
Alice dengan panik memasuki ruang kamar inap Genta usai diperiksa. Pria itu belum juga sadarkan diri bahkan racun yang bersarang dalam tubuhnya dikategorikan racun berbahaya.
Para suster sibuk mencari obat penawar dari racun itu. Hingga mereka menemukan salah satu stok yang ada di dunia. Di kabarkan jika stok itu hanya ada beberapa di dunia.
Alice meminta Daniel membeli obat tersebut berapa pun harganya yang penting nyawa Genta terselamatkan.
Baginya uang sekarang tidak penting keselamatan Genta lah yang nomor satu. Ia tidak tahu siapa yang telah berniat menjatuhkan suaminya itu, yang pasti ada hubungannya dengan organisasi gelap yang dipimpinnya.
Benar dugaan Alice, organisasi itu akan membawa dampak buruk bagi keluarganya dan karena alasan itu pula ia melarang Genta masuk dalam organisasi tersebut.
Sekarang dirinya hanya mampu meratapi tubuh yang tak bergerak sama sekali bak mayat hidup tersebut. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menangisi dan berdoa kepada yang kuasa.
Harapan selalu ia utarakan dan panjatkan, hanya kepada Tuhan ia memohon sebelum semua itu terlambat, tidak ada salahnya bukan?
Alice setia menggenggam tangan sang suami dan tertidur di sisinya. Ia mengabaikan kesehatan dan penampilannya demi selalu berada di sisi Genta menunggu sang suami kembali kepadanya.
Tidak ada kata lelah di dalam kamus Alice semua dilakukan dengan suka rela. Tidak peduli lelah yang menjadi lawannya.
Ia meminta Tera mengurus kedua anaknya di rumah biar saja ia yang berjaga di sini. Ia ingin selalu berada di samping pria ini.
Entah kapan obat penawar itu akan sampai. Yang pastinya harus secepatnya karena Genta sangat membutuhkan obat tersebut segera mungkin.
Mungkin terlambat satu detik saja maka berakhirlah kisah semua ini stop sampai di sini saja. Tapi Alice berusaha tidak membiarkan itu terjadi. Masih panjang lagi perjalanan mereka.
"Genta ku mohon bangunlah," tangis Alice pecah kala tak mendapatkan jawaban dari sang suami. Hanya napas terputus-putus yang didengarnya.
Bahkan napas Genta sekalipun tidak stabil, dan hal tersebut kian memberikan Alice merasa gugup dan takut.
Penampilannya susah untuk dijelaskan saking tidak terurusnya, bahkan kantung mata cukup besar dan hitam di bawah matanya karena jarang tidur dan lebih sering menangis.
Paginya ia selalu melayani Genta dan memberikan sapaan selamat pagi. Tapi sama sekali tidak ada sahutan dari pria itu. Semuanya terasa mimpi, dan Alice berharap segera terbangun dari mimpi buruk ini.
Wanita itu membersihkan tubuh Genta sangat hati-hati. Ia akan membuat penampilan Genta tetap terjaga.
Tubuh Genta juga pucat dan membeku seperti es akibat efek dari racun tersebut. Dokter hanya memberikan obat pereda nyeri tapi tidak dengan penawar.
Genta bisa bertahan beberapa hari lagi dan para dokter berusaha semaksimal mungkin membantu Genta bertahan dalam kondisinya.
"Bagaimana keadaannya?" kata seseorang yang baru saja datang.
Alice melirik orang tersebut dan mengerutkan alisnya pasalnya ia tidak tahu siapa orang ini dan ia juga belum melihat orang tersebut sebelumnya, namun tetap saja ia tampak terlihat familiar dengan orang ini.
Alice menghapus air matanya dan menatap orang tersebut. Ia tersenyum kecil kepada orang itu, mungkin teman Genta.
"Aku tidak tahu, aku sangat khawatir. Dokter mengatakan Genta hanya bisa bertahan beberapa hari lagi."
Orang tersebut menghela napas seraya tangannya mengepal. Ya laki-laki tersebut tak lain adalah orang yang mendapatkan amanat dari Miguel untuk menjaga putranya.
"Damian!!" cicitnya hampir tidak terdengar.
Alice melirik orang tersebut ketika mendengar gumaman geram dari pria itu. Ia sangat penasaran apa yang telah dikatakan orang itu.
