My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 51



Perkataan dari Anastasia tadi terus menghantui Alice. Susah baginya mengenyahkan pikiran tersebut, ia selalu dibayang-bayangi nama yang diucapkan Anastasia.


Genta


Nama itu sangat tidak asing di telinganya dan ia sudah tentu tau siapa pemiliknya. Di Amerika hanya nama Genta lah yang paling unik dan bahkan Alice mengira hanya pria itu yang memilik nama seperti itu.


Apakah masih ada Genta yang lain? Ia tidak tau jika nama itu bisa lebih dari satu. Alice berharap jika Genta yang dipikirkan benar Genta-nya.


Benar-benar mustahil karena Genta sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang bisnis dan apalagi memimpin sebuah perusahaan besar.


"Huft." Alice menghirup udah rakus dan memegang kepalanya yang berdenyut.


Ia terlalu banyak beban pikiran dan hal tersebut mempengaruhi imunnya. Alice melihat arjoli di tangannya dan ia mengercutkan bibirnya, sebentar lagi ia akan pulang.


Alice keluar dari ruangan pribadinya dan melihat sistem kinerja karyawannya, ia terus memantau dengan senyum ramah.


"Josua!"


Josua yang tengah sibuk mengatur pekerja pun berbalik. Ia menghampiri Alice dan menyapa ramah.


"Ada apa Nona?" tanyanya sembari berjalan semakin dekat dengan Alice.


Alice tersenyum lebar dan membuat Josua kebingungan. Ia terpaku dengan wajah cantik Alice, wanita itu sungguh menarik dan berbeda dengan yang lainnya.


Sikap kekanakan Alice selalu muncul jika bersama Josua, pria itu lebih muda darinya tapi Alice sama sekali tidak malu untuk menunjukkan sifat aslinya.


"Kau jadi ke hotel ku bukan?" tanya Alice begitu antusias.


Bahkan tanpa menunggu jawaban dari Josua ia terlebih dahulu menarik tangan pria itu menuju mobilnya.


"Nona," lirih Josua sembari menepuk jidatnya.


"Ini kunci mobilnya, kau yang akan menyetir."


Alice terlebih dahulu masuk ke dalam mobil sementara Josua hanya mampu mengukir senyum dan meringis. Ia terpaksa masuk dan menjadi supir.


"Nona!"


"Diamlah Josua aku ingin duduk dengan tenang. Ingat tidak ada penolakan," tekan Alice dan membuang muka ke samping.


Ia mengamati sekitar dengan wajah ceria. Gedung-gedung tinggi di Amerika sangat indah. Sebenarnya Alice berjanji untuk tidak memijakkan kaki di Amerika lagi, tapi ia sekarang menyangkal.


Sangat susah meninggalkan Amerika yang penuh kenangan indah bersama keluarganya. Alice sering jalan-jalan, bersama Tiara dan William dulu ke sini.


Ia sudah sangat hapal dengan seluk beluk kota Washington DC. Alice menarik napas kasar dan memandang jalan yang lumayan ramai di jam sore.


"Josua, aku ingin buang air kecil dulu."


Josua mengangguk dan menepikan mobilnya di dekat sebuah restoran. Perempuan itu menumpang di restoran tersebut untuk menuntaskan hajatnya.


Alice dapat bernapas lega usai mengeluarkan cairan hajat begitu hikmat. Ia membenahi bajunya dan rambutnya, perempuan tersebut meninggalkan toilet lalu keluar dari restoran.


Tampak Josua yang tengah menunggu. Alice melemparkan senyum kepada pria menawan tersebut lalu sang pria membukakan pintu mobil untuk wanitanya.


"Kau bisa baik juga ternyata," imbuh Alice seraya menertawakan Josua.


Josua masuk ke dalam mobil tanpa menggubris perkataan nonanya, ia tidak takut jika harus dimarahi oleh perempuan itu pasalnya Alice tidak akan lama jika marah setelahnya ia akan baik kembali.


Usai kepergian mobil Alice, seseorang di mobil lain mengepalkan tangannya. Entah kenapa hatinya panas dan ingin menghajar pria itu sampai babak belur.


Genta tidak mengerti dengan gejolak perasannya, ia tidak mengenal perempuan tadi kenapa pula dia bisa marah melihat sang wanita bersama dengan pria lain.


"Ku pikir aku sudah tidak waras," ujar Genta dalam hati sambil menetralkan perasaannya.


____________


Alice dengan semangat menghidangkan makanan laut yang dimasak pembantunya tadi. Beragam ikan, kepiting, udang, dan lain-lain yang dimasak dengan metode berbeda.


Adaire dan Drake yang baru saja pulang sekolah duduk di salah satu kursi melihat sang ibunda yang dengan lihai menyajikan makanan untuk mereka.


