My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 37



Brakkk


Suara nyaring dari pukulan keras antara meja dan tangan yang saling beradu memenuhi ruangan yang hening. William mendidih ketika ia kehilangan salah satu dokumen penting berisi aset setengah dari sahamnya.


Pria itu menghamburkan benda yang tersusun rapi di atas meja kerjanya. Pria itu memanggil anak buahnya yang berjaga lalu melayangkan pukulan dengan tiba-tiba tanpa alasan.


Para bodyguard itu pun langsung ketakutan dan menunduk. Mereka hanya pasrah ketika menjadi bahan mainan aniaya oleh William.


"Hentikan Tuan!!" suara dingin itu sukses membuat William menghentikan perbuatannya.


Ia menatap ke arah orang tersebut lalu melayangkan tatapan mengintimidasi. Tanpa terduga ia mencengkram kasar kerah baju Sean.


"Kenapa dokumen itu bisa hilang? KENAPA?!"


Mata Sean melotot ia pun tidak mengetahui sama sekali jika benda berharga itu bisa hilang. Ia melepaskan tangan tuannya tersebut dari bajunya.


"Maksud Anda Tuan?" tanya Sean yang juga sangat penasaran kemana arah hilangnya dokumen tersebut.


Napasnya memburu dan wajahnya mengerut cemas. Ia berusaha tersenyum seperti tengah menutupi sesuatu.


"Apa kau berpura-pura bodoh?! Katakan di mana letaknya?"


"Saya tida tahu Tuan, bukannya anda sendiri yang menyimpannya?"


Apa yang dilontarkan Sean benar adanya. Memang dokumen itu bersama dirinya, tapi saat ia ingin mengambil dokumen itu lagi ia tidak menemukan benda tersebut.


William melirik Sean dengan intens. Memang tidak sepatutnya ia mempercayai orang-orang disekitarnya. Terlalu banyak pengkhianat yang ditempatkan di keluarganya.


"TUAN! Nona Muda kabur dari rumah!" teriak Lina dengan panik, matanya berkaca-kaca saat mengatakannya.


Sean terkejut langsung melirik Lina. Apa katanya? Alice kabur? Bagaimana bisa? Sean menatap William yang bergegas mencek seluruh ruangan. Pria itu menyuruh anak buahnya menemukan Alice dan mencarinya di mana pun.


"Bawa Alice pada ku. Jika tidak, kalian semua akan aku pecat!" ujar William dan menegaskan di setiap katanya.


Sean meneguk ludahnya kasar. Lantas ia terburu-buru menuju mobilnya dan melakukan pelacakan.


Namun sebelum perintah itu dilaksanakan ia menghubungi seseorang terlebih dahulu.


Ia mengambil ponsel pintar miliknya di dalam saku celana. Ia menekan salah satu nomor yang tidak bernama di kontaknya hingga telepon itu tersambung.


"Sial*n dokumen itu hilang!"


"Kenapa bisa? Cepat temukan dokumen itu, jangan biarkan siapa pun yang mengambilnya. Sepertinya William ingin bermain-main bersama kita."


"Ya pasti akan ku cari. Ada yang lebih gawat lagi, Alice menghilang. Kau pelakunya?"


"Apa maksud mu? Tentu tidak."


Tutt


Sean mematikan sambungan telepon tersebut lalu masuk ke dalam mobil miliknya dan menghubungi beberapa orang untuk membantu pekerjaannya.


Ia memijat pusing kepalanya, siapa kira-kira yang telah mengambil dokumen penting itu?


Tidak sengaja ia bertatap muka dengan Damian. Damian tersenyum tipis kepadanya, Sean sangat tahu jika senyum itu palsu.


_______


Genta tersenyum ketika membuka mata pemandangan pertama yang ia lihat adalah Alice yang sedang terlelap di sisinya.


Mereka baru saja meninggalkan New York. Kini keduanya pun telah hidup bersama dengan keluarga kecilnya di sebuah desa terpencil.


Meski kehidupan mereka sederhana tetapi Genta sangat bahagia. Ia tidak masalah karena sudah terbiasa dari kecil ia merasakan hal semacam ini yang ia khawatirkan hanya satu, Alice.


Perempuan itu selalu hidup dengan bergelimangan harta. Ia tidak pernah tidur di rumah gubuk seperti ini yang jauh dari kata layak.


ia senang ketika Alice ingin melepaskan semua yang perempuan itu miliki demi dirinya, anak-anaknya.


Tangan Genta terangkat untuk mengusap wajah Alice. Pipi itu sangat lembut selembut sutera, dan jemarinya berhenti pada bibir Alice.


