My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 24



"Siapa dia?" tanya Sean dengan raut cemas sembari menatap ke arah sang pria yang terkulai lemas di lantai. Wajahnya sangat panik saat menatap pria yang menggenaskan itu.


Malang nasib pria itu, ia harus berakhir di bawah amukan dari William. Napasnya tersengal-sengal dan berhembus pelan seolah malaikat maut sudah berada tepat di depannya.


Hanya kepasrahan dan menunggu ajal itulah yang dapat dia lakukan. Sean meneguk ludahnya melihat darah segar yang mengalir dari beberapa luka milik pria itu.


Sementara Damian ia tidak dapat berdiam dengan tenang. Meski dalam keadaan tidak berbentuk lagi tapi Damian tau siapa pria itu.


Ia tidak mungkin menyelamatkan pria tersebut. Damian menatap pada William yang tengah tertawa gelak. Pria itu terlihat sangat senang karena akhirnya semenjak penantian lama ia menemukan siapa pelakunya.


"Nathan? Ku rasa ajal mu sebentar lagi." William merebut senjata milik Sean dan langsung menembakkan pistol tersebut ke kepala sang pria.


Nathan terkapar di lantai dengan darah bersimbah. Senyuman puas dari William tercetak.


"Kau bermain pada orang yang salah."


Mendengar nama Nathan yang disebut membuat Sean dapat bernapas dengan lega. Rasa kegugupannya pun sirna. Ia menatap Damian yang terdiam di tempatnya.


Sean tersenyum miring melihat wajah pucat dari Damian. Mengetahui ia ditatap oleh Sean lantas Damian mengalihkan maniknya pada pria yang tidak jauh berdiri darinya.


Melihat wajah mengejek dari Sean membuat dada Damian murka. Ia mengepalkan tangannya.


"Setidaknya aku sudah tenang. Pria itu pantas mendapatkan Kematiannya."


"Tuan apakah anda sudah benar-benar yakin menelitinya dengan benar? Bagaimana jika anda salah orang?" tanya Damian dengan napas yang memburu.


Sean hanya mengerutkan kening mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Damian. Ia tertawa sinis cukup kecil hingga tidak ada yang mendengarnya selain dirinya. Pria itu lantas melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya terarah pada William, pria tua itu tampak bahagia. William sangat yakin dia tidak mungkin salah orang.


"Kau tidak perlu khawatir Damian." Damian pun tersenyum kecil mendengar jawaban dari William. "Ku harap kau tidak terlambat lagi seperti tadii. Sesuai dengan ucapan mu, di ruangan ini ada pengkhianat. Maka temukanlah pengkhianat itu untuk ku."


William menepuk pundak Damian beberapa kali. Kemudian ia pergi dari ruangan itu. Terlebih dahulu William membenarkan letak jasnya selanjutnya berjalan dengan angkuh melewati anak buahnya.


______


Seorang pria memakai setelan jas hitam dan topi yang dikenakan juga berwarna senada. Ia tampak panik mencari sebuah dokumen.


Pria itu tersenyum melihat benda yang dicarinya ada di dalam laci meja kerja milik William. Lekas ia mengambil dokumen itu.


Ia pun langsung menghubungi seseorang yang di sebarang sana. Namun belum sempat teleponnya diangkat seseorang datang.


"Apa yang kau lakukan Sean?"


Sean pun pucat. Ia segera mematikan sambungan teleponnya dan tersenyum kepada William seolah tidak terjadi apa pun.


"Ah ternyata anda tuan," ujarnya lalu mendekati William. Ia duduk di depan kursi kebesaran William.


"Ya. Apa yang kau lakukan?" Mata William melirik pada dokumen cukup penting yang ada di tangan Sean, "kenapa dokumen itu ada di tangan mu?"


William mengintrogasi Sean dengan ketat. Matanya memicing memperhatikan setiap detailnya sikap pria tersebut. Tapi Sean tetap tenang.


"Aku hanya ingin melaporkan dokumen ini. Klien kita meminta beberapa data."


"Kau tidak tahu jika dokumen itu sangat terlarang berada di tangan mu? Dokumen itu cukup penting buat keberlangsungan perusahaan kita." William pun mulai menunjukkan rasa emosi dan kesalnya pada Sean.


Sean tertunduk ia tidak berani menatap mata sang atasan. Melihat itu William menarik napas dan cepat merebut dokumen tersebut dari tangan Sean.


Ia pergi dari sana dengan suasana hati yang buruk. Sementara Sean hanya terdiam dengan wajah tertunduk. Ia melirik kepergian Sean terutama pada dokumen tersebut. Wajahnya sama sekali tidak terbaca yang ada hanya wajah datar di sana.


_________


Hari ini Alice akan berkeliling kota New York. Ia mendatangi sebuah TK untuk menghadiri seputaran acara.


