terjadi sesuatu kepada wanita itu akibat imbas dari masalah orang tua mereka.


"Apa aku perlu melenyapkan wanita itu, baru kau akan sadar?"


_______


Matahari yang menyelinap di lubang-lubang kecil membuat Alice merasa terganggu. Ia membuka kedua kelopak matanya.


Perempuan itu tersenyum dan melihat ke samping. Seketika luntur senyuman itu, ia langsung bangun dan mencari Genta ke sana kemari.


Tapi tidak ada satu ruangan pun yang menunjukkan kehadiran Genta. Ia panik dan menuju kamar anaknya, hanya satu ruangan itu yang belum ia datangi.


Perempuan tersebut berharap jika Genta benar-benar ada di sana. Ia membuka pintu kamar itu dan lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan tidak adanya Genta.


Sementara kedua anaknya masih terlelap. Alice memutuskan untuk membangunkan mereka.


Ia menepuk lembut Adaire dan Drake. Kedua anak lucu itu terbangun, sontak saja keduanya langsung menjauh saat menyadari mereka saling berpelukan.


Tawa halus keluar dari bibir Alice melihat tingkah kedua anaknya. Ia bahagia melihat kelucuan mereka.


Tidak pernah terbayangkan jika ia akan mendapatkan moment bahagia ini. Adaire yang semula marah pada Drake takjub melihat Alice tertawa, ia bersyukur kepada Tuhan bisa melihat perempuan tersebut tersenyum lebar.


"Mama! Papa ke mana?"


Alice mulai ingat jika tujuannya kemari mencari Genta. Perempuan itu menggeleng lemah, entahlah mungkin Genta hanya pergi sebentar.


"Nona maafkan saya, saya akan menyiapkan makan malam nona."


Deg


Hati Alice tersayat dan dirinya ingat jika Adaire masih menganggap ia adalah nonanya. Perempuan itu murung dan menggeleng lemah kepada Adaire.


Adaire heran kenapa nonanya bisa berubah sikap? Bukankah Alice selalu mengerikan?


"Tidak usah. Adaire, maafkan aku. Jangan pernah kau panggil aku dengan nona, panggil sebagaimana Drake memanggil ku!"


Otak Adaire langsung mencerna. Drake selalu memanggil Alice dengan sebutan Mama, apa itu artinya ia akan memanggil Alice dengan embel-embel itu?


"Maksud nona?"


"Ya panggil aku mama seperti Drake menyebut diri ku."


Drake tidak terima. Matanya berkaca-kaca karena anak itu menyangka posisinya akan digeser Adaire. Wajahnya berusaha menahan tangis yang membuat Adaire dan Alice panik.


"Dasar cengeng kenapa kau?" ejek Adaire geli melihat Drake yang terlalu cengeng.


"Hiks, hiks, hiks, Mama tidak sayang Drake? Kenapa dia juga memanggil


Mama. Mama Alice cuman boleh jadi mamanya Drake."


Alice tersenyum dan memeluk Drake. Ia mencium puncak kepala anak itu dan memandang wajah Drake yang penuh dengan air mata.


"Hey tenanglah kau dan Adaire sama. Sama-sama anak ku sekarang."


"Belajarlah berbagi, anggap Adaire adik mu," pinta Alice menenangkan Drake yang menangis sesugukan.


"AKU TIDAK SUDI!!" teriak keduanya yang membuat Alice menahan napas dan tersenyum terpaksa.


_____


Tbc


Jangan lupa mampir juga ke karya temen aku. Dijamin bagus banget ceritanya.