
Suara riuh bergema keras dari setiap orang yang menyaksikan seorang calon wali kota yang yang tumbang ketika berpidato.
Dante memegang dadanya yang tertembak oleh orang misterius. Darah bersimbah dari dirinya dan matanya melotot merasakan kinerja peluru itu yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.
Napas Dante terengah-engah hingga ia merasakan ada seseorang yang tak ia kenali menghampiri dirinya. Dante bingung dan ketika orang tersebut menatapnya, tubuhnya terasa lebih sakit berkali-kali lipat hingga napasnya sesak lalu kegelapan menyambutnya, ia meregang nyawa sangat menggenaskan.
Dante tertembak beberapa kali di tubuhnya hingga aliran darahnya pecah. Darah sukar dihentikan hingga ia harus menghembuskan napas terakhirnya karena kehabisan darah.
Tubuhnya yang sudah tak bernyawa itu masih di depan rakyat yang ingin mendengar pidatonya, ia mati di depan masyarakat dan disaksikan para pendukungnya. padahal beberapa hari lagi pemilu akan dilaksanakan.
"Kasihan sekali dia, padahal umurnya masih muda," bisik masyarakat kepada masyarakat lain.
"Aku tidak menyangka umurnya sangat pendek. Kasihan sekali."
"Yang membunuhnya benar-benar biadab, aku tidak akan memaafkannya sampai kapan pun."
"Semoga pelakunya cepat ditemukan. Ini benar-benar sadis. Kenapa ada orang yang tidak punya hati seperti itu."
Bisikan masyarakat berdengung jelas dari telinga seseorang yang mengenakan pakaian sederhana, sambil membawa sebuah pistol kecil di tangannya.
Napasnya memburu ketika melewati kerumunan itu kala ia ingin keluar dari lautan manusia tersebut. Misi besar sudah ia lakukan, dan itu merupakan hal yang paling membekas di hidupnya.
Ia tidak peduli jika orang-orang memberikan sumpah serapah mereka kepada dirinya. Genta tetap berjalan datar seolah tidak takut dengan siapa pun dan tidak terjadi apa-apa.
Ia berjalan ke arah mobilnya dan bibirnya senantiasa terus tersenyum miring. Sebentar lagi, ia tidak sabar menunggu hal yang paling dinanti, beberapa detik lagi sebuah kejutan akan ia hadiahkan kepada semua orang.
Duarrrr
Tiba-tiba terdengar suara bom dari sekitar area tersebut. Semua masyarakat di sana langsung berhamburan mencari tempat persembunyian saat mendengar ledakan yang begitu hebat.
Sekilas Genta tersenyum menampakkan giginya ketika mendengar suara ledakan tersebut. Ini yang ditunggu-tunggunya.
Ia mengambil senjata api mematikan dalam bagasi mobilnya dan beralri cepat ke arah ledakan itu.
Sean mengepalkan tangannya. Ia selamat dari ledakan tersebut, amarahnya pun tidak terkendali. Ia menatap tajam Genta.
"KAU... APA-APAAN MAKSUD MU?!! KAU MENGHINATI BLACK ROSE!!!" marah Sean yang begitu mengerikan.
Ia mengepalkan tangannya kuat. Seluruh emosinya bercampur hingga membuat kengerian berakali-kali lipat dari dalam dirinya. Bagaimana tidak? Ledakan itu adalah milik Genta dan sengaja diledakkan persembunyian Sean untuk menyerang balik pria itu secara tiba-tiba.
Sean bersama anggotanya berdiri dikelilingi oleh anggota White Rose sambil mengangkat senjata mereka.
Sean tidak mungkin diam saja, ia memberikan perlawanan dan mengetatkan strategi, Genta bukan orang yang mudah ditipu, siasatnya begitu apik.
"Sean!! Ucapkan kata terakhir mu sebelum ajal menjemput mu!!"
"Sialan kau Genta!!! Akan ku kirim kau menemui ayah mu yang bodoh itu di neraka, hahahha!!"
"Kau tidak ingin menyerah rupanya. Tidak apa, kita lihat siapa yang akan ke neraka lebih dulu." Setelahnya pertempuran bersenjata tersebut tak dapat terelakkan lagi.
Masyarakat yang mendengar suara tembakkan saling bersahutan semakin dibuat panik.
Mereka bertempur gila-gilaan, dan saling menembak satu sama lain tidak peduli dengan nyawa orang lain.