Dirinya merupakan salah satu donatur yang sangat besar menyumbang untuk sekolah TK tersebut. Senyumnya lebar kala melihat anak-anak kecil yang heboh bermain.


Pemandangan tersebut cukup menakjubkan bagi Alice. Ia sangat suka melihatnya.


Perempuan itu sudah selesai memberikan pidatonya. Sebenarnya ia sekarang akan pulang, tapi perempuan itu sengaja untuk tidak pulang dan menghabiskan waktu berkeliling TK.


Senyumnya luntur, Adaire sama sekali tidak menempuh pendidikan. Ia tidak pernah diajarkan cara membaca dan menulis. Seharusnya di umur Adaire ia sudah bisa menulis huruf dasar.


Adaire yang ia tahu hanya bekerja. Pekerjaan yang ia lakukan cukup keras. Padahal umurnya masih 4 tahun. Hati Alice langsung merasa iba, tapi perempuan itu cepat menepisnya.


Ia tidak mungkin mengasihani anak itu. Tidak akan mungkin, hanya kebencian yang ada di hatinya saat menatap wajah Adaire. Jangan salahkan Alice, salahkan Genta.


Alice duduk di kursi taman. Matanya mengedar menatap seluruh lingkungan. Tiba-tiba ada seorang anak pria yang menarik perhatiannya.


Entah kenapa Alice tidak ingin mengalihkan pandangannya pada anak itu. Ia pun juga tersenyum melihat aksi konyol dari sang anak.


Tapi dari arah lain ada segerombolan anak pria yang menghampiri bocah polos itu.


Anak laki-laki tersebut terdiam melihat orang-orang yang menghampirinya. Mata Alice kian membulat pada saat salah satu dari mereka mendorong anak laki-laki yang sedari tadi menjadi objek pandangannya.


Hati Alice tidak terima dan langsung saja ia menegur para bocah tersebut dan memarahinya. Para segerombolan anak tersebut mendengar amuk marah dari Alice lantas berlari ketakutan.


Alice menghela napas melihat para bocah nakal itu. Pandangan matanya jatuh pada bocah laki-laki di sampingnya. Anak imut tersebut takut-takut menatap Alice.


"Te-terimakasih Tante."


Alice mengangguk kepada bocah kecil yang memiliki wajah imut tersebut. Ia mengelus puncak kepala sang anak lalu tersenyum hangat.


Ia mensejajarkan tingginya dengan sang anak lalu menatap lama wajah yang menggemaskan di mata Alice tersebut.


Anak ini sangat mirip dengannya. Hati Alice tiba-tiba merasa nyaman seperti ada sesuatu yang menyelip di hatinya. Ia merasa tengah merindukan anak ini, tapi itu jelas tidak mungkin. Kapan ia pernah bertemu dengan anak ini.


"Di mana ibu mu?"


Wajah sang bocah langsung murung. Alice mengernyit heran. Beberapa detik Alice pun mulai paham. Ia meminta maaf kepada anak tersebut.


"Maafkan aku."


"Drake tidak punya ibu. Drake hanya punya ayah."


Alice memasang tampang bersalah. Ia memegang belakang kepalanya. Ia mulai mengalihkan pembicaraan. Alice merasa bersalah telah mengungkit hal itu yang membuat sang bocah tersebut merasa sedih.


"Jadi nama mu Drake?"


Bocah itu menatap Alice dengan mata bulatnya. Ia mengangguk dan berucap, "iya tante. Nama Tante siapa?"


"Nama ku Alice. Kau bisa memanggilku Tante Alice," kata Alice memberitahu Drake.


"Nama Tante seperti nama ibu ku. Ayah selalu bilang kalau ibu ku adalah wanita paling cantik. Namanya Alice, ayah juga sering memanggil nama ibu setiap malam," ujarnya dengan sedih. Ia teringat masa-masa sang ayah yang menangis di tengah malam, padahal ayahnya sendiri mengatakan pria tidak boleh menangis.


Alice meringis, tentu ia tidak sanggup mendengar cerita sedih dari sang bocah.


"Kalau begitu panggil saja aku Mama."


"Beneran boleh Tante?


"Tentu saja. Ingat MAMA bukan TANTE LAGI!!' tegas Alice pada Drake.


Wajah Drake kembali berceria ia memeluk erat Alice.


"Terima kasih Mama."


Tidak jauh dari sana pria yang menggunakan setelan sederhana memandang kejadian itu penuh haru. Ia tersenyum melihatnya, dadanya bak ingin meledak saking bahagianya.


"Alice aku sungguh bahagia melihat ini. Setidaknya Drake dapat merasakan seorang ibu, meski ia tidak tahu jika kau lah ibunya."


______


Tbc


Jangan lupa like dan komen