
Suasana asri menyambut kedatangan satu keluarga di salah satu rumah mewah namun sederhana. Tampak wanita penuh aura kewibawaan keluar dari mobil Pajero sembari menggendong Grisson anaknya yang paling kecil.
Ia keluar dan berjalan terlebih dahulu mendahului para bodyguard yang mengapitnya di belakang.
Sean yang juga ikut di sana mendorong kursi roda nona mudanya Alice. Alice tampak murung dengan wajah pucat dan mata yang terdapat lingkaran hitam.
Tiara melangkah terlebih dahulu membuka pintu. Ia meneliti seluruh penjuru ruangan untuk memastikan anak buah suaminya tersebut tidak salah menyeleksi rumah.
Mata Tiara tak sengaja menemukan sedikit debu di kaca. Perempuan itu memejamkan matanya dan kemudian menatap Sean dengan tajam.
Sean yang ditatap pun tercekat, ia cepat langsung bertindak membersihkan debu tersebut. Ia tahu Tiara sangat suka dengan kebersihan dan tidak suka jika hal semacam itu ada di depan matanya.
Tiara menarik napas dan kembali masuk berjalan meneliti setiap sudut dan sekalian memikirkan ide untuk menata ruangan di rumah itu.
Sementara Alice bak mayat hidup terkulai lemah di atas kursi roda. Hanya ada raganya di sini tapi tidak dengan jiwanya. Bahkan wanita itu sama sekali tidak peduli dengan sekitar.
Alice menangis dalam diam saat kilasan bayangan pertemuannya di bandara tadi. Ia geram dengan pria itu yang tak menepati janjinya untuk mengakui semuanya di depan keluarganya, dan bodohnya lagi ia sendiri juga takut memberitahukan kepada keluarganya dengan apa yang telah dialami dirinya. Ia takut membuat sang ibu kecewa.
Tangan Alice mengepal kuat. Ia muak dengan keadaannya yang tidak berguna, lumpuh, bisu. Ia ingin bangkit dari penyakitnya dan melakukan balas dendam kepada Genta.
Ia tak lagi menghormati Genta seperti dulu, pria itu memang tak pantas mendapatkan hormat dari siapapun.
"Sean dimana kamar untuk putri ku?" Tiara tampak anggun aura elegannya begitu kuat menguak.
"Ada di sudut sana Nyonya."
Perempuan berumur tersebut mengangguk dan kemudian berjalan menuju kamar yang disediakan untuk putrinya Alice. Sean pun lekas membawa nona Alice ke sana.
Tiara memasuki kamar yang cukup indah dan luas. Suasananya pun cukup asri, dan letaknya yang strategis. Kamar itu penuh dengan peralatan medis.
Kenapa keluarga Arakhe hendak membawa Alice ke China sementara bisa saja mereka berobat di Amerika saja yang tak kalah hebat ilmu medisnya? Itu dilakukan agar mereka mendapatkan suasana baru dan juga ingin menenangkan pikiran. China negara yang cukup terkenal dengan ilmu medisnya yang hebat dan juga ampuh.
Ia yakin dengan melakukan terapi di China bisa membuat Alice secepatnya sembuh baik dari segi fisik maupun fisikologis. Tiara sampai sekarang masih mengira jika Alice yang murung dan sering berteriak ketakutan setiap malam adalah karena efek trauma dengan tabrakan yang membuatnya lumpuh.
Tiara meminta pengasuh Grisson untuk menggendong anak mungilnya. Lalu dirinya menata ruangan tersebut dengan sebaik mungkin agar dapat memberikan kenyamanan untuk putrinya.
Sean mengangkat tubuh ringkih Alice dan diletakkan di atas ranjang, seorang suster dan dokter yang telah disiapkan sebagai dokterĀ pribadi Alice pun memasangkan infus ke tangan Alice.
Dokter tersebut terdapat beberapa kali mengecek keadaan Alice. Alice dinyatakan baik-baik saja, dan ada sedikit kemajuan.
"Nyonya anak Anda sudah lumayan membaik dari sebelumnya, dan hibur anak Anda agar ia tak mengalami setres."
Tiara yang mendengar hal tersebut mengukir senyumnya dan mengangguk paham. Ia duduk di samping anaknya dan menatap sang putri dengan haru. Tangannya terangkat mengelus sayang kepala anak gadisnya itu.
