
Genta langsung merangkuh tubuh Alice dan memeluknya erat saat Alice tengah berteriak ketakutan dan melemparkan benda apa saja yang ada di sekitar ke arah dirinya.
"ALICE HENTIKAN!!" pinta Genta ia pun jadi ikut menangis melihat kondisi Alice yang tidak terkendalikan.
"Kenapa aku harus melihat mu kembali? Hiks, hiks," tangis wanita itu lalu tidak lama ia terdiam dalam pelukan Genta dan hanyut saat Genta mengelus belakang kepalanya lembut.
Ia sudah sangat lelah mengamuk dan hatinya juga sangat sakit hingga isakkan tangisnya yang semula kencang kini terdengar halus. Ia menumpahkan rasa bencinya pada pria itu dengan memukuli dada Genta.
Genta dengan sepenuh tenaga menenangkan Alice, ia menangkap kedua tangan Alice yang memukulnya lalu dicium oleh pria itu. Ia mengusap puncak kepala sang wanita hingga suara tangis Alice pun perlahan mereda.
Merasa Alice sudah lumayan membaik, lantas Genta menjauhkan tubuh Alice darinya. Ia mengambil kunci lemari yang dilempar wanita itu tadi. Saat tangannya hendak meraih kunci tersebut Alice cepat menepis dan merebut kunci tersebut lebih dulu.
Ia menyimpan kedua tangannya di belakang dan menatap tajam Genta. Napasnya terdengar memburu cukup kencang.
"KAU!!! MAU APA KAU?" tunjuk Alice tepat di depan wajah Genta.
Genta menghela napas. Ia memandang Alice dengan tatapan sendu. Perlahan kakinya melangkah pelan menghampiri Alice yang kian mundur.
"Alice!" panggilnya dengan suara lembut.
Tetapi Alice malah semakin ketakutan dan berjalan mundur. Sedangkan di dalam lemari ada Adaire yang menangis kencang memukuli pintu lemari berharap ia segera dikeluarkan dari ruangan pengap tersebut.
"Nona tolong buka nona!!!" teriak Adaire dari dalam lemari.
Mendengar suara sang putri yang ada di sana lantas membuat Genta tercekat. Ia menatap pintu lemari tersebut dengan perasaan pedih.
Di sisi lain ia harus menyelamatkan Adaire sebelum terjadi sesuatu kepada anak itu, tapi di sisi lain hatinya sangat sakit melihat kondisi kejiwaan Alice.
"Alice ku mohon pada mu! Berikan kuncinya pada ku. Adaire ada di dalam, Apa kau ingin membunuh anak mu sendiri? Sadar Alice dia anak mu, putri mu!!" terang Genta dengan pelan berharap jika Alice mendengarkannya dan menyadari kesalahannya.
Alice yang mendengar isi suara dari Genta pun makin berteriak kencang. Ia mengambil vas bunga yang ada di sana dan melemparkannya ke arah Genta.
Vas bunga itu pun mengenai kepala Genta hingga keluar darah segar yang berwarna cukup pekat dari sudut kepala Genta.
"Akhh," rintih Genta seraya memegang kepalanya. Kepalanya terasa berat dan benda di sekitar seakan sedang berputar.
Lina membuka pintu kamar cukup kencang. Ia sangat khawatir terjadi sesuatu ketika ia tidak sengaja melintas dan mendengar keributan dari kamar Adaire. Mata Lina menatap pemandangan tersebut dengan pasrah, apa yang ia khawatirkan benar-benar nyata ada di depannya.
Lina menatap pada Alice yang kondisinya sedang kambuh lalu ke arah Genta yang terluka cukup serius di kepalanya.
"APA YANG TERJADI?!!" tapi Lina tidak membutuhkan jawaban dari pertanyaannya.
Ia pun langsung menyuntikkan sesuatu ke tubuh Alice hingga wanita itu pun perlahan-lahan terkulai dan cepat ia menyambut tubuh sang nona.
"Lina berikan Alice pada ku, biar kau buka lemari itu selamatkan Adaire sebelum ia kehabisan napas di sana," ujar Genta dengan suara yang teratih-atih menahan sakit di area kepalanya.
Lina terkejut mendengar ucapan Genta, cepat saja ia langsung mencari kunci lemari itu dan membukanya. Matanya terbelalak melihat Adaire bocah malang itu lemas tidak bisa bernapas di dalam sana.
Ia pun meraih tubuh Adaire dan membawa ke dalam dekapannya.
"Genta apa kau masih bisa membawa Alice ke kamarnya?"
Dengan darah yang bercucuran di kepala Genta mengangguk dan tersenyum pada Lina. Ia masih sadar dan itu artinya ia masih mampu mengangkat tubuh Alice.
Ia menghampiri Alice yang sudah tidak sadarkan diri tersebut dengan mengesot.
Air mata Genta tumpah seketika melihat Alice di depan matanya. Wanita yang sangat ia cintai sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja dan itu semua karena dirinya.
"Andaikan aku tidak bodoh, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi nona. Mungkin Adaire akan lebih bahagia." Genta mengecup singkat puncak kepala Alice sebelum mengangkat tubuh berat itu.
Ia membawa Alice dengan setengah kesadaran dan sambil menahan sakit di kepala.
Ia membaringkan tubuh Alice di atas ranjang dan memberikan selimut sebatas dada.
Genta mengamati wajah Alice yang damai dengan mata yang mengatup indah. Ia mengusap kepala wanita itu hikmat penuh dengan sayang.