"Apa maksudmu?"
"Sudahlah lupakan."
Orang itu membuka topinya dan melirik Genta prihatin. Ia tahu pasti musuh telah melakukan pergerakan, ia tidak akan membiarkan itu.
Sementara Alice tahu benar orang ini meskipun tampangnya sulit dikenali. Ia ketakutan dan berjalan mundur dengan tubuh bergetar.
Laki-laki itu yang menyadari hal tersebut heran dengan reaksi Alice. Ia pun mulai sadar dan memandang dingin Alice.
"Kau tahu siapa aku?"
Alice mengangguk pelan, "pa-paman Se-sean!"
Napas Sean terhenti ketika identitasnya diketahui. Ia cukup memuji Alice ketika wanita ini mudah menebaknya.
Sean mengunci pergerakan tubuh Alice dan menghimpitnya ke tembok. Ia membekap mulut Alice hingga perempuan itu merasa kesulitan bernapas.
Sean mendekatkan mulutnya tepat di samping telinga Alice dan membisikan sesuatu.
"KAU SUDAH TAHU RUPANYA!! INGAT JANGAN KATAKAN PADA SIAPA PUN!! KAU PAHAM ALICE?!" Sean memberikan penekanan di setiap bisikan kalimatnya.
Alice menjauhkan tangan Sean yang membekap mulutnya itu dan menghirup udara rakus ketika terlepas dari belenggu tersebut. Ia menatap sengit Sean.
"Kau yang melakukan ini?"
"Bukan aku. Tapi orang yang ingin menjatuhkan Black Rose, bisa saja dari pihak mu," sindir Sean sembari mengambil air minum.
Alice tidak terima karena Sean ingin menuduhnya. Ia tidak mungkin mencelakakan Genta, sangat tidak mungkin. Ia menyayangi pria itu.
"Jangan asal berucap kau!!"
"Aku tidak ngasal berkata. Memang benar, bahkan kau tahu perusahaan suami mu terkena kasus korupsi, mungkin Mitra Crop akan mengalami lonjakan penurunan yang drastis. Pelakunya jelas Damian, KAKAK MU!!"
"Dia bukan kakak ku!" Alice tidak terima apalagi setelah tahu Damian menyimpan dendam dengan Genta, "KAU!! DAMIAN!!" Tangan Alice mengepal kuat.
_________
1 Minggu kemudian
Terdengar kabar jika perusahaan Mitra Crop kembali pulih akibat campur tangan Sean yang mengatasi semua masalah yang dialami oleh Mitra Crop.
Sean juga sudah menargetkan Damian yang berani bermain dengan Black Rose. Pria itu jelas akan menjadi buronan anggotanya, itu sudah pasti.
Sementara Genta sudah mendapatkan penawarnya. Hanya saja pria itu masih dalam proses penyembuhan. Ia juga belum tersadar karena kuatnya zat berbahaya dalam kandungan racun tersebut.
Drake dan Adaire sudah membujuk Alice tapi tetap saja Alice tidak menghiraukan. Ia tahu Drake dan Adaire juga sama kacaunya karena sedih melihat ayah mereka terbaring di ranjang rumah sakit.
"Alice! Istirahatlah terlebih dahulu Nak!" Tera merasa tersentuh melihat ketulusan Alice. Ia selalu membersihkan tubuh Genta di pagi hari bahkan perempuan tersebut tidak peduli bagaimana penampilannya.
"Tidak apa Ibu. Aku baik-baik saja."
Alice bak orang bodoh menunggu Genta bahkan kadang mengajak pria itu bercerita. Entah Genta mendengarnya atau tidak.
Senyum Alice mengembang ketika menelusuri tekstur wajah Genta yang bisa dikategorikan sempurna. Sungguh ciptaan Tuhan yang sangat menawan.
Alice tidak dapat berkata-kata kenapa ia bisa mendapatkan pria seperti ini. Bahkan ia sering merutuki kebodohannya karena dulu menolak Genta. Ia selalu tertawa sendiri kala mengingatnya.
Alice beranjak dari tempatnya dan hendak mengemasi kamar inap Genta. Ketika berdiri ia merasakan tubuhnya yang bergoyang dan seluruh ruangan berputar.
Tera langsung berlari sebelum tubuh Alice akhirnya tumbang. Ia meminta kedua cucunya yang menangis histeris melihat ibu mereka itu untuk memanggil dokter.