Genta terus mengejar Sean yang melarikan diri masuk ke dalam bangunan tua ketika pasukannya harus terpukul mundur. Ia memberikan beberapa tembakan tapi dapat dielak oleh laki-laki tersebut.
Ia melihat Sean yang sudah lari dan bersembunyi di dalam gedung tua yang terbengkalai. Genta menarik napasnya dalam dan mengejar orang tersebut dengan langkah cepat dan melompati jebakkan yang dibuat Sean.
Ia meneliti sekitar mencari persembunyian Sean. Matanya begitu jeli mengamati sekitar sambil melangkah pelan.
Genta berhenti ketika telinganya peka jika ada bahaya di sekitarnya. Ia tersenyum tipis nyaris tak dapat dilihat.
Ketika seseorang ingin menembak dirinya dari dalam persembunyiannya, Genta lebih dulu menembak orang itu hingga Sean merintih kesakitan.
Genta menatap Sean yang bersembunyi di sudut ruangan itu dan hendak menangkapnya.
Tapi, lelaki tersebut lari sebelum Genta berhasil menangkapnya dengan luka tembak di perutnya. Genta tidak menyerah begitu saja, ia mengejar orang itu dengan sekuat tenaga, melewati rintangan yang dibuat Sean.
"Kau tidak akan bisa lari dari ku," tawa Genta sambil mengejar orang tersebut dan melompat ke lantai bawah tanpa takut sama sekali.
Ia menembakkan timah panas miliknya pada Sean yang sedang dikejarnya, sangat sayang hanya satu peluru yang menggores kakinya.
Sean menggeram ketika pertahanannya semakin lemah. Ia mengumpat dan menatap ke belakang. Demi memberikan kelancaran dirinya lari dari pria tersebut ia melemparkan barang-barang besar di jalanan hingga sukar Genta melewatinya.
Ia melihat ada tempat persembunyian. Napasnya memburu dan tanpa berpikir lama ia bersembunyi di sana.
Sean menutup suara dan diam seakan-akan tempat itu sunyi. Ia mengusap dadanya dan merasa aman. Beberapa kali terdengar helaan napas dari pria itu.
"Kau kira aku tidak akan menemukan mu?" Sean terkejut dan sedikit demi sedikit ia menoleh dan melihat Genta yang menyeringai sambil menodongkan senjata. "Ucapkan kata terakhir mu."
Sean sama sekali tidak ingin berbicara. Diam-diam ia meraih pistolnya dan ingin mengarahkannya ke pria tersebut.
"Fisik mu sudah lemah, kau buka tanding ku!! Baiklah jika kau tidak ingin mengucapkan sesuatu. Tidak apa."
Sebelum Sean membunuhnya ia lebih dulu menembak dengan beberapa peluru dan bersarang di tubuh Sean.
Sean merasakan aliran tubuhnya tidak berfungsi, semaki lama semakin ia merasakan sakit yang luar biasa, ia sadar sebentar lagi ajalnya.
"Kau!! Aku meminta mu untuk menjaga adik ku, meski aku memiliki pekerjaan seperti ini, dia harus tetap dikasihani, uhuk-uhuk." Sean memuntahkan cairan darah begitu banyak.
Tidak lama tubuhnya lunglai dengan mata melotot. Genta menarik napas dan seketika air matanya keluar menembus pertahannya, ini bukanlah hal yang ia inginkan.
Tapi pria itu memang benar-benar keji menipulasi dirinya dan keluarganya. Kejahatan Sean tidak bisa dimaafkan, pria itu penyebab pertengkaran William dan Miguel, ya karena pengaruh hasutan Sean yang berambisi ingin menguasai Black Rose dan dunia.
"Ya, akan ku jaga untuk mu!"
________
Alice sudah memasuki kehamilan sembilan bulan dan sebentar lagi tidak tahu kapan ia akan segera melahirkan.
"Mama apakah dia akan baik-baik saja di sana?" tanya Adaire sambil menatap perut sang ibu, dia juga ikut mengusap perut Alice.
Alice terkekeh dengan celotehan putri kecilnya itu. Ia mengusap rambut sang anak penuh kasih sayang. Anaknya begitu lugu dan masih polos wajar ia menanyakan hal semacam itu.
"Ya dia pasti akan baik-baik saja."
"Kata Mama sebentar lagi dia akan keluar dan menemui ku dan Adaire."
Alice mengangguk membenarkan ucapan Drake. Ia sangat senang dengan antusias kedua anaknya yang tidak sabar menyambut adik mereka.