"Mama kenapa harus makanan laut," protes Adaire pasalnya ia tidak terlalu menyukainya bukan tidak bisa.


Drake di sampingnya mendengus. Ia memukul pundak Adaire dan mengejek perempuan itu seperti biasanya.


"Apakah perlu meminta tanggapan mu? Itu derita kau Adaire jika kau tidak ingin pergi saja sana biar aku yang menghabiskan jatah mu."


Adaire muak bertengkar dengan Drake. Ia menarik rambut Drake yang tertatan rapi yang membuat sang empu marah besar.


"Kau Adaire!!!!"


Adaire gelak melihat rambut Drake seperti sarang burung. Anak gadis itu lebih dulu melarikan diri dari amukan Drake.


Josua tercengang melihat tingkah keduanya sementara Alice meneguk ludah kasar. Sebenarnya kejadian ini sudah biasa di meja makan, cuman ini berbeda sebabnya di sini ada Josua.


"Maafkan anak ku," ringis Alice sembari mengambil tempat duduk.


"Tidak maslah aku menyukainya."


"Aku ingin kalian berdamai untuk hari ini."


"Tapi Ma, dia duluan," tunjuk Adaire tidak terima dimarahi.


"Apaan? Kau duluan!!"


"Kau!!"


"Kau!"


"Kau!!"


"Kau!!"


"Kau!!!"


"CUKUP!!!!"


Alice menggertak meja dan seluruh penghuni di sana langsung terdiam. Napasnya ngos-ngosan usai berteriak terlalu kencang. Josua sampai ternganga melihat Alice yang sudah mode emosi.


"Kalian bisa diam?"


"Iya Ma, ini kami diam."


Alice duduk kembali dan menyentuh kepalanya yang berdenyut sakit. Ia pusing mendengar pertengkaran konyol setiap berada di meja makan.


Mereka pun merayakan pesta kecil-kecilan dan melakukan beberapa trik permainan saat makan.


Di sudut lain, Drake terdiam melamun berbeda dengan yang lain penuh semangat. Pikirannya terlempar pada saat ia pulang sekolah tadi.


Drake berjalan keluar dari toko buku, ia sangat suka membaca entah itu novel, komik, maupun materi pelajaran.


Ketika di tengah jalan dirinya tidak sengaja melihat seseorang yang menyita perhatiannya. Napas Drake memburu ketika melihat wajah pria itu.


Dengan tangis yang hendak meledak ia berlari mengejar laki-laki tersebut dan usahanya tidak sia-sia.


Ia menatap punggung lebar dengan mata yang berkaca-kaca. Drake semakin mendekat dan menyapa pria itu.


"Papa!"


Orang yang disebut papa pun memutar tubuhnya dan mengernyit bingung dengan ucapan Drake.


Drake langsung mengeluarkan air mata ketika wajah itu semakin jelas. Ia memeluk tubuh pria itu dengan erat.


"Papa jangan tinggalkan Drake lagi!!"


Genta merasa aneh dengan sikap bocah itu. Ia menjauhkan paksa sang bocah yang membuat Drake tidak percaya.


"Siapa kau?" tanya Genta heran seraya meneliti penampilan Drake. Ia menaikkan kedua alisnya pasalnya ia merasa familiar dengan wajah ini tapi di mana ia pernah melihatnya.


"Papa ini Drake!!"


"Maaf, aku bukan papa mu. Aku bisa meminta supirku mengantarkan mu. Dimana rumah mu anak manis?"


"TIDAK PERLU!!" Drake berlari meninggalkan Genta yang kebingungan.


Anak itu menangis sepanjang jalan marah Genta tidak mengenalinya.


"Drake!"


Drake pun tersadar dari lamunan panjangnya. Ia menatap ibunya dengan senyum tipis.


"Ya Ma!"


"Ada apa dengan mu?"


Drake menggeleng kecil, "tidak ada apa-apa."


Mereka kembali melanjutkan acara pesta tersebut dengan suka ria. Tidak ada wine seperti pesta orang Amerika lainnya, sebab Alice sangat tidak menyukai cairan tersebut.


Acara itu selesai dan Josua juga sudah pulang dari tadi. Saat telah selesai membereskan dapur, Alice ingin masuk ke dalam kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya.


Tapi jalannya dihadang oleh Damian. Damian menatap tajam Alice membuat wanita itu muak dengan laki-laki di depannya.


"Apa kau berusaha mencarinya? Dia tidak akan pernah kembali." Damian melempar berkas rahasia milik Alice ke atas nakas.


Pandangan Alice mengikuti berkas itu. Ia menatap sendu dan meraih berkas tersebut. Dirinya melewati Damian begitu saja.


"BUKAN URUSANMU!!"


_______


TBC