
Deretan mobil hitam memasuki pekarangan rumah sederhana didekat desa Woodstock. Satu per satu di antara mereka keluar dari dalam mobil.
Kemudian saatnya tiba sang ketua yang diiringi oleh Cristian yang mengikuti sang ayah dari belakang.
"Cari mereka sampai ketemu," titah tegas Cristian seraya memasuki rumah sederhana tersebut.
Para tetangga yang tidak jauh berada keluar dari rumah mereka saat rumah Genta dan Alice akan dibedah. Mereka takut saat diam-diam mengintip penasaran, pakaian dari orang-orang itu cukup berbeda.
Cristian bersama Miguel membuka pintu rumah tersebut dan masuk ke dalam. Tampak keadaan di sana sudah kosong dan sunyi.
Napas Miguel memburu dan tangannya mencengkram dengan erat. Ia menatap anak buahnya satu per satu lalu menatap anaknya Cristian.
"F*ck kita kecolongan," marah Miguel seraya menendang meja.
Mereka terlambat datang, kini penghuni rumah sudah pergi. Sepertinya Genta sudah mengetahui kedatangannya, tapi kenapa pria itu bisa tahu? Pasti ada yang memberitahukan kedatangannya.
Sialan pasti ada penghianat di antara mereka. Miguel menatap anak buahnya dengan penuh selidik.
"Siapa yang berani-beraninya mengkhianati aku? Katakan!!"
Semua terdiam melihat kemarahan Miguel yang sembari menenteng senjata api yang siap ditarik pelatuknya dan maka akan menembus kepala mereka.
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan dari Miguel. Ia mendengus dan meninggalkan tempat itu.
Matanya tidak sengaja menatap seorang yang menguping pembicaraannya.
Salah satu bodyguardnya menarik orang tersebut yang ternyata merupakan warga sekitar.
Tubuh orang itu bergetar ketakutan manakala ditarik dengan kasar menghadap Miguel.
"Kau tahu mereka pergi ke mana?"
"A-anu, me-mereka per-gi subuh-subuh sekali," gagapnya dengan keringat dingin yang menyiram tubuhnya.
Pria itu takut-takut menatap Miguel. Ia mengangguk dengan ragu dan Miguel menahan napas melihat itu. Benar dugaannya pasti sudah ada orang yang memberitahukan Genta.
"Kau berani bermain-main dengan ayah mu sendiri nak." Sejujurnya Miguel tidak rela harus melawan anaknya. Tapi ia tidak memiliki pilihan lain, Genta merupakan pewarisnya yang sah. "Apa kau tahu siapa yang datang ke sini baru-baru ini?"
Kebetulan orang itu melihat Genta dan seorang pria asing berinteraksi tadi malam. Tubuhnya bergetar ketakutan, ia pasrah dan jalan satu-satunya yang menyelamatkan dirinya adalah mengaku.
"Be-benar Tuan." Laki-laki yang ditahan itu terkejut saat orang menahan tubuhnya itu merupakan orang tadi malam yang telah mendatangi Genta. "Dia," tunjuk laki-laki ini kepada anak buah Miguel yang di sampingnya.
Orang itu menahan napas, sebenarnya ia sudah sangat merasa gugup kala pria ini ditahan. Tapi mungkin sekaranglah ajalnya.
"Kau!!" geram Miguel dan langsung menembak pria itu hingga bersimbah darah dan terkapar di tanah.
Ia tersenyum di sisa akhir hayatnya. Lepas sudah kewajibannya, ia telah menjalankan tugas dari nyonya sebelumnya yang merupakan ibu kandung Genta untuk menjaga Genta hingga besar dan membuat anak itu bahagia.
"Nyonya tugas saya sudah selesai," ujarnya dan menutup mata. Ibu kandung Genta sangat tidak suka dengan urusan bisnis yang mana nyawa menjadi taruhannya tapi Miguel seakan menutup mata dan tetap memaksa Genta untuk bergabung dengan organisasinya dan harus melanjutkan bisinis dirinya, sementara ada Cristian yang bersedia mengemban tugas itu, tapi tetap saja Miguel tidak ingin Cristian yang menjadi penerusnya.
Cristian meminta penjaga yang lain untuk membersihkan mayat pria tadi yang sangat malang nasibnya.
Miguel masuk ke dalam mobilnya dan melanjutkan pengejaran, ia yakin Genta tidak jauh dari desa ini.
Seharusnya tidak sepatutnya ia turun tangan, namun mendengar William juga mengejar Genta maka ia akan turun menangani sendiri, ia tidak ingin sesuatu terjadi pada Genta karena ulah William.
____
Tbc
Jangan Lupa like dan komen yah
Btw nih ada rekomendasi baru dari aku. siapa tau kalian suka, jangan lupa kalau bisa tambahin favorit.