Lantas beberapa dokter datang dengan tergesa-gesa. Mereka menyiapkan brankar dan membawa Alice ke ruangan lain untuk diperiksa.
Tera meminta Drake untuk menjaga Genta dan ia pergi melihat kondisi Alice. Pasti Alice sudah kelelahan karena banyaknya hal yang harus ia kerjakan.
"Kau memang susah dibilang kan Alice!" sesal Tera seraya memasuki ruangan Alice.
Ia menunggu suster memeriksa Alice. Tampak wajah dokter yang menangani Alice itu berkerut, hal itu membuat Tera gugup.
Dokter itu menghela napas dan menatap Tera. Ia meminta berbicara berdua dengan Tera.
"Dok ada apa dengan menantu saya?"
Dokter itu tersenyum sembari meletakkan benda yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan itu di atas meja.
"Jangan biarkan menantu Anda kelelahan karena itu sangat tidak baik untuk perkembangan janinnya?"
"Hah? Maksud Anda Dok? Alice hamil?"
"Ya selamat Buk." Dokter itu mengulurkan tangan sebagai tanda ucapan selamat.
Tera ragu menyambutnya karena masih syok dengan apa yang didengarnya. Alice hamil dan itu artinya ia akan memilik cucu lagi, betapa senangnya ia.
"Te-terimakasih Dokter!" ujar Tera terharu.
Tera kembali ke ruangan Alice ingin menjenguk menantunya itu. Ketika ia kembali ternyata Alice sudah siuman.
Alice melihat Tera yang datang dengan wajah bahagia. Ia menyangka jika Genta telah bangun. Ia bangkit dan hendak berjalan.
"Ehhh Alice!!" larang Tera dan meminta Alice kembali berbaring.
Alice bingung dan menatap penuh heran Tera. Ia tidak mengerti kenapa Tera terus saja tersenyum. Apakah ada sesuatu?
"Ada apa Ibu?"
"Kau tahu Alice? Kau ternyata tengah mengandung. Drake dan Adaire akan memiliki adik lagi, dan aku akan mendapatkan cucu baru," antusias Tera dan mengecup puncak kepala Alice.
"Ma-maksud Ibu aku hamil?" Mata Alice berkaca-kaca karena terharu mendengar kabar tersebut.
Ia mengusap perutnya tidak percaya jika di sana telah tumbuh seorang janin. Dulu ia menolak kehamilannya berbeda dengan sekarang ia sangat bahagia menyambutnya.
Alice menangis karena tidak percaya Tuhan menitipkan seseorang di dalam rahimnya. Sangat menakjubkan.
"Nenek papa sudah siuman!!"
Alunan suara Drake membuat Alice semakin menangis karena tidak percaya akan keajaiban Tuhan. Ia beranjak dari tempatnya tidak peduli bagaimana kondisinya.
Ia berlari dengan semangat dan mendorong pintu kamar Genta. Genta tersenyum melihat Alice yang berlari ke arahnya.
"Genta!!" Alice berhambur ke dalam pelukan lelakinya.
Ia mendekap erat hingga terdengar suara rintihan dari Genta yang belum sembuh total. Alice tersadar dan cepat melepaskan dekapannya.
"Aku takut!!"
"Jangan takut sayang, aku tidak mungkin pergi dari kamu tanpa seizin kamu sayang! Pegang janji aku!"
Alice tersenyum lebar dengan bulir air mata tak henti luruh ke permukaan. Genta menarik napas dan mengusap jejak air mata sang istri.
"I love u sayang."
"Kamu kurang tidur ya sayang? Jangan begitu lagi. Aku tidak mau kau sakit!"
Alice tersipu melihat Genta yang sempat-sempatnya mengkhawatirkan orang lain dalam kondisi bertahan.
Ia mendekatkan bibirnya di telinga Genta, "aku hamil anak kamu sayang!"
Bisikan dari Alice sukses membuat hati Genta kembali cerah. Ia menatap tidak percaya sang istri dan tidak henti berterimakasih lalu mencium dalam bibir perempuan itu.
"Aku mencintaimu!"
"Aku tahu itu!"
__________
Tbc
Jangan lupa like dan komen yah manteman. Mohon banget kepada kalian🥺🥺