My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 75



Plak


Tamparan keras dari Sean menyadarkan Genta. Pria itu menyentuh bekas telapak tangan Sean yang bersarang di pipinya tadi.


Ia menatap tajam Sean sembari mendengus kasar. Emosi Sean meluap dan diri laki-laki itu tidak terkendali. Pria itu meninju tembok di belakangnya sambil menghirup udara dengan rakus.


Peluh yang jatuh dari dahinya sudah menjelaskan jika pria ini sangat marah. Kilatan matanya begitu berbahaya.


"APA KERJA MU?!! KAU TIDAK BECUS GENTA!! AKU MEMINTA MU MENGURUS BUDAK YANG DIBAWA DARI AFRIKA! DAN LIHAT SEKARANG?! KITA KECOLONGAN!!" marah Sean sembari menatap seluruh anggota Black Rose yang hadir di ruang rapat rahasia mereka.


Polisi telah mengendus kehadiran Black Rose, secara perlahan bisa saja identitas mereka akan terungkap. Sean tidak akan membiarkan semudah itu mereka menghancurkan Black Rose.


"Kau ingin menghancurkan organisasi turun temurun milik keluarga mu?"


Genta melirik Sean dan tidak berniat menanggapi omongan pria ini. Ia bukan pria bodoh yang mudah diatur.


"Tidak," bohong Genta seraya mengambil tempat duduk. Ia meraih cangkir kopi di depannya dan menegak habis cairan yang ada di dalam sana.


Tangannya mengepal dan menghentakkan kecil di atas meja. Sean melirik Genta dan mendengus kasar.


"Kau terlihat santai? Kau sengaja bukan? Kau ingin anak istri mu kenapa-napa?"


Genta menatap Sean tajam. Ia lantas berdiri dan mencengkram kerah jas Sean. Ia menatap pria itu penuh peringatan.


"Jika kau berani melakukan itu, aku tidak akan tinggal diam!" ujar Genta seraya pergi dari ruang rapat membosankan itu.


Ia tidak peduli, lagian juga itu bukan masalahnya, itu masalah Black Rose. Kenapa ia harus direpotkan, seharusnya Sean sadar bahwa ia menolak keras tapi dipaksa oleh pria itu untuk menjadi ketua.


Dor


Sedikit saja jika Genta tidak mengelak maka peluru itu akan menembus tangannya. Genta berbalik pelan.


"Apa maksudmu?"


"Kau ingin lepas tangan, heh?"


"Terus aku harus melakukan apa?"


Geraman Sean membuat seluruh penghuni panik. Ia ingin sekali meninju wajah Genta yang sama sekali tidak merasa bersalah.


"Kau harus ikut andil dalam masalah ini, kau seorang ketua seharusnya kau yang mengarahkan. Buktikan kesetiaan mu."


Genta pun berjalan kembali ke ruangan itu. Ia menatap seluruh penghuni di sana dengan dingin.


"Lalu? Aku tidak paham caranya."


"Jangan pura-pura bodoh," tukas Sean yang sudah terlampau kesal.


Sean melemparkan sesuatu di depan Genta. Genta mengambil berkas itu dan menatap Sean tajam. Ia membuka benda tersebut dan membaca setiap halamannya.


Ia terkejut dan menatap Sean tidak percaya. Tangannya meremas berkas tersebut kemudian membuangnya ke samping.


"Apa-apaan maksudmu?"


"Lakukan, jika tidak ingin keluarga mu bermasalah." Genta memutar bola mata malas, selalu saja ucapan basi itu yang ditodongkan kepadanya.


Dia pikir Genta akan takut? Cih ia menerima jabatan ketua pun bukan karena ia takut dengan ancaman tersebut, tetapi memang hanya itu jalan satu-satunya agar ia memiliki akses untuk menghancurkan Black Rose.


"Kau sudah tidak waras Sean? Kau tahu tidak ada gunanya kita bermain curang."


"Ada gunanya. Aku tidak mau tahu, misi pertama mu adalah menyusun rencana penembakan Thomas Leonard. Kau harus menyingkirkannya terlebih dahulu jika kau ingin partai mu menang."


Mitra Crop yang sebenarnya perusahaan dari Black Rose tersebut juga masuk ke dalam dunia politik. Tujuan mereka adalah agar pengaruh Black Rose dan akses mereka di negara ini semakin meningkat.


