
Pagi-pagi sekali Genta telah bersiap-siap pergi bekerja. Tidak sama seperti biasanya ia yang selalu memilih datang saat siang. Genta sengaja melakukannya karena ia ingin mengurus putrinya yang berada di rumah Alice.
Bagaiman pun Adaire juga putrinya ia sama berharganya dengan Drake abang kembarnya. Di sisi lain Drake tampak kecewa melihat sang ayah yang pergi lebih awal.
Ia berusaha menahan Genta tapi pria itu berusaha menolak halus keinginan putranya dan menjelaskan dengan pelan hingga akhirnya Drake pun paham dan setuju ayahnya pergi.
Anak itu di antar ke rumah tetangganya Dyana untuk dititipkan dengan penghuni yang sudah berumur lanjut tersebut.
Dyana keluar setelah pintu rumahnya diketuk beberapa kali oleh Genta. Sudah seperti kebiasaan hingga Dyana pun hapal jika itu pasti Genta.
Ia membuka pintu rumahnya dan tersenyum pada Drake yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Anak itu tersenyum ramah pula kepada Dyana dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa meminta persetujuan dari Dyana.
Ia hampir setiap hari bermain di situ makanya ia sudah menganggap rumah Dyana adalah rumah keduanya.
"Bisa aku menitipkan Darke lagi?"
"Tentu saja. Aku selalu menerimanya." Genta menghembuskan napas lega. Sejujurnya ia sangat tidak enak jika harus menitipkan Drake tiap hari.
Ia tahu pasti Dyana juga memiliki kesibukan yang harus ia urus. Dia takut jika Dyana di belakangnya diam-diam mengatainya.
Namun sejauh ini tidak ada terdengar desas desus yang seperti ia khawatirkan. Bahkan Drake selalu mengatakan kepadanya jika Dyana sangat baik padanya.
"Terima kasih. Nanti aku akan memberikan setengah gaji yang ku punya pada mu," ujar Genta sebagai bentuk rasa terima kasihnya. Genta rasa apa yang ia berikan juga belum cukup untuk melakukan balas budi kepada Dyana.
"Kau tidak perlu repot," tolak Dyana terhadap keinginan Genta tersebut, "aku melakukannya bukan untuk mu tapi orang lain," lanjutnya dalam hati.
Merasa urusannya telah selesai Genta pun pergi meninggalkan rumahnya dan rumah Dyana. Ia tidak sabar ingin melihat Adaire salah satu cintanya penyemangat hidupnya. Ia tidak ada di pertumbuhan Adaire dan ia ingin melakukan itu sebagai bentuk penebus rasa bersalahnya.
Tidak lama setelah kepergian Genta seseorang keluar dari dalam rumah Dyana. Pria itu seperti baru saja bersembunyi.
Ia menarik napas lega bahwa Genta tidak menemukannya. Pria itu lantas menatap pada Dyana yang memasang wajah menunduk di sampingnya.
Pria itu mengeluarkan sebuah amplop yang sangat tebal, dan lekas saja mata Dyana langsung terbuka lebar melihat tumpukkan uang. Ia segera mengambil amplop yang diberikan oleh orang tersebut untuk dirinya.
"Terima kasih."
"Ya."
"PAMAN!!!" teriak Drake kencang dari dalam rumah pada pria tersebut.
Pria itu menoleh kepada Drake yang berlari ke arahnya dengan sambil tersenyuman. Ia lantas merentangkan tangan menyambut Drake.
"Bagaimana hari mu?" tanyanya pada Drake.
Drake tertawa sambil memeluk pria itu dengan erat. Ia mengangkat kepalanya dan menyentuh wajah tampan sang pria.
"Papa hari ini pergi lebih cepat," curhatnya pada orang tersebut. Orang itu lantas mengangkat kedua alisnya mendengar keluh kesah Drake.
"Kenapa kau sedih?
"Aku masih ingin berlama-lama dengan Papa."