Ia tersenyum menatap bibir merah itu. Malam tadi ia terlalu rakus hingga bibir Alice membengkak.


Masih terdapat jejak-jejak percintaan mereka di area leher Alice. Wajah Genta bersemu merah membayangkan malam tadi yang penuh kenikmatan.


Alice telah mengizinkan dan dirinya pula yang kecanduan. Ia berharap dapat selamanya seperti ini.


Senyumnya mengembang melihat wajah Genta yang tampan. Genta turut membalas senyuman menawan itu.


"Aku terkejut kau sangat buas tadi malam," goda Genta yang membuat wajah Alice bersemu merah.


Ia menutup wajahnya dengan selimut sembari menahan malu. Genta terkikik melihat tingkah Alice.


Alice terpekik melihat tubuhnya tanpa busana dan dari dalam selimut ia bisa melihat tubuh Genta yang sama polos seperti dirinya.


"Kenapa? Bukan kah kau sudah melihatnya, baby?" Dengan jahil Genta mencolek pipi Alice yang memerah tersebut.


Alice tidak tahu harus menyembunyikan di mana wajahnya sekarang. Ia sudah terlalu malu menghadapi kejahilan Genta.


"Kau bisa diam? Aku malu," ujarnya dengan suara lirih.


"Apa kita akan mengulangi kembali?"


Alice terkejut seraya langsung duduk dan melemparkan bantal ke wajah Genta. Ia sangat kesal kepada pria itu hingga tidak menyadari jika selimutnya melorot.


Mata Genta tidak lepas dari pemandangan indah yang tersaji beberapa senti dari matanya. Menyadari kemana arah tatapan Genta, ia pun langsung salah tingkah dan hendak kabur.


Tapi tubuhnya ditahan dan bibirnya langsung disambar oleh laki-laki itu. Alice tidak kuasa menahan gejolak gairah yang memuncak, ia lemah dibawah kuasa Genta.


Suara ******* memenuhi ruangan tersebut lagi-lagi kegiatan malam mereka terulangi kembali di pagi ini.


______


"Pa kok di sini hutan semua?" tanya Adaire heran melihat rumah orang sangat sedikit di kawasan ini.


Keheranan itu tidak hanya dirasakan oleh Adaire, Drake kakaknya pun merasakan hal yang sama. Ia menatap kedua orangtuanya juga sama herannya.


"Sekarang kita sudah pindah sayang. Nanti Adaire dan Drake akan bersekolah juga di sini."


Drake tidak suka mendengar kabar itu karena sekolah yang sekarang berbeda dengan sekolah lamanya. Ia telah mendapatkan banyak teman di sekolah lamanya, di sekolah sekarang ia tidak tahu siapa saja temannya.


Berbeda dengan Drake, justru Adaire paling antusias. Ia akhirnya akan bersekolah, wajah girangnya membuat Drake kesal.


Tangan mungil Drake memukul Adaire hingga anak perempuan berkepang dua tersebut mengaduh sakit.


"Auuu."


"Drake kau tidak boleh melakukan itu kepada adik mu!" nasehat Genta memarahi Drake yang berlaku kasar kepada Adaire.


Drake seolah tidak mendengar apa yang dikatakan Genta. Ia menatap sinis Adaire, dan anak itu balas memandangnya dengan senyum mengejek.


"Malam ini kau tidak boleh tidur dengan ku! Bawa boneka sampahmu itu!" pungkas Drake kesal dan pergi meninggalkan ruang makan seraya berjalan sambil menghentakkan kaki.


"Drake sekali lagi kau mengatakan boneka sampah aku akan mendiamkan mu!!!"


Itu bukan suara Adaire melainkan Alice yang tidak terima boneka dihina oleh anaknya sendiri. Adaire tersenyum lebar melihat sang ibunda memarahi Drake.


"Terimakasih mama," ujar Adaire yang masih canggung saat haru mengatakan Alice dengan sebutan Mama.


Alice mengusap kepala Adaire dengan sayang. Ia menyuapi anak itu yang disambut hangat oleh mulut Adaire.


Genta yang merasa terabaikan cemberut di samping. Ia menatap kesal Alice yang tidak peduli padanya.


"Aku juga ingin disuapi denganmu."


Alice mendengus dan memandang tajam Genta. Ia dengan terpaksa menyuapi pria itu, namun sebelum makanan tersebut benar-benar masuk ke dalam mulut pria itu, Alice terlebih dahulu menyuapkan ke dalam mulutnya.


"Ish kau ini."


"Hahaha Papa!" Itu adalah suara gelak tawa Drake yang dari tadi diam-diam bersembunyi.


_______


Tbc


Jangan lupa buat baca karya temen aku juga ya man teman