My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 67



"Hahaha aku tidak menyangka ibu mu asyik juga orangnya," ujar Alice seraya merebahkan tubuhnya yang terasa remuk itu ke kasur lebar yang menyangga tubuhnya.


Ia menatap suaminya sembari tersenyum untuk pria itu. Genta tidak dapat jika mengabaikan senyuman tersebut terlalu indah untuk diabaikan, ia lantas membalasnya dan mendekati Alice.


Ia mencium seluruh permukaan wajah sang wanita lalu membawa tubuh Alice ke dalam pelukannya. Pipi Alice yang akhir-akhir ini agak berisi itu habis menjadi korban hujaman ciuman bertubi-tubi dari pria tersebut.


Alice berusaha menghindar dengan cara mendorong tubuh Genta ke samping. Tapi tenaganya harus kalah saing dengan pria ini.


Alice menarik napas panjang lalu pasrah dibawah kendali Genta. Ia hanya mampu menunggu Genta lelah dengan kegiatannya.


"Genta lepaskan aku!!" marah wanita itu dan bergerak liar di dalam pelukan Genta.


"Tidak mau sayang," balas Genta sembari menggigit wajah chubby milik Alice, "wajah mu sangat menggemaskan."


Genta tak henti menjawil pipi Alice. Ia mencubitnya dan memutarnya bak mainan. Wajah Alice bahkan sampai memerah karena ulahnya.


"Sampai kapan kau akan membuat wajah ku seperti ini Genta," melas Alice dengan suara lirih karena Genta akan luluh melihat matanya yang berkaca-kaca, tidak tahu saja jika itu hanya jebakan.


Genta pun melepaskan Alice dan meminta maaf pada wanita tersebut. Sungguh salah sekali jika ia mencari lawan dengan Alice.


"Maafkan aku baby."


Akhirnya lepas juga ia dari belenggu menyesatkan ini. Alice menarik napas sebanyak mungkin lalu beranjak dari kasur. Ia mengganti pakaiannya di depan Genta tanpa rasa malu sedikitpun.


Genta melihat pemandangan yang disuguhkan itu pun harus meneguk ludah kasar. Pemandangan di depannya ini sukar untuk dialihkan karena terlalu menggiurkan.


Selesai mengganti bajunya, Alice berbalik dan menghembuskan napas kesal ketika melihat barang milik suaminya tegak berdiri dan mengembung.


Alice muak kenapa milik suaminya itu terlalu baperan. Padahal yang salah Alice sendiri mengganti pakaian di depan pria normal.


"Baby aku mau kau!!"


"Bajingan aku tidak mau!!"


Genta menarik napas panjang lalu mengercutkan bibirnya. Ia membuat wajahnya se-menggemaskan mungkin dan memohon bak bocah meminta permen.


"Baby mau yah?!!"


"Ajarkan barang mu agar tidak baperan!"


"Hm, biarkan saja. Dia baperan hanya kepada pemiliknya saja."


Alice memutar bola matanya mendengar kata-kata vulgar yang dituturkan sang suami. Ingin sekali ia menyumpali mulut pria itu.


"Genta!!" Wajah Alice bak kepiting rebus mendengar pernyataan Genta yang tidak tahu malu itu. "Genta, kau masih berhutang penjelasan dengan ku."


Tiba-tiba wajah Genta menjadi murung. Napasnya memburu dan terlihat kilatan amarah di bola matanya. Tangannya terkepal.


Senyum tipis tersungging di bibirnya. Padahal ia berharap Alice sudah melupakannya tapi nyatanya wanita itu masih mengingatnya. Yah tentu saja Alice tidak akan lupa.


"Kau tidak ingin menjawab ku?"


"Aku belum bisa memberitahu mu."


"Baiklah." Alice pergi dari kamar dan membanting pintu kencang hingga menimbulkan keributan.


Genta tidak mencegah membiarkan saja Alice pergi. Ia menatap pintu itu dengan pandangan lelah. Tangannya mengepal karena masih tersisa rasa geram dengan orang yang telah berani mempermainkannya.


Flashback on


Orang itu membawa Genta ke sebuah ruangan. Ia duduk berdua dengan orang yang telah membuatnya berada dalam situasi ini.


"Apa maksud dari semua ini?"


"Kau masih kurang menguasai Genta. Kau seharusnya tidak boleh lemah karena hanya diancam. Kau harus merelakan orang-orang yang kau sayang supaya bisa menjadi ketua Black Rose," nasehat orang tersebut dan tangannya sibuk memainkan sebuah benda mirip dengan senapan.


"Seperti ayah ku yang membiarkan aku dibawa dan ibu ku meninggal? SEPERTI ITU!?"