"Kau harus belajar berbagi mulai saat ini," pinta sang pria sembari tangan kanannya mengelus-elus puncak kepala Drake penuh sayang.
"Tapi paman? Paman kenapa paman selalu memakai pakaian yang sama setiap hari?" Anak seperti Drake tentu heran melihat orang yang selalu mengenakan pakaian hitam dan memakai kacamata hitam tidak luput dengan topi yang senada.
"Kenapa kau bertanya? Bagaimana jika aku menyukainya?"
"Begitu kah paman?" tanya Drake penasaran pada pria itu. "Apa aku boleh memakai pakaian seperti itu?"
"Tentu saja. Siapa yang berani melarang mu?" tanya sang pria sembari mencium pipi Drake dengan gemas.
"Paman aku ingin suatu hari ikut dengan papa bekerja. Aku ingin melihat nona muda yang selalu papa ceritakan, kata papa dia cantik, imut, manis, dan dia juga suka mendengarkan dongeng. Bukan kah nona muda hampir sama seperti ibu, paman?"
Pria itu terdiam sejenak sebelum mengangguk. Ia meraih tangan Drake lalu mengecup tangan mungil itu. Jauh di lubuk hatinya tersenyum, ternyata Genta sangat lihat memperkenalkan sesuatu kepada anaknya dengan cara yang halus.
"Hari ini aku yang akan mengantar mu."
_______
Subuh-subuh sekali Genta masuk ke dalam kamar Adaire. Di sana ia tidak menemukan Adaire sama sekali.
Pria itu lantas mengerutkan wajah bingung. Lekas ia pun mencari Adaire di seluruh penjuru kamar, tapi tetap saja ia tidak menemukan anak cantik itu.
Genta mulai resah dan ia segera mencari ke beberapa ruangan di rumah besar ini. Dan ia akhirnya menemukan jika anaknya ternyata ada di dapur.
Putri kecilnya itu tampak mahir dalam melakukan tugasnya. Ia mulai memasak yang ternyata hanya dia sendiri yang ada di dapur ini.
Genta pun merasa bingung kenapa Adaire hanya melaksanakannya sendirian? Ke mana pelayan lain? Apakah mereka tidak tahu jika Adaire masih kecil?
"Uhuk uhuk uhuk!!" Adaire pun terbatuk-batuk saat asap menggebul menerpa wajahnya. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah.
Kontan Genta langsung tersentak dan cepat memeluk tubuh putrinya. Ia mengusap punggung sang putri hingga Adaire pun mulai mendapatkan udara segarnya.
"Paman!"
Genta melepaskan pelukannya dari Adaire dan meletakkan kedua tangannya di bahu anak itu. Ia tersenyum kepada Adaire dan mengamati wajah imut itu.
"Hai cantik kita bertemu lagi."
"Paman kenapa bisa ada di sini!" cerca Adaire seraya melirik sana sini takut jika ada orang yang melihat mereka.
Genta pun mengikuti pandangan Adaire. Kala ia memahami kekhawatiran Adaire lantas ia tersenyum hangat.
"Kau tenang saja cantik tidak ada yang akan melihat kita."
"Apakah paman yakin?"
"Tentu saja," kata Genta untuk menenangkan putrinya, "apa kau tidak bersekolah?"
Adaire tertunduk melemas, sangat salah Genta menannyakan itu. Sekolah merupakan keinginannya dan mendapatkan banyak teman tapi apakah orang sepertinya mampu untuk bersekolah? Hidupnya saja bergantung pada nona muda.
Melihat kesedihan dari Adaire membuat hati Genta tercubit. Betapa malang nasib putrinya, ia sangat sedih telah meninggalkan putrinya cukup lama.
"APA YANG KAU LAKUKAN!!!" teriak seseorang dari balik punggung Genta.