Senyum Alice pudar ketika mendengar berita dari tv yang menyala di depan mereka. Alice menatap ke dalam layar lebar itu dengan napas tertahan.
Berita tersebut mengatakan jika calon wali kota Dante tertembak ketika berpidato dan pembunuhan masih diselidiki.
Dada Alice bergemuruh kencang, ia sangat tahu siapa pelakunya. Tidak disadari ia menangis sesugukan membuat kedua anaknya tidak mengerti dengan sikap sang ibu.
Berita selanjutnya makin membuat Alice terkejut, ia melirik ke tv itu lagi. Kini lebih mengejutkan dari sebelumnya, peperangan terjadi begitu hebat di sana.
Ia harap suaminya itu akan baik-baik saja, Alice tidak rela jika sesuatu terjadi pada suaminya. Inilah hal yang ditakutkan Alice jika Genta ikut campur dengan dunia bisnis.
"Mama!!" teriak Drake sangat kencang tat kala sang ibu merintih merasakan sakit.
Air ketuban yang sudah pecah itu mengalir di pangkal paha Alice. Adaire memanggil seluruh penjaga dan segera membawa sang ibu menuju rumah sakit.
Adaire telah menangis karena takut, sedangkan Drake berusaha tenang dan tidak bersedih untuk sementara. Ia harus mengurus ibunya sesuai perintah ayahnya.
Beberapa menit kemudian.
Alice langsung ditangani oleh suster ruang sakit itu dengan cepat. Mereka mendorong brankar menuju ruang bersalin.
Drake memeluk Adaire dari depan. Beberapa kali ia mengecup kepala sang adik.
"Hey tenanglah ibu di sana pasti akan baik-baik saja. Percayalah dengan ku," ujar Drake yang menenangkan Adaire bergetar ketakutan.
"Apakah ucapan mu meyakinkan?"
"Ku jamin."
Lama mereka menunggu di depan ruangan bersalin tersebut tiba-tiba terdengar suara bayi yang menangis kencang.
Drake membuka matanya dan tersenyum bahagia. Ia membangunkan Adaire yang tertidur di sisinya itu.
"Bangunlah, adik kita sudah lahir," antusias Drake dan menerobos ruangan itu tanpa izin dari dokter.
Dokter tersenyum melihat Drake dan Adaire yang masuk ke dalam. Mata Drake melihat sang ibu yang pucat dan telah menutup mata.
"KENAPA IBU KU?" marah Drake dan menggoyangkan tubuh dokter tersebut.
"Hey adek kecil tenanglah, ibu mu baik-baik saja, hanya saja dia kelelahan dan pingsan, sebentar lagi ia pasti sadar."
Adaire menarik tangan Drake dan mengusapnya pelan, Drake melirik Adaire dan tersenyum tipis.
"Perkataan mu bisa ku pegang, bukan?"
"Silakan."
Drake melihat bayi yang dibawa suster dan telah dibersihkan. Suster itu memberikan Drake dan Adaire melihatnya.
"Dia sangat tampan seperti ku," bangga Drake dan tidak henti tersenyum.
Brakk
Ruangan itu dibuka paksa oleh seseorang. Semua mata terpusat pada pelakunya. Genta dengan napas terhela cepat berlari ke arah ranjang istrinya.
"Kenapa dengan istri ku? Di mana anak ku?"
Genta bernapas lega melihat bayinya di gendongan suster. Ia meraih tubuh kecil itu dan mengamatinya begitu intens.
Senyum Genta merekah melihat Alice yang perlahan mulai sadar.
"Ge-genta?"
"Ya aku."
"Dimana bayi ku?" Alice menatap tubuh kecil yang berada di dalam gendongan Genta.
Genta memberikan Alice ruang untuk melihat anaknya.
"Dia sangat tampan," kekeh Alice.
"Kau akan memberikan namanya siapa?"
Alice tampak tengah berpikir, "Andreas Manuel Miller," ucap Alice begitu antusias.
"Sangat bagus. Aku menyukainya," tutur Genta dan tertawa.
Mereka begitu diliputi rasa bahagia. Semua yang ada di dalam ruangan tersebut tersenyum merekah.
Perjalanan ini sudah berakhir, banyak hal yang telah mereka lewati. Canda, tawa, dan tangisan semua mereka lalui hingga ke titik ini. Semoga kebahagiaan selalu memberkati mereka.
________
TAMAT
Terimakasih semuanya yang telah mengikuti novel ini dari awal. Btw nanti aku kasih ekstra part ya.
Minal Aidzin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin.