My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 53



Dengan mengenakan baju santai Alice berjalan menuju ruang tamu. Tangannya tak melepaskan cengkraman di dadanya. Jantungnya terus berdetak dan menggebu hingga menyulitkannya bernapas.


Ada yang salah dengannya usai pulang dari kantor polisi. Benar dirinya memang sedang bermasalah. Alice menarik napas sebanyak mungkin untuk melawan detak jantungnya yang tidak karuan itu.


"Sepertinya aku harus ke rumah sakit jiwa lagi," lirih Alice sembari duduk di sofa melihat Drake yang sedang menggambar.


Alice tersenyum lebar melihat lukisan anaknya. Ia mengusap kepala Drake dan membuat anak itu menatap Alice.


"Mama," panggilnya dan berhenti menggambar.


Alice mengangkat kedua alisnya heran, "kenapa kau berhenti?"


Drake tersenyum tulus kepada Alice. Ia menunjukkan lukisannya yang lain telah ia selesaikan sebelum Alice datang.


Alice mengamati lukisan itu, gambar sebuah keluarga bahagia. Seperkian detik pudar senyum di wajahnya.


Ia mendongak menatap dalam manik sang anak yang menunjukkan kesedihan. Hati Alice tersayat sebab ia sangat tahu keinginan anak-anaknya tapi bagaimana cara mewujudkannya?


"Dimana Adaire?" Alice sengaja mengalihkan pembicaraan.


Drake terus menatap sang ibu yang celengak-celenguk sedang mencari adiknya. Napas Drake menghela pelan dan tertunduk, ia sangat menyadari bahkan sangat jika Alice berusaha menghindari pembicaraan tentang keluarga.


"Aku merindukan papa," ujarnya dengan senyum masam.


Kepala Alice langsung berhenti dan menatap sang anak. Ia meneguk ludah kasar melihat Drake dengan wajah sedihnya.


Wajah Drake memang lebih mirip ke dirinya, anak itu tidak terasa sudah besar dan sudah hampir remaja. Wajahnya sangat tampan dan Alice bersyukur akan itu.


Pribadinya semakin hari semakin menyerupai Genta. Alice berusaha menghilangkan bayang-bayang laki-laki itu dalam diri Drake, tapi bagaimana pun besarnya usaha jika mereka adalah anak dan ayah tidak akan dapat dirinya hilangkan sifat itu.


"Aku juga merindukannya," lirih Alice tersenyum paksa.


Suasana hening dan Drake bereskpresi dingin, ia menatap tajam sang ibunda membuat Alice kebingungan.


"Ada apa?"


"Aku bertemu papa." Mata Alice langsung membulat ia bangkit dari tempatnya dan dadanya langsung turun naik berusaha menahan sakit di dada karena detak jantung yang makin menggila.


Ia memandang Drake meminta penjelasan. Ia bersimpuh di depan sang anak dengan mata yang berkaca-kaca. Dirinya menyentuh wajah Drake dan mengusap pipi bocah tersebut.


Melihat apa yang ibundanya lakukan membuat Drake langsung mengubah ekspresi sedih. Matanya meneduh sebentar lagi akan tumpah tetesan bening dari sana.


"Katakan apa maksudmu?"


"Kemarin aku bertemu dengannya di toko buku yang tidak jauh dari sekolah ku."


Pengakuan dari Drake memberikan petunjuk baru bagi Alice. Ia tertawa bahagia dan mengusap jejak air mata dari sang anak.


"Benar apa yang kau katakan?"


Melihat anggukkan Drake membuat jiwa Alice yang semula terkubur bangkit kembali. Ia berlari terburu-buru meninggalkan sang anak menuju kamarnya.


Ia mengambil switer dan mengenakan syal karena belakangan ini mulai memasuki musim dingin.


Ia berjalan menuju bagasi mengambil mobilnya. Ia begitu tergesa-gesa sambil sibuk menghubungi seseorang.


"Halo Josua, aku menemukan petunjuk baru. Anak ku, bertemu dengan Genta. Kita bisa datang ke desa dekat jurang itu dan mencari pemilik cangkul tersebut dan melakukan investigasi."


"Apa kau yakin Nona?"


"Tentu, aku sendiri yang akan datang."


"Tapi ini sudah terlalu malam."


"Aku ingin terbang malam ini juga, siapkan tiket, ku dengar bandara akan melakukan penerbangan beberapa menit lagi. Kita harus sampai secepatnya."


"Baik Nona."


Alice menghidupkan mesin mobilnya lalu hendak menancap gas. Tapi, Damian telah berdiri di depannya memasang diri menghadang jalan mobilnya.


Alice membuka kaca mobil itu dan menatap Damian dengan marah.


"Apa maksudmu!!! Menyingkir kau!" marah Alice dan kembali menutup kaca mobilnya.


Tapi, Damian lebih dulu mencabut kunci mobil Alice. Alice mendengus kasar dan menarik napas panjang. Tangannya terkepal dan membuka kasar pintu mobil.


Plakkk


Damian menarik napas dan menyentuh bekas tamparan Alice yang begitu kencang berhasil membuat wajahnya panas dan pedas.


"Apa-apaan kau Damian??!"


"Aku melarang mu!"


"Siapa yang butuh larangan mu?" kesal Alice hendak masuk kembali ke dalam mobil.


Ia merebut paksa kunci mobilnya, namun tidak semudah itu. Alice marah dan memukul stir lalu keluar mencengkram kerah baju Damian.


"AKU BERHAK KARENA AKU KAKA MU!!"


Alice langsung melepaskan cengkeramannya dan berjalan mundur dengan raut muka tidak menyangka.


"Apa maksudmu? KATAKAN KENAPA AKU BISA BERSAUDARA DENGAN MU, KAU BERBOHONG DAMIAN!!!"


"Itu kenyatannya, papa mu memiliki anak dari wanita lain dan itu aku!!!"


"KAU BOHONG DAMIAN!! AKU TIDAK SUDI!!"


"Terserah kau saja percaya atau tidak, asal kau tahu ibu mu yang merebut ayah ku dari ibu ku!!! Aku sudah berbaik hati, dan apa yang aku terima? Kau meludahi ku, menampar ku!! Tidak menuruti perintah ku!!"


"Aku tidak berharap memilik saudara seperti mu!! Kau jahat Damian!" cerca Alice dengan air mata yang sudah bercucuran.


Ia merebut paksa kunci mobil dari tangan Damian. Damian diam dan membiarkan, dirinya tidak menyadari jika ia telah ikut menangis.


Alice menghidupkan mobil dan melaju kencang.


"ASAL KAU TAHU!! MEREKA LAH YANG JAHAT BUKAN AKU!!! MEREKA YANG TELAH MEMBUNUH AYAH!!" Entahlah Damian berbicara dengan siapa, mungkin dengan angin.


"AKHHH!!" Ia meninju tembok di sampingnya.


Napasnya tersengal-sengal dan tangannya mengepal erat. Tatapannya tajam, sedikit sudutnya terangkat tersenyum licik.


___________


Bayang wanita yang ditemuinya di kantor polisi tadi terus bergentayangan menghantui pikirannya.


Genta tidak bisa berhenti memikirkannya barang sedikitpun. Ada rasa rindu yang tidak dimengertinya, wajah Alice terus terngiang bak kaset yang terus berputar di otaknya.


Genta tak bisa menghapus jejak senyumnya. Ia menyesal telah lupa menanyakan nama wanita tadi, bahkan dirinya juga lupa memberitahukan namannya.


Pria itu berjalan ke arah sudut ruangan yang cukup rahasia di kamar ini. Ia mengambil baju yang penuh dengan darah yang sudah kering tersebut.


Ia kembali menggeledah sudut tersebut hingga matanya tidak sengaja melihat benda berkilauan melawan cahaya malam.


Ia meraih benda tersebut dan menatapnya penuh hati-hati. Ia teringat kalung itu sangat mirip dengan milik wanita yang ditemuinya tadi.


Napas Genta memburu dan ia kian gencar mencari barang apa saja yang bisa ditemukannya dan memberikannya petunjuk.


Kali ini ia menemukan sebuah cincin, Genta mengamati seksama dan beberapa detik kemudian ia merasakan pening begitu hebat yang mendera kepalanya.


"Akhh!!" ringis Genta, beberapa bayangan samar merasuki otaknya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas cuplikan adegan apa yang diingatnya.


"Jika kau ingin memecahkan semuanya dan memulihkan ingatan mu, maka kau harus mencaritahu di tempat kau ditemukan! Kau tidak bisa lepas tangan begitu saja dengan masa lalu mu, kau harus mengetahuinya dan itu berpengaruh sangat dengan hidup mu."


Itu adalah yang dikatakan oleh dokternya. Benar apa yang dikatakan dokter tersebut, ia harus mencari tahu dan menemukan masa lalunya.


Ia sangat yakin jika wanita tadi berhubungan dengan masa lalunya dan bisa memberikan petunjuk.


Ia meraih benda pipih di sakunya dan menghubungi Daniel. Tidak lama telepon darinya pun diangkat oleh pria itu.


"Daniel, aku minta kau menyelidiki seorang wanita."


"Anda bisa mengirim gambar wanita itu."


"Ya sebentar."


Genta meraih laptopnya dan mengambil sedikit cuplikan cctv yang dimintanya dari kantor polisi tadi dan mengirimkan kepada Daniel.


"Halo apakah kau telah menerimanya?"


"Sudah Tuan. Apa ada masalah?"


"Aku ingin mendapatkan masa laluku."


"Tapi, Anda harus fokus terlebih dahulu dengan kasus Nyonya."


"Lakukan saja, aku yakin meninggalnya Elizabeth berhubungan dengan masa lalu ku. Satu lagi malam ini juga aku ingin ke jurang tempat aku ditemukan, aku ingin menyelidikinya sendiri."


"Baik."


Genta menarik napas dan menghela napas lega. Begitu banyak masalah di hidupnya yang masih menjadi misteri, ia harus bisa melawan.


Ia bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Semua kebutuhan telah disiapkan, tinggal hanya satu benda.


Genta meraih benda tersebut dengan napas tertahan, sebuah senjata api yang dirancangnya sendiri dan kemampuannya melebihi senjata api terbaik di Amerika.


Ia memasukkan senjata tersebut, Genta sangat lihat bermain beberapa jenis senjata api mulai dari sanapan, pistol dan lainnya. Ia mempelajari diam-diam dikarenakan banyak pembisnis lain yang menargetkan kepalanya.


___________


Tbc