Mereka akan melakukan hal licik apa pun demi mendapatkan kepuasan. Genta membenci persaingan tidak sehat itu.


"Setalah itu kau harus melenyapkan calon urut tiga, Denta Alexis. Setelah mereka semua terbunuh maka tidak ada lagi yang akan menjadi saingan kita."


"Kenapa harus aku?!" marah Genta, ia tidak mungkin melakukan hal licik tersebut.


____________


Genta memasuki ruangan utama rumahnya. Pemandangan yang pertama menyambut pria itu adalah kedua anak kembarnya yang tampak akur tersebut tengah bermain bersama Angel.


Seberkas ulasan senyum terbit di bibirnya. Pria itu menghampiri mereka yang sedang bermain Uno.


Adaire dan Drake yang masih mengenakan pakaian sekolah tampak antusias. Sementara Angel yang menemani anak itu bermain hanya tertawa.


Ia mendongak ketika mendengar ketukan sebuah sepatu yang berjalan mendekat. Ia tersenyum melihat sang kakak yang sudah pulang.


"Bagaimana dengan hari ini?" tanya Angel seraya mengajak sang kakak duduk.


"Tidak ada yang menarik. Dimana istri ku?"


"Alice sedang di taman."


Genta mengangguk dan menghampiri kedua anaknya sebentar untuk mengecup dua puncak kepala anak itu.


Setelahnya ia beranjak meninggalkan tempat tersebut dan menuju taman. Senyumnya terukir melihat sang istri yang tengah menyiram bunga.


"Kenapa kau yang melakukannya?"


Suara yang masuk ke dalam gendang telinganya barusan membuat aktivitas Alice terhenti. Ia melihat sang suami sedang berjalan mendekat.


Alice memutar bola mata malas. Pasti peringatan yang sama, ia tidak boleh melakukan kegiatan ini dan dengan alasan yang sama pula karena ia sedang hamil. Genta pikir ibu hamil tidak boleh bekerja apa?


"Kenapa?"


"Kau bisa tertusuk duri." Genta memeluk tubuh Alice dari belakang. Ia mencium beberapa kali surai sang istri.


Tuh kan benar dugaan Alice. Pria itu pasti mengkhawatirkan hal-hal yang tidak seharusnya dikhawatirkan, Genta memang selalu berlebihan.


Ia juga sudah lelah menghadapi laki-laki tersebut. Harus ekstra sabar, dan tidak cocok untuk orang emosian bersuamikan orang sejenis Genta.


"Kau berlebihan Genta, aku tidak apa-apa."


"Kau ini, bisa jadi, kan?"


"Hm," timpal Alice yang sudah pasrah. Ia memutar tubuhnya dan tersenyum ramah pada pria ini.


Genta mengangkat kedua alisnya tidak mengerti dengan perubahan Alice. Wanita itu menggigit bibirnya seolah tengah menggodanya.


Genta pun merasakan sesuatu yang berdiri dari celananya. Pria itu mudah terangsang bila bersama istrinya.


"Baby, berhenti sebelum aku menerkam mu."


Wajah Alice berubah masam, ia menggeplak barang suaminya hingga Genta pun terkejut dan terpekik merasakan pukulan dari Alice di pusat tubuhnya.


"Akh!! Alice kenapa kau memukul alat pembuat anak-anak kita?"


"Genta hentikan!! Kau terlalu mesum. Ingat kau sudah tua." Alice mengingatkan Genta bahwa umur pria itu tidak lagi muda.


"Tidak apa aku tua yang penting istri ku masih muda, mana masih kencang lagi."


Mata Alice membulat dan ia langsung memplototi Genta. Bisa-bisanya pria itu berbicara tanpa berpikir dahulu.


"Kau!! Kau Genta.."


Ucapan Alice terpotong ketika tubuhnya merasa melayang di udara. Genta menggendong dirinya ala bridal style.


"Hari ini aku ingin bercinta dengan mu, sudah satu Minggu aku berpuasa. Sayang sadarlah menahannya begitu sulit."


Genta membawa tubuh kecil Alice ke dalam kamarnya. Ia meletakkan perempuan itu hati-hati di atas kasur lalu menyerangnya dengan buas tapi ia berhati-hati takut terjadi sesuatu dengan calon anaknya. Dan setelah itu hanya suara gairah mereka yang terdengar.


_______


tbc