"Jika kau tau perasaan ku apakah kau akan memaafkan ku? Aku tahu aku lancang telah merebut semuanya dan termasuk aku lancang jatuh hati pada anak majikan ku, nona ku, ibu dari anak-anak ku," tanya Genta yang memaksakan tersenyum sambil tangan kanannya mengelus-elus rambut lembut Alice. Ia begitu tulus memberikan tatapannya untuk wanita yang terbaring di sisinya.
Sementara darah terus mengalir di sisi wajahnya dan Genta tidak peduli dengan itu. Ia masih setia dengan puas mengamati wajah Alice.
Ia sangat merindukan wajah tersebut, dan ini saatnya untuk ia menuntaskan rasa rindunya yang terpendam jauh di lubuk hati.
"Izinkan aku nona melakukan ini."
Ia mencium Alice dengan durasi cukup lama hingga ia merasa tubuhnya sudah sangat letih tak berdaya lagi untuk menopang berat badannya, kepalanya berkunang-kunang, dan ia pun menjatuhkan tubuhnya tepat di atas perut Alice. Genta pingsan sambil memeluk wanita yang telah ia nodai hingga melahirkan anak untuknya itu.
Lina yang baru sampai di kamar Alice setelah mengurus Adaire pun mengeluarkan air matanya saat melihat semua yang dilakukan Genta.
Ia berjalan dengan dada sesak menghampiri Genta yang dalam keadaan pingsan dengan darah bersimbah hingga mengotori ranjang milik Alice.
"Kau tahu dada ku sesak melihat semuanya? Kau Genta, aku tidak menyangka kau telah sebesar ini. Kau dan Alice pantas bahagia. Bahkan sejak kau lahir pun kau harus kehilangan ibu mu, maafkan tuan ku yang telah merenggut kebahagiaan mu. Sekarang mungkin tuan ku telah merasakan akibat atas perbuatannya," ucap Lina sembari memutar memori lama yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Ia melihat melihat semuanya dengan matanya, ia tahu rahasia kelam yang sengaja disembunyikan.
_______
Prang!!!
Suara pecahan benda beradu pada dinding. Napas William memburu dan tangannya terkepal. Ia menatap berita yang disiarkan di TV dengan marah.
Kabarnya telah meluas. Hati William menjadi panas, ia meneguk ludahnya kasar. Ia mengencangkan genggaman tangannya hingga menampakkan urat-urat yang menyembul dari kedua tangannya.
Ia pun mengambil benda keras dan melemparkan benda itu ke arah Tv yang masih menyiarkan berita yang paling mengejutkan di dunia.
Perusahaan milik William telah kehilangan investor dan klien serta mengalami kerugian yang cukup besar.
"BERANI-BERANINYA!!!!"
William mengamuk di ruangan kantornya yang disaksikan beberapa dari anak buahnya.
Ada yang telah membocorkan dokumen rahasia yang sangat penting hingga membuat ia berada di titik seperti ini sekarang. Tidak hanya itu banyak rahasia dari keluarga dan perusahaannya yang diketahui para pesaingnya.
"SIAPA PUN DI ANTAR KALIAN YANG TELAH BERKHIANAT JANGAN HARAP NYAWA KALIAN SELAMAT!!!" teriak William sambil mengamati anak buahnya satu-satu.
Orang-orang yang terkumpul di sana langsung menelan ludah. Emosi William telah membara sulit untuk dihentikan.
Sean yang melihat kejadian tersebut memutuskan untuk berani menemui William dan menenangkan pria yang beberapa puluh tahun lebih tua darinya.
"Tuan sebaiknya tenangkan diri anda. Kita akan menyusun strategi kembali!" pinta Sean dengan suara pelan saat mengatakan.
William menatap pada Sean dengan emosi. Ia pun langsung menampar wajah pria itu hingga pipi Sean memerah.
Sedangkan yang lain melihat Sean ditampar semakin ketakutan bahkan Damian sampai meneguk ludah.
Sean menyentuh pipinya yang baru saja mendapatkan tamparan. Ia menatap sendu wajah William.
"Maafkan saya tuan!"
William malah memberikannya pukulan kembali hingga membuat wajah Sean tertoleh ke samping. Tidak ada yang berani menolong Sean.
"KENAPA KAU BODOH SEAN!!! BUKAN KAH AKU SUDAH MENUGASKAN MU MENJAGA DOKUMEN ITU DAN MENCARI PENGKHIANAT NYA? KENAPA KAU MALAH LALAI DAN SAMPAI SEKARANG BELUM MENEMUKANNYA!!!"
William mencengkram kerah baju Sean dan menggoyangkan tubuh pria itu saat ia berbicara tadi. William lantas mendorong kasar tubuh Sean hingga pria itu mundur beberapa langkah.
Damian terdiam di tempat. Wajahnya tampak serius seperti tengah memikirkan sesuatu. Angin yang berhembus membuat lengan bajunya tersingkap.
"Sejak kapan kau memiliki tato di tangan mu Damian?" tanya anak buah William yang lainnya.
Damian membeku dan langsung menutupi tangannya tersebut. Ia tersenyum kepada orang itu dan menggeleng halus.
"Sudah sejak lama saat aku masih kecil."
_____
Tbc
Jangan lupa like dan komen. Btw teman-teman jangan lupa mampir ke karya teman aku juga yah, baca aja menarik tau.
Judulnya Cinta Untuk Arista by Hesti Rofiah