"Kau sudah besar seharusnya mengerti."


"Aku tidak bodoh seperti Miguel."


"Ku rasa kau lebih bodoh darinya."


Genta menatap geram orang tersebut dan meninju wajah orang itu seraya menendang tubuhnya hingga membuat orang tersebut tersungkur.


Tapi itu tidak membuat pria tersebut kalah, ia dengan mudah mengendalikan Genta hingga Genta berada dalam perangkapnya.


"Ilmu bela diri mu juga masih kurang. Jika kau terus begini maka musuh akan dengan mudah membunuh mu."


"Aku tidak peduli."


"Sebagai ketua Black Rose tentu kau harus peduli."


Genta mendengus, ia kehabisan kata-kata. Ia diam dengan perasaan dendam yang membara.


"Kenapa kau membunuh Elizabeth? Apa salahnya dia dengan mu!!"


"Dia telah menghalangi jalan ku. Dia ingin merusak rencana yang aku susun," sahut pria tersebut seraya menepuk belakang Genta.


Ia sengaja membunuh Elizabeth agar tidak menjadi halangan dalam dirinya mencapai tujuan. Elizabeth salah besar ketika mendapatkan tugas malah jatuh cinta dengan orang tersebut.


"Dia berniat ingin mengatakan semuanya. Tapi ternyata kau sudah mendapatkan ingatan mu."


"Maksud mu?" tanya Genta tidak mengerti. Ia semakin penasaran ada hubungan apa istrinya dengan orang ini. "FUC*K KATAKAN!!"


Genta menarik kerah baju laki-laki itu dan berusaha mengancam.


"Kau tahu? Elizabeth hanyalah mainan ku. Ketika aku tahu kau masih hidup dan kehilangan ingatan mu, aku sengaja meminta Elizabeth dan orangtuanya agar menjadi peran penting dalam hidup mu. Aku menyuruh Elizabeth menikah dengan mu, agar aku bisa mengendalikan mu. Tapi ternyata wanita itu malah berniat memberitahu semuanya kepada mu dan ingin menghalangi jalan ku. Dia terlalu bodoh jatuh cinta dengan mu. Kau tahu? Elizabeth meminta mu untuk belajar menggunakan senjata, bisnis dan bela diri itu adalah karena aku yang menyuruhnya, agar kau sudah menguasai itu ketika memimpin Black Rose! Ah, ya kenapa harta Elizabeth diberikan kepada mu, karena itu memang warisan mu. Itu semua bukan hartanya tapi milik ayah mu."


Kilatan amarah sudah tak dapat terkendalikan lagi. Genta yang diliputi rasa geram itu memukul orang yang berbicara seenaknya itu membabi buta. Kenyataan ini sulit diterima.


Flashback of


Genta mencengkram rambutnya kuat sementara suara deru napasnya memenuhi ruangan sunyi itu.


Tiba-tiba suara dobrakan pintu memecahkan keheningan tersebut. Genta mengangkat kedua alisnya melihat Alice yang datang dengan air mata bersimbah.


Ia tidak mengerti kenapa Alice menatapnya begitu tajam seolah tengah dirundung emosi berat.


Wanita tersebut berjalan ke arahnya dengan tangan terkepal.


Plakk


Tamparan yang diterimanya membuat Genta merasakan sakit di sekujur pipinya. Ia menyentuh bekas telapak tangan Alice yang sudah menamparnya tersebut.


Ia memandang wanita itu penuh tanda tanya. Sementara Alice marah sambil menitikkan bulir air mata.


"Katakan yang sebenarnya. Apa benar kau menjadi ketua Black Rose?!!" interogasi Alice yang merasa kecewa dengan kebenarannya.


"Maafkan aku," gumam Genta dengan muka tertunduk.


"GENTA!!!" tangis Alice seraya memukuli dada Genta dengan tangan mungilnya.


Ia tersungkur di lantai dan berteriak dengan suara pilu. Ia mencengkram dadanya dan menggeleng kepala kuat berharap apa yang di dengarnya salah.


"Kau tahu itu berbahaya Genta!!! Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi!! Tidak Genta!! Hiks, sayang ku!! Aku takut."


"Baby tenanglah, aku pasti bisa mengurusnya. Aku terpaksa tidak ada pilihan lain, jika aku menolaknya maka kau, ibu dan anak-anak kita akan terancam. Maafkan aku."


______


Tbc


Hay teman-teman jangan lupa komen yang banyak yah biar bisa dilanjutkan 🥺🥺 soalnya semangat dari kalian berpengaruh dengan kelanjutan novel ini.