Mendengar suara keras bak toak tersebut membuat dada Genta berdegup dengan kencang. Ia membalikkan tubuhnya dan tercekat melihat wanita yang ada di depannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya melemah. Wajahnya sangat panik saat melihat Genta. Ia lantas mendorong Genta dan menarik Adaire cukup keras dan memeluknya erat hingga Adaire tidak mampu untuk bernapas. "Pergi dari sini, PERGI!!!" tuturnya seraya menunjuk jalan keluar.
Genta lantas langsung terdiam melihat wajah Alice yang ketakutan dan panik. Perempuan itu memeluk tubuh Adaire dengan kencang seperti berusaha menjauhkan Adaire darinya.
"Alice apa yang kau lakukan? Adaire bisa lemas. Lepaskan dia Alice," mohon Genta yang melihat Adaire kesulitan bernapas di dalam dekapan kencang Alice.
"Pergi kau dari sini hiks hiks hiks jangan pernah datang lagi!!!!!" amuk Alice kesetanan. Ia menangis kencang dan terisak.
Wanita itu menatap wajah Adaire yang memerah seperti lemas. Ia melepaskan anak itu dan membawanya ke belakang tubuhnya.
"Alice," lirih Genta dengan wajah meringis.
Alice menatap Adaire, emosinya memuncak melihat anak itu. Ia lantas menggoyangkan tubuh kecil Adaire.
"Siapa yang membiarkan mu bertemu dengannya? SIAPA???!! Berani-beraninya kau menemuinya. Asal kau tahu dia penjahat!!!"
Alice mengarahkan tatapan mengancam pada Genta. Ia berlalu dengan sinis serta tangannya yang menarik Adaire.
"Nona lepaskan. Tangan Adaire sakit!!!!"
"Diam kau!!!"
Melihat anaknya yang dibawa secara paksa Genta lantas langsung berlari mensejajarkan langkahnya dengan Alice yang berjalan cepat.
"Alice apa yang kau lakukan? Lepaskan Adaire dia bisa terluka."
"Menjauh kau dari sini!!"
Adaire menangis dikarenakan tangannya dicekal kuat oleh Alice. Ia meminta bantuan pada Genta tetapi Genta adalah pria yang lemah, ia tidak dapat menyelamatkan Adaire.
Sesampainya di dalam kamar, Alice langsung memeluk erat tubuh Adaire sembari menangis.
"Jangan pernah temui dia lagi, kau tahu? Aku tidak ingin dia mengambil mu dari ku. Dia adalah pria jahat," ujar Alice dengan dagunya dijatuhkan pada pundak Adaire. Di dalam ruangan itu penuh dengan suara isak tangis.
Alice membawa Adaire ke dalam lemari saat mendengar derap langkah Genta yang menghampiri mereka.
"CEPAT MASUK!!"
"Nona aku tidak bisa nona hiks, hiks, hiks."
"Cepat kau ini!!!" geram Alice seraya memaksa Adaire masuk ke dalam lemari dan menguncinya. Ia tidak memikirkan bagaimana nasib Adaire di dalam sana.
"Apa yang kau lakukan Alice? Di mana Adaire??" Genta pun mengamati sekitar dan ia tidak menemukan Adaire di sana. Ia pun menatap Alice. "Di mana Adaire? Kenapa kau tega Alice? Dia anak kandung mu!!!"
"Menjauhlah!!! Pergi dari sini!! Aku tidak akan menyerahkannya pada mu!" ujar Alice penuh penekanan.
Sejauh ini Genta belum mengetahui jika Alice telah mengalami trauma yang mengakibatkan gangguan pada jiwanya. Ia bisa berteriak ketakutan, kekhawatirannya terlalu besar hingga ia mengalami depresi. Ia sangat takut jika Genta akan membawa Adaire darinya. Ia tidak akan sanggup berpisah dengan Adaire, putrinya.
____
Tbc
Jangan lupa like dan komen yah. Btw jangan lupa kalian juga mampir di karya teman saya di bawah ini. Judulnya Cinta yang Diabaikan. by: Mama Reni