"Sayang jangan sedih ya. Kamu pasti sembuh, nanti kalau kita sembuh Mama sama papa janji bakal ajak Tiara liburan dan buat toko boneka." Tidak ada jawaban sama sekali dari Alice seperti ia tidak sedang beradaada di sana.
Tiara menghela napas dan kemudian tersenyum masam. Hatinya pedih melihat putrinya yang murung dan tidak ada semangat hidup lagi.
Perempuan itu berusaha menghibur diri, ia tersenyum dan mengambil sebuah boneka panda cukup besar dan diletakkan di samping anaknya.
"Mama bawain kamu boneka. Coba kamu liat, bagus kan?" lagi tidak ada balasan dari Alice, bahkan ia menatap boneka pun tidak. Dan lagi-lagi pula Tiara harus menelan kekecewaan. "Sayang."
Ia meminta pelayan itu menyerahkan Grisson. Kemudahan Tiara membawa Grisson untuk melihat keadaan putrinya.
"Sayang Kaka cantik, kan?" ucap Tiara pada tuan muda Grisson.
Grisson tertawa nyaring melihat sang Kaka, tangannya bergerak dan terus diayunkan seperti hendak menyentuh kakaknya. Tapi sepertinya Alice benar-benar tidak peduli.
Tiara pun memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut. Ia meninggalkan Alice bersama pelayan pribadi wanita itu, Lina.
Ia ingin menguras semua emosi yang sedari tadi terpendam di jiwanya. Ia hendak menumpahkan semua masalahnya dengan menyendiri.
Kembali lagi dengan Alice. Wanita itu terbujur kaku di atas ranjang dengan mata yang menatap ke arah jendela. Sudah hampir setengah jam dan perempuan tersebut tak kunjung pula mengalihkan pandangannya, seolah ada sesuatu yang menarik di sana.
Tidak diketahui saja jika Alice sekarang sedang berperang batin di benaknya. Begitu banyak unek-unek yang ingin ia wujudkan sehingga ia menjadi setres dan berteriak bak orang gila.
Sesuatu yang bergejolak di dalam perut Alice membuat wanita itu merasa tak nyaman. Ia pun akhirnya mengalihkan pandangan, tangannya yang lemah mengusap area perutnya yang teramat menyakitkan.
Ia meringis, dan Lina yang melihat itu panik kalang kabut. Ia membantu sang nona dan mengambilkan obat yang diberikan dokter. Namun ia pun tak tau obat-obatan itu apa saja hingga akhirnya Lina memutuskan untuk memanggil dokter.
Sementara perut Alice sangat sakit hingga membuatnya hendak bergerak ke sana ke mari tapi tubuhnya tak mampu melakukan itu.
Sebelum melangkah Lina menyadari sesuatu, memang tidak ada bukti dan belum yakin dengan dugaannya. Tapi jika benar itu yang tengah dialami Alice bagaimana? Napasnya tercekat. Tubuh Lina bergetar, air matanya luruh.
"Tidak mungkin."
________
New York
Semenjak kepergian Alice beberapa Minggu yang lalu Genta menjadi pendiam dan lebih suka melamun. Ia juga sering melakukan kesalahan ketika bekerja.
Pria itu pun semakin tak terurus pula. Ia menjadi lebih sering menghabiskan gajinya untuk membeli minuman memabukkan.
Ia menjadi kecanduan dengan minuman tersebut dan hampir tiap malam ia mengkonsumsi seperti saat ini.
Genta meminum alkohol dengan langsung menumpahkan ke dalam mulut wine yang masih di berada dalam botol itu.
Ia meletakkan botol Alkohol tersebut ke lantai hingga berbunyi suara nyaring beradu antara botol kaca dengan keramik.
"Alice," lirihnya dengan suara lemah. Kenapa ini harus terjadi padanya?
Setiap mengingat perempuan tersebut maka setiap itu pula Genta meneguk wine dengan cukup banyak.
Ia terkulai di atas lantai kamarnya. Pikirannya selalu saja tentang Alice. Genta menarik napas dan berusaha mengenyahkannya.
Tapi baru saja ia hendak berdiri, Kepalanya langsung dirundung dengan kesakitan yang luar biasa. Genta berusaha tetap tegap dan berjalan menuju ranjangnya. Mungkin hanya efek dari mabuk-mabukan pikir pria itu.
_______
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN