My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 39



Alice masih mendiamkan Genta karena kejadian tadi dan bahkan beberapa kali Genta memanggil namanya tapi sama sekali tidak ada tanggapan dari perempuan itu.


Genta menarik napas pasrah, ia tidak tahu hendak melakukan apa agar mendapatkan maaf dari Alice.


Ia juga tidak terlalu paham dengan hati wanita dan semoga saja untuk kali ini permintaan maafnya berhasil.


Genta membawakan sebuah boneka ayam yang sangat lucu berawarna kuning. Ia berdoa kepada Tuhan agar rencananya kali ini dilancarkan.


Pria itu duduk di samping Alice yang termenung di dekat kebun belakang. Pandangannya jauh menjelajahi indahnya pepohonan.


Tidak ada di tempatnya sebelumnya pohon sebanyak ini. Di sana dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit. Memang indah tapi itu hanya buatan manusia tidak seasri buatan Tuhan yang maha sempurna.


Melihat Genta yang baru saja datang membuat Alice berdecak malas. Ia membuang wajah bosan menatap Genta yang terus menerus tanpa lelah memohon kepadanya.


Ia muak dengan pria itu dan masih sebal kenapa Genta malah membela ibu guru sial*n tersebut. Hatinya tidak rela dan panas.


Bagaimanapun Genta seorang pria yang sangat tampan. Tubuhnya sempurna untuk kategori pria bahkan mungkin artis model seintro dunia akan kalah dengan ketampanan Genta.


Itu adalah Genta di pandangan Alice belum tentu di pandangan orang lain. Apa pun tentang Genta selalu sempurna di mata Alice.


"Hey berhentilah mendiamkan aku seperti ini. Apa kau tidak kasihan pada, ku?" tanya Genta dengan suara lirih.


Alice enggan menanggapi ucapan Genta yang ada malah menambah mood nya semakin rusak. Ia ingin mengusir pria itu sejauh mungkin.


Alice tanpa suara beranjak dan meninggalkan tempatnya. Tapi, sebuah tangan lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.


Alice terpekik kaget dan matanya semakin melotot saat pria itu menciumnya brutal. Alice sontak langsung memukuli pria itu dan marah besar.


"Apa yang kau lakukan?" Alice mendengus marah dan menatap sinis pria itu.


"Hey maafkan aku," ujar Genta tidak ingin permohonan kali ini gagal.


Alice tidak akan sanggup jika harus ditatap Genta dengan sedekat ini. Dirinya akan lemah dan hatinya mudah luluh, ia hendak mengenyahkan perasaan tidak enaknya.


Maka dengan meninggalkan pria itu adalah jalan satu-satunya. Alice mendorong tubuh Genta dan ingin pergi.


"Aku membawakan ini untuk mu."


Alice melirik pada benda tersebut. Matanya langsung berbinar dan hendak meraih boneka yang dibawa Genta itu. Tapi, Genta terlebih dahulu menjauhkan dari jangkauan Alice.


"Etss, ada syaratnya."


Alice memutar kedua bola matanya bosan. Perempuan itu merajuk dengan wajah imut saat cemberut. Genta gemas dan mencubit pipi sang empu.


"Sakit. Kau ini katakan apa syaratnya?" tanya Alice yang sudah sangat tergoda dengan boneka itu.


Imannya tidak akan kuat jika harus boneka menjadi media permintaan maaf. Terpaksa Alice harus menerima apa-pun syaratnya.


"Katakan," ujar Alice dengan wajah ketus.


"Maafkan aku."


Alice tampak berpikir sebentar. Ia mengangguk dengan gengsi lalu cepat meraih benda itu dan hendak kabur.


"Mau ke mana kau bocil?"


"Aku sudah besar!"


"Menurut ku kau masih kecil. Tubuh pendek begini sudah besar?"


Genta memeluk erat tubuh Alice supaya wanita itu tidak bisa kabur lagi sementara Alice berusaha mencari jalan keluar agar bisa bebas dari pria ini.


"Lepaskan aku!"


"Tidak bisa," kekeh Genta seraya menggigit pipi Alice yang dari tadi membuat Genta terpesona.


"Sakit kau ini," marah Alice yang berusaha mencari jalan kabur.


"Kenapa diam?"


Kali ini ekspresi dari Alice tidak dapat ditebak. Perempuan itu tiba-tiba menjadi jinak dan terus tersenyum untuk Genta.


"Hehehe," tawa Alice yang tidak dimengerti Genta, "aku sudah dari tadi memaafkan mu."


Genta menarik napas lega dia pikir apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu.


Genta menerjang tubuh Alice hingga mereka terjatuh bersama di atas rumput. Alice menatap Genta yang berada di atasnya, ia mengerutkan kening aneh kenapa pria itu menatapnya dengan pandangan setiap ketika mereka ingin bercinta?


Oh God jangan katakan jika Genta ingin bercinta dengannya di sini? Astaga sangat tidak waras pria ini, pikir Alice.


"Aku ingin kau baby, sekarang."


Napas Alice langsung tertahan ia hendak memberontak tapi tidak bisa. Habislah sudah nasibnya di sini.


"Kau bodoh atau bagaimana paman? Ini di ruangan terbuka, apa kau ingin orang melihat kita? kau memang gila."


"Tidak ada salahnya mencoba. Ini lebih menantang."


Tidak ada lagi balasan dari Alice karena bibirnya telah disumpal oleh bibir pria itu. Ia tidak mengerti di mana otak Genta berada.


Dirinya juga tidak mampu melawan, semoga Tuhan menutup aib mereka. Genta terus menyentuh bagian tubuh sensitif Alice sehingga menghasilkan suara laknat yang keluar dari mulutnya.


_______


"Akhhh gatal," ringis Alice sembari menggaruk tubuhnya yang gatal-gatal.


Selain itu pinggangnya terasa encok dan hendak patah. Pria itu memang sudah gila, ia menggempur Alice tanpa ampun. Tubuhnya pun bentol-bentol karena mereka melakukan di tanah.


Jika di pikir-pikir Genta memang sudah sakit dan sangat berbahaya. Alice tidak berhenti mengeluh karena sakit di pinggang dan gatal di seluruh tubuhnya.


"Kau memang sangat jahat pada ku," tangis Alice di atas ranjang berusaha menahan penderitaannya.


Genta di samping berdiri dengan wajah menyesal. Ia lepas kendali dan tidak dapat mengontrol karena birahinya benar-benar menggebu-gebu.


"Maafkan aku!"


Alice tidak menjawab hingga menimbulkan ke khawatiran berlebih dari Genta. Pria itu mengambil salep untuk mengobati tubuh Alice yang merah-merah.


"Maafkan aku Alice. Aku akan mengobati mu," ujar Genta namun tetap saja tidak dihiraukan oleh Alice.


Genta berinisiatif membantu Alice tanpa menunggu jawaban ia mengoleskan salep tersebut ke beberapa tubuh yang memerah dan alhasil Alice pun menghentikan tangisnya.


"Masih gatal?"


Alice mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Genta menarik napas dan mengecup puncak kepala wanita itu. Ia hendak merebahkan tubuhnya yang sudah sangat letih, namun Alice langsung marah dan melempari Genta dengan bantal.


"Pergi kau dari kamar ku!!! Brengs*k, jangan datang ke kamar ku! Kau tidak akan aku beri jatah selama seminggu."


Genta langsung melotot tidak percaya. Apa dia akan tidur di luar dan tidak mendapatkan jatah? Oh Tuhan itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dijalani.


Sedangkan Alice gencar memukuli tubuh Genta hingga pria itu pun keluar dari kamarnya. Alice membanting pintu dan langsung menguncinya.


Di luar Genta berusaha menggedor-gedor pintu tersebut. Ia tidak terima dengan hukuman yang diberikan, benar-benar sangat tidak adil.


"ALICE MAAFKAN AKU! BUKA PINTUNYA SAYANG!!"


"TIDAK! PERGI KAU!"


Genta mendengus dan terduduk di depan pintu. Ia meratapi nasib yang sangat malang itu.


"Apa salah ku?"


_____


Tbc


Jangan lupa like dan komen ya.


Oh iya aku punya rekomendasi novel yang bagus untuk kamu, silakan liat di bawah.